Share

3. Lemah Syahwat?

last update publish date: 2026-09-21 16:32:00

Cakra baru saja selesai meminta seorang pelayan mengambilkan air ketika seorang wanita lain muncul dari balik pintu.

“Kanda.” Suara lembut itu membuat Cakra menoleh.

Seorang gadis dengan kebaya biru muda berjalan perlahan memasuki kamar. Rambut panjangnya tersanggul sederhana, wajahnya tenang, kedua tangannya membawa mangkuk tanah liat yang mengepulkan uap tipis. 

Ingatan Cakrabuana pun langsung 

mengenalinya.

Itu Putri Andini si istri keempat, putri Kerajaan Sagara yang dinikahkan dengannya sebagai bagian dari perjanjian damai.

“Kanda sudah sadar,” ucap Andini dengan senyum tipis, menyerahkan mangkuk itu. “Ini ramuan penghangat badan. Cobalah.”

“Terima kasih." 

Cakra menerimanya. Aroma jahe dan kencur memenuhi hidung. Sebagai mantan perawat IGD, dia terbiasa memperhatikan kondisi pasien.

Tubuh ini baru saja mengalami sesuatu yang mencurigakan, jadi dia mengendus ramuan itu lebih lama dari wajar sebelum akhirnya menyeruputnya. Rasanya normal. Pedas dan hangat seperti pada umumnya.

“Apa Kanda merasa lebih baik?” tanya Andini, sembari mengedipkan mata penuh harap.

“Lumayan.”

“Syukurlah.” Gadis itu menghela napas lega, lalu duduk di kursi dekat ranjang.

Cakra memperhatikannya diam-diam. Perempuan ini berbeda dari Kencana dan Anjani. Wajahnya cantik, senyumnya manis, dan sikapnya jauh lebih lembut. Tapi ada sesuatu di balik tatapannya yang membuat Cakra merasa sedang diamati lebih dari yang seharusnya.

“Kau takut kepadaku?” tanya Cakra tiba-tiba.

“Hah?” Andini mengangkat wajahnya. "Kenapa Kanda bertanya begitu?”

“Entahlah. Mungkin karena semua orang di sini kelihatannya takut atau benci kepadaku.”

Andini terdiam. Suasana mendadak berubah jadi lebih sunyi.

“Kanda benar-benar tidak mengingat apa yang terjadi?”

“Memangnya ada apa?” Cakra refleks menatapnya lekat.

“Mmm, tidak ada,” geleng Andini sambil menundukkan kepala.

Jawabannya itu membuat Cakra semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.

Belum sempat dia mengejar pertanyaan lagi untuk Andini, suara langkah kaki terdengar dari lorong. Ratih muncul dengan ekspresi penuh semangat.

“Kalian harus dengar kabar luar biasa ini!”

“Astaga.” Cakra memejamkan mata. “Ratih, jangan!”

“Kenapa? Aku bahkan belum bicara apa-apa.”

Ratih sudah kadung nyerocos, berkacak pinggang tanpa peduli peringatan suaminya. 

"Tadi pagi aku cuma godain Kanda sebentar, eh belum genap semenit Kanda sudah lemas duluan! Padahal biasanya Kanda yang bikin aku kewalahan sampai pagi."

Sebelum ada yang sempat memotong, dia melanjutkan dengan mata berbinar.

"Habis itu Kanda malah minta maaf ke aku, terus nutupin bahuku pakai selendang! Duh, padahal biasanya Kanda paling senang kalau lihat aku berpakaian seadanya di depan Kanda!" Tawa menggelegar pecah memenuhi ruangan.

"Hahaha! Itu yang sudah kamu ceritakan pada para dayang tadi." Anjani menepuk pahanya berkali-kali, terbungkuk-bungkuk menertawakan Cakra.

"Gila! Pangeran kita yang bajingan sekarang mendadak loyo! Apa Dewata menegurnya karena dia terlalu biadab sebelumnya?"

"Apa?" Andini menutup mulut karena kaget, sekaligus menahan tawa.

Ratih sendiri tertawa senang, lalu masuk ke kamar dan duduk seenaknya.

Cakra melotot, tubuhnya menegang. "Kenapa kau ceritakan, Ratih?"

"Karena itu benar-benar sesuatu yang aneh, Kanda. Kanda sangat berbeda."

"Alamak." Cakra menutup wajah dengan telapak tangan, baru sadar bahwa di kehidupan kerajaan seperti ini, gosip mungkin jauh lebih cepat daripada internet.

Anjani berhenti tertawa. Dia bangkit dari sandaran tiang, dan melangkah mendekat dengan mata menyipit penuh selidik. Langkahnya berhenti tepat di samping ranjang, cukup dekat hingga hidungnya nyaris menyentuh hidung Cakra.

"Dulu Kanda terkenal paling kuat. Semalam suntuk pun nggak ada capeknya, bahkan waktu kami berlima dipanggil sekaligus. Tapi sekarang, baru digoda sebentar saja sudah menyerah. Hahaha!"

