Beranda / Urban / Sang Raja Bisnis Abimanyu! / BAB 2: Sekawanan Preman Rentenir!

Share

BAB 2: Sekawanan Preman Rentenir!

Penulis: AlRisqi H.
last update Tanggal publikasi: 2026-04-27 19:30:47

“Bim, sampai kapan kamu mau menyiksa saya dan anak saya? Kapan kamu mau berhenti?!”

Melihat kondisi kontrakan yang sudah ia bersihkan dengan sangat teliti lima hari lalu kini kembali menjadi seperti mimpi buruk, Nisa berteriak putus asa.

Sambil berbicara, wanita itu melangkah mendekat dan menarik lengan Lala kembali ke sisinya.

“Saya mohon, Bim... tanda tanganilah surat cerai itu. Saya sudah benar-benar muak. Kalau terus seperti ini, saya bisa gila. Saya bahkan sekarang membutuhkan obat tidur hanya agar bisa tidur. Saya mohon kepadamu, tanda tangani surat cerai itu dan biarkan saya membawa anak saya pergi.”

Setelah berusaha menenangkan diri, Nisa sedikit mengangkat kedua tangannya, lalu menggelengkan kepala sambil mencoba menerima kenyataan dari pemandangan kotor dan berantakan di hadapannya, sebuah kekacauan yang sepertinya sudah menjadi santapan sehari-harinya. Ia berbicara dengan nada yang nyaris memohon.

Dulu, ia pernah berpikir telah menemukan belahan jiwanya, satu-satunya pria tempat ia bisa mempercayakan seluruh hidupnya.

Demi pria itu, Nisa rela mengabaikan kerasnya tentangan dari keluarganya.

Ia bahkan menolak para pria kaya dan mapan yang datang melamar dengan membawa masa depan yang jauh lebih menjanjikan.

Nisa dengan tegas memilih Abimanyu karena ia percaya bahwa pria itu akan menciptakan kehidupan yang indah bersamanya di Batavia.

Akibat pilihannya itu, ia sempat memutus semua kontak dengan keluarganya dan baru bisa berdamai dengan mereka setelah Lala lahir.

Namun, hal yang tidak pernah ia duga adalah pria pilihannya tersebut justru mengalami perubahan kepribadian yang sangat drastis setelah usaha bisnisnya bangkrut. Abimanyu menjadi pecandu alkohol, gemar berjudi, kehilangan semua ambisi, berubah menjadi pemalas, dan bahkan menjelma menjadi sosok kejam yang tega memukuli serta menendangnya hanya karena masalah sepele.

Nisa telah memberinya kesempatan yang tidak terhitung jumlahnya. Ia terus mencoba membangkitkan kembali semangat serta motivasi suaminya itu.

Namun, balasan yang ia dapatkan hanyalah perilaku yang jauh lebih buruk setelah pria itu berpura-pura bertobat.

Mahasiswi cerdas dan berprestasi di masa lalu itu kini hanya bisa pasrah melihat suaminya merosot menjadi parasit tidak berguna dan seorang iblis yang kejam.

Abimanyu menjual semua barang di kontrakan mereka yang bisa ditukar dengan uang receh demi membiayai kebiasaan judinya.

Hanya tinggal menunggu waktu sebelum pria itu nekat menjual istri dan putrinya sendiri.

Bekas luka baru dan lama yang saling bersilangan di balik pakaian Nisa adalah bukti nyata dari pemukulan brutal serta tanpa ampun yang sering ia terima.

Di mata Nisa, pria yang ia panggil suami ini sudah lama berubah menjadi iblis dan mimpi buruk terbesarnya.

“Nis, saya tahu saya sudah mengecewakan kamu dan anak kita. Saya tidak berani meminta kamu memaafkan saya hanya dengan kata-kata. Namun, berilah saya satu kesempatan lagi. Saya akan berubah, Nis. Saya bersumpah, saya akan berubah.”

Suara Abimanyu terdengar bergetar hebat.

“Kamu akan berubah? Dengan cara apa kamu akan berubah? Bagaimana mungkin kamu bisa berubah? Anjing saja tidak bisa disuruh berhenti memakan kotoran! Kamu tidak bisa berubah, Bim. Kamu tidak akan pernah bisa berubah! Sudah berapa ratus kali kamu mengatakan hal seperti ini kepada saya? Namun, setiap kali setelah mengatakannya, perilakumu justru makin buruk! Cukup. Saya sudah benar-benar muak!”

Konon, kesedihan terbesar bagi seorang manusia adalah ketika hatinya sudah mati.

Nisa yang sudah lama kehilangan harapan perlahan kembali menjadi tenang.

