Share

Bab 7

Author: Stary Dream
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-22 10:50:54

"Perusahaan kita akan di akusisi?" Rangga dan Riana syok sekali mendengar kabar itu.

Tak hanya mereka, karyawan lain juga terdengar gaduh. Perusahaan properti khusus perumahan ini memang bukan perusahaan besar. Tapi sedang beranjak naik daun.

Dan karena ingin berkembang lebih besar, saham milik perusahaan ini di beli oleh PT yang lebih besar. Yaitu PT Sejahtera Village yang sudah menciptakan banyak perumahan. Dimana nanti pemilik dari perusahaan ini akan bergabung disana.

"Kalau diakusisi berarti kita nggak dipecat, kan? Benar begitu, pak?" Tanya Riana pada owner dari perusahaan mereka.

Madani terkekeh. "Tidak. Tenang saja. Tapi seluruh kepemilikan akan diganti menjadi milik PT. Sejahtera. Saya akan memiliki saham sekian persen saja." Ujar pria yang memiliki PT. Madani ini.

"Apapun itu demi kebaikan perusahaan kami hanya bisa mematuhinya, pak." Sahut yang lain.

"Benar. Ngomong-ngomong kapan penggabungan antar perusahaan properti ini?" Tanya Rangga.

"Sekitar dua bulan lagi. Dan saat itu kalian harus bersiap akan wajah baru kita."

Semua orang hanya bisa berpasrah kalau begitu. Asalkan jumlah karyawan tidak dikurangi. Dalam artian tidak sda penggantian karyawan atau pemecatan. Semua masih bekerja dalam jabatan masing-masing.

Siang ini, Rangga mentraktir semua karyawan di PT ini. Katanya karena ia baru saja mendapatkan bonus yang besar oleh Madani.

Kebaikan Rangga disambut baik oleh karyawan lain. Termasuk Riana.

"Kamu memang berhati malaikat, mas." Seru Riana terkekeh. "Ngomong-ngomong aku baru lihat butik Allea pas kita lewat tadi kok nggak ada lagi ya plangnya?"

"Oh.." Rangga jadi badmood mendengar nama butik itu. "Sudah tutup permanen."

"Kenapa? Sayang sekali.."

"Allea nggak punya bakat bisnis sepertinya. Tapi biarkan saja.. itu urusannya." Rangga sama sekali tak perduli.

Jika Rangga tengah naik daun karena karirnya maka sekarang Allea sibuk mencari kerja. Dengan map coklat di tangannya, ia pergi dari satu PT ke PT lain. Sudah lama dia tidak bekerja. Ya, mungkin satu tahun karena sibuk mengurus bisnis butiknya. Entah masih adakah perusahaan yang mau mempekerjakan dirinya? Lebih baik Allea mencoba saja.

Mobil Allea lalu berhenti di sebuah PT yang bergerak di bidang perumahan. Allea tahu PT ini karena pernah menjadi saingan bisnis dari PT Madani.

Satu lagi, PT ini juga sudah menjual banyak perumahan berbagai cluster. Mereka sangat terkenal di internet.

"Selamat pagi, perkenalkan saya Allea." Sapa Allea ramah pada resepsionis perusahaan ini.

"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu, mbak?"

"Ini.. saya sedang mencari pekerjaan. Apakah disini menerima lowongan kerja?" Tanya Allea.

"Sayang sekali, kami sedang tidak membuka lowongan pekerjaan." Jawabnya tersenyum.

"Begitu, ya? Aduh sayang sekali.." Allea menatap map coklat yang ada di tangannya. "Tapi boleh nggak saya menaruh lamaran disini? Bisa jadi suatu saat nanti tenaga saya dibutuhkan."

"Boleh, biar saya terima."

Berkas lamaran milik Allea kini sudah ditangan wanita itu. Entah kapan keajaiban dia bisa bekerja ini terjadi? Allea hanya bisa berdoa diberikan yang terbaik.

"Saya pergi dulu."

Suara seorang pria yang berat membuat Allea dan resepsionis wanita ini menoleh.

"Iya, pak. Hati-hati di jalan." Ucap resepsionis ini sopan.

Allea hanya bisa menatap pria paruh baya yang baru saja lewat itu. Mengenakan kaos santai dan celana jeans, sepertinya dia adalah pekerja juga disini.

"Kalau begitu saya permisi ya, mbak. Terima kasih." Ucap Allea berpamitan.

Wanita ini lalu keluar dari kantor Sejahtera Village untuk pergi ke PT yang lain dan menyebar lamaran. Saat sedang menuruni anak tangga di depan kantor, Allea melihat pria paruh baya yang tadi tengah bercakap melalui ponsel.

Keduanya saling memandang, Allea memberikan senyuman. Tapi pria yang memiliki uban itu seperti tak melihatnya.

Tanpa rasa tersinggung, Allea turun dari anak tangga untuk pergi ke mobilnya yang ada di area parkir.

"Nah, itu dia!" Seru pria itu saat melihat mobil yang baru saja lewat.

Brakk!!

