Share

Pecah

Penulis: Mr.Xg
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-10 21:53:16
Lonceng besar di menara utama berdentang tiga kali, menandai dimulainya prosesi sakral. Di tengah aula yang riuh, seluruh mata tertuju pada Lin Xiao yang melangkah perlahan. Namun, di balik kerudung tipisnya, tatapannya terus melirik ke arah sosok pengawal di belakangnya.

Wo Long bisa merasakan detak jantung Lin Xiao yang tidak beraturan melalui ujung kain sutra yang dipegangnya. Ia juga merasakan tujuh pasang mata dari sosok berjubah hitam yang kini mulai merapalkan mantra dalam bahasa kuno y
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sang Penentang Aturan   Pecah

    Lonceng besar di menara utama berdentang tiga kali, menandai dimulainya prosesi sakral. Di tengah aula yang riuh, seluruh mata tertuju pada Lin Xiao yang melangkah perlahan. Namun, di balik kerudung tipisnya, tatapannya terus melirik ke arah sosok pengawal di belakangnya. Wo Long bisa merasakan detak jantung Lin Xiao yang tidak beraturan melalui ujung kain sutra yang dipegangnya. Ia juga merasakan tujuh pasang mata dari sosok berjubah hitam yang kini mulai merapalkan mantra dalam bahasa kuno yang bergetar rendah di frekuensi yang menyakitkan telinga. "Berhenti di sana," suara Kaelus menggema saat Lin Xiao tiba di anak tangga altar. Kaelus melangkah turun, tangannya terulur untuk mengambil tangan Lin Xiao. Di saat tangan mereka bersentuhan, sebuah segel ungu menyala di lantai altar. Tanah mulai bergetar. Kotak Besar di bawah tanah mulai bereaksi dengan energi jahat yang tersimpan di dalam tubuh Wo Long mulai bergejolak kembali. "Tugasmu sudah selesai sekarang, Pengawal," ucap

  • Sang Penentang Aturan   Bom waktu

    Darah hitam mulai menetes dari hidung dan telinga Wo Long. Tekanan energi itu ribuan kali lebih berat daripada tekanan dari Sang Kaisar Pedang. Namun, Wo Long tidak berhenti. Ia menyadari bahwa menghancurkan kotak ini sekarang, tanpa menghancurkan inti penyerap energi jahat yang ada di istana kekaisaran pedang, hanya akan memicu ledakan karma yang membunuh jutaan nyawa orang tidak bersalah. “Jika aku tidak bisa menghancurkannya , maka aku harus menelannya,” pikir Wo Long dengan nekad. Dengan satu tarikan napas yang dahsyat tapi terkontrol, Wo Long membiarkan seluruh energi jahat itu tersedot masuk ke dalam tubuhnya sendiri. BOOOOM...! Gunung Angin berguncang seolah-olah akan runtuh. Tubuh Wo Long gemetar hebat, pembuluh darahnya menghitam dan berpijar ungu. Energi jahat itu setara dengan esensi Utusan yang ia miliki, dan keduanya mulai saling menyerang, mencabik-cabik di dalam meridiannya. Beruntungnya, ada energi Kekosongan milik Thanzi yang tertanam di dalam dirinyan

  • Sang Penentang Aturan   mengguncang berbagai kerajaan

    Sejak pelarian Wo Long dari ibu kota Kekaisaran Pedang, Selama empat hari ini dia melakukan perjalanan menuju Kerajaan Bintang, membuat langit di atas daratan yang dirinya lewati tidak pernah tenang. Wo Long terbang melintasi cakrawala seperti komet yang membelah awan. Setiap kali ia melintasi perbatasan kerajaan-kerajaan, atmosfer di bawahnya bergetar hebat. WUUUUUNGGG!... Dengungan energi yang keluar dari tubuh Wo Long begitu padat hingga memicu alarm siaga di setiap menara pengawas. Di Kerajaan Awan Biru, tiga kultivator tingkat tinggi mencoba mencegatnya di udara. "Berhenti, Orang Asing! Kau melintasi wilayah terlarang tanpa izin!" teriak salah satu pemimpin pasukan dengan tombak bersinar. Wo Long bahkan tidak melambat. Matanya menatap lurus ke depan, dingin dan tajam. "Minggir, aku tidak memiliki urusan dengan kalian, jangan bertindak sembarangan yang akan membuat diri kalian sendiri menyesal." "Sombong! Tangkap dia!" Tanpa mengeluarkan senjata, Wo Long hanya mengibaskan t

