Inicio / Fantasi / Sang Dewa Bumi: Yuan Ze / Bab. 2 - Wadah Manusia

Compartir

Bab. 2 - Wadah Manusia

last update Última actualización: 2025-12-29 22:54:58

Tempat peninggalan perang, yang bahkan mayatnya belum dibersihkan dan masih menggunung di suatu tempat, telah menjadi arena pertarungan antar dewa. Yuan Ze, yang dijuluki sebagai Dewa bumi, tak dibiarkan pergi begitu saja oleh Kaisar Langit yang menginginkan Jantung gerhana itu darinya. Jika jantung gerhana itu berhasil direbut darinya, Kaisar langit akan memegang kendali penuh, monster-monster yang datang dari dunia bawah.

“Ukh! Aku tidak menyangka dia menggunakan pedang besar nya dan menghancurkan aliran Chi-ku. Aku membutuhkan waktu lama untuk memperbaikinya.“ batin Yuan Ze sembari menyeka darah di sudut bibirnya.

“Bagaimana, Yuan Ze. Setelah aku menghancurkan aliran Chi-mu, kau masih tidak ingin memberikan jantung gerhana padaku?“ ucap Kaisar langit sembari menadahkan tangan kanannya.

Yuan Ze mendecakkan lidahnya. “... Kalau aku memberikannya padamu, aku pasti sudah gila.“

Wajah Kaisar langit semakin marah. Ia menurunkan tangan kanannya dan berganti dengan menodongkan pedang besarnya ke arah Yuan Ze sambil berkata, “... Kau yang gila kerena tidak pernah mau memberikan jantung gerhana itu padaku dan rela mengorbankan nyawamu sendiri.“

Dengan gerakan yang begitu cepat, Kaisar langit itu tiba tepat di depannya dan langsung menebas dada hingga perutnya sampai akhirnya terlempar jauh ke belakang. Tak berhenti sampai di sana, sosok Kaisar itu kembali menghampirinya dan hendak menanamkan pedang besarnya ke dalam dada Yuan Ze hingga ia bisa mengeluarkan jantung gerhana itu dari dalam tubuhnya. Namun, ketika dia melihatnya kembali, itu bukan tubuh aslinya, melainkan sebuah wadah kosong yang sudah tidak terisi oleh jiwa yang hidup.

“Huh?!“ Sang Kaisar langit menancapkan pedangnya ke tanah, menyeringai sembari menatap ke seluruh tempat yang sekarang sudah hancur lebur karena pertarungannya. “... Tikus kecil itu berhasil kabur dengan wadahnya yang lain.“

Kaisar langit berbalik, berdiri menghadap para dewa yang tersisa dan beberapa ada yang terluka karena pertarungan yang sebelumnya. Ia mengangkat pedangnya ke atas sembari berkata, “... Aku memerintahkan pada kalian semua, tangkap Yuan Ze hidup-hidup dan ambil jantung gerhana itu darinya! Jantung gerhana, tak seharusnya ada di tangan seorang dewa lemah seperti dirinya!“

***

Wilayah Lembah Yun Gu, Kota Yu Cheng, Sekte Pedang awan. Tempat itu dulunya adalah tempat yang aman dan damai. Semua murid di sana berlatih sepanjang hari dan terkadang membuat acaranya sendiri. Namun, ketenangan itu seketika runyam, ketika mereka melihat seorang tetua sekte yang biasanya menyendiri dalam gua dan hanya datang saat krisis besar melanda, muncul di depan mereka dan sedang berjalan menuju ruangan pemimpin Sekte.

“Haah... Kita kekurangan guru padahal setiap tahun kita menerima begitu banyak murid dari kota hingga luar desa. Penatua Zhao, bagaimana kita mengatasi krisis yang sedang terjadi?“ tanya pemimpin Sekte Pedang awan bernama Han Feng, pada seorang tetua sekte bernama Zhao Yu yang tidak lagi muda dan tumbuh janggut dibawah dagunya.

