Share

Bab 104. Keputusan Final

Penulis: Min Ye-Rin
last update Tanggal publikasi: 2026-10-19 15:37:37

Helena masih menatap wajah Lucien yang begitu tegang. Tangannya yang gemetar sedikit menarik ujung kemeja Lucien sampai membuat pria itu tersentak lalu menoleh padanya.

“Bukan apa-apa. Kamu tenang saja,” kata Lucien, seolah menjawab pertanyaan hanya dari sorot mata Helena saja. “Aku akan melindungimu. Itu janjiku.”

Pria itu membelai pipi Helena, sebelum akhirnya kembali menatap sang ayah.

“Aku akan melepaskan Deren,” katanya. “Dan karena ini masalahku, biar aku sendiri yang menyelesaikannya.”
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 107. Aku Memaafkanmu

    Mereka masih duduk berdekapan di dalam mobil. Napas belum sepenuhnya teratur ketika ponsel Lucien yang tergeletak di dashboard tiba-tiba bergetar.Helena bisa merasakan tubuh Lucien menegang. Pria itu segera meraih ponselnya, menatap layar selama beberapa detik dengan kening berkerut.“Siapa? Ada masalah lagi?” tanya Helena. Dia membelai pipi Lucien, membuat pria di depannya menoleh padanya. “Katakan, Lucien. Apa ada masalah yang lebih serius?”Lucien tidak langsung menjawab. Dia menatap Helena dalam, lalu menggeleng pelan. Lucien mengecup kening Helena, berusaha menenangkan wanita yang kini sudah gelisah. “Lalu, ada apa dengan wajah tegang itu?” tanyanya, menempelkan kembali kepalanya di dada Lucien. “Kamu tidak pernah bisa menyembunyikan ekspresi itu dariku, Lucien.”Lucien terkekeh pelan. Dia menepuk puncak kepala Helena, lalu mengecupnya. “Iya, aku tahu,” katanya. “Ada anak buahku yang bilang, kalau Deren sudah dibebaskan. Dia akan dibawa ke rumah malam ini.”Helena langsung menj

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 106. Jangan Di sini

    Helena membiarkan kerinduan yang selama ini mereka pendam menemukan jalannya. Namun, ketika Lucien mulai menariknya semakin dekat, wanita itu teringat bahwa mereka masih berada di lorong yang bisa dilewati siapa saja. “Lucien, jangan. Kita tidak bisa melakukan ini di sini—” Helena menahan bahu pria itu, berusaha mengingatkannya pada keadaan sekitar. Namun, tatapan Lucien membuat kalimat berikutnya tertahan di ujung lidahnya. “Lucien,” desah Helena. “Aku menginginkanmu…” Lucien melepaskan pelukannya. Matanya mengunci tatapan Helena. Tangannya membelai lembut pipi wanita itu yang sudah memerah. “Aku juga menginginkanmu, sayang,” katanya serak. Lucien melirik mobilnya yang terparkir di ujung garasi. Ia kembali menatap Helena, seolah menunggu keputusan wanita itu. “Ikut aku,” ujarnya sambil mengulurkan tangan. Helena memandang tangan itu sejenak sebelum menyambutnya. Ia tahu keputusan tersebut bisa membawa konsekuensi, tapi ada begitu banyak hal di antara mereka yang belum sempat

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 105. Aku Merindukanmu

    Belum sempat Lucien menjawab, Roy sudah berlalu pergi. Dia berjalan tegas menuju ruang kerjanya yang ada di lantai dua. Lucien masih memperhatikan tanpa melepaskan pelukannya. Barulah saat mendengar suara pintu tertutup, pelukannya yang semua rapat kini langsung mengendur. Helena meraup napas sebanyak yang dia bisa, lalu mendongak menatap Lucien. “Kenapa kamu melawan ayahmu?” suara Helena yang lirih membuat Lucien menunduk menatapnya. Wanita itu sudah kembali menangis. Pria itu menangkup wajah Helena, menghapus air matanya dengan ibu jari. “Aku lebih memilih melawannya daripada aku harus kehilanganmu,” katanya. Pria itu tersenyum, lalu mengecup kening Helena. Ekspresi Lucien tidak lagi terlihat tegang seperti ketika berhadapan dengan Roy. “Dan kamu sudah membuatku marah, Helena,” katanya. Kedua alisnya saling bertaut, tapi wajahnya masih mengulas senyum. Dia menempelkan keningnya dengan kening Helena. “Kamu menyakitiku karena sudah mengusirku dari hidupmu.”Helena berkedip ringan

