Short
Akhirnya Menyerah, Derita Tiada Akhir Si Istri Pencemburu

Akhirnya Menyerah, Derita Tiada Akhir Si Istri Pencemburu

Oleh:  MarlaTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
20Bab
1.8KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Jamuan istana baru saja memasuki penghujung acara, kabar bahwa Jenderal Muda Andra yang menghamburkan harta demi membeli seorang kembang rumah bordil sudah menyebar ke seluruh ibu kota. Semua tamu yang hadir serempak menoleh ke arah Wulan, sang Putri. Siapa yang tidak tahu kalau dia terkenal sebagai istri yang sangat pencemburu? Selama lima tahun menikah dengan Andra, yang satu gemar main perempuan, yang satu lagi melabrak ke rumah bordil. Keributan yang mereka buat nyaris menjadi bahan gosip wajib warga ibu kota setiap kali mengobrol. "Tuan Putri ...." Pelayan pribadi Wulan bergegas mendekat sambil merendahkan suara. "Perlukah hamba membawa pengawal untuk menjemput Jenderal pulang sekarang juga?" Suara Wulan tetap tenang. "Nggak perlu. Apa uang dia cukup? Kalau kurang, kirim lagi. Ambil dari simpananku." Pelayan itu terpaku. Seluruh orang di aula pun ikut tercengang, lalu suasana seketika menjadi riuh. "Apa? Malah menyuruh mengirim uang? Bukan menyuruh pengawal menyeret Jenderal Andra pulang?" "Aku dengar waktu Jenderal Andra minum bersama wanita penghibur, Putri langsung mengambil pedang dan menyerbu rumah bordil. Jenderal sampai harus beristirahat berhari-hari untuk memulihkan luka. Kenapa kali ini berubah?" "Betul! Waktu festival malah lebih parah. Tiga perahu hias dibakar sampai habis." "Setiap kali Jenderal Andra berulah, istana pasti menghukumnya. Tapi untuk apa? Besoknya dia tetap lanjut bersenang-senang di tempat hiburan." "Jangan-jangan dia akhirnya sadar kalau bertindak begitu nggak akan bisa mempertahankan hati suaminya, jadi sekarang mau pura-pura jadi istri yang lembut dan baik hati?" Semua bisik-bisik itu terdengar jelas di telinga Wulan.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Jamuan istana baru saja memasuki penghujung acara, kabar bahwa Jenderal Muda Andra yang menghamburkan harta demi membeli seorang kembang rumah bordil sudah menyebar ke seluruh ibu kota.

Semua tamu yang hadir serempak menoleh ke arah Wulan, sang Putri.

Siapa yang tidak tahu kalau dia terkenal sebagai istri yang sangat pencemburu? Selama lima tahun menikah dengan Andra, yang satu gemar main perempuan, yang satu lagi melabrak ke rumah bordil.

Keributan yang mereka buat nyaris menjadi bahan gosip wajib warga ibu kota setiap kali mengobrol.

"Tuan Putri ...." Pelayan pribadi Wulan bergegas mendekat sambil merendahkan suara. "Perlukah hamba membawa pengawal untuk menjemput Jenderal pulang sekarang juga?"

Suara Wulan tetap tenang. "Nggak perlu. Apa uang dia cukup? Kalau kurang, kirim lagi. Ambil dari simpananku."

Pelayan itu terpaku. Seluruh orang di aula pun ikut tercengang, lalu suasana seketika menjadi riuh.

"Apa? Malah menyuruh mengirim uang? Bukan menyuruh pengawal menyeret Jenderal Andra pulang?"

"Aku dengar waktu Jenderal Andra minum bersama wanita penghibur, Putri langsung mengambil pedang dan menyerbu rumah bordil. Jenderal sampai harus beristirahat berhari-hari untuk memulihkan luka. Kenapa kali ini berubah?"

"Betul! Waktu festival malah lebih parah. Tiga perahu hias dibakar sampai habis."

"Setiap kali Jenderal Andra berulah, istana pasti menghukumnya. Tapi untuk apa? Besoknya dia tetap lanjut bersenang-senang di tempat hiburan."

"Jangan-jangan dia akhirnya sadar kalau bertindak begitu nggak akan bisa mempertahankan hati suaminya, jadi sekarang mau pura-pura jadi istri yang lembut dan baik hati?"