Wanita itu menggelengkan kepala dan mencibir tanpa berkedip.

Namun, kata-kata terakhirnya bahkan belum sepenuhnya memudar di udara.

Tap! Tap! Tap!

Serangkaian derap langkah kaki kasar tiba-tiba menggema di lorong kontrakan.

Sejurus kemudian, sekitar selusin pria bertato yang jelas-jelas merupakan sekawanan preman rentenir menerobos masuk begitu saja ke dalam ruang kontrakan sempit tersebut.

Pria yang memimpin di depan tersenyum miring penuh arti.

“Wah, kebetulan sekali. Sekeluarga sedang berkumpul semua.”

“Siapa kalian?!”

Melihat sekelompok pria berwajah sangar yang baru saja masuk, Nisa segera menarik Lala ke belakang tubuhnya dan bertanya dengan dahi berkerut.

“Menurut Anda, kami ini rombongan kelurahan yang hendak membagikan bantuan?” Pria yang berdiri paling depan menatap Nisa dari atas ke bawah, lalu tersenyum miring dengan nada meremehkan. “Anda istrinya Abimanyu, kan?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sang Raja Bisnis Abimanyu!    BAB 11: Tidak Bisa Dipercaya Oleh Nisa

    Abimanyu menempelkan dahinya ke dahi gadis kecil itu dan menjawab dengan nada penuh kepuasan.Wah, tiga juta Rupiah? Ayah hebat banget!Lala mungkin belum sepenuhnya paham sebesar apa nilai tiga juta Rupiah di dunia nyata. Namun, karena sejak bayi ia sering mendengar orang tuanya ribut masalah uang, kata 'juta' jelas terdengar seperti nominal yang sangat fantastis baginya!Namun, mereka berdua tak menyadari bahwa Nisa yang berdiri tak jauh dari sana sudah muak hingga ubun-ubun!"Bim, kamu belum puas pakai trik murahan kamu itu buat nipu saya, hah? Sekarang kamu mau pakai trik itu buat nipu Lala juga?! kamu mau anak kamu gede jadi pembohong nggak tau malu kaya kamu, iya?!"Setelah melontarkan teguran dingin itu, Nisa langsung memanggil putrinya."Lala, turun! Ayo balik ke kamar, tidur bareng Ibu!"Dalam pandangan Nisa, berjualan bunga adalah sesuatu yang tidak akan pernah dilakukan oleh Abimanyu, sebuah pekerjaan yang pasti dianggapnya sangat 'memakamukan'. Terlebih lagi klaim bahwa ha

  • Sang Raja Bisnis Abimanyu!    BAB 10: Wah.. Ayah Jualan Bunga?

    Lala mengangkat wajah mungilnya dan menatap Nisa dengan bingung.Seandainya bukan karena perabotan usang yang sudah sangat familiar di mata mereka, Nisa pun pasti akan mengira ia telah memasuki kontrakan orang lain."Kita nggak salah rumah kok, Sayang. Sudah larut malam, ayo Ibu anter ke kamar buat tidur, ya!"Sambil berbicara, Nisa menuntun Lala masuk lebih dalam ke ruangan tersebut.Tentu saja, mereka tidak akan masuk ke kamar tempat Abimanyu tidur.Di kontrakan petak yang sempit namun memiliki dua kamar ini, ia dan Abimanyu sudah lama pisah ranjang. Bahkan sejak dukamu, Nisa harus selakamu mengunci rapat-rapat pintu kamarnya setiap malam sebelum tidur. Abimanyu yang kerap pulang dalam keadaan mabuk larut malam adalah sosok yang sangat menakutkan,bahkan saking takutnya, Nisa sering merasa ingin menyeret pria itu kekamuar dan membuangnya!Namun, sebekamum Nisa sempat melangkah ke kamarnya...Pintu utama kontrakan itu tiba-tiba didorong terbuka.Abimanyu masuk."Ayah!"Melihat sosok A

