Share

Bab 6

Author: Stary Dream
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-31 09:36:19

"Tunggu, Riana!"

Suara dari Rangga beriringan dengan petir yang baru saja menyambar bumi. Wanita ini terkejut ketakutan. Rangga pun bersikap sama.

Tapi bagi Allea tak ada yang lebih mengejutkan dari sikap suaminya.

"Kamu tetap disini. Tidak perlu pulang!" Tegasnya.

Riana menoleh. Wajah itu masih dipenuhi oleh air matanya. Bahunya naik turun menyiratkan ketakutan.

"Aku harus pulang, mas. Nggak apa-apa. Aku nggak kamu kehadiranku disini membuat kalian salah paham." Serayanya memandang Allea yang diam saja.

"Tapi, Riana.. kamu bisa sakit kalau terkena air hujan!" Seru Rangga melunak. Intonasi suara itu diturunkan dan terdengar penuh kecemasan.

Allea sampai menoleh dan memandang dengan tajam. Tangan itu terkepal erat.

"Pulang lah. Aku akan memesankan taksi." Ucap Allea dingin.

Mata Rangga melotot pada istrinya.

"Apa kamu nggak punya hati membiarkan Riana pulang di hujan deras seperti ini?" Nada Rangga naik dua tingkat.

"Riana benar. Dia tidak boleh ada disini, mas. Atau kehadirannya bisa membuat kita salah paham."

"Allea!"

"Mas Rangga. Sekali saja.. aku ingin memperbaiki rumah tangga kita. Tapi kamu selalu membawa wanita lain ke rumah ini. Sekarang aku tahu.. ternyata kamu memang menyukai sahabatku." Ucap Allea tanpa emosi.

Plakk!!!

Riana terkejut sampai mengatup mulutnya. Allea tertegun dengan wajah yang terpaling. Dia syok berat. Allea lalu memegang pipinya yang baru saja mendapatkan cap lima jari dari suaminya sendiri.

Sedangkan Rangga terkesiap. Tangannya sampai gemetaran. Ia akui tak sengaja melayangkan tamparan pada istrinya.

"Mas Rangga.." Riana kehilangan kata-kata.

"Riana masuklah ke kamarmu." Ucap Rangga terengah menata emosi.

Riana terdiam. Dia ingin membantah tapi tatapan mata Rangga yang memerah membuatnya sulit membuka suara. Akhirnya, Riana memutar tubuhnya dan masuk ke dalam kamar tamu.

Allea mengusap pipinya yang memerah. Mata itu sudah tergenang air. Ia lalu memandang wajah suaminya.

"Allea." Tegur Rangga mendekat.

"Kamu berani menampar istrimu demi wanita lain, mas?" Tanyanya dingin.

Hal itu membuat Rangga kembali emosi.

"Mau sampai kapan kamu bersikap kekanak-kanakan seperti ini, Allea? Riana itu sahabatmu! Bukan orang lain!!"

"Dan kamu memarahiku hanya untuk membela Riana. Baiklah aku mengerti." Allea mengangguk. "Kamu tidak suka aku ganggu. Tidak suka aku tegur. Tidak suka masakanku. Tidak suka mendengar suaraku dan tidak suka dengan segala hal yang aku perbuat. Baik. Aku akan mematuhi semuanya."

"Allea! Apa maksud kamu berbicara seperti itu, hah? Jangan bilang kalau kamu mau mengadukan hal ini sama mama!" Rangga menatap tajam. "Jangan seperti anak kecil yang setiap bertengkar selalu mengadu pada orang tua!"

Allea tersenyum tipis di hatinya yang patah.

"Tenang saja, mas. Seperti katamu, aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Bahkan mama Sofia hanya orang lain untukku."

Allea berbalik dan naik lagi ke lantai atas. Masuk ke kamar, mengunci pintu dan menumpahkan tangisannya disana.

Malam ini, Rangga sudah mempermalukan dirinya di depan Riana. Demi wanita itu, Rangga tega memukul istrinya sendiri.

"Kamu membuatku kehilangan anak, mas. Kamu juga telah menghancurkan diriku.. jadi jangan salahkan aku jika aku membunuh semua perasaan ini.." lirihnya terisak.

Allea mengusap air matanya. Ia mengambil sebuah notebook yang ada di dalam laci lemari. Menggoyangkan pulpen dan menuliskan hal-hal yang tak Rangga sukai disana.

Allea akan mengingat semuanya. Ia berjanji untuk membunuh perasaannya hingga mati rasa.

