Home / Fantasi / Sang Kusir / Bab 30 Tabib Sinto

Share

Bab 30 Tabib Sinto

Author: Pujangga
last update publish date: 2026-08-06 19:17:43

Akibat kecelakaan yang menimpa putri Anandya diacara sayembara, membuat kemampuan raja Balwa yang selama ini dia sembunyikan terungkap diketahui banyak orang.

Sebelumnya tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa raja Balwa memiliki kanuragan.

Di mana sepanjang hidup, raja Balwa hanya terkenal sebagai pria yang senang menghabiskan waktunya membaca di perpustakaan.

Termasuk permaisuri dan semua putrinya, mereka terkejut dengan kesaktian sang raja yang bisa melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh.

Tetapi keterkejutan tersebut tertutupi oleh ketegangan yang menimpa putri Anandya.

Sehingga semua orang tidak terlalu memperhatikan raja Balwa.

Namun tetap saja, setelah ketegangan kecelakaan berakhir, sekarang giliran raja Balwa yang diperbincangkan oleh semua orang.

Terdapat 3 kelompok penonton yang menanggapi rahasia sang raja, pertama adalah mereka yang mengagumi kekuatannya, ke-dua adalah kelompok yang benci terhadap raja, terlebih ketika mengetahui sang raja adalah seorang pendekar hebat, dan ke-tiga adalah kelompok tidak peduli.

Mereka yang tidak peduli merupakan para penduduk yang telah kehilangan harapan terhadap kerajaan karena kemiskinan akibat melambungnya harga upeti.

Sementara yang membenci raja adalah kelompok pemberontak seperti Senopati Kalhi dan para pasukannya.

Sedangkan yang mengagumi raja adalah kelompok penduduk dan keluarga kerajaan yang mengetahui seperti apa sifat raja Balwa sesungguhnya.

Mendengar namanya di perbincangkan, raja Balwa tidak peduli, dia memilih fokus mengamati bangkai kuda yang masih tergeletak.

“Hormat hamba, baginda,” tabib Sinto membungkuk, dia baru saja tiba bersama patih Taruma Jati.

Bersamanya juga terdapat 2 tabib lain yang akan membantu dalam proses pemeriksaan.

“Bangunlah paman, tolong periksa bangkai kuda ini, cari tahu mengapa dia menggila dan kerasukan banyak siluman,” kata raja Balwa.

“Baik, baginda,” ucap tabib Sinto sopan.

Dia adalah lelaki paruh baya dengan tubuh kurus sedikit bungkuk yang memiliki rambut berwarna putih karena termakan usia.

“Menjauh dari sana Senopati, ini sudah bukan lagi urusanmu,” seru patih Taruma Jati dingin kepada Senopati Kalhi.

“Pttt! …,” Senopati Kalhi yang mendengarnya tentu sangat geram, ingin rasanya dia langsung menikam patih Taruma sekarang juga, namun melihat keadaan sekitar terdapat banyak orang, tangannya segera kembali di lepaskan dari gagang keris.

Terlebih di sana ada raja Balwa, tidak mungkin Senopati Kalhi bertindak gegabah.

“Ma—maafkan aku, tadi hamba hanya penasaran saja,” ungkap Senopati Kahli sembari meredam amarahnya.

Tidak ingin bertambah rumit, Senopati Kalhi akhirnya undur diri meninggalkan alun-alun.

“Apa itu tidak terlalu keras patih Taruma?” tanya raja Balwa.

“Maaf baginda, hamba terlalu terbawa emosi,” patih Taruma Jati menunduk.

Raja Balwa mengerti atas kemarahan patihnya, di mana sejak awal, Senopati Kalhi lah yang membawa kuda-kuda perang memasuki lapangan pacuan, sudah sepantasnya patih Taruma Jati curiga karena raja Balwa sendiri pun menaruh curiga.

Tetapi dia tidak bisa bertindak jauh sebelum mendapatkan bukti, karena membunuh keluarga raja pasti merupakan kepentingan sebuah kelompok dan melibatkan banyak orang.

