LOGIN"Menjadi orang baik..." "Huh..." Thanzi tersenyum sinis setelah mengucapkan itu. Di dunia yang kejam ini, menjadi orang baik hanya akan merugikan diri sendiri. Thanzi pernah mengalaminya sendiri, bagaimana menderitanya menjadi orang yang baik, menuruti aturan dari orang-orang kuat dan berkuasa, tetapi yang didapatkannya hanya sebuah penindasan dan penyiksaan, yang membuat seluruh keluarganya mati secara perlahan dan satu per satu. "Persetan dengan semua ajaran dan aturan yang ada. Aku akan menghancurkan segala batasan yang ada, untuk menunjukkan kepada semua orang, apa arti dari sebuah aturan dan kebaikan yang sebenarnya!"
View More"Hiksss… Ayah, Ibu, Kakak… bagaimana aku bisa hidup tanpa kalian?" tangis seorang anak laki-laki. Ia berjalan di tengah hutan yang diguyur hujan lebat.
Langit hitam dengan kilatan petir dan suara angin kencang seolah menggambarkan isi hati anak laki-laki itu. Ia baru saja kehilangan keluarganya karena sebuah pembantaian. Hatinya merasakan sesuatu yang aneh, yang membuatnya ingin terus menangis tanpa henti. Ia ingin melakukan sesuatu, tetapi tidak mengerti harus berbuat apa. Dengan segala perasaan yang membendung, ia terus melangkahkan kaki tanpa tahu arah. "Hiksss… Ibu…" Anak itu berhenti di bawah sebuah pohon besar. Ia duduk, memeluk kedua lututnya, dan menenggelamkan wajah di sana. Isak tangisnya semakin kencang. Sebuah gelombang energi tercipta dari tubuh anak itu, membuat genangan air dan dedaunan di sekitarnya terlempar menjauh. Hujan kembali turun dan menggenang di sekelilingnya. Selama beberapa menit, ia terus menangis tanpa henti dan terus menciptakan gelombang yang sama tanpa disadarinya. Setelah beberapa saat, tangisannya berubah menjadi isakan, dan hujan hanya menyisakan rintik-rintik. Tiba-tiba, sekelompok orang berbaju serba hitam muncul dari atas langit. Mereka mendarat tepat di belakang anak laki-laki yang masih meringkuk, tidak memedulikan sekeliling. "Itu dia anak kecil yang berhasil lolos. Cepat, habisi dia!" titah seorang pria yang memimpin kelompok tersebut. Seorang wanita dengan kipas besi dan cadar di wajah, serta seorang pria yang membawa pedang besar berwarna hitam pekat, maju ke depan. Pedang itu masih berlumuran sisa-sisa darah yang terlihat sangat jelas. "Anak kecil lemah seperti ini, bagaimana dia bisa mempersulit kita?" ucap pria pembawa pedang. "Kamu jangan meremehkannya, Xi. Pemimpin kita saja sepertinya tidak berani berhadapan langsung dengan anak ini. Jadi, kita harus berhati-hati," balas si perempuan, memperingatkan. Ia tahu betul mereka diutus ke sini oleh pemimpin mereka karena anak kecil ini sangat berbahaya, dan mereka hanya dijadikan umpan. Pria itu hanya mengangguk malas dan bersiap siaga. Ketika mereka hanya berjarak beberapa langkah dari anak itu, anak itu bergerak dan mengangkat kepalanya. Udara di sekitar mereka langsung berubah hening. Sebuah tekanan besar menyerang semua orang. Bahkan dua orang di depan anak itu sampai tidak bisa bernapas. Mereka saling melirik, memberi isyarat 'kita serang bersama'. Keduanya mengangguk dan mengangkat senjata masing-masing. Di sisi-sisi kipas wanita itu tiba-tiba muncul lelehan racun berwarna hitam pekat, dan pria itu mengangkat pedang besarnya. Mereka baru saja melangkah satu langkah, ketika anak itu menoleh dan sesuatu yang luar biasa terjadi. Keduanya langsung hancur menjadi kabut darah saat anak itu menatap mereka. Tatapannya sangat sendu, tetapi di dalamnya terdapat kekuatan serangan yang sangat dahsyat dan tidak bisa ditahan. Serangan itu begitu mendadak. "Semuanya, berpencar dan kepung!" perintah sang pemimpin kepada yang lain. Meskipun mereka semua terkejut dan ketakutan, mereka sadar tidak akan selamat jika kabur. Jadi, mereka bertekad untuk menyerang saja daripada mati tanpa perlawanan. "Si… siapa kalian?" tanya anak itu. Sebuah gelombang berwarna kebiruan tercipta, dan dengan segera, semua orang berbaju hitam itu membentuk dinding pelindung dengan kekuatan masing-masing. "Sialan, ternyata bocah ini lebih kuat dan berbahaya daripada pemimpin dan tuan kita!" ucap salah seorang dari mereka. Yang lain mengangguk setuju. Tidak ada yang berani bersuara atau maju, karena mereka melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana tatapan dan suara anak itu saja sudah bisa membunuh prajurit elit paling berbakat di antara mereka. Lalu, bagaimana mereka bisa menyerang anak itu? Mata pemimpin kelompok itu terlihat gelisah. Ia melihat orang-orangnya dan berniat mengorbankan mereka agar ia bisa menyelamatkan diri. "Kalian semua, maju! Karena meskipun kita kabur sekarang dan kembali ke markas, nyawa kita tetap akan melayang!" teriak pemimpin itu, memberi perintah mutlak. 