FAZER LOGINSatu malam yang salah, satu rahasia yang mengubah hidup mereka selamanya. Lily Braun mengira hidupnya akan berakhir setelah ia melarikan diri dari ranjang seorang pria asing yang ia tiduri secara tidak sengaja. Namun, takdir justru menyeretnya masuk ke Heidelberg Universitätsklinikum sebagai residen baru, tepat di bawah pengawasan Leon Kahnwald—sang dokter bedah jenius sekaligus pewaris rumah sakit yang ia tinggalkan seminggu lalu. Leon, pria yang selama ini hanya hidup untuk ruang operasi, tidak membiarkan Lily lepas untuk kedua kalinya. Saat tahu Lily mengandung darah dagingnya, Leon melakukan hal yang paling tak terduga: membawanya pulang dan menikahinya. Lily gemetar membayangkan penolakan dari keluarga konglomerat Kahnwald. Namun, kenyataan justru berbanding terbalik. "Akhirnya, Leon! Kami pikir kau akan menikahi mikroskop selamanya!" Hans dan Sofia Kahnwald, sang pemilik tahta medis, menyambut Lily dengan tangan terbuka. Mereka tidak peduli dengan status sosial Lily; bagi mereka, Lily adalah penyelamat yang membuat putra tunggal mereka akhirnya bersikap seperti manusia biasa. Kini, Lily terjebak dalam posisi yang mustahil. Di rumah, ia adalah menantu kesayangan yang dimanjakan oleh mertua kaya raya. Namun di rumah sakit, ia tetaplah residen tahun pertama yang harus tunduk pada aturan ketat dan merahasiakan pernikahannya dari mata publik. Bagaimana Lily bisa bertahan saat Leon terus mencuri kesempatan untuk memanjakannya di koridor rumah sakit? Dan apa yang akan terjadi saat bibi Lily yang rakus mulai mencium bau kekayaan keluarga Kahnwald?
Ver maisHujan deras mengguyur Heidelberg, seolah ikut meratapi nasib Lily Braun yang hancur berkeping-keping. Dengan napas tersengal dan gaun yang sedikit basah, ia berlari masuk ke lobi hotel mewah bintang lima. Di belakangnya, suara teriakan Bibi Helga masih terngiang, menusuk telinga lebih tajam dari petir mana pun.
"Kau berutang budi padaku sejak orang tuamu mati, Lily! Tuan Muller hanya ingin kau menemaninya makan malam, dan semua utangku lunas. Kenapa kau begitu keras kepala?!"
"Makan malam yang menjijikkan!" teriak Lily dalam hati. Ia tahu persis apa arti 'menemani' bagi pria tua bangka itu. Ia adalah seorang dokter yang baru saja bersumpah untuk menyelamatkan nyawa, bukan untuk menjadi barang dagangan bibinya sendiri.
Lily melangkah menuju bar hotel yang remang-remang, mencoba menenggelamkan diri dalam kebisingan musik jazz dan aroma alkohol yang kuat. Ia memesan minuman pertamanya, lalu yang kedua, hingga kepalanya mulai terasa ringan dan dunia di sekitarnya tampak berputar lembut.
Di sudut lain bar yang eksklusif itu, suasana jauh lebih meriah. Gelak tawa pecah di meja besar yang dipenuhi botol-botol sampanye mahal.
"Selamat datang kembali, sang jenius kita! Bagaimana rasanya kembali ke tanah air setelah menaklukkan meja operasi di Amerika, Leon?" Bastian, dengan senyum lebarnya, mengangkat gelas tinggi-tinggi.
Leon Kahnwald hanya tersenyum tipis, menyesap minumannya dengan elegan. "Meja operasi tetap sama di mana pun, Bastian. Hanya saja, tekanan ayahku di sini jauh lebih menyesakkan."
"Lupakan soal rumah sakit malam ini! Ini pesta penyambutanmu!" seru teman-temannya yang lain.
Alkohol demi alkohol mengalir. Leon, yang biasanya sangat terkontrol, mulai merasakan panas yang menjalar di dadanya. Perasaan jenuh akan ekspektasi keluarga dan kelelahan setelah penerbangan panjang membuatnya meneguk minuman lebih banyak dari biasanya.
Sekitar pukul sebelas malam, Lily merasa perutnya mual. Ia berdiri dengan goyah, mencoba mencari toilet. Pandangannya mengabur. Saat ia nyaris mencapai pintu kayu besar di ujung lorong, tubuhnya limbung.
BRAK!
Ia menghantam sesuatu yang keras, namun hangat. Aroma maskulin yang bercampur dengan wangi sandalwood dan alkohol mahal menyerbu indra penciumannya.
"Hati-hati," sebuah suara bariton rendah terdengar tepat di atas kepalanya.
