Home / Fantasi / Sang Kusir / Bab 51 Putra Mahkota

Share

Bab 51 Putra Mahkota

Author: Pujangga
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-20 19:42:19

“Aku titipkan Liwa bersama kalian!” seru Arga.

“Dasar pemuda gemblung, mengapa dia suka sekali mengurusi urusan orang lain,” umpat Jantaka.

“Apa ini tidak apa-apa tuan pendekar? Bagaimana dengan Arga?” tanya putri Anandya khawatir.

“Tenang saja putri, aku percaya Arga akan baik-baik saja,” jawab Jantaka.

“Heyy Liwa, ayo kita pergi, tuanmu nanti akan menyusul,” teriak Jantaka kepada Liwa.

Selanjutnya mereka pun mulai melesat meninggalkan pinggiran sungai, sementara bangkai rusa Arga taruh di dep
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sang Kusir   Bab 51 Putra Mahkota

    “Aku titipkan Liwa bersama kalian!” seru Arga.“Dasar pemuda gemblung, mengapa dia suka sekali mengurusi urusan orang lain,” umpat Jantaka.“Apa ini tidak apa-apa tuan pendekar? Bagaimana dengan Arga?” tanya putri Anandya khawatir.“Tenang saja putri, aku percaya Arga akan baik-baik saja,” jawab Jantaka.“Heyy Liwa, ayo kita pergi, tuanmu nanti akan menyusul,” teriak Jantaka kepada Liwa.Selanjutnya mereka pun mulai melesat meninggalkan pinggiran sungai, sementara bangkai rusa Arga taruh di depan gerobak kereta di samping kursi kusir.Liwa tidak banyak bersuara, dia hanya mengikuti kereta dari belakang sembari mengawasi keadaan.Khyaahh! Khyaah!Jantaka dua kali menghentakan tali kekang agar kuda perang melaju lebih cepat.Kebetulan jalan yang mereka lalui sekarang sedikit menanjak membuat kereta kuda berjalan lambat.Setelah tali kekang dihentakan, kereta mulai kembali melaju dengan kecepatan tinggi.“Tuan pendekar, sepertinya kita sudah cukup jauh dari tempat semula, apa tidak sebai

  • Sang Kusir   Bab 50 Perterungan tak berimbang

    “Hahaha, aku selalu yakin dengan putra mahkota, waktu itu dia hanya belum dewasa saja,” panglima Kunta tertawa.“Bukankah ini adalah kaki gunung Lawu yang masuk pada wilayah kerajaan kecil Bunisora?” tanya Senopati Suta memastikan.“Benar, mengapa anda baru bertanya sekarang?” jawab panglima Kunta.“Hahaha, aku hanya heran saja mengapa dirimu memilih ke arah sini,” sembari Suta tertawa.“Hahaha, entahlah, aku hanya mengikuti kata hati saja,” panglima Kunta ikut tertawa.“Meski kukira pikiranmu bodoh, tapi tidak apalah, kita nikmati saja pengembaraan ini,” Senopati Suta menggeleng.“Hahaha, bukankah sudah kubilang dari dulu, nikmati saja,” panglima Kunta kembali tertawa.“Benar, hahaha. Tapi apakah mungkin putra mahkota ada di tempat seperti ini? Bukankah dia pemuda yang manja?” tanya Senopati Suta.“Hahaha, aku tidak tahu, tapi jika anda yang lari dari rumah, ke mana kira-kira tempat yang akan dituju? Tanpa uang? Tanpa simbol identitas? Bahkan tanpa ada orang yang menemani?” tutur pan

  • Sang Kusir   Bab 49 Dua Orang Asing

    Selepas kembalinya Arga dari dalam alam jiwa, rombongan putri Anandya-pun melanjutkan perjalanan.Beruntung kereta kuda mereka berada di lokasi hutan bekas perkampungan Teritis sehingga tidak terkena dampak ledakan dari pertarungan Arga.Khyaaah! Khyaah!Arga dan Liwa melesat berlari di samping kereta, mereka kini sudah melalui hutan kabut dan mulai memasuki hutan pinus dikaki gunung Lawu.Setelah kejadian di kampung Teritis hatinya selalu berdebar tidak ingin jauh dari pemuda itu.Putri Anandya terus saja mencuri pandang menatap wajah Arga dari kereta, entah mengapa itu.“Arga, apa pedang kebalikan adalah senjata pusaka? Mengapa aku tidak bisa mengangkatnya, dan kenapa nama pedang itu terdengar jelek sekali?” tanya Jantaka penasaran.Kemarin, setelah Arga baru saja terbangun, perhatian Jantaka teralihkan pada sebuah benda besar yang menancap di tanah.Dia kira awalnya itu adalah batu sedang berdiri karena berwarna hitam dan berukuran besar, tetapi setelah di dekati, Jantaka terkejut

