Mag-log in
Perang Sepuluh Kerajaan, atau orang-orang langit menyebutnya sebagai era penciptaan ulang ketika hampir tak ada satupun yang tersisa dari kerajaan itu. Bahkan ketika kau berdiri di salah satu bukit, tempat perang itu terjadi, yang kau duduki saat ini bukanlah tanah dan bebatuan, melainkan tulang dan daging yang sengaja dikumpulkan dalam satu lubang, yang telah menyatu dengan air dan tanah.
“Manusia-manusia itu sungguh tamak. Hanya karena memperebutkan tanah emas, mereka sampai mengorbankan ribuan nyawa dan mencemari tanah dengan bangkai mereka.“ ucap seekor kuda putih yang menapaki udara perlahan-lahan, menuju tempat peninggalan perang yang kini sudah dipenuhi dengan bangkai-bangkai senjata dan tubuh para pasukan istana. “Inilah yang diinginkan oleh Kaisar Langit, pembersihan, era penciptaan ulang, membuang manusia-manusia serakah dan membentuk kembali dinasti yang baru. Dengan begitu, dunia ini kembali menjadi suci, tanpa ada Raja maupun Ratu yang memerintah dan tanpa adanya manusia yang diperbudakan oleh mereka.“ kuda putih itu melihat sekeliling. Masih terlihat dengan jelas, tumpukan mayat manusia yang belum dibereskan sama sekali bahkan ada yang sudah menjadi tulang belulang, dimakan oleh burung pemakan bangkai. “Apakah Kaisar Langit sedang malas berpikir sampai akhirnya memutuskan untuk membantai mereka semua dengan membuat berita bohong kalau di tempat ini tertimbun hartanya yang harganya tak terkira?“ ucap seorang anak laki-laki, seusai ia berdoa untuk seorang mayat pasukan yang bersandar pada bebatuan. “Itulah yang akan terjadi jika manusia sudah dikuasai oleh keserakahannya. Mereka hanya tinggal menunggu waktu kematian itu tiba. Lagipula, keputusan Yang Mulia sudah disetujui oleh ketujuh hakim. Jadi, inilah keputusan yang benar.“ jawab kuda putih. Anak laki-laki itu tersenyum sejenak, berdiri dari posisinya kemudian berjalan ke arah Kuda putih sembari berkata, “... Aku sih tidak akan melakukannya. Tinggal bunuh saja Raja dan antek-anteknya kemudian berpura-pura menjadi hakim yang akan memutuskan siapa yang akan menjadi Raja dan mengisi kekosongan yang lain. Kalau pembantaian yang Yang Mulia lakukan saat ini, bukankah itu artinya orang yang tidak bersalah pun juga jadi korbannya?“ Kuda putih itu terdiam sejenak, “Pemikiranmu itu sama seperti Ayahmu. Akan tetapi, Yang Mulia tidak menyukai jika ada seseorang yang menantangnya. Karena itulah Ayahmu mati.“ “Aku tahu itu dan menurutku itu kematian yang patut dipuji. Siapa lagi yang berani menantang perintah Yang Mulia selain Ayahku? Aku juga pasti akan mati dengan cara yang sama. Untuk sekarang, aku yakin Yang Mulia juga sedang menahan diri jika melihat usiaku yang sekarang.“ Kuda putih itu kembali terdiam, menatap sosok anak laki-laki berpakaian putih dan bermata gelap itu berdiri di sampingnya. “... Aku yakin, banyak yang kau rahasiakan dari kami. Aku akui, kemampuanmu dalam menipu kami sudah sangat baik.“ gumam kuda putih yang masih bisa didengar oleh anak laki-laki itu. “Sekarang, kau menganggap ku ini seorang penipu? Dilihat dari manapun, usiaku ini masih terpantau 14 tahun kan?“ ucap anak laki-laki itu seolah sedang menunjukkan dirinya di depan kuda putih. “Sayang sekali. Semua makhluk langit, sudah tak percaya dengan ucapanmu.“ Beberapa waktu setelah kuda putih itu mengakhiri kalimatnya, muncul beberapa platform awan yang terbang mengikuti angin dan berakhir mengelilinginya. Tak lama setelah kabut yang menutupi platform awan itu perlahan menghilang, di atas sana berdiri beberapa orang dengan wajah tertutup kain putih sedang melihat ke arahnya satu orang lagi, duduk di atas singgasana emas dengan wajah terpampang jelas dan mahkota emas yang berdiri menghiasi kepalanya yang besar itu. Semua makhluk langit yang mengitarinya tampak marah bahkan kuda putih yang datang bersamanya. “Wah? Yang Mulia ternyata datang sendiri padaku. Sepertinya Anda sudah mengetahui semuanya, ya?