Beranda / Fantasi / Sang Dewa Bumi: Yuan Ze / Bab. 1 - Penciptaan Ulang

Share

Sang Dewa Bumi: Yuan Ze
Sang Dewa Bumi: Yuan Ze
Penulis: Norayolayora

Bab. 1 - Penciptaan Ulang

Penulis: Norayolayora
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-29 22:54:10

Perang Sepuluh Kerajaan, atau orang-orang langit menyebutnya sebagai era penciptaan ulang ketika hampir tak ada satupun yang tersisa dari kerajaan itu. Bahkan ketika kau berdiri di salah satu bukit, tempat perang itu terjadi, yang kau duduki saat ini bukanlah tanah dan bebatuan, melainkan tulang dan daging yang sengaja dikumpulkan dalam satu lubang, yang telah menyatu dengan air dan tanah.

“Manusia-manusia itu sungguh tamak. Hanya karena memperebutkan tanah emas, mereka sampai mengorbankan ribuan nyawa dan mencemari tanah dengan bangkai mereka.“ ucap seekor kuda putih yang menapaki udara perlahan-lahan, menuju tempat peninggalan perang yang kini sudah dipenuhi dengan bangkai-bangkai senjata dan tubuh para pasukan istana.

“Inilah yang diinginkan oleh Kaisar Langit, pembersihan, era penciptaan ulang, membuang manusia-manusia serakah dan membentuk kembali dinasti yang baru. Dengan begitu, dunia ini kembali menjadi suci, tanpa ada Raja maupun Ratu yang memerintah dan tanpa adanya manusia yang diperbudakan oleh mereka.“ kuda putih itu melihat sekeliling. Masih terlihat dengan jelas, tumpukan mayat manusia yang belum dibereskan sama sekali bahkan ada yang sudah menjadi tulang belulang, dimakan oleh burung pemakan bangkai.

“Apakah Kaisar Langit sedang malas berpikir sampai akhirnya memutuskan untuk membantai mereka semua dengan membuat berita bohong kalau di tempat ini tertimbun hartanya yang harganya tak terkira?“ ucap seorang anak laki-laki, seusai ia berdoa untuk seorang mayat pasukan yang bersandar pada bebatuan.

“Itulah yang akan terjadi jika manusia sudah dikuasai oleh keserakahannya. Mereka hanya tinggal menunggu waktu kematian itu tiba. Lagipula, keputusan Yang Mulia sudah disetujui oleh ketujuh hakim. Jadi, inilah keputusan yang benar.“ jawab kuda putih.

Anak laki-laki itu tersenyum sejenak, berdiri dari posisinya kemudian berjalan ke arah Kuda putih sembari berkata, “... Aku sih tidak akan melakukannya. Tinggal bunuh saja Raja dan antek-anteknya kemudian berpura-pura menjadi hakim yang akan memutuskan siapa yang akan menjadi Raja dan mengisi kekosongan yang lain. Kalau pembantaian yang Yang Mulia lakukan saat ini, bukankah itu artinya orang yang tidak bersalah pun juga jadi korbannya?“

Kuda putih itu terdiam sejenak, “Pemikiranmu itu sama seperti Ayahmu. Akan tetapi, Yang Mulia tidak menyukai jika ada seseorang yang menantangnya. Karena itulah Ayahmu mati.“

“Aku tahu itu dan menurutku itu kematian yang patut dipuji. Siapa lagi yang berani menantang perintah Yang Mulia selain Ayahku? Aku juga pasti akan mati dengan cara yang sama. Untuk sekarang, aku yakin Yang Mulia juga sedang menahan diri jika melihat usiaku yang sekarang.“

Kuda putih itu kembali terdiam, menatap sosok anak laki-laki berpakaian putih dan bermata gelap itu berdiri di sampingnya. “... Aku yakin, banyak yang kau rahasiakan dari kami. Aku akui, kemampuanmu dalam menipu kami sudah sangat baik.“ gumam kuda putih yang masih bisa didengar oleh anak laki-laki itu.