Lily mendongak, matanya yang basah karena sisa air mata bertemu dengan sepasang netra gelap yang tajam namun tampak sayu karena mabuk. Pria di hadapannya sangat tampan—garis rahang yang sempurna dan bibir yang tampak begitu menggoda.
"Maaf... aku... aku hanya ingin ke toilet," gumam Lily tidak jelas. Tangannya tanpa sadar mencengkeram kemeja putih pria itu untuk menjaga keseimbangan.
Leon menatap gadis di pelukannya. Wajah Lily yang mungil, pipinya yang merona merah karena alkohol, dan matanya yang berkaca-kaca menciptakan kombinasi yang mematikan. Ada sesuatu yang rapuh pada gadis ini yang mendadak membangkitkan insting protektif—sekaligus hasrat—dalam diri Leon.
"Kau mabuk, Nona," bisik Leon. Jarinya bergerak pelan, menyingkirkan sehelai rambut basah dari dahi Lily.
"Semua orang ingin menjualku... semua orang jahat," racau Lily tiba-tiba, air matanya jatuh membasahi kemeja Leon. "Bawa aku pergi... tolong, jangan biarkan mereka menemukanku."
Hati Leon yang biasanya sedingin instrumen bedah, mendadak berdenyut nyeri. Di bawah pengaruh alkohol yang mengaburkan logika, ia hanya ingin menenangkan gadis malang ini.
"Aku akan membawamu ke tempat yang aman," ujar Leon rendah. Ia merangkul pinggang Lily, menopang tubuh gadis itu sepenuhnya menuju lift pribadi yang langsung menuju kamar presidential suite-nya.
Di dalam kamar yang luas dan mewah itu, cahaya remang lampu kota Heidelberg masuk melalui jendela kaca besar. Begitu pintu tertutup, suasana berubah menjadi sangat intens. Kesedihan Lily dan rasa kesepian Leon melebur dalam keheningan.
"Terima kasih... kau sangat baik," bisik Lily saat Leon membaringkannya di tempat tidur yang empuk.
Leon menatap Lily lama. Keindahan gadis itu dalam keremangan cahaya sungguh menyiksa. Saat ia hendak beranjak untuk mengambil air putih, tangan Lily menarik dasinya.
"Jangan pergi. Tetaplah di sini... temani aku," pinta Lily lirih.
Sentuhan itu seperti percikan api pada tumpukan jerami. Leon membungkuk, menatap dalam ke mata Lily. "Kau tahu apa yang kau minta, Nona? Aku bukan pria suci malam ini."
Lily tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik wajah Leon mendekat dan menyatukan bibir mereka. Ciuman itu awalnya terasa ragu-ragu, namun segera berubah menjadi tuntutan yang penuh gairah. Rasa haus akan kasih sayang dan pelarian dari kenyataan pahit membuat keduanya kehilangan kendali. Di atas sprei sutra yang dingin, mereka tenggelam dalam lautan emosi yang meledak-ledak, melupakan identitas, melupakan hari esok.
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu di balik tirai blackout. Lily mengernyit, merasakan pening yang luar biasa menghantam kepalanya. Ia mencoba bergerak, namun tubuhnya terasa kaku dan nyeri di tempat-tempat yang tak terduga.
Perlahan, ia membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang asing dan sangat mewah. Kemudian, ia menyadari ada beban hangat di pinggangnya.
Lily menoleh dengan kaku. Jantungnya nyaris berhenti berdetak.
Seorang pria asing tertidur lelap di sampingnya. Bahu pria itu yang telanjang terlihat sangat kokoh di bawah cahaya fajar. Wajahnya—bahkan dalam keadaan tidur—tampak sangat tenang dan indah, menyerupai pahatan malaikat dari era Renaissance.
Ingatan samar tentang malam tadi mulai membanjiri benaknya. Suara bariton, pelukan hangat, dan rasa sakit yang tajam namun manis yang ia rasakan semalam. Lily dengan gemetar menyibak selimut putih yang menutupi tubuhnya yang tanpa busana.
Napasnya tertahan. Di atas sprei putih yang berantakan itu, terdapat noda merah yang sangat kontras. Sebuah tanda permanen bahwa ia bukan lagi gadis yang sama seperti kemarin. Ia telah menyerahkan harta paling berharganya kepada seorang pria yang bahkan tidak ia ketahui namanya.
Rasa takut dan malu menyerbu seketika. Bagaimana jika bibinya tahu? Bagaimana dengan karier kedokterannya yang baru saja akan dimulai? Panik, Lily segera bangkit, mengabaikan rasa perih di tubuhnya, dan mulai mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai.
Ia menatap pria yang masih terlelap itu untuk terakhir kalinya dengan perasaan campur aduk antara benci pada keadaan dan kekaguman pada ketampanan sang malaikat maut bagi kesuciannya tersebut.