“ anak laki-laki itu menatap sosoknya yang sekarang sedang berjalan ke arahnya. “Yuan Ze, serahkan penemuan Ayahmu padaku, Jantung gerhana.“ ucap Kaisar Langit itu sembari menunjuk anak laki-laki. Yuan Ze menyeringai, menatap langsung ke arah Kaisar Langit yang dulu pernah membunuh Ayahnya dan menjadi selingkuhan Ibunya. “... Yang Mulia benar-benar tamak. Apakah tidak pernah ada seorangpun yang mengatakan padamu kalau, jika aku mati jantung gerhana menjadi tidak berguna lagi untukmu?“ “Jantung gerhana tak seharusnya dimiliki oleh makhluk sepertimu. Cepat serahkan benda itu padaku. Mati ataupun tidak, aku tidak peduli. Cepat serahkan.“ Kaisar langit itu menadahkan tangan kanannya ke depan, memaksa Yuan Ze membelah dadanya sendiri dan mengeluarkan jantung itu dari tubuhnya. “Tidak. Aku tidak mau memberikannya. Ayahku yang menemukannya, kenapa kau yang mengambilnya? Memangnya semua yang ada di dunia ini milikmu? Aku tidak akan menyerahkan Jantung gerhana padamu meski aku harus mati melawan seluruh pasukan Dewa mu.“ Yuan Ze mencabut pedangnya dan mengarahkannya pada Kaisar langit. Kaisar langit itupun terdiam selama beberapa saat. “... Kau satu-satunya makhluk langit yang memberontak pada Kaisar setelah Ayahmu. Para Dewa di sini tak akan mengampuni mu dan ketujuh hakim pasti akan menghukum mu dengan sangat berat.“ Usai melontarkan kalimatnya, beberapa dewa yang memakai penutup kepala itu, mulai menyerangnya secara bersamaan. Mereka semua memegang senjata yang berbeda dan ukuran tubuh yang berbeda. Salah seorang dewa, menghantamkan palu raksasanya ke arah Yuan Ze yang untungnya bisa ditahan oleh pedangnya meski ia harus dibuat mundur beberapa meter. Ada pula seorang wanita yang memakai cambuk emasnya mencoba mengikat kakinya namun, hal itu segera dihindari oleh Yuan Ze dengan pergi ke sisi lain. Tak sampai di sana, ada seorang pengguna pedang yang nyaris saja menusuk bagian perutnya jika saja Yuan Ze tak memantulkannya ke arah yang lain. “Sial! Sudah berapa kali aku hampir mati oleh mereka.“ batin Yuan Ze, sembari menghindari semua serangan beruntun yang ditujukan padanya. Jantung gerhana seharusnya menjadi milik Dewi gerhana yang selalu mati setelah gerhana itu berakhir. Tugasnya adalah mengembalikan monster-monster yang tinggal di bumi, kembali ke dunia bawah. Setelah gerhana itu selesai, Sang Dewi akan menyerahkan Jantungnya pada orang yang ia percaya hingga 350 tahun terlewati. “Kalau Yang Mulia sampai memilikinya, dia pasti akan bisa mengendalikan semua monster yang tinggal di sini. Dia pikir aku tidak tahu sifat busuknya itu.“ Yuan Ze menatap sosok Kaisar Langit itu sambil berpikir pikir. “... Mungkin ada baiknya, jika kita membunuh Kaisar yang sekarang dan menggantinya dengan yang baru. Itu mungkin akan menjadi tujuanku setelah aku kabur dari sini.“ “Jangan lengah!“ Begitu suara teriakan itu terdengar di telinganya, sebuah pedang besar berhasil menusuk bagian perut sampingnya dan seketika membuat seluruh gerakannya terhenti begitu juga dengan semua dewa yang menyerangnya. “Lihat itu! Yuan Ze berhasil dikalahkan! Cepat ambil jantungnya!“ Semua dewa yang berhenti itu seketika kembali begerak menghampirinya, dengan tangan kiri mereka yang seolah seperti ingin mengambil sesuatu darinya. “Kalian para makhluk langit sungguh sangat serakah. Yang seharusnya mati itu kalian!“ Yuan Ze mencabut pedang besar yang tertanam di tubuhnya lalu melemparkannya ke arah mereka yang sedang mengincarnya. Serangan beruntun kembali mereka lakukan, puluhan anak panah menembus punggungnya. “Ini aneh. Dia hanya diam saja di sana. Apakah dia ingin mencabik-cabik tubuhnya sendiri?“ gumam Kaisar langit yang melihatnya dari atas. “ARRGG!!“ Beberapa teriakan terus terdengar. Bukan Yuan Ze yang berteriak, melainkan para dewa yang tiba-tiba terluka dan tubuhnya hancur karena sesuatu yang tidak bisa mereka lihat. Sementara itu, Yuan Ze masih berdiri di tempat yang sama dan tidak bergerak sama sekali. “Duh, gara-gara kalian, aku jadi kehilangan wadah terakhirku.