Share

Bab 184

Author: Skyy
last update publish date: 2026-05-04 23:24:05

Wakil pemimpin Sindikat Taring Ular. Sosok yang terkenal karena kelicikan dan pengkhianatannya, dan ia datang sendiri.

Valen hanya tersenyum tipis, menoleh sebentar ke arah Gavira. “Nona Gavira,” sapanya sopan, terlalu sopan, “Bagaimana kabar Anda? Ayah Anda masih sehat?”

Ia kembali menatap Arka, matanya menyipit, seperti ular yang akhirnya menemukan mangsa yang menarik.

“Penglihatanmu tajam. Keberanianmu juga tidak biasa.” Ia berhenti sejenak, lalu sedikit memiringkan kepala. “Bagaimana kalau…
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 328

    Dari balik pintu, suara pesta terdengar begitu gaduh hingga menusuk telinga."Satu botol lagi! Hari ini aku sudah menghabiskan tiga botol! Hahaha!""Putar musiknya lebih keras! Ayo menari!""Untuk Patriark! Untuk Keluarga Montara!"Arka mendorong pintu perlahan.Kreeek—Gelombang suara langsung menghantam pendengarannya. Bau alkohol, keringat, asap rokok, dan daging panggang bercampur menjadi satu hingga membuat udara terasa sesak. Aula itu dipenuhi lebih dari lima puluh orang. Sebagian besar sudah mabuk berat. Ada yang tertawa terbahak-bahak, ada yang berjoget di atas meja, sementara yang lain bahkan nyaris tidak mampu berdiri tegak.Tidak seorang pun memperhatikan kehadirannya. Di mata mereka, ia hanyalah seorang penjaga biasa yang baru kembali bertugas.Arka berjalan menyusuri sisi ruangan tanpa menarik perhatian. Tatapannya menembus kerumunan yang bergoyang tak karuan hingga akhirnya berhenti pada satu sosok. Kepalanya sedikit menunduk, air masih menetes dari ujung seragamnya. Wa

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 327

    Ucapan Lorenzo beberapa saat lalu masih terngiang jelas di telinganya."Unit Alpha bukanlah pasukan yang istimewa."Kalimat itu terasa seperti besi panas yang dipaksa menancap ke dalam dadanya. Kini orang yang mengucapkannya sedang berpesta hanya beberapa puluh meter darinya.Arka mulai bergerak, tubuhnya meluncur di dalam air tanpa suara. Gerakannya begitu halus hingga permukaan danau hampir tidak menghasilkan riak. Bertahun-tahun menjalani pelatihan infiltrasi bawah air membuatnya bergerak senatural predator yang lahir dari kedalaman.Di tepi danau, dua penjaga sedang berjaga sambil merokok. Asap tipis mengepul dari bibir mereka. Tatapan keduanya terus mengarah ke aula yang terang benderang dengan rasa iri yang sulit disembunyikan."Sial," gerutu salah satu penjaga. "Mereka berpesta di dalam, sementara kita malah jadi santapan nyamuk.""Sudahlah," balas rekannya. "Kita masih hidup saja sudah beruntung. Nanti saat pergantian jaga, kita masuk diam-diam dan ambil sedikit—"Kalimatnya t

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 326

    Tawanya pecah keras. "Wiranata datang dengan pasukan elitnya, tapi pulang membawa kekalahan. Anak buah terbaiknya hancur bersama konvoi yang selama ini mereka banggakan."Ia berhenti sejenak, membiarkan semua orang memperhatikannya. "Dan pasukan yang selama ini dipuja-puja itu..."Reginald menyeringai lebar. "Ternyata tidak sehebat yang mereka katakan.""Hahaha!"Tawa dan sorakan kembali mengguncang ruangan.Lorenzo hanya meneguk wiski di tangannya perlahan.Cairan panas itu mengalir menuruni tenggorokannya, sementara matanya menatap ke luar jendela menuju reruntuhan bangunan utama yang kini hanya terlihat sebagai bayangan gelap di kejauhan. Senyum dingin perlahan terukir di bibirnya.Unit Alpha?Baginya, mereka tidak lebih dari sekumpulan prajurit yang kebetulan memiliki nama besar. Di Zona Bayangan, reputasi tidak pernah menjamin keselamatan. Di tempat seperti ini, ancaman paling mematikan sering kali datang dari arah yang tidak terlihat."Minum terus!" seru Reginald sambil mengangk

