BAB 6"Berdirilah, Mbok. Bangun, jangan terus bersujud seperti ini," pinta Cakra dengan suara memohon. Mendengar permintaan itu, Mbok Darmi justru semakin gemetar hebat. Wanita paruh baya itu menekan keningnya lebih rapat ke tanah seraya memegangi betis putrinya yang membisu. "Ampun, Pangeran! Mohon jangan murka, hamba bersumpah anak hamba tidak berniat lancang!" ratap Mbok Darmi dengan suara serak bercampur tangis. Semakin disuruh berdiri, wanita tua itu tampak semakin ketakutan setengah mati. Cakra menghela napas panjang, menyadari bahwa keramahannya justru dianggap sebagai awal dari amarah besar sang pangeran bajingan. Pada akhirnya, ia mengalah demi meredakan kepanikan tersebut. "Sudahlah, Mbok, aku ke sini hanya karena merasa haus." "A-air, Gusti?" tanya Mbok Darmi seraya mengangkat kepalanya sedikit dengan wajah basah air mata."Iya, tolong ambilkan aku segelas air tempayan," ucap Cakra seraya tersenyum ramah. Mbok Darmi buru-buru menyikut pinggang anak perempuannya. "Sek
Última actualización : 2026-09-25 Leer más