“ ucap seorang laki-laki yang wujudnya tidak terlihat namun, hawa keberadaannya sudah membuat beberapa dewa lain berlutut. Semua dewa di sana, bahkan Kaisar langit itu melihatnya. Yuan Ze jatuh ke tanah dan mati karena kehabisan darah. Namun, suara laki-laki itu tiba-tiba saja datang dan mengejutkan semua dewa. “Sebegitu inginkah kalian mengambil Jantung gerhana itu dariku? Kalian pikir siapa yang sedang menjaganya saat ini? Tidak mungkin Dewi gerhana menitipkan jantungnya pada seseorang yang lemah.“ suara itu kembali terdengar bersamaan dengan suara jentikan jari yang berhasil membuat kepala para dewa di bawahnya terpenggal dengan sendirinya. “Sialan kau Yuan Ze! Kalau kau berani, datanglah padaku!“ teriak Dewa yang memegang gada di tangannya. Sedetik kemudian, sesosok laki-laki yang tidak kevuh tinggi darinya muncul di depan matanya dan langsung menebas lehernya dengan sebuah belati di tangannya. “... Jangan salahkan aku. Kau yang lebih dulu menantang ku melakukannya.“ ucapnya. “Begitu ya? Sekarang aku sudah mengerti. Akhirnya tubuh aslinya muncul.“ ucap Kaisar langit sembari menatap sosok laki-laki yang muncul tiba-tiba, tertutup oleh pakaian hitamnya dengan tatapan gelapnya yang terlihat sangat familiar. “Aku tidak percaya kalian menghancurkan wadahku yang sangat berharga, ah sekarang aku harus mencari wadah baru lagi.“ ucap Yuan Ze sembari melihat sekeliling. “Sudah sejauh ini, kau masih tidak ingin memberikan jantung gerhana itu padaku?“ ucap Kaisar langit. “Harusnya aku yang bertanya, sudah banyak dewa yang mati di sini dan kau masih tidak ingin melepaskan ku?“ “Begitu ya? Kau yang memaksa ku untuk turun. Kalau begitu, akulah yang akan menjadi lawan mu ““Apa ini? Kau pasti bercanda!“ Su Yingpei tampak menahan amarahnya saat menatap Yuan Ze berdiri di hadapannya dengan penuh percaya diri. “... Tidak mungkin anak kecil seperti dirinya bisa membawa seorang pemuda yang ukuran tubuhnya jauh lebih besar darinya apalagi, dia membawanya dari tempat bekas peperangan!“ Yuan Ze menghela nafas sembari melipat tangannya. Dia mengangkat satu alisnya pada Su Yingpei sebelum ia menjelaskan, “... Siapa yang bilang kalau aku berjalan dari tempat bekas peperangan itu menuju Sekte Pedang awan? Tidak ada yang bilang kan? Kau tidak tahu ada cara termudah untuk menyelamatkan nyawa Tuan muda Su sebelum tubuhnya berubah menjadi seperti mayat hidup.“ Yuan Ze memberi jeda sejenak kemudian ia mencekik, menunjukkan seekor ular hijau pemberian Xuan She ke hadapan Su Yingpei yang masih mencoba mencerna apa yang diucapkannya. “... Dewa Ular! Aku meminjam kekuatannya untuk menyelamatkan mu! Kau mungkin tidak akan menyangka Dewa Ular juga turut serta menyelamatkan
Pada dasarnya, kekuatan yang bisa memurnikan kekuatan iblis yang merasuki tubuh manusia, hanya dimiliki oleh Dewa Ular seorang. Pada zaman dahulu, Dewa Ular pernah mewariskan kekuatannya pada seseorang saat gelombang perang antara iblis dan manusia mulai pasang. Dewa Ular mengajarinya pada manusia agar mereka bisa saling melindungi. Sayangnya, Dewa ular hanya melakukannya di wilayah Sekte Menara langit, yang ada di kota Ling Tai. Semakin lama, jurus itu menjadi jurus turun-temurun dan dirahasiakan oleh Sekte Menara langit sebagai senjata mereka. Yuan Ze yang saat itu masih muda ketika Dewa Ular terdahulu masih hidup menyesal karena tidak mempelajarinya. Dia terlalu sibuk memimpin pasukan perang dan memutar cara agar bangsa iblis bisa kembali ke tempat mereka. Saat menggunakan jurus itu pada seseorang, Dewa Ular terdahulu bisa melakukannya dalam waktu singkat namun, karena Dewa Ular yang sekarang masih tergolong muda dan baru, ia bisa melakukannya dalam waktu satu sampai dua hari hing