"Anjani." Suara Cakra mulai tegang.

"Aku cuma bilang fakta." Anjani mengangkat bahu, tapi seringai di wajahnya tidak hilang, seolah dia baru menemukan mainan baru dan belum puas memainkannya.

Ratih, yang sedari tadi cuma duduk sambil cekikikan, tiba-tiba ikut bangkit dan mendekat dari sisi lain ranjang. "Eh, aku juga penasaran! Coba, coba, aku mau tes lagi."

"Ratih, apa yang kamu lakukan?" Suara Cakra tercekat saat wanita itu menggeser duduknya, sengaja merapatkan tubuh hingga tak ada jarak sedikit pun di antara mereka.

"Kenapa? Biasanya Kanda suka begini, kan?" Ratih kebayanya sambil tersenyum menggoda.

Tanpa malu pada Andini dan Anjani, wanita itu melepas dua kancing kebayanya. Kain tipis itu merosot dari bahu, menyingkap kulit kuning langsat yang hangat dan harum, membuat mata Cakra melotot nyaris copot.

"Gila! Ini terlalu dekat," batinnya, dia serasa kesusahan menelan ludah.

"Biasa aja lihatnya, Kanda. Kan setiap hari Kanda juga sering lihat. Ayo, peluk aku yang erat." Ratih memejamkan mata dan menggigit bibirnya pelan.

Pertahanan Cakra benar-benar runtuh. Seumur hidup belum pernah dia disodori godaan semanis ini, dan rasanya terlalu sayang kalau momen ini dia sia-siakan.

Kedua tangan Cakra perlahan melingkari pinggang Ratih. Aroma tubuh istrinya itu membuat darahnya berdesir panas, napasnya pun ikut memburu tak beraturan.

"Ratih ... aku nggak tahan lagi."

Hap!

Dalam satu gerakan, Cakra menarik tubuh Ratih ke dalam dekapannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Penakluk Kelima Istri Pangeran    6. Mau Bercinta Dimana Saja?

    BAB 6"Berdirilah, Mbok. Bangun, jangan terus bersujud seperti ini," pinta Cakra dengan suara memohon. Mendengar permintaan itu, Mbok Darmi justru semakin gemetar hebat. Wanita paruh baya itu menekan keningnya lebih rapat ke tanah seraya memegangi betis putrinya yang membisu. "Ampun, Pangeran! Mohon jangan murka, hamba bersumpah anak hamba tidak berniat lancang!" ratap Mbok Darmi dengan suara serak bercampur tangis. Semakin disuruh berdiri, wanita tua itu tampak semakin ketakutan setengah mati. Cakra menghela napas panjang, menyadari bahwa keramahannya justru dianggap sebagai awal dari amarah besar sang pangeran bajingan. Pada akhirnya, ia mengalah demi meredakan kepanikan tersebut. "Sudahlah, Mbok, aku ke sini hanya karena merasa haus." "A-air, Gusti?" tanya Mbok Darmi seraya mengangkat kepalanya sedikit dengan wajah basah air mata."Iya, tolong ambilkan aku segelas air tempayan," ucap Cakra seraya tersenyum ramah. Mbok Darmi buru-buru menyikut pinggang anak perempuannya. "Sek

  • Sang Penakluk Kelima Istri Pangeran    5. Siapa Gadis Itu?

    Bab 5Cakra berlutut di atas lantai papan serambi yang dingin. Kedua tangannya terulur hendak menyentuh pundak kurus Sari Kembang untuk membantunya berdiri.Namun, baru saja jemarinya menyentuh kain kebaya wanita itu, Sari Kembang tersentak dan meringis kesakitan. Lengan baju batiknya tersingkap sedikit ke atas siku, memperlihatkan gurat luka cambukan panjang yang telah mengering menghitam di kulit putihnya. Seketika itu juga, sekelebat ingatan kelam menyengat kepala Cakra.Malam itu turun hujan lebat, dan sang pangeran asli baru saja pulang dalam keadaan mabuk berat selepas menelan kekalahan besar di meja judi. Pria keji itu melampiaskan seluruh amarahnya dengan menyabetkan sabuk kulit tebal berkali-kali ke tubuh Sari Kembang yang meringkuk di sudut kamar. “Dasar bajingan!" geram Cakra.Rasa mual yang amat pekat mendadak menekan ulu hatinya. Dia menarik tangannya kembali seraya melangkah mundur dengan napas tertahan, merasa jijik pada perbuatan biadab pemilik raga ini. Melihat sua

