Share

Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi
Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi
Author: Fana

Bab 1

Author: Fana
“Uh ....” Seluruh tubuh Anindya menegang. Ketakutan membuat suaranya bergetar. “Jenderal! Di sini ... banyak orang.”

“Justru bagus kalau banyak orang.” Sakha menggigit cuping telinganya, lalu berbisik dengan suara rendah yang terdengar kurang ajar. “Biar semua orang tahu betapa besar kasih sayang jenderal ini padamu.”

Meski meja dan ujung rok menghalangi pandangan, siapa pun yang mendekat bisa dengan mudah menyadari apa yang sedang mereka lakukan.

Wajah Anindya memerah karena malu. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya, lalu dia memohon lirih, “Jenderal ... bagaimana kalau kita lakukan setelah pulang? Berapa kali pun Anda menginginkannya ... hamba akan melayani Anda.”

Sakha dengan santai mengangkat cawan araknya dan menyesap sedikit. Gerakannya sama sekali tidak berhenti, bahkan semakin kuat. “Bukankah begini lebih menggairahkan? Aku sudah pergi begitu lama. Kau pasti sudah sangat merindukanku. Dasar perempuan jalang, masih saja berpura-pura.”

Anindya menggigit bibir. Air matanya mengalir tanpa suara.

Selama tiga tahun ini, bukan sekali dua kali Sakha melampiaskan hasratnya di tengah keramaian. Namun, tindakan Sakha hari ini jauh lebih berani daripada biasanya. Anindya benar-benar ketakutan.

Dia adalah putri sah Keluarga Indraswari yang sejak kecil dididik dengan penuh perhatian. Sejak dini, dia diajarkan untuk selalu bersikap anggun dan menjaga kesopanan. Jika sampai ada yang memergokinya melakukan hal semacam ini di sebuah perjamuan, rasanya lebih baik dia mati saja.

Tepat saat mereka sedang berbicara, seseorang menghampiri mereka sambil membawa cawan arak. Seraya tersenyum, orang itu bertanya, “Kenapa Nyonya Jenderal duduk di pangkuan Jenderal? Apa Anda kurang sehat?”

Anindya seketika menegang. Ketakutan membuatnya buru-buru meringkuk ke dalam pelukan Sakha, membenamkan wajah di dadanya sambil memohon tanpa suara agar suaminya menghentikan perbuatannya.

Sakha merengkuhnya semakin erat. Tanpa mengubah ekspresinya, dia menjawab orang itu, “Istriku sedang kurang sehat. Aku cuma sedang menjaganya.”

Orang itu tersenyum dan berkata, “Jenderal dan Nyonya benar-benar pasangan yang penuh kasih sayang,” sebelum berbalik dan kembali ke tempat duduknya.

Begitu orang itu pergi, Sakha justru semakin menjadi-jadi.

Anindya membenamkan wajah dalam pelukan Sakha. Air matanya jatuh satu demi satu, membasahi kerah jubah Sakha, tetapi dia tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun.

Dia takut menarik perhatian tamu lain. Dia juga takut ada yang melihat keadaannya saat ini.

Entah berapa lama berlalu sebelum akhirnya Sakha merasa puas dan mendorongnya menjauh. Setelah merapikan jubahnya, dia berkata datar, “Rapikan dirimu dulu.”

Dengan kaki gemetar, Anindya bangkit berdiri. Tanpa berani menatap siapa pun, dia segera pergi dengan kepala tertunduk.

Dia mencari sebuah ruang yang kosong, lalu mengganti pakaian dan roknya yang kotor. Dan akhirnya Anindya tak kuasa lagi menahan air matanya.

Sakha benar-benar tega melakukan perbuatan sehina itu di depan umum. Bahkan pelacur paling hina sekalipun di Kota Kana belum pernah mengalami penghinaan sebesar yang baru saja dia alami.

Anindya teringat pesan ibunya sebelum dia menikah. Saat itu, sang ibu menggenggam tangannya erat-erat dan berkata, “Anindya, Jenderal Sakha itu pria sejati yang gagah perkasa. Setelah menikah dengannya, kamu harus layani suamimu dengan baik dan segera memberinya keturunan agar garis Keluarga Ranjaya terus berlanjut.”

Dengan penuh harapan, Anindya memasuki Keluarga Ranjaya sebagai seorang istri. Dia mengira, selama dirinya cukup lembut dan berbudi luhur, suatu hari nanti dia pasti bisa meluluhkan hati Sakha.

