Pintu rumah terbuka ketika jarum jam hampir menyentuh angka dua belas malam.Aku sedang duduk di ruang tamu, sebuah buku terbuka di pangkuanku, meski pikiranku tidak benar-benar membaca. Lampu menyala redup, menciptakan bayangan panjang di dinding. Tidak ada televisi, tidak ada suara langkah yang kutunggu seperti dulu.Dia masuk dengan koper kecil di tangannya.Langkahnya terhenti sesaat ketika melihatku masih terjaga. Tatapannya tertahan di wajahku, seolah mencari sesuatu—kejutan, kekhawatiran, atau mungkin amarah.“Kamu belum tidur?” tanyanya.“Belum,” jawabku singkat.Biasanya, pada jam seperti ini, aku akan berdiri. Menyambut. Bertanya apakah dia lelah, apakah perjalanannya melelahkan, apakah dia sudah makan. Malam ini, tidak satu pun kebiasaan itu kulakukan.Dia meletakkan kopernya di dekat pintu, melepas sepatu, lalu berdiri canggung di ruang tamu. Keheningan di antara kami terasa asing, seolah kami baru pertama kali bertemu.“Aku pulang lebih cepat,” katanya lagi, suaranya terd
Última actualización : 2026-01-01 Leer más