Sang Kakak Buat Aku Tergila

Sang Kakak Buat Aku Tergila

last updateLast Updated : 2026-04-29
By:  Alwee ChanUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
65Chapters
465views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aluna Prasetya dipermalukan di hari pernikahannya sendiri ketika Rendra Mahendra, tunangannya selama tiga tahun, tidak kunjung datang di hari pernikahan mereka, di karenakan sedang bersama selingkuhannya, Kiara.   ** Di tengah kehancuran dan skandal, Arjuna Mahendra—kakak kandung Rendra, CEO Mahendra Group yang terkenal dingin, tiba-tiba menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun. ** Aluna menerima tawaran itu untuk menyelamatkan harga dirinya dan membalas dendam pada Rendra. Namun yang tidak ia ketahui, pernikahan ini bukanlah rencana dadakan. Arjuna telah menyimpan perasaan padanya sejak lima tahun lalu dan diam-diam menjadi pelindung serta pendukung karirnya selama ini. ** Di bawah satu atap, Aluna mulai menemukan sisi lain dari Arjuna. Perhatian tersembunyi, perlindungan tanpa kata, dan cinta yang selama ini diungkapkan lewat tindakan, bukan kata-kata manis. ** Sementara mereka bersama-sama menjalankan rencana balas dendam pada Rendra, Aluna perlahan menyadari bahwa hatinya mulai berubah terhadap suami kontraknya. ** Ketika satu tahun hampir berakhir, akankah Aluna memilih untuk pergi atau tetap bersama pria yang ternyata sudah merencanakan untuk menikahi dirinya sejak lama? Sebuah kisah tentang cinta tersembunyi, balas dendam yang manis, dan pria dingin yang mencair hanya untuk satu wanita. ** "Aku sudah menunggumu selama 5 tahun. Apa kamu pikir aku akan membiarkanmu kembali padanya?"

View More

Chapter 1

Bab 1

Jerit ranjang bersuara. Sepasang anak manusia tengah bergelut dengan pertarungan hebat di atas ranjang. Peluh keringat membanjiri keduanya, Rendra dan Kiara.

Padahal hari ini adalah hari pernikahan Rendra dan Aluna. Tapi Rendra justru tidur dengan Kiara di sebuah hotel.

Tanpa mereka sadari, semua kejadian itu sudah di rekam.

Sementara di tempat lain, Aluna Prasetya terbangun dengan jantung berdebar kencang.

Aluna menatap gaun pengantin yang tergantung di lemari kamarnya berwarna krem lembut dengan detail bordir tangan yang didesain sendiri. Simple, elegan, sempurna. Seperti hari yang sudah dia impikan selama tiga tahun terakhir.

Tiga tahun bersama Rendra Mahendra membuatnya percaya pada cinta yang tulus. Rendra selalu mendukung karirnya sebagai desainer. Rendra melamar Aluna enam bulan lalu di depan semua teman dan keluarga mereka.

Hari ini, hari pernikahan mereka.

Ponselnya berbunyi. Pesan dari wedding organizer.

"Semua sudah siap, Mbak Aluna. Gedung, dekorasi, katering, semuanya sudah siap. Sampai ketemu jam dua nanti." Aluna tersenyum.

Aluna sampai di gedung jam satu siang. Satu jam lebih awal dari jadwal. Dia selalu seperti itu tidak suka terlambat, terutama untuk hari spesialnya.

Makeup artist dan hair stylist sudah menunggu di ruang pengantin khusus. Mereka bekerja dengan teliti, mendandani Aluna menjadi pengantin yang sempurna.

Foundation flawless, eyeshadow soft brown yang membuat matanya terlihat lebih besar, bibir nude pink, dan rambutnya di tata cantik.

"Cantik banget, Mbak Aluna," puji makeup artist sambil menyemprotkan setting spray terakhir.

Aluna melihat dirinya di cermin. Semuanya sesuai harapannya.

Tapi ada yang aneh. Dadanya terasa sesak. Dia mengabaikan perasaan itu. Beranggapan hanya perasaan gugup biasa. Semua orang pasti gugup di hari pernikahannya.

Ponselnya berbunyi. Pesan dari Sari, manajer sekaligus sahabat baiknya.

"Aluna, aku sudah di gedung. Pengen liat kamu dulu sebelum acara mulai. Boleh?"