Raja Balwa tidak bisa bertindak gegabah dalam menyikapi permasalahan ini, karena jika benar kecelakaan putri Anandya disebabkan oleh sebuah kelompok pemberontak, maka keselamatan seluruh rakyat akan dipertaruhkan.

“Sudahlah, ayo kita periksa bangkai itu bersama-sama,” ujar raja Balwa tidak memperpanjangnya.

Tabib Sinto dan kedua rekannya telah sedari tadi memeriksa bangkai kuda, mulai dari bagian mulut, tenggorokan, hingga membedah perut sang kuda untuk mengambil bagian lambungnya.

Raja Balwa dan patih Taruma Jati hanya menyaksikan saja tanpa berani ikut campur, karena dalam bidang pembedahan bukanlah keahlian mereka.

Proses pemeriksaan berjalan sangat lambat di mana sampai sekarang, tabib Sinto belum menemukan apa pun.

Sampai pada akhirnya, dia membuka kotak peralatan yang sudah lama tidak pernah dirinya buka.

“Jarum emas?” gumam raja Balwa.

Sang Raja tahu tabib Sinto memiliki sebuah pusaka yang dapat mendeteksi segala jenis racun apa pun di dunia ini, karena dulu saat masih remaja, raja Balwa pernah dibawa oleh prabu Begawan masuk ke ruang kerja tabib tua tersebut.

“Benar, anda ternyata masih mengingatnya baginda,” tabib Sinto tersenyum.

“Tentu saja paman, dulu aku sering melihat jarum itu di ruang kerjamu,” ujar raja Balwa.

Tabib Sinto selanjutnya mengambil sedikit bagian lambung kuda untuk diperiksa.

Sesaat kening keriputnya berkerut tidak percaya, tetapi beberapa tarikan nafas kemudian, tabib Sinto sangat yakin dengan apa yang ditemukannya.

“Bagaimana paman?” tanya raja Balwa penasaran.

Begitu juga dengan patih Taruma Jati, sudah sedari tadi dia memasang telinga ingin mendengar hasil pemeriksaannya.

“Benar baginda, kuda ini terkena racun, sebuah racun yang sangat langka sekali, sehingga saking langkanya, racun ini dijual dengan harga yang sangat mahal,” ungkap tabib Sinto.

“Racun langka?” raja Balwa dan patih Taruma secara bersamaan.

“Benar, kuda ini terkena racun Arwah, racun yang berasal dari daratan tengah, aku tidak bisa mengatakannya di sini, yang pasti baginda harus segera memperketat keamanan keluarga istana,” jelas tabib Sinto.

“Bedebah! Aku sudah menduganya,” raja Balwa mengepalkan tangan.

Sejak awal dia memang sudah mencium ada bau-bau pengkhianatan di dalam lingkungan kerajaan, ternyata benar, ada yang sedang mengincar takhta kerajaan.

Patih Taruma juga demikian, dia mengeraskan rahang menahan amarah.

“Temui aku nanti malam di tempat biasa,” kata sang raja cepat.

“Baik baginda,” patih Taruma Jati mengangguk.

Setelah mengucapkan itu, raja Balwa segera berlalu meninggalkan lapang pacuan sayembara.

“Prajurit!” teriak Patih Taruma menggunakan energi tenaga dalam.

Mendengar itu, satu rombongan prajurit datang dan langsung berlutut di hadapannya.

“Bereskan tempat ini dan kubur bangkai kuda itu,” tunjuk patih Taruma pada bangkai kuda perang.

“Sendiko tuan patih,” seru semua prajurit serentak.

“Terima kasih paman tabib, anda boleh kembali ke gedung perawatan,” patih Taruma kepada Tabib Sinto.

“Jangan sungkan, berhati-hatilah, kau juga sepertinya masuk ke dalam target mereka,” ungkap tabib Sinto memperingati.

“Aku tahu, paman jangan khawatir,” patih Taruma mengangguk.

Selagi lapangan tempat sayembara dibereskan, Arga dan Liwa tergeletak tidak berdaya di tengah hutan Bugang.

Tubuh keduanya dipenuhi luka sayatan dari putaran pisau kereta kuda, selain itu Arga sempat beberapa kali berguling menghantam tanah melindungi tubuh putri Anandya.