"Aku harus pergi sekarang, atau hidupku akan benar-benar hancur."
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden sutra di kamar sayap barat, menciptakan garis-garis emas yang jatuh di atas sprei kasmir yang berantakan. Lily menguap kecil, merasakan kehangatan yang tidak biasa melingkupi tubuhnya. Saat ia mencoba berbalik, ia menyadari bahwa ada beban berat namun kokoh yang melingkar di pinggangnya.Lily membeku. Kesadarannya perlahan terkumpul, dan jantungnya berdegup kencang saat ia menyadari bahwa punggungnya bersandar sempurna pada dada bidang Leon. "Protokol keamanan," bisiknya dalam hati, mengingat alasan kaku yang diberikan pria itu semalam. Namun, saat ia merasakan napas teratur Leon di tengkuknya dan bagaimana tangan pria itu secara posesif menangkup perutnya, Lily harus mengakui satu hal yang menakutkan: ini terasa terlalu nyaman.Rasanya seolah ia memang diciptakan untuk berada di sana, di dalam dekapan pria yang biasanya ia anggap sebagai monster bedah saraf. Aroma sandalwood yang maskulin bercampur dengan wangi sabun mandi
Kamar utama di sayap barat mansion Kahnwald terasa lebih seperti galeri seni daripada tempat untuk beristirahat. Langit-langitnya yang tinggi dihiasi ukiran stucco yang rumit, dan lantai kayu ek yang dipoles gelap ditutupi oleh karpet bulu setebal jempol kaki. Lily berdiri di tengah ruangan, merasa sangat kecil dan tidak pada tempatnya. Kamar ini beraroma seperti Leon—campuran antara kayu sandalwood, kertas lama, dan sisa-sisa aroma antiseptik yang samar.Ia baru saja selesai mandi, mengenakan salah satu piyama sutra pemberian Sofia yang terasa begitu lembut di kulitnya hingga ia merasa hampir telanjang. Lily berjalan perlahan menuju meja rias antik yang cermin besarnya memantulkan cahaya temaram dari lampu tidur.Di sana, dalam kesunyian malam yang hanya diinterupsi oleh detak jam dinding perak, Lily perlahan meletakkan tangannya di atas perutnya sendiri. Masih sangat rata. Secara medis, janin di dalamnya mungkin belum lebih besar dari sebutir kacang polong, namun berat tanggung jawa
Lantai lima Heidelberg Universitätsklinikum pagi itu terasa lebih sibuk dari biasanya, namun bagi Lily, suasana rumah sakit terasa seperti medan perang yang baru. Ia melangkah menyusuri koridor bangsal bedah dengan perasaan waswas. Meski ia tetap mengenakan jas laboratorium yang sama, ada sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya: aura yang terpancar dari wajahnya.Berkat ritual perawatan wajah paksa yang dilakukan Sofia Kahnwald tadi malam—menggunakan masker emas dan serum yang harganya mungkin setara dengan biaya satu semester kuliah—kulit Lily tampak luar biasa segar. Lingkaran hitam di bawah matanya menghilang, digantikan oleh rona sehat yang sangat kontras dengan wajah lelah para residen lainnya."Lily! Kau memakai apa di wajahmu? Apakah kau baru saja melakukan suntik vitamin atau menemukan sumber mata air awet muda di ruang sterilisasi?" Clara Manhann, sahabat sekaligus rival terdekatnya, menyergap di dekat meja perawat.Lily tersentak, hampir menjatuhkan papan klipnya.
Malam semakin larut, namun cahaya lampu meja di ruang kerja pribadi Leon di dalam mansion masih berpendar keemasan. Lily duduk di kursi beludru yang berhadapan langsung dengan Leon. Di atas meja kayu mahoni yang dipoles mengilap itu, tergeletak beberapa lembar kertas linen tebal yang tampak sangat formal. Ini bukan rekam medis atau jurnal penelitian, melainkan "perjanjian domestik" yang dirancang Leon untuk menyeimbangkan dua dunia mereka yang bertabrakan.Leon melepaskan kacamata bacanya, memijat pangkal hidungnya yang mancung. Ia tampak lelah, namun matanya tetap tajam saat menatap Lily. "Kita harus realistis, Lily. Di rumah sakit, kau tetaplah Residen Braun, dan aku adalah Dr. Kahnwald. Tidak ada perlakuan khusus. Tidak ada makan siang bersama yang romantis di kantin. Jika kau melakukan kesalahan medis, aku akan tetap menegurmu sekeras aku menegur residen lainnya."Lily mengangguk cepat, merasa sedikit lega. "Itu yang kuinginkan. Aku tidak mau Marco, Clara, atau bahkan Sarah Adelin


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.