"Astaga!" Serunya mengaduh.

Allea yang mendengar suara seperti orang terjatuh langsung memutar tubuhnya. Matanya membulat ketika pria paruh baya tadi rupanya terpeleset saat menuruni anak tangga.

"Ya, ampun!" Allea menolong pria tersebut dan membantunya berdiri. "Anda tidak apa-apa, pak?"

"Kakiku terkilir." Pria ini meringis.

Tak hanya Allea, satpam dan pegawai dari dalam sampai keluar untuk melihat pria yang terjatuh ini. Mereka bersama-sama mengajak pria ini untuk duduk.

"Bagian mana yang sakit, pak?" Tanya Allea.

Pria itu menunjuk kaki kirinya yang terbalut dengan sepatu. Allea meminta izin untuk membuka sepatu pria ini. Setelah dilihat, ternyata ada bengkak seperti telur ayam di bagian punggung kiri.

"Ada memar dan bengkak. Dibawa ke rumah sakit saja, pak." Ujar Allea.

Oh.. kaki itu semakin sakit saat Allea menyentuhnya. Pria ini menunjuk nyerinya dengan mengkerutkan wajah.

"Sudah ku bilang tangga nggak perlu dipakaikan keramik. Kenapa masih keras kepala juga?" Gerutu suara pria terdengar.

"Selamat pagi, mas." Sapa satpam pada pria lain yang baru datang.

"Apa yang sakit?"

Allea sampai bangkit dari duduknya. Pria berbaju kuning ini baru saja tiba dan langsung mengomel. Ia lalu melihat bengkak yang ada di kaki pria paruh baya itu.

"Kita bawa ke rumah sakit saja." Ucapnya ketus. "Aku bantu papa berdiri!"

Nah, pantas saja pria ini marah-marah. Rupanya yang jatuh adalah ayahnya sendiri.

"Hati-hati, nak. Kaki papa sakit." Ucap pria itu meringis.

Dipapah oleh pria ini dan satpam, pria paruh baya itu turun dari anak tangga menuju mobil yang sudah berhenti disana. Allea pun hanya memperhatikan.

"Masuknya hati-hati." Pria ini membantu ayahnya duduk di dalam kursi mobil. Saat pintu hendak ditutup, pria tua ini menahannya dan memandang Allea yang masih berdiri disana.

"Terima kasih, nak. Siapa namamu?" Tanyanya.

Allea tampak kebingungan. Namun setelah ia yakin pertanyaan itu ditujukan padanya, wanita ini mengangguk sopan.

"Nama saya Allea, pak."

"Allea. Terima kasih." Ucap pria itu tersenyum.

Pintu mobil itu lalu ditutup. Sedangkan Allea terkesiap ketika putra pria paruh baya itu memandangnya dengan tajam.

Allea lekas memutus pandangannya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 14

    "Kita nggak terlambat kalau mampir dulu ke cafe, kan?"Riana langsung melihat jam tangannya dan menatap Rangga yang fokus menyetir."Masih ada waktu setengah jam, mas. Kita masih bisa sarapan." Sahutnya lembut.Mendengar itu, Rangga tertawa. Riana memang mengerti maksudnya. Kebetulan dia memang belum sarapan. Ah, lebih tepatnya tak pernah sarapan lagi. Sebagai gantinya, dia selalu mengajak Riana untuk mampir ke kedai kopi dan makan pagi disana.Sesampainya, Riana memesan dua Americano dan juga roti panggang berlapis daging. Menu kesukaan dari Rangga.Keduanya sarapan bersama. Bercengkrama seakan lupa jika ada manusia lain selain mereka.Pintu didorong ke dalam, seorang wanita yang memakai kemeja bergaris ini masuk dan memandang dingin dua insan yang sedang tertawa bersama.Allea tersenyum tipis. Benar dugaannya. Kehangatan yang dulu pernah menjadi miliknya sekarang semuanya telah menjadi milik sahabatnya."Mau p

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 13

    Rangga menatap sisi tempat tidurnya. Kosong. Bantal dan selimut itu licin tak tersentuh. Itu artinya Allea tak tidur di sisinya semalaman.Tapi, apa perdulinya? Itu malah bagus karena Rangga tak perlu mendengarkan rengekan wanita itu lagi.Pria ini lalu turun ke bawah. Hari libur telah berganti menjadi hari kerja. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Rangga menuju dapur untuk sarapan.Saat tudung saji itu dibuka, dahi pria ini mengernyit. Lagi-lagi kosong.Pandangan matanya lalu melesat ke meja kompor yang bersih. Begitu juga dengan washtafel yang tak terisi piring dan cangkir kotor lagi."Ternyata dia menepati janjinya untuk nggak memasak lagi. Baguslah." Ujar Rangga merengut.Pria ini mengambil ranselnya dan pergi ke kantor. Sebelum itu, ia menghubungi Riana. Kebetulan jalan menuju ke kost milik Riana satu jalan dengan kantor mereka.Rangga menawarkan diri untuk menjemput. Riana dengan senang hati menerima.

