FAZER LOGINRangga menatap sisi tempat tidurnya. Kosong. Bantal dan selimut itu licin tak tersentuh. Itu artinya Allea tak tidur di sisinya semalaman.Tapi, apa perdulinya? Itu malah bagus karena Rangga tak perlu mendengarkan rengekan wanita itu lagi.Pria ini lalu turun ke bawah. Hari libur telah berganti menjadi hari kerja. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Rangga menuju dapur untuk sarapan.Saat tudung saji itu dibuka, dahi pria ini mengernyit. Lagi-lagi kosong.Pandangan matanya lalu melesat ke meja kompor yang bersih. Begitu juga dengan washtafel yang tak terisi piring dan cangkir kotor lagi."Ternyata dia menepati janjinya untuk nggak memasak lagi. Baguslah." Ujar Rangga merengut.Pria ini mengambil ranselnya dan pergi ke kantor. Sebelum itu, ia menghubungi Riana. Kebetulan jalan menuju ke kost milik Riana satu jalan dengan kantor mereka.Rangga menawarkan diri untuk menjemput. Riana dengan senang hati menerima.
"Mungkin dengan kehadiran buah hati, hubungan kalian akan membaik lagi."Suara Sofia yang lembut dan penuh ketenangan berngiang di telinga Allea."Mama tahu rumah tangga kalian sedang mengalami krisis, Allea. Tapi pria tidak akan pernah menurunkan egonya. Mama tidak memaksamu, sayang.. tapi mama mau kamu belajar menjadi apa yang Rangga mau. Ada sesuatu dalam rumah tangga kalian yang harus diperbaiki. Dan hanya kamu yang bisa memeriksanya."Allea menarik nafas panjang. Emosinya terbakar. Hatinya menciut. Jika sudah berbicara dengan Sofia maka ia tak pernah bisa melawan.Allea tahu kalau Sofia menyayanginya. Tapi dia juga tahu kalau mertuanya itu menekan agar dirinya yang mengalah. Seperti katanya, wanita tak akan pernah menang melawan ego laki-laki. Dan sebaiknya, Allea harus mempertimbangkannya.Handle pintu itu dibuka perlahan oleh Allea. Hari menjelang sore, mobil Rangga masih terpakir di dalam garasi. Artinya ada Rangga di rumah.Allea sempat berfikir, "Apakah aku perlu memperbaiki
"Ada masalah apa lagi ini?" Desah Allea pelan.Tiba-tiba saja mobil kecilnya ini mogok di tengah jalan. Berulang kali dia menstarter. Bak kompor yang tak tersambar api, mobil ini masih tak hidup jua.Akhirnya, Allea membuka sabuk pengamannnya dan turun dari mobil. Dengan malu, ia meminta maaf pada kendaraan yang ada di belakang mobilnya."Maaf, mobil saya mogok." Allea tertunduk-tunduk ketika beberapa mobil membunyikan klakson.Pedagang kaki lima yang sedang berjualan di trotoar bergegas menolong Allea yang kesulitan. Oh, rasanya seperti mendapatkan oasis di tengah gurun. Beberapa pria itu datang dan menawarkan bantuan.Allea masuk lagi ke mobil dan menstarter mobilnya meskipun gagal. Walaupun begitu, pria-pria itu tadi membantu mendorong mobil mogok itu sampai ke pinggir jalan."Mbak. Disana ada bengkel. Kita kesana aja!" Teriak pria yang mendorong dari belakang.Allea mengangguk. Setelah mendorong cukup jauh, mobil Allea akhirnya bisa di rescue oleh tim bengkel. Mereka membuka cap m
"Sudah ku bilang kan kalo masakanku lebih enak!" Goda Rangga pada Riana.Wanita ini sampai tertawa terbahak-bahak dengan pipi yang memerah."Iya, deh. Kamu memang pintar masak. Kamu pemenangnya!" Riana memberikan dua jempol. "Beruntung banget Allea bisa makan masakanmu tiap hari."Mendengar nama istrinya disebut membuat wajah Rangga yang cerah menjadi kelabu. Dia lalu berdeham tak enak. Entah apa yang membuat nama Allea jadi tak enak di dengar."Ya, begitulah." Sahut Rangga acuh.Giliran Riana yang tersenyum kecut. Dia iri pada sahabatnya bernama Allea itu. Dari kuliah, wanita itu selalu beruntung. Allea berprestasi dan langsung mendapat pekerjaan setelah tamat kuliah.Hebatnya lagi dia bisa mendirikan bisnis sendiri ya.. walaupun ambruk juga. Tapi yang lebih penting, Allea berhasil dipinang oleh pria sesempurna Rangga. Wah.. amalan apa yang sebenarnya dilakukan Allea hingga sebegitu beruntungnya!"Sini biar aku cuci piring!""Eh!" Riana terperanjat. Dia lekas menyusul Rangga yang su
Rangga mengetuk pintu kamar tamu dengan pelan. Seakan takut mengganggu penghuni yang ada di dalam.Pintu itu terbuka lebar, Riana muncul dengan senyum manisnya. Dari rambutnya jatuh air bercucuran mengenai pakaiannya. Membasahi pakaian kerja Riana yang belum digantikan."Ini pakaian tidur untukmu." Rangga tersenyum melihat wajah wanita ini. Ternyata Riana lebih cantik tanpa polesan bedak."Ah, baju ini lagi." Riana tersipu. Gaun tidur pendek berwarna merah muda. Sudah beberapa kali Riana kemari dan sesering itu juga Rangga meminjamkan pakaian milik Allea ini untuknya."Iya. Pakailah. Jangan pakai baju yang basah. Nanti kamu masuk angin." Ujar Rangga perhatian sekali."Iya, mas. Aku ganti baju dulu, ya." Sahut Riana tersenyum manis. Dia melambaikan tangan sebelum menutup pintu. Seolah dia akan pergi jauh dan sangat lama.Sementara dari ujung tangga, Allea ingin muntah melihat interaksi antara sahabat dan suaminya. Oh.. inikah namanya rekan kerja? Sungguh tidak masuk di akal. Memuakkan!
Gemuruh sesahutan. Rintik demi rintik mulai berjatuhan mengguyur bumi. Allea membuka pintu pagar dengan cepat. Memarkirkan mobilnya ke dalam garasi sebelum hujan mengguyur lebat."Hampir saja." Helaan nafas lega keluar dari mulut wanita ini. Setelah mobil itu masuk ke sarangnya, hujan lebat mulai membasahi bumi. Allea bergegas masuk ke dalam rumahnya. Menghidupkan sakelar lampu untuk menerangi hari yang mulai malam.Sudah pukul tujuh. Maghrib baru saja usai. Allea harus membersihkan diri sebelum mengadu pada Sang Pencipta.Sudah kurang lebih 10 hari Allea berkelana menyebar lamaran pekerjaan. Dari sekian banyak perusahaan yang di datanginya, belum ada satu pun perusahaan yang mau meminangnya.Kalau begini, Allea jadi insecure lagi. Gara-gara terlalu lama menganggur, kemampuannya pasti diragukan.Allea membalik diri dan hendak pergi ke lantai dua dimana kamarnya berada. Namun pantulan silau lampu dari luar membuatnya menoleh. Rupanya suaminya juga baru pulang bekerja."Aku akan membua