"Boleh. Aku di ruang pengantin."

Lima menit kemudian, Sari masuk dengan teriakannya.

"Oh my God, Aluna! Kamu cantik banget!" Sari memeluknya hati-hati, takut merusak makeup.

"Lebay," Aluna tertawa.

"Serius! Rendra beruntung banget dapat kamu." Sari duduk di samping Aluna. "Gugup?"

"Sedikit."

"Normal kok. Aku dulu juga gitu." Sari tersenyum. "Oh iya, tadi aku liat Rendra belum datang ya?"

Aluna melirik jam di ponselnya.

"Mungkin masih di jalan. Akadnya jam 2, dia pasti datang tepat waktu."

Tapi suara di dalam kepala Aluna berkata lain.

Ballroom sudah penuh. Tiga ratus undangan hadir, keluarga, teman, kolega bisnis, bahkan beberapa klien Aluna dari industri fashion.

Dekorasi putih keemasan memenuhi ruangan. Live music mengalun lembut. Fotografer berkeliling mengambil gambar candid tamu.

Semuanya sempurna. Hanya pengantin pria yang belum datang.

Aluna duduk di ruang pengantin, tangannya dingin. Dia sudah menelepon Rendra lima kali tapi tidak diangkat.

Pesan W******p hanya centang satu. Itu pun tidak terkirim.

"Mbak Aluna," asisten wedding organizer masuk dengan wajah khawatir. "Mas Rendra masih belum sampai. Kita tunggu atau gimana?"

"Tunggu," jawab Aluna. "Dia pasti datang."

Ibu Aluna masuk, wajahnya cemas. "Aluna, Rendra kemana? Kok belum datang?"

"Mungkin macet, Bu. Ini Jakarta, wajar."

"Tapi ini sudah jam dua lewat! Tamu-tamu mulai bertanya-tanya."

"Sebentar lagi dia datang," Aluna memaksakan senyum. "Percaya deh, Bu."

"Akad harusnya jam dua. Sekarang sudah jam tiga. Rendra masih belum datang," batinnya.

Tamu mulai gelisah. Bisikan di sana-sini terdengar semakin keras.

"Kok pengantin prianya belum datang?"

"Jangan-jangan kabur?"

"Kasian Aluna."

"Ini kok aneh ya?"

Fotografer dan videografer sudah mulai bingung. Mereka standby tanpa objek untuk difoto.

Wedding organizer datang lagi, semakin panik. "Mbak, kita harus umumkan sesuatu ke tamu. Mereka mulai—"

"Tunggu!" potong Aluna. "Lima menit lagi. Please."

Dia mencoba menghubungi asisten Rendra. Akhirnya diangkat.

"Halo, Mbak Aluna."

"Rendra mana?" tanya Aluna cepat.

"Mas Rendra ada urusan mendadak, Mbak. Tapi dia bilang akan segera ke sana. Mohon ditunggu ya."

"Urusan apa yang lebih penting dari pernikahannya sendiri!"

"Maaf, Mbak, saya gak tau detailnya. Tapi Mas Rendra pasti datang."

Telepon berakhir.

Aluna menatap ponselnya. Tangannya gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca tapi dia tahan.

Sari masuk, memeluk Aluna dari belakang.

"Aluna."

"Aku oke," Aluna berbohong. "Dia pasti datang."

Jam empat sore, dan Rendra masih belum datang.

Sebagian tamu sudah mulai pulang.

Aluna duduk sendirian di ruang pengantin. Ayah dan ibunya di luar, berusaha menenangkan tamu yang masih hadir.

Ponselnya kembali berbunyi. Pesan dari nomor tidak dikenal. Aluna membuka dengan tangan lemah.

Sebuah video masuk. Aluna menekan mainkan dan detik berikutnya dunianya tiba-tiba runtuh.

Di layar, Rendra di sebuah hotel mewah dengan Kiara Darmawan.

Kiara seorang influencer terkenal. Teman Aluna.

Mereka berciuman penuh nafsu dan adegan yang tidak pantas untuk ditonton.

Suara Rendra terdengar jelas di video, bersautan dengan suara Kiara.

"Tenang sayang, sebentar lagi aku bebas dari Aluna. Aku cuma butuh dia sampai fashion show bulan depan selesai. Setelah itu, kita bisa umumkan hubungan kita."