Semua bisik-bisik itu terdengar jelas di telinga Wulan. Namun, wajahnya tetap tenang, seolah tidak mendengar apa pun.

Semua orang mengira dia hanya berganti taktik karena amukan dan kecemburuannya tak mampu mempertahankan Andra. Padahal, lima tahun sudah berlalu. Dia benar-benar lelah.

Usai jamuan istana, Wulan tidak langsung pulang ke kediamannya. Sebaliknya, dia meminta bertemu dengan Kaisar.

Di ruang kerja kekaisaran, ketika melihat Wulan masuk, Kaisar langsung menghela napas panjang. Lima tahun terakhir, drama seperti ini sudah terjadi entah berapa kali.

Kaisar menghukum, Andra menerima hukuman, tetapi setelah itu malah bertindak makin keterlaluan. Wulan menangis mengadu, Kaisar menghiburnya. Begitu terus, berulang tanpa akhir.

"Aku sudah tahu. Bocah itu bikin ulah lagi. Aku akan segera mengeluarkan titah. Tiga puluh cambukan militer, lalu berlutut dua hari di kuil leluhur."

Wulan menggeleng perlahan, lalu berlutut. "Paman, kali ini aku datang bukan untuk mengadu. Aku datang memohon surat perceraian."

Kaisar tertegun. Setelah terdiam cukup lama, barulah Kaisar berkata, "Dulu waktu kamu beranjak dewasa, begitu banyak pemuda ibu kota datang melamarmu. Dari sekian banyak orang, justru Andra yang kamu pilih."

"Latar belakang keluarganya bukan yang paling terpandang. Dia juga sudah bertahun-tahun bertugas di perbatasan. Awalnya aku nggak setuju, tapi kamu bilang sudah lama mencintainya. Aku pun akhirnya mengizinkan."

"Tapi, baru beberapa hari menikah, dia sudah sibuk mengejar wanita lain dan menginjak-injak harga dirimu. Entah berapa kali aku ingin memberimu surat cerai, tapi setiap kali bertengkar dengannya, kamu datang sambil menangis dan memohon agar aku campur tangan mempertahankan pernikahan kalian. Sekarang, kamu benar-benar rela melepaskannya?"

Wulan bersujud. "Terima kasih karena Paman sudah begitu memanjakanku selama ini. Aku sudah merasakan yang namanya cinta. Rasanya ternyata biasa saja. Sekarang aku sudah nggak menginginkannya lagi."

"Kamu yakin?"

"Sangat yakin."

Kaisar akhirnya mengembuskan napas lega. "Bagus. Syukurlah kamu akhirnya bisa melepaskannya. Sebenarnya sejak dulu aku ingin kamu menceraikannya. Menjelang akhir tahun, pena kekaisaran sudah disegel. Setelah Festival Lampion berlalu, aku akan segera mengeluarkan titah."

Wulan bersujud mengucapkan terima kasih, lalu berbalik pergi.

Saat keluar dari gerbang istana, pelayan pribadinya, Laras, berkata dengan suara tercekat, "Selama ini Tuan Putri sudah berkorban begitu banyak demi Jenderal. Mahar Tuan Putri dipakai untuk membantu membiayai pasukannya. Di tengah badai salju, Tuan Putri menempuh perjalanan jauh demi mengantar perbekalan."

"Bahkan saat Jenderal Andra keracunan, Tuan Putri sampai mengorbankan darah sendiri untuk campuran bahan obat. Apa benar semuanya akan berakhir begitu saja?"

Wulan memandang langit yang kelabu. Nada bicaranya tetap datar. "Kalau nggak diakhiri, apa lagi yang bisa kulakukan?"

Tak seorang pun tahu, dia sudah mencintai Andra sedemikian dalam, sementara pria itu telah menolaknya lebih dari 100 kali. Saat Andra akhirnya datang untuk melamar, itu pun bukan karena cinta.

Adik angkatnya sedang sekarat dan membutuhkan Pil Ginseng Ungu, obat penyambung nyawa langka yang hanya dimiliki istana. Hanya saja, obat itu sudah dihadiahkan Kaisar kepada Wulan.

