登入BAB 131
"Mbak, mau ke mana?" bisik Beni panik, begitu menyadari Zea melangkah cepat dengan raut wajah yang tidak biasa."Tolong awasi lorong lift, Ben. Kalo dia balik, missed call aku. Sekali aja," perintah Zea pelan pada anggota timnya itu.Lalu, tanpa menunggu jawaban Beni, Zea menyelinap masuk ke ruangan Sandra. Jantungnya berdegup gila-gilaan, memompa adrenalin hingga ke ujung jari kakinya. Ia tahu, jika ketahuan, ini bukan lagi sekadar soal pemecatanBAB 138Ibra menolak mentah-mentah pengaturan pertemuan yang diajukan kedua orang tua Naya.Lelaki itu entah bagaimana caranya berhasil mengambil alih kendali, merubah waktu dan tempat pertemuan ke keesokan harinya, pada jam makan siang, di sebuah ruang VIP restoran hotel bintang lima.Zea yang memang sudah pasrah, memilih mempercayai dan mengikuti keputusan lelaki itu.Satu yang pasti, Ibra tidak datang untuk bernegosiasi dengan tangan kosong.Saat pintu ruang VIP itu dibuka, kedua orang tua Naya yang sudah duduk di dalam tampak terkejut, ketika mereka tak hanya melihat Zea dan Ibra, melainkan juga tiga orang pria bersetelan necis dengan tas kerja premium di belakang keduanya. Mereka adalah tim pengacara korporat terbaik yang disewa langsung oleh Ibra."Selamat siang, Tuan dan Nyonya," sapa Ibra, suaranya terdengar dingin meski dilengkapi bibir yang melengkungkan senyuman datar. Ia menarikkan kursi untuk
BAB 137Lengkingan teriakan Naya-lah yang menyadarkan Arkan. Menariknya dari kegelapan pekat. Gelora emosi wanita itu menyentuh jiwanya yang tertidur. Menggapai kesadarannya yang telah berhari-hari mati rasa.Ketika akhirnya hal itu perlahan mencapainya, kelopak matanya yang terasa berat perlahan bergetar. Hal pertama yang ditangkap oleh rungunya adalah suara lembut seseorang yang sangat ia rindukan.Zea.Suara gadis itu terdengar begitu dekat, nyata, dan hangat. Jantung Arkan berdenyut liar, memberikan pasokan energi instan yang memicu otaknya untuk bekerja kembali.Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sepersekian detik.Lamat-lamat, sebuah suara bariton menimpali ucapan Zea. Nadanya tegas, namun tenang, dan sarat akan keintiman. Seakan pemiliknya begitu dekat, begitu akrab dengan Zea. Rasa tidak suka mendadak membakar dada Arkan, sebuah sengatan cemburu yang lebih menyakitkan daripada luka robek di bahunya.
BAB 136“Nggak! Kalian salah orang!! Zea!! Ini pasti kerjaan kamu, kan!! Kamu ngejebak aku!! Dasar brengsek kamu!! Murahaaan!!!Mas Arkan!! Mas Arkan!! Tolong aku, Mas!! MAS TOLOOONG!!”Naya menjerit, mencoba menggapai brankar Arkan, namun petugas dengan cepat menghadang tubuhnya dan menggiringnya keluar dari kamar rawat. Ibra berdiri maju, memposisikan dirinya sedikit di depan Zea. Sebuah gestur protektif.Suara jeritan dan langkah kaki Naya yang terseret perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang damai di dalam ruangan.Zea mengembuskan napas panjang, bahunya yang tegang perlahan melonggar. Ia menatap telapak tangannya yang masih terasa sedikit panas akibat tamparan tadi.Ibra menatap telapak yang memerah itu, dan segera menyadari apa yang telah terjadi. Perlahan, ia membimbing Zea menuju sofa. Lelaki itu kemudian berjongkok di hadapan Zea.Keduanya terdiam sejenak sambil memandang telapak tang
BAB 135Zea tertegun. Ia bisa merasakan ketulusan lelaki dengan iris mata madu ini. Pria ini selalu menawarkan keamanan, kestabilan, dan perlindungan. Sungguh, Zea memahami ketakutan dan kekhawatiran Ibra. Namun, di dalam hatinya, ada sesuatu yang telah bergeser sejak truk itu menghantam mobil Arkan. Rasa takutnya telah menguap, digantikan oleh keberanian yang lahir dari rasa sakit.“Aku tau Mas, aku tau kalo Naya itu berbahaya.” jawab Zea, suaranya terdengar jauh lebih tegar dari sebelumnya, “Itulah sebabnya aku setuju pergi ke Pulau ini, aku memilih menyingkir. Menjauh. Tapi bahkan setelah aku memilih pergi dan mengalah, Naya masih terus ngejar aku. Sampe-sampe dia ngedeketin orang kayak Sandra buat ngebantuin dia ngejatuhin aku. Segitu niatnya dia buat bikin aku celaka. Tapi kali ini…,” Zea menggelengkan kepalanya pelan, “Aku nggak akan lari lagi. Aku nggak mau ngumpet lagi. Aku mau nyelesain semuanya. Dan aku rasa, sekaranglah
BAB 134“Sandra udah ditangkap.” Pak Wira berkata tenang. Matanya menatap Zea lekat.Zea membeku.“A-apa…?” Gadis itu memandang dengan tatapan tak percaya pada bosnya. "Bapak tau…?" "Bapak tau soal Sandra? Bahwa dia melakukan sabotase?” ulangnya.Pak Wira menghela napas panjang, dan berat, pria itu menatap nanar lantai rumah sakit, “Saya punya kecurigaan sejak lama, tapi Sandra selalu bermain rapi. Dia tahu celah birokrasi kantor, dan dia tahu bagaimana mengunci mulut orang-orang di bawahnya. Saya butuh sesuatu, atau seseorang, untuk mengacaukan fokusnya. Saat itu saya sudah curiga dia sedang bernegosiasi dengan kompetitor kita di sini, Prima Energy. Dia itu cukup… arogan. Saya sengaja memberi dia waktu dan ruang agar dia berpikir rencananya berjalan sempurna.”Zea mengerjapkan matanya, tak mengerti.“Saya butuh seseorang agar dia jadi terdistraksi, dan membuat kekacauannya sendiri.” l
BAB 133“Hmm…?” Arkan menoleh singkat.Zea memandang kosong ke arah jalanan. Tetapi matanya menyimpan sesuatu yang jauh lebih rumit. Rasa takut, lelah, dan putus asa yang perlahan menumpuk tanpa suara.Ia sudah pergi sejauh ini. Menjauh dari Arkan. Menyerah. Bahkan rela mengorbankan dirinya sendiri demi menghentikan semuanya.Namun ternyata… tangan Naya masih bisa menjangkaunya.Masih bisa menghancurkan hidupnya.Masih bisa menyeret orang-orang di sekitarnya ke dalam bahaya.“Kenapa dia nggak berhenti juga…?” lirih Zea dengan suara yang nyaris pecah. “Aku kan udah pergi….”Arkan meliriknya sekilas. Rahangnya mengeras.“Nggak akan aku biarin dia nyakitin kamu lagi.” Suaranya rendah, tetapi terdengar tegas. “Aku janji.”Kalimat itu membuat dada Zea menghangat sekaligus sesak.Namun sebelum ia sempat menjawab, pandangan Arkan tiba-tiba berubah tajam ke depan.“Brengsk…”Zea spontan iku