  • Sang Kusir   Bab 48 Alam Jiwa

    Matahari telah condong ke arah barat pertanda senja akan segera datang, tetapi seorang pemuda berpakaian lusuh masih terbaring di atas tanah bersalju.Di sisinya tertancap sebuah pedang sangat besar bergagang merah dengan seluruh permukaan badan pedang berwarna hitam legam.Sementara jauh dari tubuh sang pemuda, tepatnya di bawah bukit terdapat se-ekor kuda putih dan sepasang muda-mudi yang juga tengah terbaring, tetapi di tubuh mereka terdapat banyak balutan kain.“Arga! Arga! Arga …?” putri Anandya berteriak-teriak memanggil nama Arga membuat pemuda dan kuda putih di sampingnya langsung tersentak kaget terbangun.“Putri, ada apa?” Jantaka terkejut segera menghampiri putri Anandya yang kini masih terbaring, tetapi kedua tangannya terus meronta seperti sedang terjebak dalam mimpi buruk.Hihihik! Hihihik! Wueheer! Liwa meringkik.“Aisss, sepertinya dia hanya bermimpi,” Jantaka menggeleng, lalu dengan sopan dia mengguncangkan tubuh gadis itu agar terbangun.“Argaaaa ........!” putri Ana

  • Sang Kusir   Bab 47 Pedang Kebalikan

    Arga tidak habis pikir dengan semua ini, jelas-jelas yang tadi dia dekap itu adalah Julman dan Sulastri, tetapi mengapa berubah menjadi pedang?“Selama 500 tahun aku telah mencari pewaris bagi pedang ciptaanku ini, ternyata dirimulah yang paling pantas menjadi tuannya,” ungkap sang kakek berjanggut putih.“Kamu memiliki hati yang baik anak muda, sebesar apa pun energi kegelapan di dalam tubuhmu, dia tidak sebanding dengan kemuliaan hatimu, percayalah pada diri sendiri,” sambung sang kakek.“Baiklah, kuwariskan pedangku ini padamu, bawa dia mengarungi dunia persilatan untuk menebar kebaikan, aku percaya padamu,” tutup sang kakek tua.“Tu—tunggu dulu! Siapa namamu pak tua?” sergah Arga.“Hahaha, kau bisa memanggilku Empu Harsa sang raja pencipta pedang,” kakek tua tertawa terbahak-bahak.Empu Harsa sangat senang karena penantiannya selama ini telah membuahkan hasil.Setelah itu, sosoknya seketika lenyap menjadi butiran cahaya.Tidak ada yang bisa mendengar percakapan antara Arga dan Kak

  • Sang Kusir   Bab 46 Sosok Kakek Berjubah Merah

    “Hahaha, mampus kalian berengsek!” pemimpin pendekar berbaju hitam tertawa.Arga dan Jantaka sama-sama memuntahkan darah merah, tubuh keduanya terbaring lemas di atas tanah.Putri Anandya akan berlari menghampiri tubuh Arga, tetapi salah satu pendekar berbaju hitam menangkap dengan cepat.Begitu juga dengan Sulastri dan Julman, ketiganya meronta berusaha melepaskan diri.“Lepaskan! Kalian akan menyesal menangkapku,” teriak putri Anandya.“Hahaha, tentu saja kami akan menyesal. Menyesal tidak sempat menikmatimu, hahaha,” pria yang menangkapnya tertawa.“Arga!” Tarik putri Anandya.“Kakak Arga!” Julman juga ikut berteriak.“Kakak!” Sulastri terus meronta.Ke-tiganya saat ini menangis meratapi nasib, tanpa Arga dan Jantaka, kematian mereka hanya tinggal menunggu waktu.Kesadaran Arga mulai samar akan menghilang, sementara Jantaka sudah sedari tadi tidak sadarkan diri.Kini yang masih berjuang tinggal Liwa seorang, kuda putih itu terus melesat menyerang para pendekar berbaju hitam menggun

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status