Karena itulah Andra menjadikan pernikahan mereka sebagai sebuah transaksi. Wulan memberikan obat itu. Sebagai gantinya, Andra memenuhi janji dan menikahinya.

Namun, baru tiga hari setelah pernikahan, adik angkat Andra meninggal dunia. Tabib istana menyimpulkan bahwa pil itu telah tercampur sejenis tanaman obat yang sifatnya berlawanan dengan kondisi tubuh pasien. Pada awalnya memang tampak membaik, tetapi sebenarnya racun justru menyebar hingga ke paru-paru. Sudah mustahil diselamatkan.

Semua ucapan mereka secara tersirat menuduh bahwa obat yang diberikan Wulan adalah obat palsu.

Sejak saat itu, pemuda gagah yang dahulu penuh semangat itu seakan telah mati. Yang tersisa hanyalah kebencian Andra terhadapnya.

Malam demi malam dia habiskan di rumah bordil, memaksa Wulan berubah menjadi perempuan galak yang dikenal seluruh ibu kota. Itulah caranya membalas dendam.

Saat Wulan kembali ke kediamannya, kepala pelayan segera menyambutnya dengan ekspresi serbasalah.

"Tuan Putri, Jenderal Andra sudah menunggu di aula bunga. Bersamanya ada ... kembang dari Balai Rembulan, Jingga."

Wulan berhenti sejenak. Selama bertahun-tahun, seburuk apa pun ulah Andra, dia tidak pernah membawa perempuan pulang.

Jingga adalah yang pertama. Bahkan sebelum memasuki ruangan, Wulan sudah mendengar alunan kecapi dan tawa lembut seorang wanita.

Di dalam, Jingga sedang memeluk kecapi sambil bersandar manja di sisi Andra dan bernyanyi. Sementara itu, Andra menyelipkan setangkai bunga kecil di rambutnya dengan lembut.

Memang wanita itu yang paling mirip dengan adik angkatnya.

Ketika melihat Wulan masuk, suara kecapi langsung terhenti. Andra melirik sekilas. "Perusak suasana sudah datang."

Dia menegakkan tubuh, menatap lurus ke arah Wulan, lalu mendengus dingin. "Ayo, katakan. Kali ini kamu minta anugerah apa lagi dari istana untukku? Hukuman cambuk atau disuruh berlutut di depan gerbang istana?"

Selama lima tahun terakhir, setiap kali Andra bertindak keterlaluan, Kaisar selalu membela Wulan. Dia akan dihukum dan dipukul. Andra pun lebih rela menerima hukuman demi para penyanyi dan wanita penghibur daripada melirik Wulan sekali saja.

Jingga bersandar dengan manja di sisi Andra sambil menutup mulutnya dan terkekeh. "Jadi, Tuan Putri ternyata masih kekanak-kanakan. Sedikit saja nggak puas, langsung mengadu ke Kaisar. Padahal, hati seorang pria nggak akan bisa diikat dengan cara seperti itu ...."

Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya ....

Ctar! Suara cambuk membelah udara. Cambuk hitam berlapis emas menghantam lantai di samping kaki Jingga.

Wanita itu menjerit ketakutan dan buru-buru meringkuk ke dalam pelukan Andra. Andra langsung melindunginya dan murka. "Wulan! Kalau nggak senang, hadapi aku. Jangan menyerang Jingga hanya karena kamu cemburu."

"Kuberi tahu ya, hari ini apa pun hukuman yang Kaisar berikan padaku, aku tetap akan menjadikannya selir. Sebaiknya kamu tahu diri dan jangan menghalangiku."

Wulan perlahan menarik kembali cambuknya. Tatapannya beralih kepada Jingga. Suaranya tetap tenang.

"Cambukan ini untuk mengajarimu tata krama. Kaisar adalah penguasa seluruh negeri. Siapa yang memberimu hak untuk sembarangan mengomentari Yang Mulia? Kalau kamu masih berani lancang lagi, cambuk berikutnya nggak akan jatuh di lantai."

Dia berhenti sejenak, lalu mengangkat pandangannya kepada Andra. "Soal kamu ingin mengambil selir ... terserah kamu saja."

"Laras, suruh orang bersihkan Paviliun Senja yang paling dekat dengan kediaman utama. Biarkan Nona Jingga tinggal di sana."

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
20 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status