Beranda / Fantasi / Sang Penentang Aturan / belajar berpedang di hari pertama

Share

belajar berpedang di hari pertama

Penulis: Mr.Xg
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-30 08:12:57
Setelah selesai makan siang, bel masuk segera terdengar. Wo Long dan Si Wuya bergegas berpisah.

Di tengah perjalanan menuju kelas, Wo Long memeriksa sisa uangnya: hanya tinggal lima keping koin perak dan dua koin tembaga.

"Uangku tinggal sedikit, dan harga makanan di akademi saja menghabiskan sekitar setengah koin perak," Wo Long dibuat pusing. Untung saja pihak akademi memberikan perlengkapan yang cukup lengkap di asramanya. Ia memutuskan untuk memikirkan cara menghasilkan uang nanti sambil bertanya pada Si Wuya.

Sesampainya di kelas, Wo Long melihat pengajar baru yang berdiri di depan. Pria itu terlihat jauh lebih muda, namun wajahnya garang dengan garis tegas dan tubuh yang besar berotot. Bajunya ketat, memperlihatkan cetakan ototnya yang kuat.

Namanya Tetua Bao Li, seorang tetua yang mengajarkan dasar bela diri. Sikapnya terlihat sangat bar-bar dan penuh antusiasme.

Setelah menjelaskan dasar-dasar gerakan bela diri, Tetua Bao Li berteriak, "Dasar-dasar itu sudah pasti dik
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sang Penentang Aturan   Langit yang menelan kekuasaan.

    Langit di atas Ibu Kota Kerajaan Angin perlahan-lahan mulai menjernih, namun sisa-sisa fenomena langit tadi masih meninggalkan ingatan mendalam bagi siapa pun yang menyaksikannya. Di dalam Arena Sembilan Awan, suasana yang biasanya riuh dengan sorakan kini berganti menjadi bisik-bisik penuh kecemasan. Para bangsawan dan pemimpin sekte besar yang duduk di tribun kehormatan tampak gelisah, mereka telah mengirimkan orang kepercayaan masing-masing, pelacak terbaik mereka untuk mencari sumber asal fenomen tersebut, namun hasilnya nihil. Tetapi mereka malah kembali dengan wajah pucat, melaporkan bahwa fenomena tersebut lenyap tanpa di ketahui penyebabnya, seolah-olah fenomena itu telah di sembunyikan oleh bumi. ​Meskipun orang-orang masih diselimuti oleh rasa penasaran dan mencekam, para panitia kompetisi memutuskan untuk tetap melanjutkan acara demi menjaga martabat kompetisi. Genderang pertarungan kembali dipukul, memecah keheningan yang canggung. ​"Pertandingan selanjutnya! Perwak

  • Sang Penentang Aturan   Kelahiran Utusan Sang Pencipta yang mengguncang Langit dan Bumi

    Suara terompet kerajaan yang terbuat dari tanduk monster laut terus bergema, membelah kebisingan di Stadion Sembilan Awan. Matahari tepat berada di atas kepala, memberikan pencahayaan yang sempurna bagi panggung batu yang kini telah ternoda oleh bekas-bekas pertarungan sebelumnya. Sorak-sorai penonton bagaikan ombak yang tak henti-hentinya menghantam tribun. Di tengah arena, kini bagian Si Wuya yang berdiri dengan tenang. Jubah ungu tuanya melambai tertiup angin yang entah mengapa mulai berembus dengan frekuensi yang tidak wajar. Lawannya adalah Raksasa Grog, jawara dari Sekte Gunung Barat, seorang pria dengan tinggi dua meter lebih yang membawa kapak raksasa dengan berat ratusan kilogram. "Sekte Ilusi hanyalah sekte keberuntungan! Pertarungan perwakilan pertama kalian itu hanya beruntung saja. Dan sekarang akan ku perlihatkan bahwa orang-orang dari sekte kecil tidak pantas berada di sini, akan kuhancurkan tulang-tulangmu, bocah!" teriak Grog sambil menghantamkan kapaknya ke