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 12

    "Mungkin dengan kehadiran buah hati, hubungan kalian akan membaik lagi."Suara Sofia yang lembut dan penuh ketenangan berngiang di telinga Allea."Mama tahu rumah tangga kalian sedang mengalami krisis, Allea. Tapi pria tidak akan pernah menurunkan egonya. Mama tidak memaksamu, sayang.. tapi mama mau kamu belajar menjadi apa yang Rangga mau. Ada sesuatu dalam rumah tangga kalian yang harus diperbaiki. Dan hanya kamu yang bisa memeriksanya."Allea menarik nafas panjang. Emosinya terbakar. Hatinya menciut. Jika sudah berbicara dengan Sofia maka ia tak pernah bisa melawan.Allea tahu kalau Sofia menyayanginya. Tapi dia juga tahu kalau mertuanya itu menekan agar dirinya yang mengalah. Seperti katanya, wanita tak akan pernah menang melawan ego laki-laki. Dan sebaiknya, Allea harus mempertimbangkannya.Handle pintu itu dibuka perlahan oleh Allea. Hari menjelang sore, mobil Rangga masih terpakir di dalam garasi. Artinya ada Rangga di rumah.Allea sempat berfikir, "Apakah aku perlu memperbaiki

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 11

    "Ada masalah apa lagi ini?" Desah Allea pelan.Tiba-tiba saja mobil kecilnya ini mogok di tengah jalan. Berulang kali dia menstarter. Bak kompor yang tak tersambar api, mobil ini masih tak hidup jua.Akhirnya, Allea membuka sabuk pengamannnya dan turun dari mobil. Dengan malu, ia meminta maaf pada kendaraan yang ada di belakang mobilnya."Maaf, mobil saya mogok." Allea tertunduk-tunduk ketika beberapa mobil membunyikan klakson.Pedagang kaki lima yang sedang berjualan di trotoar bergegas menolong Allea yang kesulitan. Oh, rasanya seperti mendapatkan oasis di tengah gurun. Beberapa pria itu datang dan menawarkan bantuan.Allea masuk lagi ke mobil dan menstarter mobilnya meskipun gagal. Walaupun begitu, pria-pria itu tadi membantu mendorong mobil mogok itu sampai ke pinggir jalan."Mbak. Disana ada bengkel. Kita kesana aja!" Teriak pria yang mendorong dari belakang.Allea mengangguk. Setelah mendorong cukup jauh, mobil Allea akhirnya bisa di rescue oleh tim bengkel. Mereka membuka cap m

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 10

    "Sudah ku bilang kan kalo masakanku lebih enak!" Goda Rangga pada Riana.Wanita ini sampai tertawa terbahak-bahak dengan pipi yang memerah."Iya, deh. Kamu memang pintar masak. Kamu pemenangnya!" Riana memberikan dua jempol. "Beruntung banget Allea bisa makan masakanmu tiap hari."Mendengar nama istrinya disebut membuat wajah Rangga yang cerah menjadi kelabu. Dia lalu berdeham tak enak. Entah apa yang membuat nama Allea jadi tak enak di dengar."Ya, begitulah." Sahut Rangga acuh.Giliran Riana yang tersenyum kecut. Dia iri pada sahabatnya bernama Allea itu. Dari kuliah, wanita itu selalu beruntung. Allea berprestasi dan langsung mendapat pekerjaan setelah tamat kuliah.Hebatnya lagi dia bisa mendirikan bisnis sendiri ya.. walaupun ambruk juga. Tapi yang lebih penting, Allea berhasil dipinang oleh pria sesempurna Rangga. Wah.. amalan apa yang sebenarnya dilakukan Allea hingga sebegitu beruntungnya!"Sini biar aku cuci piring!""Eh!" Riana terperanjat. Dia lekas menyusul Rangga yang su

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 9

    Rangga mengetuk pintu kamar tamu dengan pelan. Seakan takut mengganggu penghuni yang ada di dalam.Pintu itu terbuka lebar, Riana muncul dengan senyum manisnya. Dari rambutnya jatuh air bercucuran mengenai pakaiannya. Membasahi pakaian kerja Riana yang belum digantikan."Ini pakaian tidur untukmu." Rangga tersenyum melihat wajah wanita ini. Ternyata Riana lebih cantik tanpa polesan bedak."Ah, baju ini lagi." Riana tersipu. Gaun tidur pendek berwarna merah muda. Sudah beberapa kali Riana kemari dan sesering itu juga Rangga meminjamkan pakaian milik Allea ini untuknya."Iya. Pakailah. Jangan pakai baju yang basah. Nanti kamu masuk angin." Ujar Rangga perhatian sekali."Iya, mas. Aku ganti baju dulu, ya." Sahut Riana tersenyum manis. Dia melambaikan tangan sebelum menutup pintu. Seolah dia akan pergi jauh dan sangat lama.Sementara dari ujung tangga, Allea ingin muntah melihat interaksi antara sahabat dan suaminya. Oh.. inikah namanya rekan kerja? Sungguh tidak masuk di akal. Memuakkan!

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status