Home / Fantasi / Sang Kusir / Bab 48 Alam Jiwa

Share

Bab 48 Alam Jiwa

Author: Pujangga
last update publish date: 2026-08-19 19:55:20

Matahari telah condong ke arah barat pertanda senja akan segera datang, tetapi seorang pemuda berpakaian lusuh masih terbaring di atas tanah bersalju.

Di sisinya tertancap sebuah pedang sangat besar bergagang merah dengan seluruh permukaan badan pedang berwarna hitam legam.

Sementara jauh dari tubuh sang pemuda, tepatnya di bawah bukit terdapat se-ekor kuda putih dan sepasang muda-mudi yang juga tengah terbaring, tetapi di tubuh mereka terdapat banyak balutan kain.

“Arga! Arga! Arga …?” putri A
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Kusir   Bab 49 Dua Orang Asing

    Selepas kembalinya Arga dari dalam alam jiwa, rombongan putri Anandya-pun melanjutkan perjalanan.Beruntung kereta kuda mereka berada di lokasi hutan bekas perkampungan Teritis sehingga tidak terkena dampak ledakan dari pertarungan Arga.Khyaaah! Khyaah!Arga dan Liwa melesat berlari di samping kereta, mereka kini sudah melalui hutan kabut dan mulai memasuki hutan pinus dikaki gunung Lawu.Setelah kejadian di kampung Teritis hatinya selalu berdebar tidak ingin jauh dari pemuda itu.Putri Anandya terus saja mencuri pandang menatap wajah Arga dari kereta, entah mengapa itu.“Arga, apa pedang kebalikan adalah senjata pusaka? Mengapa aku tidak bisa mengangkatnya, dan kenapa nama pedang itu terdengar jelek sekali?” tanya Jantaka penasaran.Kemarin, setelah Arga baru saja terbangun, perhatian Jantaka teralihkan pada sebuah benda besar yang menancap di tanah.Dia kira awalnya itu adalah batu sedang berdiri karena berwarna hitam dan berukuran besar, tetapi setelah di dekati, Jantaka terkejut

  • Sang Kusir   Bab 48 Alam Jiwa

    Matahari telah condong ke arah barat pertanda senja akan segera datang, tetapi seorang pemuda berpakaian lusuh masih terbaring di atas tanah bersalju.Di sisinya tertancap sebuah pedang sangat besar bergagang merah dengan seluruh permukaan badan pedang berwarna hitam legam.Sementara jauh dari tubuh sang pemuda, tepatnya di bawah bukit terdapat se-ekor kuda putih dan sepasang muda-mudi yang juga tengah terbaring, tetapi di tubuh mereka terdapat banyak balutan kain.“Arga! Arga! Arga …?” putri Anandya berteriak-teriak memanggil nama Arga membuat pemuda dan kuda putih di sampingnya langsung tersentak kaget terbangun.“Putri, ada apa?” Jantaka terkejut segera menghampiri putri Anandya yang kini masih terbaring, tetapi kedua tangannya terus meronta seperti sedang terjebak dalam mimpi buruk.Hihihik! Hihihik! Wueheer! Liwa meringkik.“Aisss, sepertinya dia hanya bermimpi,” Jantaka menggeleng, lalu dengan sopan dia mengguncangkan tubuh gadis itu agar terbangun.“Argaaaa ........!” putri Ana

  • Sang Kusir   Bab 47 Pedang Kebalikan

    Arga tidak habis pikir dengan semua ini, jelas-jelas yang tadi dia dekap itu adalah Julman dan Sulastri, tetapi mengapa berubah menjadi pedang?“Selama 500 tahun aku telah mencari pewaris bagi pedang ciptaanku ini, ternyata dirimulah yang paling pantas menjadi tuannya,” ungkap sang kakek berjanggut putih.“Kamu memiliki hati yang baik anak muda, sebesar apa pun energi kegelapan di dalam tubuhmu, dia tidak sebanding dengan kemuliaan hatimu, percayalah pada diri sendiri,” sambung sang kakek.“Baiklah, kuwariskan pedangku ini padamu, bawa dia mengarungi dunia persilatan untuk menebar kebaikan, aku percaya padamu,” tutup sang kakek tua.“Tu—tunggu dulu! Siapa namamu pak tua?” sergah Arga.“Hahaha, kau bisa memanggilku Empu Harsa sang raja pencipta pedang,” kakek tua tertawa terbahak-bahak.Empu Harsa sangat senang karena penantiannya selama ini telah membuahkan hasil.Setelah itu, sosoknya seketika lenyap menjadi butiran cahaya.Tidak ada yang bisa mendengar percakapan antara Arga dan Kak

