แชร์

Bab 3 – Harga Sebuah Kesabaran

ผู้เขียน: Yoga
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-25 20:00:07

Pagi itu, Nara bangun lebih cepat dari biasanya.

Bukan karena ia rajin, melainkan karena semalam ia hampir tak bisa tidur. Kata-kata Damar masih terngiang di kepalanya—dingin, datar, tapi menusuk lebih dalam daripada teriakan.

“Kamu itu cuma beban.”

Kalimat itu sederhana, namun cukup untuk membuat dadanya sesak hingga sekarang.

Nara duduk di tepi ranjang, menatap lemari pakaian yang isinya kebanyakan baju lama. Ia membuka pintu lemari perlahan, seolah takut membuat suara. Padahal, Damar bahkan tidak akan peduli jika ia berisik sekalipun.

Ia memilih kemeja paling rapi yang ia punya. Bukan untuk pergi ke mana-mana. Hanya kebiasaan lama—berpakaian pantas agar terlihat “layak”.

Layak sebagai istri.

Layak sebagai manusia.

Di dapur, Nara menyiapkan sarapan seperti biasa. Telur dadar, nasi hangat, dan kopi hitam kesukaan Damar. Tangannya bergerak otomatis, tanpa semangat. Ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali suaminya benar-benar menghabiskan masakan buatannya.

Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari arah kamar.

Damar muncul dengan setelan kerja mahal, jam tangan berkilau di pergelangan tangan. Wajahnya dingin, rapi, dan sempurna—seperti hidupnya yang selalu ia banggakan.

Nara menoleh. “Sarapan sudah siap.”

Damar melirik meja makan sekilas, lalu duduk tanpa sepatah kata. Ia membuka ponselnya, membaca pesan-pesan pekerjaan. Bahkan sejak duduk pun, matanya tak pernah benar-benar melihat Nara.

“Masih telur?” tanyanya akhirnya, nada suaranya jelas tidak puas.

“Iya… aku bisa masak yang lain kalau kamu mau,” jawab Nara pelan.

Damar mendengus kecil. “Tidak usah. Aku makan di luar saja nanti.”

Ia bangkit, meraih jasnya.

Nara menatap punggung suaminya, jantungnya berdegup tidak karuan. Ada sesuatu yang ingin ia katakan. Sesuatu yang sudah lama terpendam.

“Mas Damar…”

Langkah itu terhenti.

“Ada apa lagi?” tanya Damar tanpa menoleh.

Nara mengepalkan jemarinya. “Aku… aku mau tanya. Apa aku pernah melakukan sesuatu yang sangat salah sampai kamu sebegini bencinya sama aku?”

Hening.

Damar akhirnya berbalik. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh jarak.

“Jangan dramatis, Nara. Aku cuma capek.”

“Capek sama aku?” suara Nara bergetar.

“Capek sama hidup yang begini,” jawab Damar singkat. “Kamu terlalu sensitif.”

Kalimat itu mematahkan sisa keberanian Nara. Ia menunduk, menelan semua pertanyaan yang ingin keluar.

Damar melangkah pergi tanpa pamit.

Pintu tertutup.

Sunyi.

Nara berdiri lama di dapur, menatap meja makan yang rapi namun tak tersentuh. Perlahan, ia duduk dan memandangi tangannya sendiri. Tangannya yang selama ini melayani, bertahan, dan terus memaafkan.

Air matanya jatuh satu per satu.

Bukan karena sakit hati semata, melainkan karena lelah.

Siang hari, Nara memutuskan keluar rumah. Bukan untuk bersenang-senang. Ia hanya ingin berjalan tanpa tujuan, sekadar menghirup udara bebas.

Di sebuah kafe kecil, ia duduk sendirian. Di sekelilingnya, pasangan-pasangan tertawa, saling bercerita. Ada kehangatan yang terasa asing baginya.

Ia membuka ponsel. Tanpa sadar, jarinya membuka galeri—foto pernikahan mereka.

Damar tersenyum di sana. Senyum yang dulu ia kira tulus.

“Kenapa semuanya berubah?” bisiknya lirih.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.

Damar:

Aku lembur. Jangan tunggu.

Nara menatap layar itu lama. Tak ada lagi rasa kaget. Hanya kosong.

Ia membalas singkat:

Iya.