Zhao Yu mengelus-elus janggutnya untuk yang ke seribu kalinya semenjak ia tiba di ruangan pemimpin sekte. “... Hmm, entahlah. Aku juga tidak punya ide.“ ucapnya gampang.

Sesosok wanita dengan pakaian yang serba ungu dan rambut hitam yang terurai, tiba-tiba berjalan masuk dan langsung berkata, “... Aku pikir, sia-sia saja membiarkan orang tua bau tanah ini menyendiri dalam gua. Mungkin saja diam-diam dia pergi ke kota dan bermain dengan para wanita di sana.“

“Sudahlah, tetua Yue. Jangan memancing keributan di sekte.“ Han Feng mencoba menenangkan situasinya.

Zhao Yu berdeham kemudian berkata, “... Apakah sudah saatnya kita bertarung sampai mati, Nona Yue Fei?“

Yue Fei tertawa sesaat. “... Aku rasa kita bisa melihat siapa yang akan mati lebih dulu.“

“Ah,.. sudah, sudah. Kalian ini bukannya membantuku mengatasi krisis malah menambah parah keadaan.“ ucap Han Feng sekali lagi.

“Han Feng, kau tahu kan? Sia-sia saja mengatakan itu pada kepala batu seperti mereka.“ ucap tetua lainnya bernama Jian Yu.

“Ya, aku tahu mereka ini bebal, keras kepala dan mudah emosi tapi, setidaknya mereka perlu membicarakan soal krisis ini. Kita perlu merekrut guru untuk murid-murid sekte sementara, diantara kita tidak ada yang mau memegang mereka.“ jawab Han Feng.

“Kenapa tidak mengangkat guru baru saja? Banyak yang mau mengambilnya.“

“Tapi, tidak sembarang orang bisa mengajari mereka dan ajaran masing-masing sekte pun juga berbeda.“

Ditengah percakapan yang orang dewasa itu, salah seorang murid laki-laki berbadan besar yang tanpa mengetuk pintunya lebih dulu, masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa dan wajah yang dipenuhi keringat.

“Pemimpin sekte! Ada kabar buruk!“ teriaknya.

Han Feng dengan tenang menghampirinya dan bertanya, “Ada apa Mo Ran? Sudah lama kita tidak kedatangan berita buruk begini. Kenapa tiba-tiba?“

Mo Ran mencoba mengatur nafasnya lebih dulu dan menyeka keringat yang sampai di bawah dagunya. “... Begini, kami baru saja menemukan anak laki-laki!“

“Lalu? Bukannya seluruh murid muda di sekte semuanya laki-laki? Kenapa heran?“ Han Feng memotong ucapan Mo Ran sebelum dia melanjutkan.

“Tentu yang itu saya tahu tapi ini berbeda! Dia terluka sangat parah. Kami menemukannya tepat di depan kuil Dewa bumi!“

Keempat tetua yang ada di sana terkejut dan langsung berkata, “... Bawa kami ke sana!"

Beberapa waktu kemudian, Mo Ran kembali mendatangi kuil Dewa bumi yang berdiri tak jauh dari bangunan utama sekte, bersama dengan tetua sekte Han Feng dan Yue Fei, yang memunggunginya di belakang. Sampai di dekat sana, mereka menemukan kerumunan murid sekte yang sedang memperhatikan sesuatu, yang ada tepat di panggung kuil, tempat mereka menaruh buah-buahan dan menyalakan dupa di atasnya.

“Semuanya menyingkir! Aku membawa tetua sekte kemari!“ teriak Mo Ran yang seketika membubarkan kerumunan murid sekte seakan sedang mempersilahkan mereka untuk melihatnya.

“Sebenarnya apa yang mereka lihat sampai orang seperti Mo Ran pun panik karenanya?“ batin Han Feng melihat sekeliling.

“Han Feng lihat!“ seru Yue Fei sembari menarik Han Feng ke sisinya. Ternyata, dia adalah seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia 14 tahun, sedang tertidur di atas panggung seolah sengaja dijadikan persembahan oleh seseorang.