Tidak ada yang tahu keberadaan mereka selain dua mata tua yang sedari tadi terus memperhatikannya.

Saat Arga tiba di hutan Bugang, hari di sana telah memasuki waktu sore, sampai menjelang malam, Arga dan Liwa masih tetap tidak sadarkan diri.

Gelap dengan cepat merambah mengusir siang, membuat seluruh wilayah hutan Bugang pekat tanpa cahaya.

Sepasang mata tua perlahan menghampiri tubuh keduanya, setelah itu sebuah energi berwarna putih menelan tubuh Arga dan Liwa secara bersamaan.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Kusir   Bab 32 Kematian Senopati Kalhi

    Kerajaan Bunisora kini tengah mengadakan pesta keberangkatan ke tiga putri raja di mana esok mereka akan menempuh perjalanan panjang melakukan upacara kedewasaan.Meski gagal melaksanakan ujian ketiga karena terjadi kecelakaan, Jantaka masih terpilih sebagai kusir dari putri Anandya.Berbagai pertunjukan tarian dan jamuan makan digelar di dalam istana.Pesta itu juga dihadiri oleh semua pembesar kerajaan, para kerabat serta semua pimpinan pasukan termasuk panglima dan Senopati.Ariani, Waruna, dan Jantaka duduk dalam satu meja, meski keduanya tidak akur dengan Waruna, tetapi mereka tetap berada di sana karena titah dari raja.“Silakan nikmati pestanya, semoga ke 3 putriku berhasil dalam upacara, terlebih mereka bisa pulang dengan selamat tanpa kekurangan satu apa pun,” seru raja Balwa.“Keselamatan bagi semua putri, paduka,” teriak Senopati Rajo.“Keselamatan bagi semua putri paduka,” seru semua orang mengikuti.Raja Balwa tersenyum senang mendengar itu, termasuk permaisuri Sri Nanda

  • Sang Kusir   Bab 31 Wujud Baru Liwa

    Pagi hari mentari dilangit bertambah kelam, butiran es putih mulai turun menghujani daratan.“Ini …?” gumam Arga masih di dalam hutan Bugang.“Liwa! Ke mana dia?” Arga segera bangkit dari atas permukaan rumput mengedarkan pandangan mencari keberadaan sahabatnya.“Liwa!” teriak Arga memanggil si kuda dekil.“Celaka! Ini sudah masuk musim salju, berapa hari aku tidak sadarkan diri di hutan ini?” gumam Arga.Krrruuuk! Kruukuku! Krruukuk! Tiba-tiba terdengar bunyi suara perut.“Aduh, aduh, adu-duduh!” Arga mengerang memegangi perutnya yang lapar, “Sepertinya memang sudah lebih dari dua hari aku terbaring, aw! Sakit sekali,” keluh pemuda itu.Mendapati rasa lapar yang tidak tertahankan, Arga segera berlari menuju sungai berniat menangkap ikan untuk mengganjal rasa laparnya.Tetapi saat tiba di sana, dia melebarkan mata seraya mengumpat panjang pendek menyaksikan di atas sungai terdapat asap tipis menandakan suhu sungai tempat biasa pemuda itu mencari ikan kini telah berubah menjadi dingin,

  • Sang Kusir   Bab 30 Tabib Sinto

    Akibat kecelakaan yang menimpa putri Anandya diacara sayembara, membuat kemampuan raja Balwa yang selama ini dia sembunyikan terungkap diketahui banyak orang.Sebelumnya tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa raja Balwa memiliki kanuragan.Di mana sepanjang hidup, raja Balwa hanya terkenal sebagai pria yang senang menghabiskan waktunya membaca di perpustakaan.Termasuk permaisuri dan semua putrinya, mereka terkejut dengan kesaktian sang raja yang bisa melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh.Tetapi keterkejutan tersebut tertutupi oleh ketegangan yang menimpa putri Anandya.Sehingga semua orang tidak terlalu memperhatikan raja Balwa.Namun tetap saja, setelah ketegangan kecelakaan berakhir, sekarang giliran raja Balwa yang diperbincangkan oleh semua orang.Terdapat 3 kelompok penonton yang menanggapi rahasia sang raja, pertama adalah mereka yang mengagumi kekuatannya, ke-dua adalah kelompok yang benci terhadap raja, terlebih ketika mengetahui sang raja adalah seorang pendekar h