Untuk pertama kalinya, ia tidak menambahkan kata lain. Tidak ada “hati-hati”, tidak ada “aku tunggu”.

Dan entah kenapa, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Malam itu, Damar pulang larut. Rumah gelap, tak ada lampu ruang tamu menyala.

Biasanya, Nara akan menyambutnya. Biasanya, ada makanan hangat di meja.

Namun kali ini, tidak ada apa-apa.

Damar mengernyit. “Nara?”

Tidak ada jawaban.

Ia melangkah ke dapur. Kosong. Meja makan bersih, tanpa hidangan.

Entah kenapa, ada rasa tidak nyaman merambat di dadanya.

Saat ia melangkah ke kamar, lampu sudah mati. Nara tidur membelakanginya, selimut menutup hingga bahu.

Damar berdiri beberapa detik, menatap punggung istrinya.

“Apa dia marah?” gumamnya pelan.

Namun pikiran itu segera ia tepis. Pasti cuma drama lagi.

Ia berbaring, memejamkan mata.

Tanpa ia sadari, untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, Nara menangis tanpa suara—bukan karena ingin diperhatikan, melainkan karena ia mulai belajar melepaskan.

Dan jauh di dalam hatinya, sebuah keputusan kecil mulai tumbuh.

Keputusan yang kelak akan menghancurkan ketenangan Damar selamanya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 29 – Pilihan yang Tidak Bisa Ditarik Kembali

    Hari itu datang tanpa tanda istimewa. Tidak ada hujan, tidak ada langit mendung, tidak juga firasat aneh yang sering digambarkan orang-orang saat hidup mereka akan berubah. Justru karena itulah Nara tahu—ini adalah hari yang tepat untuk mengambil keputusan.Ia bangun pagi dengan perasaan tenang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tidak ada sesak di dada, tidak ada rasa bersalah yang biasanya datang saat ia memikirkan masa lalu. Yang ada hanya kesadaran penuh bahwa apa pun pilihannya hari ini, ia siap menanggungnya.Nara bersiap dengan sederhana. Ia menatap dirinya di cermin lebih lama dari biasanya. Bukan untuk memastikan penampilan, melainkan untuk memastikan niat. Perempuan di hadapannya terlihat berbeda dari Nara yang dulu—lebih kokoh, lebih jujur, dan tidak lagi meminta izin untuk memilih dirinya sendiri.Pertemuan itu sudah disepakati. Tidak ada paksaan, tidak ada desakan. Mereka bertemu di tempat yang sama seperti sebelumnya, seolah menjadi lingkaran yang akhi

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 28 – Tidak Lagi Setengah Hati

    Hari-hari setelah pertemuan itu berlalu dengan cara yang berbeda bagi Nara. Tidak ada lagi pesan yang datang bertubi-tubi, tidak ada tekanan yang memaksanya memberi jawaban cepat. Justru ketenangan itulah yang membuat pikirannya bekerja lebih jujur. Dalam sunyi, Nara mulai benar-benar mendengar isi hatinya sendiri.Perubahan memang terjadi, dan Nara tidak menutup mata terhadap hal itu. Tanggung jawab yang dulu selalu dibebankan kepadanya kini perlahan dibagi. Hal-hal kecil yang selama ini dianggap sepele mulai diperhatikan. Tidak dengan cara berlebihan, tidak pula seperti pamer perubahan. Semua terlihat sederhana, namun nyata.Namun Nara tidak serta-merta merasa yakin.Ia sudah terlalu sering dikecewakan oleh perubahan sementara. Terlalu sering berharap, lalu jatuh di lubang yang sama. Karena itu, kali ini ia memilih berhati-hati. Ia tidak ingin keputusannya lahir dari rasa kasihan atau takut kehilangan.Malam itu, Nara duduk sendirian di kamar. Lampu sengaja diredup