Tubuhnya dipenuhi dengan luka tusukan pedang dan anak panah pada bagian tubuhnya. Darahnya membanjiri dirinya sampai mengalir ke bawah panggungnya. Semua orang di sana ragu anak ini masih hidup dengan luka yang ada di seluruh tubuhnya. Namun, begitu Yue Fei menyentuh bagian leher samping anak itu dan meletakkan telinganya di atas dadanya yang koyak, semuanya berubah.

“Panggilkan tabib sekarang juga dan bawa anak ini ke ruangan tetua sekte sebelum dia benar-benar mati!“ teriak Yue Fei.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 11 - Wadah Tumbal

    “Akh! Badanku sakit semua karena dipukuli makhluk aneh itu.“ “Aku merasa ini sudah keterlaluan.“Seluruh murid sekte kembali ke asrama mereka dengan wajah babak belur meski beberapa dari mereka ada yang selamat. Semua orang di sana sibuk merapikan diri mereka dari debu dan bersiap tidur. Namun, sampai saat ini, setelah latihan selesai, mereka tidak lagi bertemu dengan Yuan Ze. “Kira-kira kemana anak itu? Bagaimana dia bisa memiliki kekuatan sebesar itu? Hei! Kakak pertama! Apa kau tidak curiga kalau dia itu penipu?“ ucap salah satu murid ketika Mo Ran sedang merapikan pakaiannya. Mo Ran terdiam sejenak. Dia mulai merasa kalau kekuatannya memang tidak sebanding dengan Yuan Ze yang bahkan berhasil mementalkan para murid padahal dia sama sekalian tidak menggerakkan seujung jari pun. Di sisi lain, dia juga menggunakan jurus yang membuat tubuhnya mengecil untuk menghemat kekuatan spiritualnya sementara, jurus seperti itu hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang tingkatannya sudah setara

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 10 - Bukti

    “Apa? Dia yang akan menjadi guru untuk kita?!“Murid-murid dari sekte Pedang Awan tampak tak percaya dengan yang dikatakan dan ditunjukkan oleh Lu Tao pada mereka. Bagi mereka, tentu saja Yuan Ze hanyalah anak yang masih berusia 14 tahun. Dia bahkan lebih muda dari mereka. Dan lantas, apa yang membuat ketua sekte menyetujui anak ini menjadi Guru untuk mereka? “Kakak pertama! Apa benar dia yang akan menjadi Guru kita?“ salah seorang murid bertanya pada Mo Ran yang wajahnya sudah tidak bersemangat, pucat bahkan kehilangan kata-kata. Dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Mereka masih tidak percaya bahkan dengan jawaban yang diberikan dari kakak pertama mereka. Karena tidak memiliki darah seorang cenayang, mereka tidak bisa memperkirakan seperti apa kekuatan Yuan Ze yang sebenarnya. Berbeda dengan Lu Tao yang bisa merasakannya bahkan sejak awal mereka bertemu. “Hei! Lu Tao! Apakah kau bisa meyakinkan kami kalau dia itu orang yang sangat kuat?!“ salah seorang murid menunjuk

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 9 - Anak Misterius

    Beberapa saat lalu. “Hei kak! Aku sangat yakin ada seseorang yang mengawasi kita dari balik pohon itu.“ ucap Lu Tao pada Mo Ran sembari menunjuk ke arah pohon ginkgo yang menjadi tempat persembunyian Yuan Ze di sana. Mo Ran juga ikut memperhatikannya. Ia tak merasakan keberadaan seseorang yang bersembunyi di sana. Namun, karena Lu Tao berasal dari keluarga cenayang yang bisa melihat tingkat kemampuan seseorang, dia pasti benar ada seseorang yang bersembunyi di sana. “Apakah dia cukup berbahaya kalau benar dia bersembunyi di sana?“ tanya Mo Ran. “Aku tidak tahu kalau belum melihatnya. Bisa saja dia penyusup dari Klan Iblis yang ingin menghancurkan sekte kita.“ Mo Ran seketika menjadi teringat. Di dunia ini, memang ada yang namanya Klan Iblis yang gemar sekali menghancurkan. Ditambah lagi, wujud mereka sama seperti manusia biasa. Itulah kenapa mereka sering mengatakan bahwa siapa tahu, diantara mereka ada iblis yang menyamar. Hanya seorang cenayang yang bisa menebak kekuatan spirit