Namun, tiga tahun telah berlalu. Yang dia dapatkan hanyalah penghinaan dan air mata, hari demi hari.

Setelah akhirnya berhasil menenangkan diri, Anindya kembali ke aula perjamuan. Namun, para tamu ternyata sudah bubar, sementara Sakha tak tahu pergi ke mana.

Anindya tak punya pilihan selain meninggalkan istana seorang diri.

Entah sejak kapan hujan mulai turun. Tubuhnya basah kuyup dan begitu angin dingin berembus, dia langsung menggigil hebat.

Lebih dari setengah jam kemudian, barulah Anindya tiba di Kediaman Jenderal. Saat hendak kembali ke halaman tempat tinggalnya, dia melewati halaman ibu mertuanya dan mendengar suara percakapan dari dalam.

Sebenarnya, dia tidak seharusnya menguping. Selama lebih dari dua puluh tahun, dia selalu menjaga tata krama dan tak pernah melakukan hal semacam itu. Namun, ketika mendengar ibu mertuanya menyebut namanya, langkah Anindya terhenti.

“Di jamuan tadi, Sakha mempermalukannya lagi di depan banyak orang?” Itu adalah suara ibu mertuanya.

“Benar sekali.” Pengasuh tua itu menghela napas. “Hamba dengar Jenderal menarik Nyonya ke pangkuannya, lalu di siang bolong begini malah melakukan hal semacam itu ... ah, saat Nyonya pergi ganti pakaian, matanya sudah merah.”

“Semua ini salahku.” Ibu mertuanya menghela napas panjang. “Dulu, Sakha cuma mencintai Kirana Ardhiana. Tapi, wajah perempuan itu mirip dengan wanita simpanan mendiang suamiku. Setiap kali melihatnya, aku merasa muak. Karena itu, aku bersikeras tidak akan membiarkannya masuk ke keluarga ini.”

“Lalu, saat aku berada dalam bahaya di pertapaan, Anindya menyelamatkanku. Karena itulah aku mengancam akan bunuh diri demi memaksa Sakha menikahinya. Sakha memendam amarahnya, tapi tak bisa melampiaskannya kepadaku. Makanya, dia cuma bisa menjadikan Anindya sebagai pelampiasan!”

“Nyonya, mohon jangan salahkan diri sendiri,” pengasuh tua itu segera membujuk. “Bukankah Jenderal sekarang sudah menikahi Nyonya Muda? Sehebat apa pun Nona Kirana, dia tak akan bisa buat masalah lagi.”

“Tapi Sakha tak bisa menerima kenyataan itu.” Suara ibu mertuanya merendah, terdengar begitu lelah. “Karena tidak rela, dia cuma bisa menyiksa Anindya. Kau kira dia cuma melontarkan kata-kata kotor itu? Dia bahkan menyuruh orang diam-diam melukis adegan mereka saat berhubungan intim, lalu menyebarkan lukisan-lukisan itu pada teman-teman berandalnya untuk ditonton bersama. Bahkan, lukisan-lukisan itu dijual di pasar!”

“Di seluruh kota ini, mungkin hanya segelintir pria yang belum pernah melihat lukisan menantu perempuanku ... akulah yang sudah menghancurkan hidupnya.”

‘Duar!’

Anindya merasa seolah-olah ada sesuatu yang meledak di dalam kepalanya.

Dia berdiri terpaku di bawah koridor. Air hujan yang dingin menetes dari ujung rambutnya, tetapi dia tak lagi merasakan dinginnya. Rasanya seluruh darah di tubuhnya seakan membeku saat itu juga, bahkan jantungnya terasa berhenti berdetak.

Dilukis?

Diperlihatkan kepada teman-temannya?

Dijual di pasar?

Jadi, semua pria di kota ini ... sudah melihat lukisan dirinya?

Anindya tiba-tiba membungkuk dan mencengkeram pilar koridor yang dingin untuk menopang tubuhnya. Perutnya melilit hebat, seolah-olah seluruh isinya diaduk-aduk. Namun, tak ada yang bisa dimuntahkannya. Dia hanya terus tersedak, sementara cairan asam dari lambungnya naik hingga ke rongga hidung, meninggalkan rasa pahit yang menyengat.

Dia tak mau mempercayai semua itu. Dengan kalap, Anindya berbalik dan terhuyung-huyung berlari keluar dari Kediaman Jenderal, sama sekali tak lagi memedulikan sikap anggun dan tata krama yang selama ini selalu dijaganya sebagai seorang putri bangsawan.

