เข้าสู่ระบบMalam pertama kami lalui dalam diam yang canggung.
Rumah besar itu terasa lebih asing daripada rumah kontrakan kecil tempat aku dibesarkan. Setiap sudutnya terlalu rapi, terlalu dingin, seolah tak pernah benar-benar menjadi tempat pulang—hanya bangunan yang dihuni oleh kewajiban. Aku berdiri di depan pintu kamar yang kini berlabel kamar istri sah. Tanganku sempat terangkat, ragu untuk memutar kenop. Dari balik pintu, tak terdengar apa pun. Sunyi. Sama seperti perasaanku. “Kamarmu yang ini,” ucapnya tiba-tiba dari belakang. Aku menoleh. Dia berdiri beberapa langkah dariku, wajahnya tetap datar, jas pernikahan sudah berganti kemeja putih. Ikat lehernya entah ke mana. Tampak lebih manusiawi, tapi tetap jauh. “Kamar kamu di sebelah,” lanjutnya singkat. “Kita… tidur terpisah.” Aku mengangguk. Tak terkejut. Entah kenapa, keputusan itu justru membuat dadaku sedikit lebih lega. Setidaknya, tidak ada kepura-puraan yang harus kupaksakan. “Terima kasih,” kataku pelan. Ia menatapku sejenak, seperti ingin mengatakan sesuatu, lalu mengurungkannya. “Besok pagi, nenek akan datang. Dia ingin sarapan bersama.” “Baik.” Lalu dia pergi, meninggalkanku sendiri dengan pintu yang tak pernah benar-benar terbuka untukku. Pagi itu aku bangun lebih awal. Sebagai istri yang tak pernah dipilih, setidaknya aku ingin berguna. Aku turun ke dapur, bertanya pada asisten rumah tangga apa yang biasa disukai nenek. Mereka menatapku dengan campuran heran dan sungkan—mungkin bertanya-tanya, seberapa lama aku akan bertahan di rumah ini. Aku memasak dengan tangan gemetar, tapi hati yang tekadnya bulat. Sup bening, tumis sederhana, dan teh hangat. Tidak istimewa, tapi jujur. Ketika nenek datang, aku berdiri dan menunduk hormat. “Selamat pagi, Nek.” Tatapannya tajam namun hangat. Seperti seseorang yang sudah melihat terlalu banyak kebohongan dalam hidup. “Kamu yang memasak?” “Iya, Nek. Maaf kalau tidak sesuai selera.” Nenek tersenyum tipis. “Kamu tahu? Hal yang paling langka sekarang ini bukan masakan enak, tapi niat.” Aku tercekat. Dia—suamiku—duduk di seberang, memperhatikan kami tanpa ekspresi. Untuk pertama kalinya, aku merasa kehadiranku diakui oleh seseorang di rumah ini. Hari-hari berikutnya berjalan dalam ritme yang kaku namun teratur. Kami bertemu di meja makan, di lorong, di ruang keluarga—sebagai dua orang asing yang terikat oleh satu nama keluarga. Tak ada pertengkaran, tak ada kehangatan. Hanya sopan santun yang dijaga seperti jarak aman. Sampai suatu sore, hujan turun deras. Aku berdiri di teras, menunggu jemuran yang lupa kuangkat. Air hujan memercik ke ujung kakiku. Aku terlalu lama menatap langit, sampai suara langkah kaki mendekat. “Masuk,” katanya singkat, sambil meletakkan payung di tanganku. “Kamu bisa sakit.” Aku terkejut. “Terima kasih.” Ia hendak pergi, lalu berhenti. “Nara.” Ini pertama kalinya dia memanggil namaku. “Ya?” “Kamu… tidak keberatan dengan semua ini?” Pertanyaan itu terdengar aneh—datang terlambat, tapi jujur. Aku menatap hujan yang masih turun. “Keberatan atau tidak, aku tetap di sini. Jadi, mungkin yang penting bukan perasaanku… tapi bagaimana kita menjalaninya.” Dia terdiam. Lama. “Aku tidak bisa menjanjikan apa pun,” katanya akhirnya. “Aku tidak meminta janji,” jawabku. “Aku hanya ingin kita saling menghormati.” Ia mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya, bukan sebagai suami, tapi sebagai manusia yang mencoba. Malam itu, aku kembali ke kamarku dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Tidak bahagia. Tidak sedih. Tapi ada celah kecil—retakan halus—di dinding dingin yang memisahkan kami. Dan entah kenapa, aku merasa… celah itu akan bertambah lebar.Hari itu datang tanpa tanda istimewa. Tidak ada hujan, tidak ada langit mendung, tidak juga firasat aneh yang sering digambarkan orang-orang saat hidup mereka akan berubah. Justru karena itulah Nara tahu—ini adalah hari yang tepat untuk mengambil keputusan.Ia bangun pagi dengan perasaan tenang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tidak ada sesak di dada, tidak ada rasa bersalah yang biasanya datang saat ia memikirkan masa lalu. Yang ada hanya kesadaran penuh bahwa apa pun pilihannya hari ini, ia siap menanggungnya.Nara bersiap dengan sederhana. Ia menatap dirinya di cermin lebih lama dari biasanya. Bukan untuk memastikan penampilan, melainkan untuk memastikan niat. Perempuan di hadapannya terlihat berbeda dari Nara yang dulu—lebih kokoh, lebih jujur, dan tidak lagi meminta izin untuk memilih dirinya sendiri.Pertemuan itu sudah disepakati. Tidak ada paksaan, tidak ada desakan. Mereka bertemu di tempat yang sama seperti sebelumnya, seolah menjadi lingkaran yang akhi