“Hei! Bocah bodoh! Apa yang kau lakukan?! Kau bisa mati!“ Yuan Ze langsung membenarkan posisi Mo Ran agar dia bisa mengalirkan energi spiritualnya ke dalam tubuh Mo Ran. Yuan Ze tahu kalau ini semua sia-sia tetapi, di sisi lain ia tidak bisa meninggalkan maupun membawa Mo Ran pada seorang tabib karena waktunya tidak akan cukup. Di saat kepanikan itu melanda Yuan Ze, dari arah belakang seseorang terdengar sedang berjalan ke arahnya sambil berkata, “... Percuma saja kau melakukan sesuatu untuknya. Karena tidak ada obat atau penawar yang bisa menetralkan racunnya. Haha! Semua yang kau lakukan akan sia-sia!“ ucapnya angkuh.Sementara laki-laki itu berbicara, Yuan Ze masih sibuk mengurus Mo Ran yang tak sadar sadar. Ia melakukan segala cara untuk nyawa seseorang yang seharusnya menjadi kakak pertama selama ia berada di Sekte. Yuan Ze masih sibuk berlagak seolah ia sedang mencari cara untuk mengobatinya dan melakukan segala hal yang bisa membuat racunnya berhenti menyebar ke seluruh tubuh
“Apakah sekarang mereka sedang latihan angkat beban? Mereka tampaknya belum terbiasa dengan latihan yang diberikan Xiao Ruo.“ ucap Yue Fei, melihat dari balik jendela ruangan ketua sekte ketika para murid di lapangan sana sedang berlatih mengangkat tumpukan batu di dalam karung dan Yuan Ze meminta mereka memapahnya naik dan turun tangga. Tentu saja yang terakhir akan mendapatkan hukuman. “Sepertinya dia bersungguh-sungguh ingin melatih talenta murid sekte. Yah, lagipula Sekte ini memang dibangun oleh Dewa bumi kan?“ lanjut Jian Yu yang tampak sedang menyeruput teh di mejanya. Dalam perbincangan santai itu Zhao Yu tiba-tiba menghela nafasnya. “... Sepertinya aku merasa kalau aku harus melakukan sesuatu nanti. Cincin yang kuberikan padanya tampaknya tidak akan bertahan lama lagi setelah kejadian semalam.“ keluhnya sambil menyeruput tehnya. “Hei! Kenapa kalian santai begitu?“ Han Feng dengan wajah suramnya, menatap ketiga orang itu dengan kerutan di dahi dan kantong mata yang tebal. “
Bertahun-tahun lalu, Padang Xinxi adalah Padang yang di penuhi oleh rumput. Beberapa orang sering memilih tempat tersebut untuk beristirahat bahkan Yuan Ze pernah beristirahat di sana bersama dengan dua makhluk yang ia temukan baru-baru ini. Namun, sekarang Padang Xinxi yang lembut dan beraroma embun itu telah hilang. Digantikan oleh gundukan daging dan tulang dari mayat-mayat pasukan sepuluh kerajaan yang belum dimakamkan. “Kenapa suasananya masih terlihat sama seperti awal-awal aku meninggalkannya? Apakah tidak ada kultivator lain yang mengurus mayat-mayat mereka?“ Dengan menggunakan jurus teleportasi yang hanya bisa digunakan oleh seorang Dewa, Yuan Ze sampai di tempat bekas peperangan hanya dalam sepersekian detik dan memperhatikan pemandangan yang bisa merusak mata. Ribuan mayat masih berada di tempat kematian mereka dan sudah membusuk, nyaris saling menyatu dengan mayat yang lain. Aroma busuk membuat udara di sekitarnya menjadi hitam dan berkabut bahkan tanah yang saat ini ia
“Akh! Badanku sakit semua karena dipukuli makhluk aneh itu.“ “Aku merasa ini sudah keterlaluan.“Seluruh murid sekte kembali ke asrama mereka dengan wajah babak belur meski beberapa dari mereka ada yang selamat. Semua orang di sana sibuk merapikan diri mereka dari debu dan bersiap tidur. Namun, sampai saat ini, setelah latihan selesai, mereka tidak lagi bertemu dengan Yuan Ze. “Kira-kira kemana anak itu? Bagaimana dia bisa memiliki kekuatan sebesar itu? Hei! Kakak pertama! Apa kau tidak curiga kalau dia itu penipu?“ ucap salah satu murid ketika Mo Ran sedang merapikan pakaiannya. Mo Ran terdiam sejenak. Dia mulai merasa kalau kekuatannya memang tidak sebanding dengan Yuan Ze yang bahkan berhasil mementalkan para murid padahal dia sama sekalian tidak menggerakkan seujung jari pun. Di sisi lain, dia juga menggunakan jurus yang membuat tubuhnya mengecil untuk menghemat kekuatan spiritualnya sementara, jurus seperti itu hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang tingkatannya sudah setara







