Mag-log inDi atas langit, ada sekitar 5000 pasukan walet darah, semuanya bersenjata lengkap memiliki tombak dan pedang.Sementara di bawah terdapat 2000 pendekar yang berhasil menerobos memasuki gerbang perguruan.Entah bagaimana cara mereka melalui kubah gaib, namun saat ini situasi perguruan Sayap Dewa kacau balau dipenuhi banyak jeritan dan darah.Ledakan yang Arga dengar ternyata berasal dari pertarungan Ki Karmadapa bersama salah satu ketua perguruan Walet Darah.Mengetahui ada 2 pendekar tanpa tanding di Sayap Dewa, mereka mengirim 4 pendekar tanpa tanding untuk menaklukannya.Tidak ada yang tahu bagaimana dan seperti apa rupa sesepuh Walet Darah, dalam pertempuran besar seperti inipun dia hanya mengirimkan para murid dan ketuanya saja.Tetapi jangan salah, ketua mereka ternyata memiliki kesaktian sebanding dengan Ki Elang Sakti dan Ki Karmadapa.Nyi Elawati bertarung dengan salah satu dari mereka, dia dibantu oleh Nyi Tanjung sehingga pertarungan berjalan dua lawan satu.Ketua lain beker
Malam hari di dalam gubuk lusuh, Arga dan Ki Pala berbincang panjang lebar menanyakan siapa identitas Arga sebenarnya.“Apa hubunganmu dengan resi Satyaraga?” tanya Ki Pala.“Beliau adalah eyang guruku kek,” jawab Arga singkat.“Tidak mungkin! Dia tidak pernah mengangkat murid dan tidak akan pernah. Apa kau mencuri jurusnya?” sergah Ki Pala tidak percaya.“Mana bisa seseorang mencuri jurus dengan sangat sempurna jika tidak diturunkan langsung oleh pemiliknya,” ujar Arga.“Aku benar-benar murid Eyang Satyaraga. Murid pertama dan yang terakhir karena eyang kini memilih menyendiri di dalam goa,” tutur Arga kemudian.“Apa dia memilih moksa?” tanya Ki Pala.Moksa adalah kelepasan atau kebebasan dari ikatan duniawi.“Tidak, beliau tidak memilih moksa. Hanya mencari ketenangan abadi yang mungkin tidak didapatnya selama mengembara,” jawab Arga.“Bukankah dia menjadi penasehat kerajaan adidaya Lingga Hiang?” kembali Ki Pala bertanya.“Benar, tetapi beliau sudah berhenti sejak 4 tahun yang lalu
“Jurang tanpa dasar?” tanya Arga cepat.“Benar, lembah batu situng konon merupakan ujung dari dunia. Namun sampai saat ini aku belum menemukan entah di mana ujungnya. Hanya lubang ini yang kutemukan, kemungkinan inilah ujung dari dunia kita,” tutur sang pria tua.“Ujung dunia? Aku tidak percaya dunia memiliki ujung. Bukankah pendekar tanpa tanding bisa menjelajahi lubang itu dengan terbang?” ungkap Arga tidak percaya.“Hahaha, jika bisa di jelajahi mungkin akulah orang pertama yang akan melakukannya. Percuma saja jangankan manusia, burung atau hewan siluman saja yang terbang melintasi lubang itu akan langsung jatuh ke bawah. Memiliki kemampuan terbang di atas lubang itu tidak akan berguna,” jelas sang pria tua.Semakin dijelaskan, entah mengapa hati Arga semakin penasaran. Dia selalu ingin mengetahui hal yang baru. Andai di sana benar ujung dunia, Arga ingin tahu ada apa di balik dunia ini.“Bodoh! Kau jangan sekali-kali mendekatinya,” bentak sang pria tua.Dia dapat melihat ketertari
Dua minggu Arga bekerja sendiri membangun kolam tepat di belakang gubuk sang pria tua.Minggu pertama dia gunakan untuk menggali tanah menggunakan pedang hitam, sementara minggu kedua Arga mulai mengangkut air menggunakan ember kayu ciptaannya sendiri.Tidak ada kata mengeluh yang keluar dari mulut Arga membuat sang pria tua mulai memperhatikannya.“Siapa anak muda ini sebenar-nya? Dia memiliki kegigihan yang luar biasa, meski kakinya terbelenggu gelang batu laut, namun semangat dan tekadnya berhasil melampaui batas tubuh manusia biasa,” gumam sang pria tua.Dia kini sedang berada di atas punggung salah satu hewan buas serupa gajah bertaring setinggi 10 meter.Pria tua terus memperhatikan Arga dari kejahuan, selama dia berada di sana, belum pernah ada murid segigih, dan sekuat Arga.Tap! Tap! Tap! Tap!Suara langkah kaki Arga menapaki titian tangga. Dia tengah memikul 2 ember air dari dasar tebing dengan berlari kecil. Sementara pedang hitam miliknya sudah dari seminggu yang lalu Arga
Dengan bingung Arga akhirnya mulai berjalan menaiki anak tangga menuju puncak bukit yang sangat tinggi.Entah ada berapa ribu anak tangga di sana karena Arga tidak menghitungnya. Yang pasti Arga saat ini tengah kelelahan di mana puncak bukit yang dia tuju belum kunjung kelihatan.“Dari pada bukit, ini lebih layak disebut gunung, sial! sampai kapan aku harus berjalan seperti ini,” gumam Arga.Sudah hampir 4 jam Arga berjalan tetapi setengah bukit saja belum berhasil dia lewati.“Andai aku membawa Liwa, mungkin sudah sedari tadi tiba di sana,” Arga menatap jauh ke atas langit.“Benar juga! Sedang apa kuda dekil itu sekarang? Semoga saja dia tidak membuat masalah,” kembali Arga bergumam.Saat tiba di Sayap Dewa, Arga menitipkan Liwa kepada pengurus kuda perguruan.Seorang lelaki tua yang memiliki nama aneh, Jantaka memanggil lelaki itu dengan nama Ki Jongol.Ki Jongol adalah salah satu ketua di perguruan Sayap Dewa, tetapi dia tidak pernah mengajar murid karena lebih suka bergaul dengan
Siang hari di perguruan Sayap Dewa kembali tersebar berita cabul yang memalukan dari pelaku yang sama yaitu Arga.Kali ini dia tidak bisa mengelak dari hukuman, karena selain dilaporkan oleh gadis yang menjadi korban, beberapa murid lain juga turut menyaksikan itu di mana saat Arga terjatuh, gedung perawatan kebetulah tengah ramai pengunjung karena sedang terdapat praktek pembuatan pil.Dua kali Arga mendapat tamparan keras dari sang gadis, setelah itu dirinya di arak menuju ruang sesepuh untuk menentukan hukuman apa yang cocok bagi pemuda nakal seperti dia.Sementara Jantaka hanya dapat menelan ludah memandangi Arga yang sedang di arak dengan tatapan iba.Meski di sana dia sebagai murid senior, tetapi kesalahan Arga sulit untuk di selamatkan.“Kau terus saja membuat masalah di sini anak muda, siapa namamu? Aku lupa,” Aki Karmadapa menyipitkan mata.“A-a—ampun sesepuh, sungguh! Ini tidak seperti yang anda kira. Ini sebuah kecelakaan,” ungkap Arga meronta.Kedua tangannya dipegangi era