  • Sang Raja Bisnis Abimanyu!    BAB 9: Nisa Diusir Dari Rumah Keluarganya

    "Mbak, udah, nggak usah didengerin omongan Bapak sama Ibu! Mbak Nisa tetep tinggal aja di sini sama Lala!" Dimas bergegas menggendong Lala menyusul ke kamar sempit itu, berusaha mencegah kakaknya. Nisa tak mengucapkan sepatah kata pun. Tanpa berpikir panjang, tangannya sibuk mengemasi beberapa helai pakaian ke dalam tas. "Mbak Nisa dengerin saya dong! Kalau Mbak pergi dari sini, Mbak mau tinggal di mana?! Balik ke kontrakan itu?! Balik buat terus diintimidasi dan dipukulin lagi sama binatang buas itu?!" Dimas menurunkan Lala dan langsung merentangkan tangannya, menghalangi langkah Nisa. "Dimas... Mbak tau kamu peduli banget sama Mbak, makasih ya. Tapi omongan Ibu sama Bapak itu ada benernya. saya sama Lala cuma jadi benakamu di sini, cuma bikin repot keluarga! kamu tenang aja, saya sama Lala punya tempat tujuan kok. Kita nggak bakal jadi gelandangan!" kata Nisa sambil memaksakan senyum tegar. Selesai mengucapkan itu, Nisa mendorong tubuh adiknya pelan agar menyingkir. Satu tan

  • Sang Raja Bisnis Abimanyu!    BAB 8: Keributan Di Keluarga Nisa!

    "Dasar bocah nggak tahu diuntung, sana kamu pergi! kamu pada makan dari uang saya, minum air saya, numpang di rumah saya, berani-beraninya kamu ngatain saya jahat?!" teriak Bu Linda penuh amarah. "Bu, kok Ibu ngomongnya gitu sih?! Lala kan baru umur empat tahun, Bu. Pantes apa Ibu bentak-bentak anak kecil kaya gitu?" Dimas, adik laki-laki Nisa yang tak tahan lagi melihat adegan itu, segera menggendong Lala yang menangis dan memprotes ucapan ibunya. "Apa kamu bilang?! kamu mau belain janda sama anaknya ini?! Kalau bukan gara-gara si bego ini buta cinta sama cowok kere itu, emang dia bakal jadi gembel kaya gini, hah?! Semua cowok mapan yang ngejar-ngejar dia dulu tuh seratus, seribu kali lipat lebih bagus dari si benalu itu! Tapi dia malah ngebantah omongan saya sama bapak kamu demi cowok nggak guna itu! Sekarang kamu liat sendiri kan nasibnya?! Ini semua kan salah dia sendiri!" "Coba aja kalau dulu dia milih salah satu dari cowok kaya itu, apa dia bakal menderita kaya sekarang?!

  • Sang Raja Bisnis Abimanyu!    BAB 7: Keuntungan Gila-gilaan!

    Ia melirik jam dinding di ruangannya; waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Pertunjukan cahaya akan dimulai pukul delapan malam, sementara sesi puncak bertema cinta romantis baru akan diluncurkan pada pukul sepuluh malam. Praktis, tidak banyak waktu yang tersisa baginya untuk bersiap! Karena keterbatasan waktu dan risiko bunga akan layu jika disimpan terlalu lama, Abimanyu bergegas menuju pasar Cempaka Raya. Bunga mawar yang awalnya dihargai seribu Rupiah per tangkai, berhasil ia tawar menjadi lima ratus Rupiah. Ia bahkan terus mendesak si penjual agar memberikan diskon untuk kertas pembungkusnya. Akhirnya, setelah menyisihkan ongkos naik KRL, ia berhasil memborong tiga ratus tangkai mawar beserta kertas pembungkus menggunakan sisa uang seratus lima puluh ribu Rupiah di sakunya. Sesampainya kembali di kontrakan petak, ia langsung sibuk membungkus setiap tangkai mawar satu per satu. Butuh waktu lebih dari empat jam untuk menyelesaikan pengemasan ketiga ratus tangkai mawar terseb

  • Sang Raja Bisnis Abimanyu!    BAB 6: Abimanyu, Mematangkan Rencana Bisnis!

    Setelah menyaksikan sosok Nisa dan Lala menghilang dari pandangannya, Abimanyu yang masih menutupi kepalanya yang berdarah segera meninggalkan kontrakan petak tersebut.Alih-alih pergi ke rumah sakit besar, ia memilih mendatangi sebuah klinik kesehatan kecil terdekat.Setelah mendapatkan jahitan untuk luka robek di kepalanya dan mengoleskan salep pada wajahnya yang memar, barulah ia kembali ke kontrakannya yang berantakan seperti kapal pecah itu.“Benar-benar kacau,” rutuknya.Melihat botol-botol minuman keras dan puntung rokok yang berserakan di lantai, bercampur dengan tumpukan kotak makanan sisa dan wadah mi instan kosong yang tersebar sembarangan, di tengah bau busuk menyengat yang memenuhi ruangan itu, Abimanyu sama sekali mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya dan tiba-tiba menampar wajahnya sendiri dengan keras.Setelah membersihkan semua kekacauan itu dan mengepel seluruh sudut kontrakan, baik bagian dalam maupun teras luar, sebanyak tiga kali putaran, tiga jam pun berlalu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status