Malam telah larut dan jalanan utama yang panjang mulai sepi. Hanya beberapa pedagang yang masih sibuk membereskan dagangan di bawah cahaya lentera kekuningan yang temaram.

Anindya menerjang ke sebuah kios yang menjual barang-barang kecil. Dengan tangan gemetar, dia meraih beberapa gulungan lukisan yang ditumpuk begitu saja di atas meja, lalu membentangkannya dengan kasar.

Lukisan pertama menggambarkan dirinya dan Sakha di ruang kerja. Dia telungkup di atas meja, dengan ujung rok tersingkap hingga ke pinggang, sementara Sakha berdiri di belakangnya. Lukisan itu dibuat dengan begitu terperinci, bahkan setetes air mata di sudut matanya pun terlihat jelas.

Lukisan kedua menggambarkan mereka di kandang kuda. Anindya berlutut di atas jerami, sementara Sakha mencengkeram pinggangnya. Kepalanya sedikit menoleh ke samping, memperlihatkan wajah yang dipenuhi rasa malu dan penderitaan.

Lukisan ketiga menggambarkan kejadian di perjamuan hari ini. Anindya duduk di pangkuan Sakha dengan wajah terbenam di dadanya. Bagian di balik ujung roknya sengaja diperbesar, digambar dengan begitu terperinci hingga setiap detailnya terlihat jelas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 18

    Sakha berdiri di luar pintu, mendengarkan tangisan Anindya dari dalam. Suaranya terdengar begitu lirih, seperti tidak ingin Sakha mendengarnya.Sakha menyandarkan tubuhnya pada pintu dengan tubuh berlumuran darah. Lalu, perlahan merosot hingga terduduk di lantai. Darah terus mengalir dari luka-lukanya, membasahi pakaiannya, tetapi dia tidak merasakan sakit sedikit pun.Dia teringat perkataan Galuh, “Kalau orangnya sudah pergi, menyesal pun sudah terlambat.”Saat itu, dia tidak memercayainya. Sekarang, dia percaya. Namun, semuanya sudah terlambat. Segalanya sudah terlambat.Dia duduk di luar pintu sepanjang malam.Saat fajar menyingsing, pintu akhirnya terbuka.Anindya berdiri di ambang pintu dengan sebuah buntalan di tangan.“Aku akan pergi,” katanya tenang. Matanya sembap, tetapi dia tidak lagi menangis.“Ke mana?” Sakha langsung bangkit berdiri. Kedua kakinya mati rasa hingga dia terhuyung. Luka di bahu dan dadanya kembali terbuka, membuat darah mengalir deras. Namun, dia sama sekali

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 17

    Anindya menatap Sakha dan terdiam lama sekali.“Pergilah.” Dia menutup pintu. “Aku tidak akan memaafkanmu.”Sakha kembali berdiri di luar pintu selama sehari penuh.Hari ketiga, hari keempat, hingga hari kelima.Setiap hari, dia berdiri di luar pintu tanpa berbicara ataupun mengetuknya. Dia hanya berdiri di sana, begitu saja.Saat Anindya keluar untuk membeli bahan makanan, Sakha mengikutinya dari belakang dengan jarak yang cukup jauh. Dia tidak berani mendekat, hanya diam-diam menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalan Anindya.Setiap kali Anindya menoleh ke arahnya, Sakha akan langsung berhenti dan berdiri diam di tempat, seperti seorang anak yang baru saja melakukan kesalahan.Pada hari keenam, Anindya akhirnya tidak tahan lagi.“Apa sebenarnya yang kau inginkan?” Dia berdiri di ambang pintu dengan mata memerah. “Apa gunanya kau melakukan semua ini?”“Tidak ada gunanya.” Sakha menatapnya dengan suara serak. “Tapi aku tidak punya pilihan lain. Kalau kau tidak memaafkanku, hidup