Kiara tertawa. "Kamu jahat banget sih. Tapi aku suka."

"Dia masih berguna saat ini, berbakat dan punya koneksi di fashion industi. Tapi untuk hubungan yang lebih serius. Kamu jauh lebih seksi, Kiara."

Video berhenti. Aluna menatap layar ponselnya lama. Dadanya sesak, tangannya meremas pelan gaunnya dengan air mata yang mulai jatuh deras dan tidak terkontrol.

Aluna berdiri, berlari ke toilet di dalam ruangan. Dia merasa mual dan jijik dengan apa yang baru saja ia lihat. Semua yang dimakan pagi tadi keluar seketika.

Makeup artist khawatir, mengetuk pintu tapi Aluna menguncinya dari dalam.

Aluna luruh ke lantai toilet. Gaunnya menyebar di lantai.

Tiga tahun Aluna mencintai Rendra. Aluna pikir Rendra adalah cinta terakhirnya. kenyataan dia hanya dimanfaatkan.

Rendra dan Kiara, mereka telah menipu Aluna selama ini. Pernikahan yang sudah disusun dengan sedemikian rupa, di anggap hanya lelucon.

Aluna menangis sampai suaranya serak.

"Aluna."

Ada yang memanggil namanya.

Suaranya berat dan keras. Bukan suara Sari atau ibunya. Ini jelas suara seorang pria.

"Buka pintunya."

Aluna tidak peduli. Ia tetap larut dalam sakit hatinya.

"Atau aku yang buka."

Aluna menghapus air matanya, berdiri meski kakinya lemah, dan membuka pintu.

Di depannya berdiri seorang pria, tinggi, memakai jas hitam yang pas di tubuh atletisnya. Kemeja putih dengan dua kancing teratas terbuka. Jam tangan mewah di pergelangan tangan kiri. Wajah tegas dengan rahang keras dan mata hitam yang tajam.

Dia adalah Arjuna Mahendra. Kakak kandung Rendra. CEO Mahendra Group. The Ice King of Business julukan yang diberikan karena reputasinya yang dingin, kejam, dan tidak pernah kehilangan dalam negosiasi bisnis.

Aluna pernah bertemu Arjuna dua kali, saat makan malam keluarga pertama tiga tahun lalu, dan sekali lagi di acara ulang tahun ayah Mahendra tahun lalu.

Arjuna selalu dingin dan diam membuat Aluna tidak nyaman dengan tatapan tajam yang sulit diartikan.

"Kenapa Kakak di sini?" suara Aluna serak.

Arjuna menatap Aluna. Tidak ada empati berlebihan di wajahnya, apalagi belas kasihan. Hanya ada tatapan dingin yang langsung menusuk.

"Kamu masih mau menunggu?" tanya Arjuna datar.

"Apa maksud Kakak?"

"Rendra gak akan datang," jawab Arjuna. "Dia sedang bersenang-senang bersama Kiara."

Aluna terdiam.

"Kakak yang kirim video itu?" tanya Aluna pelan.

"Ya."

"Kenapa?" tanya Aluna cepat.

"Karena kamu berhak tau sebelum menghabiskan sisa hidupmu dengan Rendra."

Aluna tiba-tiba tertawa. "Jadi Kakak datang hanya untuk mengejekku bodoh. Makasih."

"Aku gak bilang kamu bodoh." Arjuna melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. "Aku bilang kamu dikhianati. Itu beda."

Aluna menatap Arjuna. Ada sesuatu di tatapan Arjuna yang membuat Aluna tidak bisa berkata-kata.

Arjuna mengeluarkan sesuatu dari dalam jasnya. Sebuah amplop coklat tebal.

"Ada dua pilihan," katanya, suara rendah tapi jelas.

"Pertama, kamu keluar dan umumkan pembatalan pernikahan di depan tiga ratus tamu, dan besok, semua media akan memberitakan kamu ditinggal di hari pernikahan. Karir desainer yang baru mulai naik akan hancur. Orang-orang akan kasihan padamu atau lebih buruk menertawakanmu."

Aluna menelan ludah. Kata-kata itu seperti pisau di dada Aluna.

"Pilihan kedua?" tanya Aluna cepat.

Arjuna menatapnya lebih dalam dan tidak berkedip.

"Nikahi aku."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
65 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status