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 27 – Bukti, Bukan Janji

    Setelah hari-hari penuh tekanan itu, Nara mulai menyadari satu hal penting: kata-kata, sejujur apa pun terdengarnya, tidak lagi cukup baginya. Ia sudah terlalu sering mendengar janji—diucapkan dengan nada serius, disertai wajah penuh penyesalan—namun selalu berakhir pada pola yang sama. Kali ini, jika memang ada perubahan, ia ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri. Pagi itu, Nara menerima pesan yang berbeda dari biasanya. ‘Aku tidak akan memintamu pulang sekarang. Tapi aku ingin membuktikan sesuatu.’ Nara membaca pesan itu berulang kali. Tidak ada bujukan, tidak ada tuntutan. Ia tidak langsung membalas. Ia belajar dari dirinya sendiri—tidak semua hal harus dijawab dengan cepat. Hari itu, Nara memilih menjalani kegiatannya seperti biasa. Ia pergi bekerja sambilan, menyelesaikan tugas-tugas kecil, lalu pulang dengan tubuh lelah namun pikiran lebih tertata. Saat sore menjelang, ponselnya kembali berbun

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 26 – Ketika Semua Ikut Bicara

    Setelah pertemuan itu, hidup Nara tidak serta-merta menjadi lebih ringan. Justru sebaliknya, seolah ada pintu lain yang terbuka dan menghadirkan suara-suara baru—lebih ramai, lebih menekan. Jika sebelumnya konflik hanya berputar di antara dua orang, kini lingkarannya melebar.Telepon pertama datang dari keluarga.“Nara, kamu ini sudah menikah. Masa pergi begitu saja?” suara di seberang terdengar tegas, nyaris tanpa jeda untuk bernapas. “Masalah rumah tangga itu wajar. Jangan dibesar-besarkan.”Nara mendengarkan dengan tenang. Dulu, kalimat seperti itu bisa membuatnya langsung merasa bersalah. Sekarang tidak lagi. Ia tahu perbedaan antara nasihat dan penghakiman.“Aku tidak membesar-besarkan,” jawab Nara pelan. “Aku hanya berhenti memendam.”Ucapan itu membuat percakapan berhenti sesaat. Tidak ada yang benar-benar siap dengan jawaban itu.Panggilan demi panggilan datang bergantian. Ada yang menyuruhnya kembali demi nama baik keluarga, ada yang menyinggung soal

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 25 – Di Antara Bertahan dan Melepaskan

    Hari-hari setelah itu terasa berjalan lebih lambat bagi Nara. Tekanan yang datang bersamaan tidak langsung menghilang, justru menetap seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun ia pergi. Pagi, siang, hingga malam, pikirannya dipenuhi satu pertanyaan yang terus berulang—sampai kapan ia bisa bertahan dengan keputusan ini?Nara kembali ke rutinitas kecilnya. Bangun pagi, membersihkan rumah, memasak seadanya, lalu menghabiskan waktu dengan pekerjaan sambilan yang mulai ia tekuni. Ia terlihat baik-baik saja dari luar, bahkan lebih tenang. Namun di dalam dirinya, ada kegelisahan yang belum benar-benar selesai.Siang itu, pesan kembali masuk ke ponselnya.‘Aku tunggu jawabanmu. Sampai kapan kamu menghindar?’Nara menatap layar lama. Tidak ada kata kasar, tidak ada ancaman, tapi justru itulah yang membuatnya semakin berat. Ia tahu, menghindar terus-menerus bukan solusi. Cepat atau lambat, ia harus menghadapi semuanya secara langsung.Setelah berpikir cukup lama, N

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 24 – Tekanan yang Datang Bersamaan

    Hidup Nara tidak serta-merta menjadi tenang setelah ia pergi. Justru sebaliknya, ketenangan yang mulai ia rasakan perlahan diuji oleh tekanan yang datang dari berbagai arah, hampir bersamaan, seolah dunia tidak memberinya jeda untuk bernapas.Pagi itu, Nara sedang menyapu halaman kecil rumah kontrakannya ketika ponselnya bergetar. Nomor yang tidak asing, tapi selalu ia hindari. Ia menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menghela napas dan mengangkatnya.“Assalamualaikum, Ra.”Suara itu terdengar hati-hati, seolah takut disalahkan. Ibunya.“Waalaikumsalam,” jawab Nara singkat.“Kamu sehat?” tanya sang ibu, basa-basi yang terdengar kaku.“Alhamdulillah.”Ada jeda. Hening yang terasa berat.“Kapan kamu pulang?” akhirnya ibunya bertanya.Nara memejamkan mata. Pertanyaan itu selalu datang lebih cepat daripada yang ia harapkan. Pulang ke mana? Ke rumah orang tuanya, atau ke rumah yang sudah lama tidak lagi terasa seperti rumah?“Belum tahu, Bu.”

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status