ログインDengan langkah terburu-buru Arjuna memasuki kantor."Pak," Dina membuka laporan, "kami akhirnya menemukan pelaku."Arjuna mengangkat kepala. "Di mana?""Rumah sakit lama. Sudah tutup. Tapi ada satu staf lama yang masih hidup."Arjuna berdiri. "Aku mau ketemu dia."Tidak membuang waktu lagi, Arjuna mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dina dan yang lainnya mengikuti dengan mobil lain.Sesampainya di sana seorang wanita paruh baya berdiri dengan tubuh gemetar saat melihat kedatangan Arjuna."Mau apa kalian kemari?""Saya bisa pakai cara kejam. Tapi jika ibu mau bekerjasama. Saya juga bisa memudahkannya.""Saya tidak tahu maksud kalian apa.""Ayana Laurent Darmawan, istri Prasetya."Tubuh wanita paruh baya itu semakin gemeter."Ti-tidak. Saya tidak kenal mereka.""Baik," senyum tipis dari bibir Arjuna keluar. "Bawa dia ke kantor polisi. Kita selesaikan di sana.""JANGAN!" Wanita paruh bayi itu berlutut. "Saya tidak mau terlibat lagi," katanya takut.Arjuna menatapnya tenang. "In
Dengan langkah terburu-buru Arjuna memasuki kantor."Pak," Dina membuka laporan, "kami akhirnya menemukan pelaku."Arjuna mengangkat kepala. "Di mana?""Rumah sakit lama. Sudah tutup. Tapi ada satu staf lama yang masih hidup."Arjuna berdiri. "Aku mau ketemu dia."Tidak membuang waktu lagi, Arjuna mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dina dan yang lainnya mengikuti dengan mobil lain.Sesampainya di sana seorang wanita paruh baya berdiri dengan tubuh gemetar saat melihat kedatangan Arjuna."Mau apa kalian kemari?""Saya bisa pakai cara kejam. Tapi jika ibu mau bekerjasama. Saya juga bisa memudahkannya.""Saya tidak tahu maksud kalian apa.""Ayana Laurent Darmawan, istri Prasetya."Tubuh wanita paruh baya itu semakin gemeter."Ti-tidak. Saya tidak kenal mereka.""Baik," senyum tipis dari bibir Arjuna keluar. "Bawa dia ke kantor polisi. Kita selesaikan di sana.""JANGAN!" Wanita paruh bayi itu berlutut. "Saya tidak mau terlibat lagi," katanya takut.Arjuna menatapnya tenang. "In
"Aluna!"Suara Ratih pecah memenuhi ruangan.Tubuh Aluna limbung sebelum akhirnya benar-benar jatuh. Beruntung Ratih sigap menahannya."Mas, gimana ini," panggilnya panik.Darmawan langsung bangkit dari kursinya, tongkatnya terjatuh begitu saja di lantai."Baringkan dia!"Mereka berdua dengan cepat memindahkan Aluna ke sofa. Wajah Aluna pucat dengan tangan dingin."Air! Ambil air!" perintah Darmawan tegas, tapi ada getar di suaranya.Ratih bergegas mengambil air, tangannya gemetar."Aluna… Nak… bangun…" bisiknya pelan sambil menepuk pipi cucunya.Tidak ada respon. Ponsel Aluna masih berdering di meja. Nama Arjuna terus menyala di layar.Di kantor Arjuna berdiri membeku dengan ponsel di telinga. Perasaan tidak enak langsung menghantam."Angkat, Aluna," gumamnya pelan.Ia mencoba lagi menghubungi Aluna tapi tetap tidak ada jawaban. Wajahnya langsung berubah."Dina!" panggilnya keras.Dina yang berada tidak jauh langsung masuk."Pak?""Hubungi tim pengawal. Sekarang. Tanya posisi istri s
Sepanjang malam Arjuna hanya memperhatikan wajah sang istri. Ada kilatan bahagia dan sekaligus cemas. "Kalian duniaku saat ini. Aku pasti akan menjaga kalian segenap jiwaku."Pagi datang terlalu cepat. Cahaya matahari menembus tirai tipis kamar, jatuh tepat di wajah Aluna. Matanya perlahan terbuka. Untuk beberapa detik Aluna terus memandangi wajah sang suami. Senyum kecil dan rasa lega menyelimuti hatinya.Perlahan tangan Aluna menyentuh pelan hidung Arjuna sambil memberikan kecupan sesaat di sana.Seketika bayi dalam perut Aluna bergerak. Aluna segera mengelus pelan perutnya sambil tersenyum."Pagi Sayang." Tiba-tiba suara serak Arjuna menyapa."Apa dia bergerak?"Aluna mengangguk. Kecupan lembut jatuh di kening Aluna di tambah dengan senyuman lembut."Aww," teriak Aluna sambil mengelus perutnya."Sakit?""Gak, cuma tendangan kali ini lebih keras aja. Mungkin karena udah hampir akhir trimester dua."Kali ini Arjuna yang mengelus perut Aluna dengan bisikan lembutnya."Halo jagoan Pa