  • Sang Kusir   Bab 29 Liwa Sang Kuda Tangguh

    Liwa adalah satu-satunya makhluk yang selalu menemani Arga selama ini, dia merupakan kuda cacat yang tidak bisa membesar sehingga kerajaan tidak mengakui kuda tersebut sebagai kuda istana.Dahulu dia sempat akan disembelih karena tidak bisa dipekerjakan, beruntung Arga menolongnya dengan meminta Liwa secara baik-baik kepada prabu Begawan.Dari sanalah awal persahabatan mereka, sehingga tidak satu hari pun terlewati tanpa kebersamaan.Liwa terus melaju dengan kecepatan maksimalnya, sementara Arga berusaha memanggil Jantaka agar dia menarik tali kekang kuda supaya melambat.“Aku tidak bisa lagi,” teriak Jantaka membalas.“Celaka!” umpat Arga yang melihat kereta perang Jantaka melesat semakin cepat.“Liwa!” teriak Arga.“Oak, Oak,” ungkap Liwa yang sudah tidak kuat mengejar.Situasi setiap saat bertambah semakin genting, sementara tenaga Liwa maupun Jantaka semakin lama malah semakin berkurang.Dalam kondisi seperti ini Arga dituntut harus berpikir cerdas karena jika tidak, nyawa teman b

  • Sang Kusir   Bab 28 Penyelamat Tak Terguga

    Saat terjadi sesuatu yang aneh pada kuda yang membawa kereta Jantaka dan putri Anandya, Arga sedang tidak berada di lokasi sayembara.Di mana saat bertemu dengan sang putri di tugu alun-alun, Arga mendapat informasi bahwa sedang ada yang mengincar nyawanya.Ternyata putri Anandya menemui Arga bukan hanya untuk berterima kasih, tetapi juga memberitahu pemuda itu bahwa kejadian tempo hari karena menyelamatkannya Arga menjadi target pembunuhan.Sehingga di sana putri Anandya meminta Arga supaya bersembunyi karena dirinya merasakan firasat buruk.Sebetulnya bukan hanya putri Anandya yang merasakan firasat buruk, tapi Arga juga demikian, namun dia tidak mengungkapkannya karena khawatir akan menjadi beban pikiran bagi sang putri.Tidak ingin membuat putri Anandya khawatir, Arga memutuskan untuk Kembali ke gubuknya.Tetapi karena firasat di hatinya bertambah buruk, Arga dan Liwa akhirnya kembali.Dan benar saja, ketika Arga tiba di alun-alun kerajaan, putri Anandya dan Jantaka tengah dalam b

  • Sang Kusir   Bab 27 Tragedi Kuda Gila

    Siang yang awalnya meriah seketika berubah mencekam dalam sekejap.Aura siluman tiba-tiba muncul entah dari mana membawa kengerian yang belum pernah dirasakan sebelumnya.Tidak hanya di dalam lapang pacuan, tetapi semua penduduk yang menonton pun turut ikut merasakannya.“Kalian, bantu patih Taruma hentikan kuda itu!” seru raja Balwa panik.Tidak hanya memberi perintah, dia juga ikut turun ke lapangan pacuan untuk menyelamatkan putrinya.Sementara permaisuri Sri Nanda sudah sedari tadi menangis tidak ingin putrinya terjadi sesuatu yang buruk.“Hahaha, kali ini kau akan benar-benar mati putri kecil,” putri Ardani tertawa bahagia jauh di dalam hati.Kereta yang ditumpangi oleh Jantaka dan putri Anandya terus melaju bahkan bertambah cepat.Kali ini kecepatannya telah setara dengan ilmu meringankan tubuh pendekar awal tanding.Debu tanah seketika tercipta dari hempasan roda kereta, membumbung menghalangi pandangan.Sementara patih Taruma Jati dan 100 orang Punggawa masih berdiri di depan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status