  • Sang Penentang Aturan   Melepaskan diri

    Pagi itu, sebuah kereta kuda yang berada di depan gerbang istana, sudah siap untuk berangkat ​"Aku tidak mau pergi!" seru Elara tiba-tiba, suaranya melengking memecah keheningan pagi. Ia mencengkeram erat lengan jubah Wo Long. "Kenapa Wo Long tidak ikut? Kakak bilang, sekarang dia adalah pengawal pribadiku!" ​Kaelus mengerutkan kening, mencoba menjaga kesopanannya di depan semua orang. "Elara, jangan mulai lagi. Wo Long dibutuhkan di sini untuk memastikan keamanan upacara pernikahan satu minggu lagi. Dia akan menyusulmu setelah tugasnya selesai." ​"Tidak! Aku tidak percaya!" Elara menatap Wo Long dengan mata yang mulai berkaca-kaca, para prajurit di sekitar sana mulai memandang Wo Long dengan tatapan menyalahkan. "Wo Long, kau sudah janji tidak akan meninggalkanku! Ikutlah bersamaku, atau aku tidak akan naik ke kereta itu!" ​Wo Long merasa seluruh pasang mata di gerbang itu menghujamnya. Ia berdiri mematung, merasakan cengkeraman tangan Elara yang gemetar, entah karena marah ata

  • Sang Penentang Aturan   Menghadapi sisi Lain Putri Elara

    Pernikahan besar sebentar lagi akan terjadi, namun Pangeran Kaelus, dengan seringai liciknya yang sangat khas, malah memberikan perintah mutlak kepada Wo Long, agar menjadi pengawal pribadi Putri Elara selama dua puluh empat jam penuh tanpa jeda, selama beberapa hari. Setelah acara Dansa Rembulan itu, Putri Elara terus meminta pada Kaelus untuk memberikannya waktu bersama Wo Long. Kaelus tidak pernah melihat adik perempuannya yang biasanya pendiam dan cuek pada orang asing menjadi seperti ini, kini dia dengan kekeh malah sangat menginginkan agar tangan kanannya itu menghabiskan waktu dengannya. Tadinya dia terus menolak permintaannya itu, tapi kini Kaelus menemukan waktu yang tepat untuk mengabulkan permintaan adiknya itu, sekalian agar Wo Long tidak menggagalkan kembali rencana pernikahannya, karena Wo Long selama terus berhasil membatalkan rencana pernikahannya, sehingga target yang telah di tentukan terus tertunda dengan cukup lama. "Dia adalah adik kesayanganku, Wo Long," u

  • Sang Penentang Aturan   Di Ambang Ledakan

    Pintu ruangan jati berukir itu terbuka dengan decit halus yang kontras dengan kekacauan di dalamnya. Wo Long melangkah masuk, kakinya melewati pecahan vas porselen kuno dan lukisan-lukisan sutra yang terkoyak dari dinding. Ruangan itu tampak seperti baru saja diterjang badai, namun di tengah puing-puing kemewahan itu, Pangeran Kaelus duduk dengan tenang di atas kursi kayu cendana di tepi jendela. Kaelus tidak menoleh. Ia hanya menggenggam secangkir teh porselen tipis, matanya terpaku pada rembulan yang bersinar indah di cakrawala Kota Teratai Perak. "Apa yang ka butuhkan, Kaelus?" suara Wo Long memecah keheningan, datar dan tanpa rasa hormat sedikit pun. "Kau membuat kekacauan sesuka hati, menyusahkan banyak pelayan, dan membuat prajuritmu panik. Apakah egomu belum cukup kenyang hanya dengan bernapas?" Siapa pun yang mendengar ucapan itu pasti akan gemetar ketakutan. Menghina seorang Pangeran Kekaisaran Pedang adalah tiket menuju tiang gantungan. Namun Wo Long dengan ber

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status