LOGIN“Jurang tanpa dasar?” tanya Arga cepat.“Benar, lembah batu situng konon merupakan ujung dari dunia. Namun sampai saat ini aku belum menemukan entah di mana ujungnya. Hanya lubang ini yang kutemukan, kemungkinan inilah ujung dari dunia kita,” tutur sang pria tua.“Ujung dunia? Aku tidak percaya dunia memiliki ujung. Bukankah pendekar tanpa tanding bisa menjelajahi lubang itu dengan terbang?” ungkap Arga tidak percaya.“Hahaha, jika bisa di jelajahi mungkin akulah orang pertama yang akan melakukannya. Percuma saja jangankan manusia, burung atau hewan siluman saja yang terbang melintasi lubang itu akan langsung jatuh ke bawah. Memiliki kemampuan terbang di atas lubang itu tidak akan berguna,” jelas sang pria tua.Semakin dijelaskan, entah mengapa hati Arga semakin penasaran. Dia selalu ingin mengetahui hal yang baru. Andai di sana benar ujung dunia, Arga ingin tahu ada apa di balik dunia ini.“Bodoh! Kau jangan sekali-kali mendekatinya,” bentak sang pria tua.Dia dapat melihat ketertari
Dua minggu Arga bekerja sendiri membangun kolam tepat di belakang gubuk sang pria tua.Minggu pertama dia gunakan untuk menggali tanah menggunakan pedang hitam, sementara minggu kedua Arga mulai mengangkut air menggunakan ember kayu ciptaannya sendiri.Tidak ada kata mengeluh yang keluar dari mulut Arga membuat sang pria tua mulai memperhatikannya.“Siapa anak muda ini sebenar-nya? Dia memiliki kegigihan yang luar biasa, meski kakinya terbelenggu gelang batu laut, namun semangat dan tekadnya berhasil melampaui batas tubuh manusia biasa,” gumam sang pria tua.Dia kini sedang berada di atas punggung salah satu hewan buas serupa gajah bertaring setinggi 10 meter.Pria tua terus memperhatikan Arga dari kejahuan, selama dia berada di sana, belum pernah ada murid segigih, dan sekuat Arga.Tap! Tap! Tap! Tap!Suara langkah kaki Arga menapaki titian tangga. Dia tengah memikul 2 ember air dari dasar tebing dengan berlari kecil. Sementara pedang hitam miliknya sudah dari seminggu yang lalu Arga
Dengan bingung Arga akhirnya mulai berjalan menaiki anak tangga menuju puncak bukit yang sangat tinggi.Entah ada berapa ribu anak tangga di sana karena Arga tidak menghitungnya. Yang pasti Arga saat ini tengah kelelahan di mana puncak bukit yang dia tuju belum kunjung kelihatan.“Dari pada bukit, ini lebih layak disebut gunung, sial! sampai kapan aku harus berjalan seperti ini,” gumam Arga.Sudah hampir 4 jam Arga berjalan tetapi setengah bukit saja belum berhasil dia lewati.“Andai aku membawa Liwa, mungkin sudah sedari tadi tiba di sana,” Arga menatap jauh ke atas langit.“Benar juga! Sedang apa kuda dekil itu sekarang? Semoga saja dia tidak membuat masalah,” kembali Arga bergumam.Saat tiba di Sayap Dewa, Arga menitipkan Liwa kepada pengurus kuda perguruan.Seorang lelaki tua yang memiliki nama aneh, Jantaka memanggil lelaki itu dengan nama Ki Jongol.Ki Jongol adalah salah satu ketua di perguruan Sayap Dewa, tetapi dia tidak pernah mengajar murid karena lebih suka bergaul dengan
Siang hari di perguruan Sayap Dewa kembali tersebar berita cabul yang memalukan dari pelaku yang sama yaitu Arga.Kali ini dia tidak bisa mengelak dari hukuman, karena selain dilaporkan oleh gadis yang menjadi korban, beberapa murid lain juga turut menyaksikan itu di mana saat Arga terjatuh, gedung perawatan kebetulah tengah ramai pengunjung karena sedang terdapat praktek pembuatan pil.Dua kali Arga mendapat tamparan keras dari sang gadis, setelah itu dirinya di arak menuju ruang sesepuh untuk menentukan hukuman apa yang cocok bagi pemuda nakal seperti dia.Sementara Jantaka hanya dapat menelan ludah memandangi Arga yang sedang di arak dengan tatapan iba.Meski di sana dia sebagai murid senior, tetapi kesalahan Arga sulit untuk di selamatkan.“Kau terus saja membuat masalah di sini anak muda, siapa namamu? Aku lupa,” Aki Karmadapa menyipitkan mata.“A-a—ampun sesepuh, sungguh! Ini tidak seperti yang anda kira. Ini sebuah kecelakaan,” ungkap Arga meronta.Kedua tangannya dipegangi era
Arga berusaha berpegangan pada batu dipinggir sungai, tetapi arus deras tidak membiarkannya berhasil, sehingga mau tidak mau pemuda itu harus pasrah terbawa arus.Jdak! Aww!Satu kali kepala Arga terbentur batu membuat tubuhnya kembali ke tengah sungai.Nahas tidak jauh dari sana terdapat sebuah air terjun, Arga panik dan mencoba berenang melawan arus berharap tubuhnya tidak terjatuh.Tetapi karena tenaganya saat ini sangat terbatas, Arga-pun pada akhirnya harus pasrah terhempas jatuh menuju dasar air terjun.Brak! Biiyuuuuuuurrr!Arga membentur permukaan kolam dengan sangat keras menciptakan percikan air ke segala arah, sementara dirinya tenggelam jauh hingga mencapai dasar.Tidak ingin mati tenggelam, Arga segera berenang naik kepermukaan, tetapi tenaganya yang lemas membuat tubuh Arga tidak mau naik.Air sudah banyak yang masuk kemulut pemuda itu ditambah di dasar kolam terdapat arus yang berputar sehingga semakin lama tubuh Arga semakin tidak berdaya.Dalam kepanikan antara hidup
Terjadinya fenomena aneh di atas langit gunung Lawu membuat beberapa perguruan golongan putih merasa panik karena tahu akan datangnya bencana besar yang mengancam umat manusia.Setelah menerima kabar dari padepokan Melati Sakti dan beberapa perguruan lain, Aki Karmadapa akhirnya memutuskan akan mengadakan pertemuan terbuka untuk semua sesepuh perguruan.Pertemuan itu akan digelar di aula perguruan Sayap Dewa tiga minggu lagi dari sekarang.Jauh-nya jarak lokasi antara perguruan menjadi kendala tersendiri sehingga waktu pertemuan harus disesuaikan dengan perguruan terjauh yaitu Mata Budha.Perguruan Sayap Dewa selalu menjadi pusat perlindungan karena selain merupakan perguruan terbesar di wilayah Bunisora, perguruan Sayap Dewa juga memiliki dua pendekar sakti yaitu Aki Karmadapa dan Ki Elang Sakti.Dua pendekar itu dahulu terkenal sebagai dua burung bersaudara dari lembah Batu Situng.Aki Karmadapa memiliki jurus Sayap Dewa, sementara adiknya Ki Elang Sakti memiliki jurus pedang elang.