“Sekarang, kau menganggap ku ini seorang penipu? Dilihat dari manapun, usiaku ini masih terpantau 14 tahun kan?“ ucap anak laki-laki itu seolah sedang menunjukkan dirinya di depan kuda putih.

“Sayang sekali. Semua makhluk langit, sudah tak percaya dengan ucapanmu.“

Beberapa waktu setelah kuda putih itu mengakhiri kalimatnya, muncul beberapa platform awan yang terbang mengikuti angin dan berakhir mengelilinginya. Tak lama setelah kabut yang menutupi platform awan itu perlahan menghilang, di atas sana berdiri beberapa orang dengan wajah tertutup kain putih sedang melihat ke arahnya satu orang lagi, duduk di atas singgasana emas dengan wajah terpampang jelas dan mahkota emas yang berdiri menghiasi kepalanya yang besar itu. Semua makhluk langit yang mengitarinya tampak marah bahkan kuda putih yang datang bersamanya.

“Wah? Yang Mulia ternyata datang sendiri padaku. Sepertinya Anda sudah mengetahui semuanya, ya?“ anak laki-laki itu menatap sosoknya yang sekarang sedang berjalan ke arahnya.

“Yuan Ze, serahkan penemuan Ayahmu padaku, Jantung gerhana.“ ucap Kaisar Langit itu sembari menunjuk anak laki-laki.

Yuan Ze menyeringai, menatap langsung ke arah Kaisar Langit yang dulu pernah membunuh Ayahnya dan menjadi selingkuhan Ibunya. “... Yang Mulia benar-benar tamak. Apakah tidak pernah ada seorangpun yang mengatakan padamu kalau, jika aku mati jantung gerhana menjadi tidak berguna lagi untukmu?“

“Jantung gerhana tak seharusnya dimiliki oleh makhluk sepertimu. Cepat serahkan benda itu padaku. Mati ataupun tidak, aku tidak peduli. Cepat serahkan.“ Kaisar langit itu menadahkan tangan kanannya ke depan, memaksa Yuan Ze membelah dadanya sendiri dan mengeluarkan jantung itu dari tubuhnya.

“Tidak. Aku tidak mau memberikannya. Ayahku yang menemukannya, kenapa kau yang mengambilnya? Memangnya semua yang ada di dunia ini milikmu? Aku tidak akan menyerahkan Jantung gerhana padamu meski aku harus mati melawan seluruh pasukan Dewa mu.“ Yuan Ze mencabut pedangnya dan mengarahkannya pada Kaisar langit.

Kaisar langit itupun terdiam selama beberapa saat. “... Kau satu-satunya makhluk langit yang memberontak pada Kaisar setelah Ayahmu. Para Dewa di sini tak akan mengampuni mu dan ketujuh hakim pasti akan menghukum mu dengan sangat berat.“

Usai melontarkan kalimatnya, beberapa dewa yang memakai penutup kepala itu, mulai menyerangnya secara bersamaan. Mereka semua memegang senjata yang berbeda dan ukuran tubuh yang berbeda. Salah seorang dewa, menghantamkan palu raksasanya ke arah Yuan Ze yang untungnya bisa ditahan oleh pedangnya meski ia harus dibuat mundur beberapa meter. Ada pula seorang wanita yang memakai cambuk emasnya mencoba mengikat kakinya namun, hal itu segera dihindari oleh Yuan Ze dengan pergi ke sisi lain.

Tak sampai di sana, ada seorang pengguna pedang yang nyaris saja menusuk bagian perutnya jika saja Yuan Ze tak memantulkannya ke arah yang lain.

“Sial! Sudah berapa kali aku hampir mati oleh mereka.“ batin Yuan Ze, sembari menghindari semua serangan beruntun yang ditujukan padanya.