  • Sang Penakluk Kelima Istri Pangeran    4. Membuktikan Keperkasaan Pangeran

    "Mmhh." Cakra sudah hilang kendali, begitu larut sampai-sampaitak sadar jika masih ada Anjani dan Andini di dalam kamar yang sama.Mata Andini bahkan sampai membelalak melihat adegan itu. Wajahnya terasapanas. Kedua tangannya saling meremas sisi gaun dengan gemetar."Ehem! Gimana, Kanda? Enak kan?"Suara deheman Anjani membuat Cakra tersentak kaget. Kesadarannya punakhirnya kembali, mengambil alih pikirannya yang semula sudah kacau."Astaga, Ratih!" Cakra membuka mata lebar-lebar. Dia buru-burumelepas pelukannya dan mendorong tubuh wanita itu menjauh. Wajah Cakra sudahmerah padam saat dia rapatkan selimut ke tubuhnya."Jangan di sini, Ratih! Ada Anjani sama Andini! Buat aku malusaja," sungut Cakra kesal."Tapi tadi Kanda sudah ketagihan kan? Enak kan, Kanda?" Ratihtertawa puas, seraya mengancingkan kembali kebayanya."Itu … itu …." Cakra tergagap."Lagipula justru asyik kalau ada saksi," potong Ratih sambilterkikik. "Kanda nggak biasanya malu-malu begini. Padahal dulu Kandapa

  • Sang Penakluk Kelima Istri Pangeran    3. Lemah Syahwat?

    Cakra baru saja selesai meminta seorang pelayan mengambilkan air ketikaseorang wanita lain muncul dari balik pintu.“Kanda.” Suara lembut itu membuat Cakra menoleh.Seorang gadis dengan kebaya biru muda berjalan perlahan memasuki kamar.Rambut panjangnya tersanggul sederhana, wajahnya tenang, kedua tangannyamembawa mangkuk tanah liat yang mengepulkan uap tipis. Ingatan Cakrabuana pun langsung mengenalinya.Itu Putri Andini si istri keempat, putri Kerajaan Sagara yang dinikahkandengannya sebagai bagian dari perjanjian damai.“Kanda sudah sadar,” ucap Andini dengan senyum tipis, menyerahkanmangkuk itu. “Ini ramuan penghangat badan. Cobalah.”“Terima kasih." Cakra menerimanya. Aroma jahe dan kencur memenuhi hidung. Sebagai mantanperawat IGD, dia terbiasa memperhatikan kondisi pasien.Tubuh ini baru saja mengalami sesuatu yang mencurigakan, jadi diamengendus ramuan itu lebih lama dari wajar sebelum akhirnya menyeruputnya.Rasanya normal. Pedas dan hangat seperti pada umumnya.“Ap

  • Sang Penakluk Kelima Istri Pangeran    2. Kecurigaan Sang Ratu

    BAB 2Jeritan cempreng Ratih masih terngiang di telinga Cakra, disusul suara grasak-grusuk puluhan sandal pelayan dari arah serambi.Dan yang lebih memalukan lagi, suara wanita itu dengan riang menceritakan detail ranjang mereka kepada siapa pun yang mau dengar.“Ya ampun. Bikin malu aja,” gerutu Cakra sambil buru-buru merapikan kain sarungnya, wajahnya masih panas mengingat kejadian barusan.Belum sempat dia mencerna bagaimana caranya mati lalu terbangun di zaman kerajaan, sekarang dia harus menghadapi lima istri seorang pangeran. Dan satu di antaranya baru saja mengumumkan urusan ranjang mereka ke seantero paviliun.Tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki yang berhenti tepat di ambang pintu. Cakra mengangkat wajah, menatap asal suara itu.Seorang wanita bergaun ungu bersulam benang perak berdiri di sana, punggung lurus, dagu sedikit terangkat, menatap Cakra dari ujung kepala sampai kaki.“Salam hormat untuk Pangeran Cakrabuana,” ucapnya, menangkupkan kedua tangan di depan dada.Da

  • Sang Penakluk Kelima Istri Pangeran    1. Tubuh Pangeran Beristri Lima

    Saat terbangun, tiba-tiba Cakra melihat seorang gadis cantik sedang berada di sisinya!“Kanda Cakrabuana, kenapa kamu masih belum sadar?”Teriakan heboh itu menjadi hal pertama yang menyambut kesadaran Cakra saat kelopak matanya perlahan terbuka. Pemuda itu mengerjap beberapa kali, dan berusaha mencerna sekelilingnya. Ia berada di kamar luas beraroma melati, berbaring di atas ranjang kayu jati berukir, dan ada seorang wanita cantik yang duduk di sampingnya dengan wajah terkejut sekaligus geli.“Kanda kenapa bisa secepat itu?” Ratih menutup mulutnya sendiri, matanya masih membelalak nggak percaya. “Aku bahkan belum apa-apa, tau-tau udah selesai duluan!”“Hah?” Cakra mengerutkan dahi, kepalanya masih terasa berat dan telinganya berdenging. “Apa maksudmu?”“Ih, Kanda ini pura-pura lupa, ya?” Ratih terkikik, sembari menyeka tangannya sendiri dengan ujung selimut. Cakra semakin bingung. Kepalanya berdenyut, dan dia sama sekali tidak punya ingatan tentang apa yang baru saja terjadi.“Aku .

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status