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 104. Keputusan Final

    Helena masih menatap wajah Lucien yang begitu tegang. Tangannya yang gemetar sedikit menarik ujung kemeja Lucien sampai membuat pria itu tersentak lalu menoleh padanya.“Bukan apa-apa. Kamu tenang saja,” kata Lucien, seolah menjawab pertanyaan hanya dari sorot mata Helena saja. “Aku akan melindungimu. Itu janjiku.”Pria itu membelai pipi Helena, sebelum akhirnya kembali menatap sang ayah. “Aku akan melepaskan Deren,” katanya. “Dan karena ini masalahku, biar aku sendiri yang menyelesaikannya.” Roy tidak menjawab. Dia berjalan menuju sofa, lalu duduk dengan kedua tangan terlentang di sandaran sofa. Matanya masih memperhatikan Lucien dan Helena silih berganti. “Itu memang sudah seharusnya,” ujar Roy datar. “Kami juga tahu bagaimana Sinclair membersihkan pengacau. Jangan pernah membuang waktu lagi. Aku tidak suka bermain-main.”Helena bisa merasakan Lucien menahan napasnya. Bahkan genggaman tangan pria itu kian menguat, seolah memberi tahu kalau ini bukan hanya sekedar peringatan biasa

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 103. Dia Bekas Adrian!

    “Jangan pernah berani menyentuhnya.” Lucien menegakkan tubuhnya. Napasnya terengah dengan pupil menggelap. Dia menoleh kepada Helena. Wajah wanita itu pucat, matanya dipenuhi ketakutan. Rahang Lucien mengeras. Tanpa membuang waktu, dia segera menghampiri Helena dan berdiri tepat di depannya, melindungi wanita itu dengan tubuhnya.Roy Sinclair masih dengan ekspresi dinginnya. “Jadi benar dia yang membuatmu kehilangan akal sehatmu itu, Lucien?” tanya Roy. Dia memiringkan wajah, menatap sang putra tak percaya. Lucien menarik napas panjang. Genggaman tangannya di tangan Helena mengencang. “Bukan salahnya. Aku yang memilihnya,” kata Lucien. “Aku mencintainya, Ayah.” Roy tertawa, tapi matanya sudah menyipit tajam sampai akhirnya rahanganya kembali mengeras. Dia maju selangkah, menyentuh pundak Lucien. “Ayah tidak pernah bermain-main, Lucien. Kamu tahu itu,” katanya datar. “Berhenti membahas cinta, dan kembali ke posisimu sekarang.” Di belakang, Helena bisa merasakan tangan Lucien yang

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 102. Roy Sinclair

    Dua hari setelah kejadian itu, akhirnya Helena memutuskan untuk kembali bekerja. Dia tidak bisa terus dia dan menghindari Lucien seperti ini. “Helena.” Suara Eve menyambutnya tepat ketika pintu apartemennya terbuka. Wanita itu terlihat lebih kurus dari terakhir mereka bertemu. Helena berusaha mengulas senyum. “Iya,” katanya singkat, mengunci pintu sambil menarik napas panjang. “Maafin aku,” kata Eve lagi. Namun Helena belum menoleh. Matanya yang kembali panas, menatap pintu, nanar.“Sudah lah. Semua sudah berlalu. Aku sudah terbiasa dengan semua ini.” Helena berbalik, menatap Eve, lalu mengulas senyum simpul. Sedikit dipaksakan. U“Aku harus bekerja. Kita akan bicara lain waktu.” Helena segera pergi, tanpa memberi kesempatan Eve untuk menjawabnya.Langkahnya tergesa sambil sesekali menoleh ke belakang, seolah takut kalau Eve mengikutinya lebih jauh. “Tidak, Helena. Dia tidak akan mengejarmu sampai sejauh ini,” gumam Helena. Dia memejamkan mata sesaat, lalu menatap mentari yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status