MasukArga dan Jantaka melesat mengejar putri Anandya jauh ke dalam kuil.Seperti labirin, kuil Agung ternyata memiliki Goa bawah tanah yang panjang dan berliku.Arakenda dan Barong membawa ketiga putri raja memasuki Goa tersebut atas petunjuk putri Kanaya.Gadis itu mengatakan bahwa jalan satu-satunya untuk keluar dari dalam kuil Agung hanyalah lewat sana, yakni melalui lorong Goa yang nantinya akan tembus ke kaki gunung Lawu bagian timur.Karena informasi itu datang dari seorang putri raja, maka Barong dan Arakenda pun langsung percaya tanpa menaruh rasa curiga.Padahal sesungguhnya, putri Kanaya sengaja menuntun mereka pada lokasi tersembunyi untuk mengeksekusi putri Anandya.“Ke mana lagi ini tuan putri? Jalan itu sepertinya buntu,” tanya Barong mengerutkan kening, sudah dua kali dia memutari jalan tersebut namun selalu saja kembali ke tempat yang sama.“Tidak pendekar, ini memang jalannya, kalian ikuti saja aku,” seru putri Kanaya.“Benar! hanya kami yang mengetahui arah Goa ini. Jadi
“Hahaha, kalian jangan pernah bersenang-senang tanpa kami, sialan!” teriak Mahendra kepada Waruna.“Cih! Aku tidak tahu mengapa kalian datang ke sini, tapi baguslah, setidaknya aku bisa menunjukkan jurus terkuatku pada kalian semua,” ketus Waruna.TRANG! TRANG! TRANG!Suara senjata berbenturan terus terdengar di dalam kuil. Mendapat bantuan segar dari para teman peserta sayembara membuat Jantaka dan Ariani menjadi lebih bersemangat.Terlebih di sana ada Arga sebagai kejutan terbesar bagi Ariani, gadis itu melebarkan mata menyaksikan Arga dapat bertarung gagah di tengah lautan musuh.Pedang besar berwarna hitam membuat Ariani semakin terpana dengan kemampuan Arga.Dia mengayunkan pedang seukuran manusia dewasa layaknya sebuah ranting kering yang ringan.Tetapi musuh yang menahannya tidak ada satu pun yang dapat lolos, mereka langsung terpotong menjadi dua berikut dengan senjata yang digunakannya.“Lompatan Langit!” teriak Arga.Sriiing! Cruuuuaat!5 pendekar golongan hitam tewas tanpa
Ternyata sebelum berangkat menuju gunung Lawu, Arga sudah merencanakan semua ini.Tanpa sepengetahuan raja Balwa dan patih Taruma Jati, dia segera membelokkan kuda ke arah kota raja.Arga sangat yakin bahwa semua peserta Sayembara belum meninggalkan kerajaan.Terlebih teman mereka ada yang masih dirawat di gedung perawatan.Dan benar saja, ketika Arga masuk ke dalam kota, dia menemukan Mahendra dan Naralayan sedang duduk di salah satu rumah makan.“Maaf aku mengganggu kalian, tetapi aku ingin menawarkan kerja sama yang menguntungkan,” sapa Arga di dalam rumah makan.“Kau …? Aku belum pernah bertemu denganmu, apa dirimu mencari mati dengan berani mengusik kegiatan makanku?” Mahendra melebarkan mata kepada Arga.“Tunggu Mahendra! Bukankah tadi dia ingin menawarkan kerja sama,” sergah Naralayan menenangkan.“Hahaha, kerja sama macam apa yang dia inginkan! Lihatlah, penampilannya saja sangat dekil seperti itu,” hardik Mahendra kepada Arga.“Tidak ada salahnya kita mendengarkannya dahulu,”
“Putri!!!”Jantaka langsung melesat masuk ke dalam kuil, di-ikuti oleh Ariani, Waruna, Arakenda, dan Barong.Mendengar jeritan dari putri Anandya, mereka tidak lagi memikirkan aturan kuil, yang ada dalam pikiran semua orang saat ini adalah menyelamatkan putri Anandya.“Bedebah! Siapa kalian? Cepat lepaskan mereka sebelum terlambat!” teriak Jantaka kepada 20 pendekar yang sedang menyekap ke-tiga putri raja.Ternyata saat putri Anandya masuk ke dalam kuil, putri Damayanti dan Kanaya telah dalam keadaan terikat di tiang batu.Gadis itu segera berlari berniat melepaskan ikatan ke-dua kakaknya, tetapi baru saja hampir menggapai tali, sekelompok pendekar berbaju merah datang menangkap putri Anandya dan langsung mengikatnya juga pada tiang batu kuil.“Hahaha, ke-tiga gadis ini harus mati di tangan kami, jika kalian tidak ingin ikut mati! Maka segera tinggalkan tempat ini,” teriak salah satu pendekar berbaju merah.Semua pendekar itu membawa senjata berupa golok panjang yang diselipkan di pin
Dua malam telah terlewati, rombongan Arga kini hanya berjarak setengah hari lagi mencapai kuil Agung di puncak gunung Lawu.“Jadi apa yang akan kita lakukan di sana tuan putri?” tanya Arga.“Aku harus menanam biji bunga teratai di danau kuil Agung, jika biji itu berhasil tumbuh dengan baik, maka upacara kedewasaan ini telah selesai,” jawab putri Anandya menjelaskan.“Baiklah jika begitu, ayo Jantaka, percepat perjalanan! Kita akan menanam bunga,” teriak Arga senang.“Haisss! Aku tidak mengerti mengapa dia menjadi ceria seperti itu,” gumam Jantaka.Khyaah! Khyaaah!Jantaka dua kali menghentakan tali kekang membuat dua kuda perang melesat melewati Liwa.“Oak?” tanya Liwa.“Hahaha, tidak perlu Liwa, tugas kita adalah menjaga rombongan, jadi tetap ikuti mereka,” jawab Arga.Di kuil Agung saat ini sudah terdapat putri Damayanti dan putri Kanaya.Mereka tiba lebih dulu karena tidak mendapat hambatan di perjalanan.Alih-alih mendapatkan hambatan, kedua putri raja itu malah dengan sengaja ber
Arga terus berlari meninggalkan Senopati Suta dan panglima Kunta dengan hati gelisah.Beberapa pohon pinus tumbang tertubruk tubuh pemuda itu yang melesat ke sembarang arah.Kedua tangan memegang kuat kepalanya yang terasa amat sakit, sementara pedang kebalikan tersilang di belakang punggung.Aaaaaaaa! BUMM! BUMM! BUMMM!Arga berteriak keras meluapkan segala emosinya, membuat sebagian wilayah hutan pinus sirna terkena ledakan.Asap hitam membumbung tinggi ke langit menarik perhatian pasukan pendekar berbaju hitam untuk datang ke sana.Tidak hanya kelompok itu saja, tetapi beberapa makhluk lelembut dan hewan siluman juga turut berdatangan.“Cepat periksa, aku yakin suara ledakan itu berasal dari rombongan putri raja, bunuh kelompok mereka,” seru Genta memberi perintah.“Baik, tuan,” seru 200 pendekar golongan hitam serentak.Ternyata benar, selama ini yang memberi perintah kepada kelompok tersebut untuk memburu putri Anandya itu adalah Genta.Pendekar sakti yang tempo hari memberikan r