  • Sang Penentang Aturan   Kompetisi sembilan awan

    di sudut terjauh bagian bangunan sekte ilusi, terdapat sebuah rumah kayu yang sudah lapuk hampir reyot berdiri dengan sunyi. Dan itu adalah rumah kediaman keluarga Kaelan. Di dalamnya, terdapat seorang wanita tua, ibu dari Kaelan sedang tertidur lelap, dia tidak menyadari bahwa maut sedang merayap masuk ke halaman rumahnya. ​Muncul enam sosok berpakaian hitam di halaman rumah yang hampir rubuh itu, dan mereka adalah anggota dari faksi rahasia Elder Lin yang bergabung dengan Tetua Chang Min yang selalu menindas keluarga Kaelan. para kultivator itu bergerak dengan kelincahan predator. Pemimpin mereka, seorang pria dengan bekas luka di mata kirinya, memberi isyarat tangan. "Ingat instruksi Elder Lin," bisiknya dengan suara serak yang nyaris hilang ditelan angin. "Jangan bunuh wanita penyakitan itu. Karena kita membutuhkan dia hidup-hidup untuk memastikan Kaelan tidak bisa melawan. Jika bocah itu berani bertindak, maka wanita ini akan menjadi taruhannya agar dirinya tidak berani

  • Sang Penentang Aturan   Berkumpul di sungai

    Larut malam telah tiba ketika Wo Long dan Thanzi melangkah menyusuri jalan setapak berbatuan menuju bukit tempat tinggal mereka yang terisolasi. Suara jangkrik dan desir angin di antara pepohonan bambu memberikan melodi ketenangan yang sudah lama tidak Wo Long rasakan. Setibanya di dalam bangunan kayu, Wo Long tidak langsung beristirahat. Ia menuju ke meja kerjanya yang dipenuhi dengan tanaman obat kering dan botol-botol kristal. Thanzi duduk di kursi kayu di sudut ruangan, memperhatikan Wo Long dengan tatapan lembut. Untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir, Thanzi melihat ketegangan di bahu Wo Long mulai mengendur. Tidak ada lagi api kemarahan yang meluap-luap seperti saat Wo Long berlatih di bawah air terjun tempo beberapa hari. "Kau akan mulai meracik lagi, Kak?" tanya Thanzi sambil tersenyum kecil. Wo Long mengangguk, tangannya dengan terampil memilah kelopak bunga Matahari Pagi. "Latihan fisik memang penting, tapi untuk seorang alkemis sejati, ketenangan dapa

  • Sang Penentang Aturan   Jebakan Ilusi

    Siang itu, matahari di atas wilayah perbatasan Kerajaan Angin terasa menyengat, namun di tepi sungai yang mengalir di kaki gunung dekat Sekte Ilusi, udara terasa lebih sejuk berkat rindangnya pohon-pohon kuno. Sekelompok murid perempuan, yaitu Mei-Mei, Xuan Ji putri Kepala Sekte, Han Lie, Wei, Zhee Lin, dan yang lainnya, yang baru saja menyelesaikan tugas harian mereka mengambil air dan mencuci jubah-jubah latihan. Suasana sangat riuh dengan tawa dan obrolan ringan. Mereka sedang membicarakan betapa pesatnya kemajuan kultivasi mereka sejak kedatangan kelompok Wo Long. "Kalian juga melihatnya bukan? Sejak meminum pil pemurni meridian dari Tetua Zee, gerakanku menjadi jauh lebih ringan," puji Xuan Ji sambil memeras kain. "Benar, rasanya seperti beban berat di tubuhku juga terasa seperti terangkat," jawab murid sekte perempuan lainnya dengan wajah berseri-seri, sedangkan Mei-Mei dan teman-teman kelas B perempuan lainnya hanya tersenyum geleng-geleng kepala. Namun, keceriaan itu m

  • Sang Penentang Aturan   Perjuangan, harapan, dan pemberontakan.

    Thanzi, yang kini telah mampu berdiri tegak dengan aura Ranah Raja Puncak yang tenang namun menindas, berjalan perlahan keluar dari bukit belakang setelah pamit terlebih dahulu kepada Wo Long. Di sampingnya, Komandan Ren berjalan dengan langkah tegap, menjalankan tugasnya untuk memperkenalkan dunia yang selama setahun ini hanya dirasakan Thanzi lewat sisa-sisa energi. "Tuan Muda Thanzi, selamat datang di sekte kami," ujar Komandan Ren dengan nada bicara yang penuh hormat namun hangat. "Aku tahu dari Tuan Muda Eo Long kalau kalau tuan muda pasti bisa merasakan sekitar saat tertidur, tapi melihat dengan mata kepala sendiri adalah hal yang berbeda." Dirinya di mintai oleh Tetua Bao Li agar memperkenalkan tempat ini kepada Thanzi, dan dengan senang hati dirinya melakukan hal tersebut. Thanzi mengangguk pelan, matanya yang berwarna perak tajam menatap ke sekeliling. "Kau benar, Komandan. Saat aku tertidur lelap, aku hanya bisa merasakan getaran energi dan aroma. Aku tahu tempat ini lua

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status