  • Sang Kusir   Bab 46 Sosok Kakek Berjubah Merah

    “Hahaha, mampus kalian berengsek!” pemimpin pendekar berbaju hitam tertawa.Arga dan Jantaka sama-sama memuntahkan darah merah, tubuh keduanya terbaring lemas di atas tanah.Putri Anandya akan berlari menghampiri tubuh Arga, tetapi salah satu pendekar berbaju hitam menangkap dengan cepat.Begitu juga dengan Sulastri dan Julman, ketiganya meronta berusaha melepaskan diri.“Lepaskan! Kalian akan menyesal menangkapku,” teriak putri Anandya.“Hahaha, tentu saja kami akan menyesal. Menyesal tidak sempat menikmatimu, hahaha,” pria yang menangkapnya tertawa.“Arga!” Tarik putri Anandya.“Kakak Arga!” Julman juga ikut berteriak.“Kakak!” Sulastri terus meronta.Ke-tiganya saat ini menangis meratapi nasib, tanpa Arga dan Jantaka, kematian mereka hanya tinggal menunggu waktu.Kesadaran Arga mulai samar akan menghilang, sementara Jantaka sudah sedari tadi tidak sadarkan diri.Kini yang masih berjuang tinggal Liwa seorang, kuda putih itu terus melesat menyerang para pendekar berbaju hitam menggun

  • Sang Kusir   Bab 45 Serangan tak terduga

    “Dia tewas terkena anak panah beracun,” gumam Arga lirih di dalam hati.Setelah memastikan kondisi perempuan tersebut, Arga kemudian kembali menghampiri Julman dan Sulastri.“Ibu kalian benar-benar sedang sakit, sebaiknya ayo kita keluar, biarkan dia beristirahat dengan tenang,” ungkap Arga.Arga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya karena tidak tega melihat kondisi Julman dan Sulastri masih sangat kecil.“Apakah ibu akan sembuh kak? Benarkan, kak?” Sulastri bertanya dengan semangat.Mendapati itu Arga segera memalingkan wajah karena setetes air matanya terjatuh tidak mampu dibendung lagi.“Ibu Sulastri pasti akan sehat,” jawab Arga lirih.“Hore!” sang gadis kecil kembali melompat riang.Begitu juga dengan Julman, mereka berpelukan melompat-lompat kegirangan.Arga kemudian membawa mereka keluar kamar.“Bagaimana?” tanya putri Anandya.Arga tidak bisa menjawab dengan kata-kata, dia menggeleng dengan air mata menggenang menunjukkan kesedihan.Jantaka langsung menunduk mengerti apa yang

  • Sang Kusir   Bab 44 Kenyataan Memilukan

    “Itu kediamanku, kak Arga, aku ingin memperkenalkan kakak kepada ibu, mohon mampirlah,” pinta Julman.“Maaf adik kecil, kakak-kakak ini sedang dalam perjalanan menjalankan misi, jadi kami tidak bisa mampir,” ungkap putri Anandya menjawab pertanyaan Julman.Dia mengatakan itu karena dalam upacara kedewasaan tidak boleh singgah ke sembarang tempat sesuka hati, menyelesaikan upacara adalah tujuan utama.Mendengar itu Julman tentu saja sedih, padahal dia ingin mempertemukan teman satu-satunya yang telah menolong dia pada sang ibu.“Tidak apa Julman, kakak akan mampir,” potong Arga membuat Julman melompat senang.“Benarkah, benarkah?” anak kecil itu bertanya cepat.“Benar, bukankah ibumu tengah sakit?” Arga balik bertanya.“Benar kak Arga,” jawab Julman Lirih.“Baiklah, ayo pulang,” kata Arga sembari mengangkat bangkai rusa ke pundaknya.“Arga!” seru putri Anandya sedikit berbisik.“Ada apa tuan putri?” jawab Arga.“Dirimu tidak bisa berbuat seenaknya! Kita sedang dalam perjalanan menjalan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status