Pagi menjelang, tidak ada makanan di meja. Tidak ada harum masakan yang menyerbak. Rangga melihat istrinya masih terbaring di tempat tidur. Dengan terpaksa, dia sendiri lah yang membuat kopi sendiri dan memanggang roti untuk Riana.

"Pagi, mas Rangga." Ucap Riana tersenyum manis.

"Pagi, Riana." Balas Rangga sama manisnya. "Aku sudah buat roti panggang untukmu."

"Hah? Kamu yang buat?" Riana terkejut dan tertawa. "Beneran?"

"Cobain aja!" Rangga tertawa dengan menggaruk kepalanya. "Tapi aku tidak tahu gimana rasanya."

Riana mengulum senyum dan mengambil tempat duduk. Dengan sikapnya yang menggoda, ia mengigit roti itu dan mengunyah perlahan.

"Hmm... ini enak banget, mas. Ya ampun! Kayaknya kamu harus buka pre order deh, mas! Aku yakin pasti banyak yang mau pesen roti lapis buatanmu."

Mendengar itu, Rangga jadi tertawa.

"Kamu memang pinter memuji ya, Riana!"

Riana ikut tertawa. Sarapan pagi ini begitu menyenangkan karena ada kehangatan dari Rangga dan juga wanita yang mengaku rekan kerjanya.

Suara langkah kaki terdengar turun dari anak tangga. Wajah Rangga yang tadinya berbinar sontak berubah muram. Begitu juga dengan Riana yang langsung berdiri memasang wajah kikuk.

"Eh, pagi, Allea.." sapa Riana terbata. "Kita sarapan bersama, yuk. Kebetulan mas Rangga buat roti lapis." Ajaknya.

Alis Allea sampai terangkat. Rangga memasak? Wah itu harus diabadikan menjadi salah satu keajaiban dunia. Suaminya yang tidak mau ikut campur urusan rumah tangga kini bisa jadi koki demi Riana. Jelas masakan itu istimewa dan Allea tak berhak menyentuhnya.

"Kalian saja." Sahut Allea datar. Wanita ini lalu melenggang keluar dari rumah begitu saja.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 18

    Allea masuk ke perkarangan rumah dan menatap sedikit mobil yang sudah terparkir disana. Tanpa banyak komentar, Allea membuka handle pintu dan masuk ke dalam rumah.Ia tertegun sebentar. Terkejut. Tapi mulai terbiasa.Wanita ini lagi.. wanita yang selalu dibawa pulang oleh suaminya."Hai, Alle!" Sapa Riana ramah. "Maaf ya, aku numpang lagi menginap malam ini. Abisnya kami pulang kemalaman dari survey."Alis Allea terangkat satu. Jam di dinding baru menunjukkan pukul 18.30. Kemalaman di dunia apakah itu namanya?"Hmm.. ya, silahkan saja. Kamu pasti tahu akan tidur dimana." Sahut Allea datar.Wanita ini berlalu melewati Riana dan pergi ke kamarnya yang ada di lantai atas. Saat dia masuk ke dalam kamar, Allea terkejut karena melihat Rangga tengah mengacak-ngacak pakaiannya."Mau cari apa kamu, mas?""Baju tidur yang biasa dipakai Riana." Jawabnya tanpa menoleh."Oh. Gaun tidur itu? Ku taruh di dalam lemari

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 17

    Rangga mengaduk sendok di dalam kopinya dengan setengah menggerutu."Hebat sekali dia. Apa dia pikir aku akan perduli padanya?!" Sebal sekali Rangga dibuat oleh istrinya itu.Berani sekali Allea sarapan santai dan duduk manis. Hanya makan satu porsi dan tidak menawarkannya lagi.Biasanya wanita itu akan memanggil Rangga dengan lembut. Jika Rangga menolak, maka Allea akan memaksanya duduk dan menyuapinya makan. Dan yang paling konyol, Allea akan membawakan bekal makan siang untuknya.Tapi hari ini, Allea sama sekali tak menawarinya.Astaga!Bagaimana Allea bisa mengajaknya sarapan bersama jika melihat wajah suaminya saja tidak?"Hey! Mas Rangga lagi buat kopi juga?" Tegur suara cerah dari belakang.Rangga menoleh dan membingkai senyuman."Gimana perutmu?""Agak mendingan." Riana mengambil cangkir dan menyeduh kopi. "Kamu nggak sarapan, mas?"Rangga menggeleng. "Tadi masih kenyang."