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 16

    Pintu terbuka. Anindya berdiri di ambang pintu, mengenakan pakaian kain yang warnanya telah memudar karena terlalu sering dicuci. Rambutnya disanggul menggunakan tusuk konde kayu. Penampilannya begitu sederhana dan bersih, bagaikan sekuntum teratai putih.Saat melihat Sakha, ekspresinya sama sekali tidak berubah.Tidak terkejut, tidak marah, tidak pula takut. Hanya ketenangan.Seperti sedang menatap orang asing.“Ada perlu apa kamu datang ke sini?” tanyanya dengan suara datar.Sakha menatapnya. Tenggorokannya terasa tercekat, seakan ada segumpal kapas yang menyumbatnya hingga dia tidak mampu berkata apa-apa.“Aku ....” Dia akhirnya membuka mulut, tetapi suaranya sangat serak. “Aku datang untuk menjemputmu pulang.”Anindya menatapnya, lalu tiba-tiba tertawa kecil. Senyumnya begitu tipis dan samar, seperti angin yang berlalu tanpa meninggalkan jejak. “Pulang?”Dia mengulangi pertanyaannya, “Pulang ke mana?”“Kembali ke Kediaman Jenderal. Pulang ke rumah.” Sakha maju selangkah, suaranya t

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 15

    Seluruh tubuh Sakha bergetar hebat, rasanya sebilah pisau baru saja menghunjam dadanya.Dia teringat malam itu, saat Anindya berlutut di tanah sambil mencengkeram ujung celananya dan memohon, “Kumohon, jangan perlakukan aku seperti ini.”Dia menjawab, “Kau adalah wanitaku. Mereka tidak berani menyentuhmu.”Lalu, dia melepaskan jari-jari Anindya satu per satu.Setelah itu, dia pergi.Dia telah meninggalkan seorang perempuan tak berdaya di tengah gerombolan pengemis. Dengan tangannya sendiri, dia telah mendorong Anindya ke neraka.Sakha tiba-tiba berbalik dan menghantam dinding dengan tinjunya. Batu bata pecah, buku-buku jarinya remuk dan berlumuran darah. Namun, dia sama sekali tidak merasakan sakit.“Pengawal!” teriaknya hingga suaranya serak dan pecah. “Kurung Kirana di penjara bawah tanah! Sebarkan perintahku! Semua pengemis di seluruh ibu kota, tangkap dan kurung mereka semua, tanpa terkecuali! Biar dia rasakan bagaimana rasanya dilecehkan orang lain! Buat dia tak bisa tenang, mati

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 14

    Kusir tua itu gemetar ketakutan. “Je, jenderal? Perempuan yang mana?”“Perempuan yang keluar melalui gerbang selatan kota, yang tubuhnya penuh luka itu.”Mata kusir tua itu langsung berbinar. “Oh, maksud Jenderal nyonya itu, ya! Saya mengantarnya sampai ke dermaga penyeberangan. Dia pergi naik kapal.”“Naik kapal? Kapal tujuan mana?”“Ke arah selatan. Tepatnya ke mana, saya juga tidak tahu. Nyonya itu bilang, kapal mana pun tidak masalah, asalkan menuju ke daerah selatan.”Sakha melepaskan kusir tua itu, melompat naik ke kudanya, lalu melesat menuju dermaga penyeberangan.Dia memacu kudanya sekencang mungkin. Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, akhirnya dia tiba di dermaga. Orang-orang berlalu-lalang, sederetan kapal berlabuh di sana. Sakha bertanya kepada awak kapal satu per satu. Setelah menanyai lebih dari sepuluh kapal, akhirnya seseorang mengingat Anindya.“Maksudmu gadis yang tubuhnya penuh luka itu, ya? Cantik sekali orangnya, cuma wajahnya pucat sampai bikin orang tak

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 13

    Galuh menatapnya. Setelah terdiam sejenak, dia akhirnya menyebutkan alamat tempat itu.Sakha langsung berbalik dan pergi. Langkahnya cepat dan tergesa-gesa, menyerupai binatang buas yang sedang mengamuk.Di sebuah bangunan tua yang terbengkalai di sebelah timur kota, beberapa pengemis tengah minum arak mengelilingi api unggun.Begitu Sakha menerobos masuk, mereka bahkan belum sempat bereaksi ketika kilatan pedang menyambar di hadapan mereka.Saat orang pertama tumbang, yang lainnya langsung berteriak ketakutan dan berusaha melarikan diri.Sakha menebas mereka satu per satu. Setiap tebasannya begitu dalam, sementara darah memercik ke seluruh wajahnya.“Siapa yang menyuruh kalian menyentuhnya?!” Dia menjambak rambut pengemis terakhir dan membantingnya ke tanah. “Siapa yang menyuruh kalian menyentuhnya?!”Pengemis itu sampai terkencing-kencing karena ketakutan. Seraya menangis dan meraung-raung, dia memohon ampun. “Ampuni hamba, Jenderal! Ampuni hamba. Ada seseorang yang beri kami uang ag

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status