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 325

    "Pergi dulu dari sini," jawab Arga singkat. "Ini bukan tempat untuk bicara."Ketika rombongan itu menghilang ke dalam pegunungan, Kediaman Montara kembali tenggelam dalam kesibukan yang mencekam.Sepanjang hari, pasukan Keluarga Montara melakukan penyisiran tanpa henti.Reruntuhan bangunan utama dibongkar sedikit demi sedikit. Potongan beton, kayu hangus, serta sisa-sisa tubuh yang tidak lagi dapat dikenali disingkirkan dari lokasi ledakan.Menjelang pukul tiga sore, sebagian besar pekerjaan pembersihan hampir selesai.Darmajaya akhirnya tertangkap. Pria tua itu dibawa ke tengah halaman dalam keadaan mengenaskan. Kacamatanya telah pecah, wajahnya dipenuhi memar, sementara kedua tangannya terikat rapat di belakang punggung.Tak lama kemudian Lorenzo muncul. Ia mengenakan setelan putih bersih dan berjalan perlahan dengan tongkat di tangannya. Reginald mengikuti di belakang bersama beberapa anggota elit Satuan Black Fang.Darmajaya mengangkat kepala dan menatapnya. Ia ingin mengatakan se

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 324

    Kaivan menarik napas perlahan sebelum melanjutkan. "Bos kita adalah sang Taring Alpha. Kalau dia bisa mati semudah itu, dia pasti sudah mati berkali-kali sejak dulu."Taring Baja menggertakkan giginya. "Tapi ledakan tadi—""Ledakan itu memang bagian dari jebakan." Kaivan langsung memotong ucapannya. "Masalahnya, bos juga tahu itu jebakan."Ia menatap reruntuhan yang masih terbakar di kejauhan. "Jadi aku tidak percaya dia masuk tanpa menyiapkan sesuatu."Arga menurunkan pandangannya sesaat. Jemarinya yang sejak tadi mencengkeram senapan perlahan mengendur.Taring Baja juga tidak lagi bergerak menuju pintu.Mereka semua mengenal Arka Mahendra lebih baik daripada siapa pun. Pria itu mungkin nekat, mungkin gila, tetapi tidak pernah bodoh. Dan untuk beberapa saat hanya suara api yang terbakar di kejauhan yang terdengar di dalam pos penjaga.Kemudian Kaivan berbicara lagi dengan nada yang jauh lebih tenang. "Kita tunggu. Kalau bos masih hidup, dia akan muncul.""Dan kalau ada orang yang cuk

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 323

    DUUAAAAARRR!Ledakan terakhir menghantam fondasi bangunan.Struktur tiga lantai itu runtuh dari dalam seperti kartu domino raksasa. Batu bata, beton, kaca, furnitur, dan balok kayu beterbangan ke udara sebelum berubah menjadi lautan puing yang dilalap api.Asap hitam pekat membumbung tinggi ke langit fajar.Dari kejauhan, Kaivan, Taring Baja, dan Arga yang telah mundur ke area instalasi pengolahan limbah hanya bisa menyaksikan bangunan utama manor runtuh di depan mata mereka."Bos—!" raungan Taring Baja pecah, tetapi suaranya tenggelam di tengah gemuruh ledakan.Arga tidak berkata apa-apa. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya mencengkeram senapan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.Sinar matahari pertama akhirnya menembus cakrawala dan menerangi medan yang dipenuhi asap, darah, serta kematian.Di sisi lain, Lorenzo berdiri tenang sambil menyaksikan kehancuran yang baru saja terjadi. Senyum puas perlahan muncul di wajahnya sebelum ia menoleh kepada Reginald."Perintahkan s

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 19

    Setelah meninggalkan rumah keluarga Adhistya dan masuk ke dalam mobil, Keira akhirnya bersandar lelah di kursi, matanya tertutup.Seolah beban besar baru saja terangkat dari pundaknya.“Apakah ini sepadan?” Suara Arka tiba-tiba terdengar dari kursi pengemudi. “Memusuhi keluarga Wijaya demi seorang

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 18

    “Jika seseorang menyentuhmu, itu sama saja menyentuhku. Lagipula, aku yang membayarmu!”“Nasibmu bukan sesuatu yang bisa diputuskan orang lain. Hanya aku yang berhak menentukan.”Kalimat itu menggantung di udara.Nada posesif yang jelas membuat keduanya terdiam sejenak.Sekilas rasa tidak nyaman me

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 17

    Arka mengangguk, ia bahkan tidak lagi menoleh ke arah Mireya. Langkahnya langsung menuju ruang perawatan.Mireya memperhatikan punggung pria itu, ia menggigit bibirnya kesal. Separuh tujuannya tercapai, namun anehnya ia tidak merasakan kepuasan sedikit pun. Akhirnya ia berbalik dan pergi.***Di da

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 16

    Bibir merahnya hampir menyentuh bibir Arka.Namun detik berikutnya, Arka sudah melepaskan tangannya.Ia mundur satu langkah. “Jangan bermain api.”Mireya tertawa pelan. “Aku memang suka bermain api.”Tatapannya kemudian berubah lebih tajam. “Yang membuatku penasaran,” katanya sambil menatap Arka lu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status