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 8 - Dewa Ular Xuan She

    Pada zaman dahulu kala, Dewa bumi pernah turun ke bumi sejenak, setelah Dewi gerhana menitipkan jantungnya padanya. Sang dewa bumi memastikan Dewi gerhana melakukan tugasnya dengan baik dengan mengembalikan monster-monster kembali ke dunia bawah. Namun, ketika ia sudah memastikan tak ada lagi monster yang berkeliaran di tempatnya dan ketika dewa bumi hendak kembali ke langit, ia menemukan seekor ular yang terhimpit oleh bangunan yang hancur. Bangunan itu hancur karena serangan monster yang mengamuk dan beruntungnya ia tidak menemukan satupun mayat manusia yang berada di sana. Namun, ketika ia menggali untuk memastikan, ia malah menemukan seekor ular besar, yang sedang melingkar, melindungi sesuatu dengan tubuhnya. Ular itu sudah mati, tetapi sesuatu yang dilindunginya menunjukkan sedikit kehidupan. Benda itu adalah sebuah telur yang ukurannya nyaris seperti ukuran bayi manusia yang baru lahir. Dewa Bumi itu tersentuh melihatnya. Tubuh ular itu dipenuhi oleh luka monster dan anak p

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 7 - Pohon Ginkgo Kering

    “Apa ini? Sebuah cincin? Kau tidak berniat menikahi sesama lelaki kan?“ Yuan Ze memperhatikan sebuah cicin giok, dengan mata berwarna merah terang pada bagian tengahnya. Di belakang cincin itu, terdapat sebuah tulisan yang tak terbaca yang lebih mirip sebuah simbol perlindungan. “Bahkan wanita pun tak akan ada yang mau menikahimu! Kurang kerjaan sekali aku memberikanmu cincin buatan ku hanya untuk seperti itu. Itu adalah jimat penangkal. Untuk sementara waktu, posisimu tidak akan diketahui oleh penduduk langit bahkan Yang Mulia. Untuk berjaga-jaga, Aku akan memperbarui mantranya sebulan sekali.“ Zhao Yu menutup sebuah kotak yang dipenuhi dengan batu permata yang asalnya belum diketahui oleh siapapun. Yuan Ze menatapnya dengan penuh curiga. “... Darimana kau mendapatkan batu-batu permata itu?“ “Oh, ini? Aku menemukannya setelah membunuh monster dunia bawah. Benda ini terjatuh saat tubuh mereka hancur.“ Zhao Yu menunjukkan salah satunya. Benda itu mirip seperti sebuah kristal yang ta

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 6 - Kesepakatan

    “Baiklah! Aku sudah memberikan informasi yang kalian inginkan sekarang biarkan aku pergi.“ ucap Yuan Ze, hendak menurunkan kedua kakinya ke lantai namun, kembali dihalangi oleh Han Feng yang langsung mengembalikan kakinya ke atas kasur. “Apa? Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya termasuk alasanku datang ke sini?“ celetuk Yuan Ze, sembari menurunkan alisnya saat ia melihat Han Feng menatapnya dengan alis dan bibir berkerut.“Aku hanya merasa kasihan, tak ada satupun makhluk langit yang mau membelamu. Ahh, bagaimana kau bisa bertahan hidup sampai 350 tahun kemudian?“ Han Feng mengusap usap bagian bawah matanya yang tampak berair. Baginya, Yuan Ze mungkin saja seperti anak berusia 14 tahun yang hidup sebatang kara dan terpaksa tinggal di kandang serigala. “Kenapa orang-orang yang ada di sini begitu menyebalkan?“ batin Yuan Ze tak terima bila ia disamakan dengan anak manusia berusia 14 tahun. Zhao Yu tiba-tiba mendekatinya dengan wajahnya yang dipenuhi dengan niat busuk yang ingin m

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status