Hari-hari setelah pertemuan itu berlalu dengan cara yang berbeda bagi Nara. Tidak ada lagi pesan yang datang bertubi-tubi, tidak ada tekanan yang memaksanya memberi jawaban cepat. Justru ketenangan itulah yang membuat pikirannya bekerja lebih jujur. Dalam sunyi, Nara mulai benar-benar mendengar isi hatinya sendiri.Perubahan memang terjadi, dan Nara tidak menutup mata terhadap hal itu. Tanggung jawab yang dulu selalu dibebankan kepadanya kini perlahan dibagi. Hal-hal kecil yang selama ini dianggap sepele mulai diperhatikan. Tidak dengan cara berlebihan, tidak pula seperti pamer perubahan. Semua terlihat sederhana, namun nyata.Namun Nara tidak serta-merta merasa yakin.Ia sudah terlalu sering dikecewakan oleh perubahan sementara. Terlalu sering berharap, lalu jatuh di lubang yang sama. Karena itu, kali ini ia memilih berhati-hati. Ia tidak ingin keputusannya lahir dari rasa kasihan atau takut kehilangan.Malam itu, Nara duduk sendirian di kamar. Lampu sengaja diredup
Setelah hari-hari penuh tekanan itu, Nara mulai menyadari satu hal penting: kata-kata, sejujur apa pun terdengarnya, tidak lagi cukup baginya. Ia sudah terlalu sering mendengar janji—diucapkan dengan nada serius, disertai wajah penuh penyesalan—namun selalu berakhir pada pola yang sama. Kali ini, jika memang ada perubahan, ia ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri. Pagi itu, Nara menerima pesan yang berbeda dari biasanya. ‘Aku tidak akan memintamu pulang sekarang. Tapi aku ingin membuktikan sesuatu.’ Nara membaca pesan itu berulang kali. Tidak ada bujukan, tidak ada tuntutan. Ia tidak langsung membalas. Ia belajar dari dirinya sendiri—tidak semua hal harus dijawab dengan cepat. Hari itu, Nara memilih menjalani kegiatannya seperti biasa. Ia pergi bekerja sambilan, menyelesaikan tugas-tugas kecil, lalu pulang dengan tubuh lelah namun pikiran lebih tertata. Saat sore menjelang, ponselnya kembali berbun
Setelah pertemuan itu, hidup Nara tidak serta-merta menjadi lebih ringan. Justru sebaliknya, seolah ada pintu lain yang terbuka dan menghadirkan suara-suara baru—lebih ramai, lebih menekan. Jika sebelumnya konflik hanya berputar di antara dua orang, kini lingkarannya melebar.Telepon pertama datang dari keluarga.“Nara, kamu ini sudah menikah. Masa pergi begitu saja?” suara di seberang terdengar tegas, nyaris tanpa jeda untuk bernapas. “Masalah rumah tangga itu wajar. Jangan dibesar-besarkan.”Nara mendengarkan dengan tenang. Dulu, kalimat seperti itu bisa membuatnya langsung merasa bersalah. Sekarang tidak lagi. Ia tahu perbedaan antara nasihat dan penghakiman.“Aku tidak membesar-besarkan,” jawab Nara pelan. “Aku hanya berhenti memendam.”Ucapan itu membuat percakapan berhenti sesaat. Tidak ada yang benar-benar siap dengan jawaban itu.Panggilan demi panggilan datang bergantian. Ada yang menyuruhnya kembali demi nama baik keluarga, ada yang menyinggung soal
Hari-hari setelah itu terasa berjalan lebih lambat bagi Nara. Tekanan yang datang bersamaan tidak langsung menghilang, justru menetap seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun ia pergi. Pagi, siang, hingga malam, pikirannya dipenuhi satu pertanyaan yang terus berulang—sampai kapan ia bisa bertahan dengan keputusan ini?Nara kembali ke rutinitas kecilnya. Bangun pagi, membersihkan rumah, memasak seadanya, lalu menghabiskan waktu dengan pekerjaan sambilan yang mulai ia tekuni. Ia terlihat baik-baik saja dari luar, bahkan lebih tenang. Namun di dalam dirinya, ada kegelisahan yang belum benar-benar selesai.Siang itu, pesan kembali masuk ke ponselnya.‘Aku tunggu jawabanmu. Sampai kapan kamu menghindar?’Nara menatap layar lama. Tidak ada kata kasar, tidak ada ancaman, tapi justru itulah yang membuatnya semakin berat. Ia tahu, menghindar terus-menerus bukan solusi. Cepat atau lambat, ia harus menghadapi semuanya secara langsung.Setelah berpikir cukup lama, N
Hidup Nara tidak serta-merta menjadi tenang setelah ia pergi. Justru sebaliknya, ketenangan yang mulai ia rasakan perlahan diuji oleh tekanan yang datang dari berbagai arah, hampir bersamaan, seolah dunia tidak memberinya jeda untuk bernapas.Pagi itu, Nara sedang menyapu halaman kecil rumah kontrakannya ketika ponselnya bergetar. Nomor yang tidak asing, tapi selalu ia hindari. Ia menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menghela napas dan mengangkatnya.“Assalamualaikum, Ra.”Suara itu terdengar hati-hati, seolah takut disalahkan. Ibunya.“Waalaikumsalam,” jawab Nara singkat.“Kamu sehat?” tanya sang ibu, basa-basi yang terdengar kaku.“Alhamdulillah.”Ada jeda. Hening yang terasa berat.“Kapan kamu pulang?” akhirnya ibunya bertanya.Nara memejamkan mata. Pertanyaan itu selalu datang lebih cepat daripada yang ia harapkan. Pulang ke mana? Ke rumah orang tuanya, atau ke rumah yang sudah lama tidak lagi terasa seperti rumah?“Belum tahu, Bu.”