Malam semakin larut saat mobil mereka akhirnya memasuki area penthouse.Lampu-lampu kota terlihat seperti bintang yang jatuh ke bumi. Indah tapi tidak cukup untuk mengalihkan pikiran Aluna yang masih penuh.Begitu pintu terbuka Aluna langsung berjalan masuk tanpa banyak bicara.Arjuna memperhatikannya. Dia tahu istrinya sedang berusaha menerima semuanya.Di dalam kamar Aluna baru saja selesai membersihkan diri, kini ia sedang duduk di tepi ranjang dalam diam. Tangannya kembali mengusap perutnya, lebih lama dari biasanya.Arjuna mendekat perlahan."Hidupku aneh ya," ucapnya seperti bisikan pada dirinya sendiri."Masih kepikiran?" Aluna mengangguk. "Aku gak tahu harus bereaksi seperti apa sekarang."Arjuna duduk di depannya. "Aku ada disini." Tangannya menggenggam erat tangan Aluna.Aluna menatapnya. "Semua berubah dalam satu hari. Kenyataan itu bikin aku merasa bingung. Harus sedih atau justru bahagia."Arjuna mendengarkan semuanya."Aku punya kakek nenek, punya masa lalu yang aku gak
Suasana dalam ruangan berubah, dari yang tegang sejak pertama masuk kini berubah. Namun Arjuna belum sepenuhnya yakin dengan semuanya karena terlalu mendadak dan begitu rapi. Sementara Aluna masih menatap foto di tangannya. Jari-jarinya bergetar saat menyentuh wajah kecil di gambar itu. "Kenapa aku gak pernah tahu?" tanya Aluna pelan. Suaranya seperti bisikan. Mereka mendekat pada Aluna. Perlahan tangan yang keriput itu menyapu lembut air mata Aluna. "Maafkan kami." "Kalian?" Aluna tidak tahu harus memulai dari mana. "Kita belum berkenalan dengan baik Aluna," kata pria tua itu. "Iya Aluna. Maafkan Kakekmu yang sedikit jahat. Harusnya kami memperkenalkan diri kami dengan baik. Bukan seperti saat kamu pertama datang kemari." Keduanya tersenyum. "Saya Darmawan dan istriku Ratih Darmawan. Kami kakek nenekmu dari pihak ibumu." "Mama?! Tapi?" Ratih menggenggam tangan Aluna dengan lembut. "Kami gak pernah benar-benar pergi dari hidup kamu Aluna," katanya pelan. "Kami
Wulan duduk dengan punggung tegak, berusaha tetap terlihat santai. "Mau bicara apa?""Banyak hal," kata Arjuna dingin. "Mari mulai dari hari ini. Kamu meracuni sarapan Svetlana. Membuatnya sakit agar tidak bisa tampil. Tujuannya untuk menghancurkan show Aluna.""Omong kosong apa ini.""Kami punya r
Semua para model mendapat sentuhan terakhir. Musik sudah disiapkan. Pencahayaan sudah sempurna. Runway sudah diperiksa sekali lagi untuk memastikan tidak ada yang terlewat.Aluna dalam balutan gaun phoenix emas berdiri di depan cermin menatap pantulannya.Gaun itu pas sempurna setelah perubahan kil
Hari ini Jakarta Fashion Week di selenggarakan di Mahendra Event Hall.Jam enam pagi, backstage sudah dipenuhi orang-orang yang lalu lalang. Mereka sibuk dengan urusannya dan tugasnya masing-masing.Lima belas busana rancangan Aluna siap dipamerkan dan setiap gaun yang Aluna rancang punya makna mas
Di penthouse, Arjuna sampai dan menemukan Aluna mondar-mandir di ruang keluarga."Ada apa?" Arjuna langsung masuk ke mode protektif.Aluna menyerahkan botol itu. "Kiara menghubungiku. Memberiku ini. Katanya Wulan membayarnya untuk memasukkan ini ke dalam minumanku di backstage JFW."Wajah Arjuna te