'Sialan,' batin semua orang. Mereka serempak menatap pemimpin mereka. Namun, karena tidak ada pilihan lain, mereka menyerbu maju. "Ayo maju!" teriak mereka bersamaan, mengerahkan kekuatan ekstrem yang mereka miliki. 'Ini saatnya aku pergi,' batin sang pemimpin, siap melangkah pergi. Anak laki-laki itu melihat hal tersebut dan menutup matanya. Bayangan pembantaian keluarganya kembali terputar di benaknya dengan sangat jelas. Ayahnya ditusuk banyak pedang oleh orang-orang berpakaian emas, kepala kakak-kakaknya dipenggal, dan ibunya disiksa dengan sangat kejam hingga mati. Semua itu terlihat begitu nyata. Urat-urat di kepalanya muncul dengan cahaya kebiruan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Matanya semakin erat terpejam. Semakin jelas kejadian buruk yang dilihatnya, membuat jantungnya berdegup kencang, dan sebuah segel di dalam jantungnya hancur. Ia memegang telinganya dan kembali meringkuk. "Tidaaakkkk!" teriaknya sangat keras. Sebuah gelombang dahsyat dengan cahaya biru terang tercipta dari suaranya. Semua orang yang melihat itu membelalakkan mata. Meskipun ingin menghindar, mereka tidak sempat karena gelombang itu menyebar sangat cepat. Bahkan pemimpin kelompok yang akan kabur tidak lolos dari gelombang yang menghancurkan segalanya itu. Orang-orang berubah menjadi kabut darah, sedangkan pepohonan dan bebatuan di sana berubah menjadi abu hitam. Gelombang itu menciptakan lingkaran besar yang hanya menyisakan tanah dan abu hitam. Di tengah lingkaran, ada abu merah dan anak itu berada tepat di tengahnya. Kejadian tersebut ternyata disaksikan oleh tokoh-tokoh hebat dari berbagai negara dan sekte besar di dunia. Anak itu kini tidak sadarkan diri, dan perlahan menghilang tanpa ada yang tahu ke mana ia pergi. "Ayah… Ibu… Kakak… aku kangen kalian," itulah ucapan terakhirnya sebelum keberadaannya menghilang. Di sebelah barat, tepat di perbatasan hutan, seorang pria berpakaian serba putih dengan tudung di kepalanya, bersama seorang pria lain, menatap datar ke depan. "Bai Zhen, menurutmu apa yang akan terjadi sekarang? Dengan musnahnya keluarga bangsawan Ling, orang-orang yang bersembunyi karena takut pada keluarga Ling pasti akan kembali muncul," ucap pria berambut hitam pekat dengan wajah tanpa ekspresi. Namun, dari ucapannya tersirat kekhawatiran akan kehidupan di dunia yang pastinya akan berubah menjadi lebih mengerikan. Pria bertudung itu menggeleng sedikit, "Semuanya akan sangat kacau. Kekejaman dan penindasan akan semakin merajalela. Kita hanya perlu membawa orang-orang dari sekte kita untuk mengasingkan diri dari kekacauan yang akan terjadi. Biarkan semuanya terjadi seperti yang telah tertulis dalam takdir, karena suatu hari nanti anak itu akan muncul kembali dengan seseorang yang membawa misi dari Sang Pencipta alam semesta, untuk membersihkan dunia ini dari kekacauan dan memperbaiki aturan dunia yang menyiksa orang-orang lemah dan tidak berdaya." Pria berambut hitam itu mengangguk. Meskipun ia tidak begitu mengerti tentang 'Sang Pencipta alam semesta,' ia percaya dengan apa yang akan terjadi. Ramalan Bai Zhen tidak pernah salah, berkat kekuatan penglihatan masa depan yang dimilikinya. "Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" "Bai Xuan, secepatnya kita pergi dari sini dan membawa semua orang di sekte ke tempat pengasingan yang telah aku siapkan," ujar Bai Zhen. Ia melirik Bai Xuan. Ketika pandangan mereka bertemu, keduanya mengangguk. Seketika mereka menghilang dari sana, menyisakan orang-orang dengan tatapan puas melihat sisa-sisa kehancuran yang anak kecil itu buat. Mereka mengira anak itu telah tiada bersama ledakan kekuatan terakhirnya. "Sekarang kita tinggal menata ulang hukum kehidupan di dunia ini, karena sudah lama sekali aku menunggu hari-hari ini," ucap pria berjenggot yang mengenakan pakaian emas dan mahkota. "Tentu saja Yang Mulia Raja Bei Cou, kami juga menantikan hari-hari ini. Dengan musnahnya keluarga Ling, kita bisa menata ulang kehidupan di