Jantung gerhana seharusnya menjadi milik Dewi gerhana yang selalu mati setelah gerhana itu berakhir. Tugasnya adalah mengembalikan monster-monster yang tinggal di bumi, kembali ke dunia bawah. Setelah gerhana itu selesai, Sang Dewi akan menyerahkan Jantungnya pada orang yang ia percaya hingga 350 tahun terlewati.

“Kalau Yang Mulia sampai memilikinya, dia pasti akan bisa mengendalikan semua monster yang tinggal di sini. Dia pikir aku tidak tahu sifat busuknya itu.“ Yuan Ze menatap sosok Kaisar Langit itu sambil berpikir pikir. “... Mungkin ada baiknya, jika kita membunuh Kaisar yang sekarang dan menggantinya dengan yang baru. Itu mungkin akan menjadi tujuanku setelah aku kabur dari sini.“

“Jangan lengah!“

Begitu suara teriakan itu terdengar di telinganya, sebuah pedang besar berhasil menusuk bagian perut sampingnya dan seketika membuat seluruh gerakannya terhenti begitu juga dengan semua dewa yang menyerangnya.

“Lihat itu! Yuan Ze berhasil dikalahkan! Cepat ambil jantungnya!“

Semua dewa yang berhenti itu seketika kembali begerak menghampirinya, dengan tangan kiri mereka yang seolah seperti ingin mengambil sesuatu darinya.

“Kalian para makhluk langit sungguh sangat serakah. Yang seharusnya mati itu kalian!“

Yuan Ze mencabut pedang besar yang tertanam di tubuhnya lalu melemparkannya ke arah mereka yang sedang mengincarnya. Serangan beruntun kembali mereka lakukan, puluhan anak panah menembus punggungnya.

“Ini aneh. Dia hanya diam saja di sana. Apakah dia ingin mencabik-cabik tubuhnya sendiri?“ gumam Kaisar langit yang melihatnya dari atas.

“ARRGG!!“

Beberapa teriakan terus terdengar. Bukan Yuan Ze yang berteriak, melainkan para dewa yang tiba-tiba terluka dan tubuhnya hancur karena sesuatu yang tidak bisa mereka lihat. Sementara itu, Yuan Ze masih berdiri di tempat yang sama dan tidak bergerak sama sekali.

“Duh, gara-gara kalian, aku jadi kehilangan wadah terakhirku.“ ucap seorang laki-laki yang wujudnya tidak terlihat namun, hawa keberadaannya sudah membuat beberapa dewa lain berlutut.

Semua dewa di sana, bahkan Kaisar langit itu melihatnya. Yuan Ze jatuh ke tanah dan mati karena kehabisan darah. Namun, suara laki-laki itu tiba-tiba saja datang dan mengejutkan semua dewa.

“Sebegitu inginkah kalian mengambil Jantung gerhana itu dariku? Kalian pikir siapa yang sedang menjaganya saat ini? Tidak mungkin Dewi gerhana menitipkan jantungnya pada seseorang yang lemah.“ suara itu kembali terdengar bersamaan dengan suara jentikan jari yang berhasil membuat kepala para dewa di bawahnya terpenggal dengan sendirinya.

“Sialan kau Yuan Ze! Kalau kau berani, datanglah padaku!“ teriak Dewa yang memegang gada di tangannya.

Sedetik kemudian, sesosok laki-laki yang tidak kevuh tinggi darinya muncul di depan matanya dan langsung menebas lehernya dengan sebuah belati di tangannya. “... Jangan salahkan aku. Kau yang lebih dulu menantang ku melakukannya.“ ucapnya.

“Begitu ya? Sekarang aku sudah mengerti. Akhirnya tubuh aslinya muncul.“ ucap Kaisar langit sembari menatap sosok laki-laki yang muncul tiba-tiba, tertutup oleh pakaian hitamnya dengan tatapan gelapnya yang terlihat sangat familiar.

“Aku tidak percaya kalian menghancurkan wadahku yang sangat berharga, ah sekarang aku harus mencari wadah baru lagi.“ ucap Yuan Ze sembari melihat sekeliling.

“Sudah sejauh ini, kau masih tidak ingin memberikan jantung gerhana itu padaku?“ ucap Kaisar langit.

“Harusnya aku yang bertanya, sudah banyak dewa yang mati di sini dan kau masih tidak ingin melepaskan ku?“

“Begitu ya? Kau yang memaksa ku untuk turun. Kalau begitu, akulah yang akan menjadi lawan mu “

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 11 - Wadah Tumbal

    “Akh! Badanku sakit semua karena dipukuli makhluk aneh itu.“ “Aku merasa ini sudah keterlaluan.“Seluruh murid sekte kembali ke asrama mereka dengan wajah babak belur meski beberapa dari mereka ada yang selamat. Semua orang di sana sibuk merapikan diri mereka dari debu dan bersiap tidur. Namun, sampai saat ini, setelah latihan selesai, mereka tidak lagi bertemu dengan Yuan Ze. “Kira-kira kemana anak itu? Bagaimana dia bisa memiliki kekuatan sebesar itu? Hei! Kakak pertama! Apa kau tidak curiga kalau dia itu penipu?“ ucap salah satu murid ketika Mo Ran sedang merapikan pakaiannya. Mo Ran terdiam sejenak. Dia mulai merasa kalau kekuatannya memang tidak sebanding dengan Yuan Ze yang bahkan berhasil mementalkan para murid padahal dia sama sekalian tidak menggerakkan seujung jari pun. Di sisi lain, dia juga menggunakan jurus yang membuat tubuhnya mengecil untuk menghemat kekuatan spiritualnya sementara, jurus seperti itu hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang tingkatannya sudah setara

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 10 - Bukti

    “Apa? Dia yang akan menjadi guru untuk kita?!“Murid-murid dari sekte Pedang Awan tampak tak percaya dengan yang dikatakan dan ditunjukkan oleh Lu Tao pada mereka. Bagi mereka, tentu saja Yuan Ze hanyalah anak yang masih berusia 14 tahun. Dia bahkan lebih muda dari mereka. Dan lantas, apa yang membuat ketua sekte menyetujui anak ini menjadi Guru untuk mereka? “Kakak pertama! Apa benar dia yang akan menjadi Guru kita?“ salah seorang murid bertanya pada Mo Ran yang wajahnya sudah tidak bersemangat, pucat bahkan kehilangan kata-kata. Dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Mereka masih tidak percaya bahkan dengan jawaban yang diberikan dari kakak pertama mereka. Karena tidak memiliki darah seorang cenayang, mereka tidak bisa memperkirakan seperti apa kekuatan Yuan Ze yang sebenarnya. Berbeda dengan Lu Tao yang bisa merasakannya bahkan sejak awal mereka bertemu. “Hei! Lu Tao! Apakah kau bisa meyakinkan kami kalau dia itu orang yang sangat kuat?!“ salah seorang murid menunjuk

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 9 - Anak Misterius

    Beberapa saat lalu. “Hei kak! Aku sangat yakin ada seseorang yang mengawasi kita dari balik pohon itu.“ ucap Lu Tao pada Mo Ran sembari menunjuk ke arah pohon ginkgo yang menjadi tempat persembunyian Yuan Ze di sana. Mo Ran juga ikut memperhatikannya. Ia tak merasakan keberadaan seseorang yang bersembunyi di sana. Namun, karena Lu Tao berasal dari keluarga cenayang yang bisa melihat tingkat kemampuan seseorang, dia pasti benar ada seseorang yang bersembunyi di sana. “Apakah dia cukup berbahaya kalau benar dia bersembunyi di sana?“ tanya Mo Ran. “Aku tidak tahu kalau belum melihatnya. Bisa saja dia penyusup dari Klan Iblis yang ingin menghancurkan sekte kita.“ Mo Ran seketika menjadi teringat. Di dunia ini, memang ada yang namanya Klan Iblis yang gemar sekali menghancurkan. Ditambah lagi, wujud mereka sama seperti manusia biasa. Itulah kenapa mereka sering mengatakan bahwa siapa tahu, diantara mereka ada iblis yang menyamar. Hanya seorang cenayang yang bisa menebak kekuatan spirit

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 8 - Dewa Ular Xuan She

    Pada zaman dahulu kala, Dewa bumi pernah turun ke bumi sejenak, setelah Dewi gerhana menitipkan jantungnya padanya. Sang dewa bumi memastikan Dewi gerhana melakukan tugasnya dengan baik dengan mengembalikan monster-monster kembali ke dunia bawah. Namun, ketika ia sudah memastikan tak ada lagi monster yang berkeliaran di tempatnya dan ketika dewa bumi hendak kembali ke langit, ia menemukan seekor ular yang terhimpit oleh bangunan yang hancur. Bangunan itu hancur karena serangan monster yang mengamuk dan beruntungnya ia tidak menemukan satupun mayat manusia yang berada di sana. Namun, ketika ia menggali untuk memastikan, ia malah menemukan seekor ular besar, yang sedang melingkar, melindungi sesuatu dengan tubuhnya. Ular itu sudah mati, tetapi sesuatu yang dilindunginya menunjukkan sedikit kehidupan. Benda itu adalah sebuah telur yang ukurannya nyaris seperti ukuran bayi manusia yang baru lahir. Dewa Bumi itu tersentuh melihatnya. Tubuh ular itu dipenuhi oleh luka monster dan anak p

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 7 - Pohon Ginkgo Kering

    “Apa ini? Sebuah cincin? Kau tidak berniat menikahi sesama lelaki kan?“ Yuan Ze memperhatikan sebuah cicin giok, dengan mata berwarna merah terang pada bagian tengahnya. Di belakang cincin itu, terdapat sebuah tulisan yang tak terbaca yang lebih mirip sebuah simbol perlindungan. “Bahkan wanita pun tak akan ada yang mau menikahimu! Kurang kerjaan sekali aku memberikanmu cincin buatan ku hanya untuk seperti itu. Itu adalah jimat penangkal. Untuk sementara waktu, posisimu tidak akan diketahui oleh penduduk langit bahkan Yang Mulia. Untuk berjaga-jaga, Aku akan memperbarui mantranya sebulan sekali.“ Zhao Yu menutup sebuah kotak yang dipenuhi dengan batu permata yang asalnya belum diketahui oleh siapapun. Yuan Ze menatapnya dengan penuh curiga. “... Darimana kau mendapatkan batu-batu permata itu?“ “Oh, ini? Aku menemukannya setelah membunuh monster dunia bawah. Benda ini terjatuh saat tubuh mereka hancur.“ Zhao Yu menunjukkan salah satunya. Benda itu mirip seperti sebuah kristal yang ta

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 6 - Kesepakatan

    “Baiklah! Aku sudah memberikan informasi yang kalian inginkan sekarang biarkan aku pergi.“ ucap Yuan Ze, hendak menurunkan kedua kakinya ke lantai namun, kembali dihalangi oleh Han Feng yang langsung mengembalikan kakinya ke atas kasur. “Apa? Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya termasuk alasanku datang ke sini?“ celetuk Yuan Ze, sembari menurunkan alisnya saat ia melihat Han Feng menatapnya dengan alis dan bibir berkerut.“Aku hanya merasa kasihan, tak ada satupun makhluk langit yang mau membelamu. Ahh, bagaimana kau bisa bertahan hidup sampai 350 tahun kemudian?“ Han Feng mengusap usap bagian bawah matanya yang tampak berair. Baginya, Yuan Ze mungkin saja seperti anak berusia 14 tahun yang hidup sebatang kara dan terpaksa tinggal di kandang serigala. “Kenapa orang-orang yang ada di sini begitu menyebalkan?“ batin Yuan Ze tak terima bila ia disamakan dengan anak manusia berusia 14 tahun. Zhao Yu tiba-tiba mendekatinya dengan wajahnya yang dipenuhi dengan niat busuk yang ingin m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status