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 16

    Riana menekuk kepalanya dengan dalam. Di depan sana ada Ilmi dan Riza yang sibuk bekerja di balik komputer. Gara-gara ditegur Madani di hadapan rekan kerjanya membuat Riana jadi malu. Terlebih Madani mengatakan akan memutasi Riana ke divisi lain gara-gara hubungannya dengan Rangga yang terlanjur dekat. Astaga! Bagaimana ini? Mau ditaruh dimana wajah cantiknya ini. Apalagi memang keduanya acap kali menjadi buah bibir di kantor.Percuma mau mengelak. Toh, waktu itu rekan kerja mereka pernah memergoki Rangga membawa Riana menginap di rumah pria itu.Sedangkan, Rangga juga ikut pusing karena perkataan dari Madani tadi. Wajah ini jadi merah padam. Seolah-olah dia adalah pelaku perselingkuhan.Nyatanya, Rangga dan Riana kan hanya berteman saja.Ah, lupakan soal itu. Rangga melirik ponselnya yang sejak tadi tenang. Padahal hari sudah sore, tapi Allea kok tidak memberi kabar?Ralat. Allea tadi ada di IGD, kan? Dengan sikapnya yang kekan

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 15

    Allea keluar dari kamar mandi sambil menggeret tiang infus. Tangannya yang kecil terkait dengan selang infus. Wajah itu pucat pasih. Hidungnya memerah karena muntah.Perawat yang melihat Allea bersusah payah berjalan dengan tiang infus itu lekas menolong. Allea lalu dipapah masuk ke dalam tirai tempat dirinya berbaring."Allea.." Rangga mengerjap kesadarannya.Mata Riana sampai membulat sempurna. Astaga! Kesialan apalagi kini yang menimpanya. Tadi pagi ia melihat Allea di kedai kopi. Dan sekarang Allea juga ada di rumah sakit dengan posisi terinfus. Oh.. pasti sakitnya parah sekali."Mas! Itu Allea, kan?" Riana mencoba bertanya. Allea masih memakai kemeja bergaris yang sama."Hmm.. iya.""Sakit apa dia, mas?"Rangga menggeleng. "Aku nggak tahu.""Ayo, kita lihat." Ajak Riana."Biarkan saja. Kita harus pulang ke kantor, Riana.""Tapi, dia...""Tidak." Potong Rangga tegas. "Jika Allea sa

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 14

    "Kita nggak terlambat kalau mampir dulu ke cafe, kan?"Riana langsung melihat jam tangannya dan menatap Rangga yang fokus menyetir."Masih ada waktu setengah jam, mas. Kita masih bisa sarapan." Sahutnya lembut.Mendengar itu, Rangga tertawa. Riana memang mengerti maksudnya. Kebetulan dia memang belum sarapan. Ah, lebih tepatnya tak pernah sarapan lagi. Sebagai gantinya, dia selalu mengajak Riana untuk mampir ke kedai kopi dan makan pagi disana.Sesampainya, Riana memesan dua Americano dan juga roti panggang berlapis daging. Menu kesukaan dari Rangga.Keduanya sarapan bersama. Bercengkrama seakan lupa jika ada manusia lain selain mereka.Pintu didorong ke dalam, seorang wanita yang memakai kemeja bergaris ini masuk dan memandang dingin dua insan yang sedang tertawa bersama.Allea tersenyum tipis. Benar dugaannya. Kehangatan yang dulu pernah menjadi miliknya sekarang semuanya telah menjadi milik sahabatnya."Mau p

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 13

    Rangga menatap sisi tempat tidurnya. Kosong. Bantal dan selimut itu licin tak tersentuh. Itu artinya Allea tak tidur di sisinya semalaman.Tapi, apa perdulinya? Itu malah bagus karena Rangga tak perlu mendengarkan rengekan wanita itu lagi.Pria ini lalu turun ke bawah. Hari libur telah berganti menjadi hari kerja. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Rangga menuju dapur untuk sarapan.Saat tudung saji itu dibuka, dahi pria ini mengernyit. Lagi-lagi kosong.Pandangan matanya lalu melesat ke meja kompor yang bersih. Begitu juga dengan washtafel yang tak terisi piring dan cangkir kotor lagi."Ternyata dia menepati janjinya untuk nggak memasak lagi. Baguslah." Ujar Rangga merengut.Pria ini mengambil ranselnya dan pergi ke kantor. Sebelum itu, ia menghubungi Riana. Kebetulan jalan menuju ke kost milik Riana satu jalan dengan kantor mereka.Rangga menawarkan diri untuk menjemput. Riana dengan senang hati menerima.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status