dunia ini dengan aturan yang kita buat," balas seorang wanita cantik dengan pakaian yang cukup terbuka. Ucapannya terdengar menggoda, dan ia adalah salah satu dari enam orang berkuasa. "Selamat untuk semuanya," ucap mereka serempak, dengan senyuman yang memiliki makna berbeda bagi setiap orang.Thanzi tetap berdiri tegak, membiarkan jubah sederhananya berkibar tertiup angin kencang yang entah datang dari mana. Ia memutuskan dari sekarang, dirinya tidak akan bermain petak umpet lagi dengan kekuatannya, karena jalan menuju rencananya sudah berada tepat di depan mata. "Kepala Sekte," suara Thanzi terdengar rendah namun bergema di setiap sudut bangunan. "Bukankah kau ingin melihat siapa yang sedang kau coba uji? Maka kamu lihatlah sendiri." Tanpa gerakan tangan, Thanzi melepaskan segel tipis yang tertanam di dalam tanah. BUM...! Sebuah ledakan hitam pekat, namun jernih seperti kristal, meledak dari dalam tanah. Itu bukan sekedar ledakan spiritual biasa. Tapi itu adalah penghancuran formasi tingkat tinggi yang hanya bisa di lakukan oleh seorang kultivator di Ranah yang sangat tinggi, prnghancuran hanya dengan terdiam saja itupasti sebuah tingkat kultivasi yang tidak tercatat dalam kitab mana pun di dunia ini, karena ranah Thanzi yang kini di keluarkannya di ranah Kehampaan
Setiap langkah kaki Thanzi menghasilkan gema yang sangat tipis tetapi bertenaga di udara. Dan begitu kakinya menyentuh batas gerbang dalam, sebuah ledakan getaran frekuensi rendah merambat dari inti jiwa sekte awan. mungkin secara kasat mata, hanya terasa angin yang tertiup cukup kuat, namun bagi seorang kultivator tingkat yang memiliki indra sangat tajam, itu adalah ledakan energi hitam yang pekat dan menguap ke angkasa, merobek sesuatu yang jahat dan tersembunyi yang menggantung statis di atas langit sekte selama ratusan tahun. Petugas pendaftaran yang tadi mengantuk mendadak menegakkan tubuhnya secara tiba-tiba. Jantungnya berdegup kencang tanpa alasan. Lalu ia secara refleks melirik ke arah punggung Thanzi yang mulai menjauh dengan tatapan ngeri. "Apa itu tadi? Seperti... cahaya yang menghancurkan kejahatan tetapi mengundang bencana," bisiknya dengan suara gemetar.Di tempat area ujian utama pertama, suasana yang tadinya terasa tenang mendadak tegang. Seorang tetua penguji yan
Perjalanan dari Kekaisaran Cahaya menuju Kerajaan Guntur memakan waktu yang cukup lama, namun bagi Thanzi, setiap deru roda kereta kuda adalah langkah menuju kepingan masa lalu yang sedang ia susun kembali. Ia tidak pergi sendirian, ayahnya, yaitu Jenderal Ling, memastikan perjalanan Thanzi dikawal oleh prajurit veteran kepercayaan keluarga. Thanzi tidak masalah akan hal itu, karena justru dengan adanya bawahan ayahnya akan memudahkannya dalam perjalanan, dan hal itu langsung terbuktu. Dengan kehadiran kereta kuda dengan bendera lambang Keluarga Ling, yang tiba di wilayah Kerajaan Guntur langsung menarik perhatian banyak pasang mata. Reputasi keluarga Ling melampaui batas dua kekaisaran dan kerajaan manapun, karena mereka adalah penjaga keseimbangan antara Kekaisaran Cahaya dan Kekaisaran Pedang. Tak heran jika setiap pos penjagaan memberikan penghormatan tertinggi saat mereka melintas. Tujuan Thanzi sebelum ke sekte awan hanya satu, yaitu Kediaman Keluarga Wo. Ia datang unt
Beberapa hari sebelum keberangkatan kedua kakaknya untuk kembali ke sekte, suasana di ruang belajar pribadi mereka tampak sibuk namun rahasia dari sepengetahuan orang lain. Dengan bantuan koneksi Qing-lan dan Yu-ze, mereka berhasil mengurus surat-surat izin pembangunan restoran tanpa mencantumkan nama keluarga Ling. Mereka menggunakan nama samaran yang dibuat Thanzi, Tuan Muda Tan, sosok misterius yang kini terdaftar sebagai pemilik gedung tua di persimpangan pasar. Sementara itu, Thanzi sedang menyibukkan diri di laboratorium pribadinya, dapur belakang yang jarang di gunakan dan telah ia modifikasi. Di dunia ini Thanzi rasa, kulinernya sangatlah membosankan, rasa hanya berkisar antara asin garam, manis tebu, atau getir tanaman herbal. Jadi Thanzi memutuskan untuk melakukan revolusi dengan berbagai inovasi yang muncul di dalam kepalanya. Ia menciptakan bumbu penyedap makan "Saus Tomat Api". Menggunakan jenis tomat hutan yang memiliki sensasi pedas menyengat dan di anggap tan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews