Beranda / Fantasi / Sang Penentang Aturan / Kelahiran Utusan Sang Pencipta yang mengguncang Langit dan Bumi

Share

Kelahiran Utusan Sang Pencipta yang mengguncang Langit dan Bumi

Penulis: Mr.Xg
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-08 08:50:35
Suara terompet kerajaan yang terbuat dari tanduk monster laut terus bergema, membelah kebisingan di Stadion Sembilan Awan.

Matahari tepat berada di atas kepala, memberikan pencahayaan yang sempurna bagi panggung batu yang kini telah ternoda oleh bekas-bekas pertarungan sebelumnya. Sorak-sorai penonton bagaikan ombak yang tak henti-hentinya menghantam tribun.

Di tengah arena, kini bagian Si Wuya yang berdiri dengan tenang. Jubah ungu tuanya melambai tertiup angin yang entah mengapa mulai berembus dengan frekuensi yang tidak wajar.

Lawannya adalah Raksasa Grog, jawara dari Sekte Gunung Barat, seorang pria dengan tinggi dua meter lebih yang membawa kapak raksasa dengan berat ratusan kilogram.

"Sekte Ilusi hanyalah sekte keberuntungan! Pertarungan perwakilan pertama kalian itu hanya beruntung saja. Dan sekarang akan ku perlihatkan bahwa orang-orang dari sekte kecil tidak pantas berada di sini, akan kuhancurkan tulang-tulangmu, bocah!" teriak Grog sambil menghantamkan kapaknya ke
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sang Penentang Aturan   Kemenangan yang mudah

    Di sebuah paviliun peristirahatan yang megah, Pangeran Mahkota Kaelus berdiri tegak di balkon yang menghadap ke arah penginapan-penginapan yang menurutnya kumuh, tempat dimana para peserta kompetisi tinggal. Tangannya memutar-mutar cangkir perak berisi anggur, namun matanya menatap dingin, setajam pedang yang tergantung di pinggangnya. Pikiran Kaelus terus tertuju pada satu orang, orang yang berani menatapnya secara terang-terangan. "Sejak awal aku merasa ada yang salah dengannya," gumam Kaelus pada dirinya sendiri. "Orang itu sering menatapku secara terang-terangan tanpa rasa takut. Tatapan itu seperti tatapan seorang predator yang sedang mengintai mangsanya. Dan auranya... bagaimana mungkin seseorang bisa secara tiba-tiba benar-benar menjadi tidak terlihat memiliki energi Qi sama sekali, padahal saat awal orang itu datang ke arena dia masih memancarkan auranya sebagai seorang kultivator di ranah Langit?" Bagi Kaelus, fenomena "tanpa energi" itu justru jauh lebih menakutkan

  • Sang Penentang Aturan   Seperempat Final

    Malam di Ibu Kota Kerajaan Angin, pemandangannya bagaikan samudra cahaya yang terbuat dari lampion, namun bagi Wo Long, kota ini hanyalah labirin kepalsuan di balik keindahannya. Dengan kemampuan barunya sebagai Utusan Sang Pencipta, tubuhnya kini tidak lagi terikat oleh batasan fisik yang kaku. Ia bahkan berani bergerak menembus barisan penjaga Paviliun Aliran Surgawi tanpa menimbulkan suara, tanpa jejak, dan bahkan tanpa menggetarkan udara. Di balkon lantai atas, Yue Chan berdiri menyendiri. Rembulan menyinari wajahnya yang tampak bimbang. Di tangannya, ia meremas selendang sutra biru pemberian Pangeran Mahkota Kaelus. Aroma cendana dari selendang itu seharusnya menenangkan, namun instingnya tiba-tiba merasakan kegelisahan. "Jangan biarkan tipuannya itu membutakan dirimu, Nona Yue Chan," suara itu muncul tepat di samping telinganya. Yue Chan tersentak hebat. Ia menarik pedang Embun Surgawi miliknya dan berputar dengan kecepatan kilat, ujung pedangnya berhenti hanya beberapa mi

  • Sang Penentang Aturan   Langit yang menelan kekuasaan.

    Langit di atas Ibu Kota Kerajaan Angin perlahan-lahan mulai menjernih, namun sisa-sisa fenomena langit tadi masih meninggalkan ingatan mendalam bagi siapa pun yang menyaksikannya. Di dalam Arena Sembilan Awan, suasana yang biasanya riuh dengan sorakan kini berganti menjadi bisik-bisik penuh kecemasan. Para bangsawan dan pemimpin sekte besar yang duduk di tribun kehormatan tampak gelisah, mereka telah mengirimkan orang kepercayaan masing-masing, pelacak terbaik mereka untuk mencari sumber asal fenomen tersebut, namun hasilnya nihil. Tetapi mereka malah kembali dengan wajah pucat, melaporkan bahwa fenomena tersebut lenyap tanpa di ketahui penyebabnya, seolah-olah fenomena itu telah di sembunyikan oleh bumi. ​Meskipun orang-orang masih diselimuti oleh rasa penasaran dan mencekam, para panitia kompetisi memutuskan untuk tetap melanjutkan acara demi menjaga martabat kompetisi. Genderang pertarungan kembali dipukul, memecah keheningan yang canggung. ​"Pertandingan selanjutnya! Perwak

  • Sang Penentang Aturan   Kelahiran Utusan Sang Pencipta yang mengguncang Langit dan Bumi

    Suara terompet kerajaan yang terbuat dari tanduk monster laut terus bergema, membelah kebisingan di Stadion Sembilan Awan. Matahari tepat berada di atas kepala, memberikan pencahayaan yang sempurna bagi panggung batu yang kini telah ternoda oleh bekas-bekas pertarungan sebelumnya. Sorak-sorai penonton bagaikan ombak yang tak henti-hentinya menghantam tribun. Di tengah arena, kini bagian Si Wuya yang berdiri dengan tenang. Jubah ungu tuanya melambai tertiup angin yang entah mengapa mulai berembus dengan frekuensi yang tidak wajar. Lawannya adalah Raksasa Grog, jawara dari Sekte Gunung Barat, seorang pria dengan tinggi dua meter lebih yang membawa kapak raksasa dengan berat ratusan kilogram. "Sekte Ilusi hanyalah sekte keberuntungan! Pertarungan perwakilan pertama kalian itu hanya beruntung saja. Dan sekarang akan ku perlihatkan bahwa orang-orang dari sekte kecil tidak pantas berada di sini, akan kuhancurkan tulang-tulangmu, bocah!" teriak Grog sambil menghantamkan kapaknya ke

  • Sang Penentang Aturan   Kompetisi sembilan awan

    di sudut terjauh bagian bangunan sekte ilusi, terdapat sebuah rumah kayu yang sudah lapuk hampir reyot berdiri dengan sunyi. Dan itu adalah rumah kediaman keluarga Kaelan. Di dalamnya, terdapat seorang wanita tua, ibu dari Kaelan sedang tertidur lelap, dia tidak menyadari bahwa maut sedang merayap masuk ke halaman rumahnya. ​Muncul enam sosok berpakaian hitam di halaman rumah yang hampir rubuh itu, dan mereka adalah anggota dari faksi rahasia Elder Lin yang bergabung dengan Tetua Chang Min yang selalu menindas keluarga Kaelan. para kultivator itu bergerak dengan kelincahan predator. Pemimpin mereka, seorang pria dengan bekas luka di mata kirinya, memberi isyarat tangan. "Ingat instruksi Elder Lin," bisiknya dengan suara serak yang nyaris hilang ditelan angin. "Jangan bunuh wanita penyakitan itu. Karena kita membutuhkan dia hidup-hidup untuk memastikan Kaelan tidak bisa melawan. Jika bocah itu berani bertindak, maka wanita ini akan menjadi taruhannya agar dirinya tidak berani

  • Sang Penentang Aturan   Berkumpul di sungai

    Larut malam telah tiba ketika Wo Long dan Thanzi melangkah menyusuri jalan setapak berbatuan menuju bukit tempat tinggal mereka yang terisolasi. Suara jangkrik dan desir angin di antara pepohonan bambu memberikan melodi ketenangan yang sudah lama tidak Wo Long rasakan. Setibanya di dalam bangunan kayu, Wo Long tidak langsung beristirahat. Ia menuju ke meja kerjanya yang dipenuhi dengan tanaman obat kering dan botol-botol kristal. Thanzi duduk di kursi kayu di sudut ruangan, memperhatikan Wo Long dengan tatapan lembut. Untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir, Thanzi melihat ketegangan di bahu Wo Long mulai mengendur. Tidak ada lagi api kemarahan yang meluap-luap seperti saat Wo Long berlatih di bawah air terjun tempo beberapa hari. "Kau akan mulai meracik lagi, Kak?" tanya Thanzi sambil tersenyum kecil. Wo Long mengangguk, tangannya dengan terampil memilah kelopak bunga Matahari Pagi. "Latihan fisik memang penting, tapi untuk seorang alkemis sejati, ketenangan dapa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status