Home / Fantasi / Sang Villainess Yang Disayang / 113. Kilas Balik Kenangan

Share

113. Kilas Balik Kenangan

Author: Hydragea
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-18 23:59:48

Gemuruh sorak-sorai di dalam aula Grand Forum of Trials masih terdengar membahana.

Di tengah keriuhan itu, gerbang dimensi emas di sebelah Scarlett mendadak meredup dan hancur perlahan. Sosok Rosalie melangkah keluar dengan napas yang memburu.

Namun, begitu kedua kelopak matanya terbuka sempurna dan indera pendengarannya menangkap gema suara MC yang mengumumkan kemenangan telak Scarlett, tubuh Rosalie seketika membeku.

Wajahnya
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sang Villainess Yang Disayang   153. Pertanyaan Yang Memaku Jiwa

    PLAK! Suara hantaman telapak tangan Scarlett yang mendarat keras di pipi Caspian menggema nyaring di bawah selasar paviliun yang sunyi . Tamparan itu begitu tiba-tiba, memaksa kepala sang Pendeta Agung menoleh ke samping. Caspian seketika membatu. Gejolak emosi batin dan tekad gilanya yang berapi-api runtuh dalam sekejap, digantikan oleh sorot mata yang kembali berubah menjadi lugu dan polos. Dia menatap nanar ke arah Scarlett, meraba pipinya yang terasa panas dengan ujung jemarinya yang gemetar, benar-benar syok karena baru saja ditampar oleh wanita yang dia agungkan sebagai Tuhannya. "Buka matamu dan sadarlah, Caspian bodoh!" bentak Scarlett dengan napas memburu dan dada naik turun menahan amarah yang membuncah. Scarlett mencengkeram bahu Caspian, mengguncangnya kasar sembari meluapkan seluruh kekesalan dan usaha keras yang telah dia lakukan demi pria itu. "Kamu pikir posisi Pendeta Agung yang kamu duduki sekarang adalah barang murah yang bisa kamu buang begitu saja karena e

  • Sang Villainess Yang Disayang   152. Penangguhan Pelepasan

    Beberapa saat yang lalu... Suasana di bawah selasar batu putih terasa amat dingin dan kaku. Empat pendeta senior berpakaian jubah bersulam benang emas berdiri mengelilingi Caspian yang tampak tegak, tak bergeming dengan keputusan gila yang dibawanya dari Taman Gethsemane. Pendeta Senior 1, memasang wajah prihatin yang dibuat-buat, memegang sebuah perkamen besar berisi sumpah pelepasan. "Pendeta Agung Caspian, kami akan menanyakan ini untuk terakhir kalinya sebelum segalanya terlambat. Pikirkanlah matang-matang. Melepas jabatan Pendeta Agung bukan hal sepele." Pendeta Senior 2, menimpali dengan nada berat, pura-pura panik. "Benar, Caspian! Kamu adalah pilar kejujuran di Gereja Suci ini! Jika kamu pergi, bagaimana kami harus menjelaskan pada seluruh rakyat kekaisaran?!" Namun, di balik topeng keprihatinan itu, hati para pendeta senior bersorak senang bukan main. Mereka diam-diam tersenyum licik

  • Sang Villainess Yang Disayang   151. Mencari Caspian

    Kelopak bunga lili putih mistis bergoyang lambat ditiup angin, saksi bisu dari keputusan paling radikal yang pernah terucap di bawah pohon zaitun kuno. Setelah mendeklarasikan niatnya untuk menanggalkan jubah suci, atmosfer di sekeliling Caspian membeku dengan wibawa yang absolut. Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, pria bertubuh tinggi tegap itu membalikkan badannya secara tegas. Jubah putihnya berkibar menyapu kelopak bunga lili saat dia melangkah lebar meninggalkan Scarlett. Tekadnya sudah bulat seutuhnya. Tujuannya kali ini sangat jelas: menemui jajaran pendeta senior untuk melakukan ritual pelepasan sumpah suci dan menanggalkan jabatan Pendeta Agung demi menjadi pelayan pribadi Scarlett agar bisa melangsungkan pernikahan pengikat kontrak totem binatang. Scarlett berdiri mematung, tubuhnya membeku seketika di tengah taman yang sunyi. Pikirannya melayang jauh, dilingkupi oleh kecemas

  • Sang Villainess Yang Disayang   150. Tekat Baru Caspian

    Kata "Tidak" yang keluar begitu tegas dari bibir Scarlett bergaung di antara deru angin yang menggoyangkan kelopak lili putih di sekitar mereka.Kehangatan yang sempat menyelimuti Taman Gethsemane menguap dalam sekejap, menyisakan keheningan yang luar biasa kaku dan mencekam.Caspian membatu di tempatnya berdiri. Sepasang manik mata abu-perak miliknya yang semula berbinar penuh harapan kini mendadak meredup, menyipit tajam dihantam rasa syok yang teramat besar. Genggaman pada jubah pendeta putihnya mengerat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan beban hantaman emosional yang seakan meremukkan seluruh harga diri dan ketulusan jiwanya."Tidak...? Mengapa, Nona?" Suaranya terdengar begitu lirih, parau, dan bergetar hebat oleh luka yang menyayat hati.Dia menunduk sesaat, lalu mendongak. kembali membuka mulutnya melanjutkan ucapannya."Tolong katakan alasanmu... Kenapa kamu menolaknya begitu spontan?"Scarlett

  • Sang Villainess Yang Disayang   149. Caspian Yang Malang

    "Caspian... Kenapa kamu berada di sini seorang diri?" Suara Scarlett mengalun lembut. Caspian tersentak dalam lamunannya. Kepala pemuda itu mendongak perlahan, membuat sepasang manik mata abu-perak miliknya yang jernih langsung beradu pandang dengan mata ungu Scarlett yang menatapnya lekat-lekat. "Nona Scarlett... Kenapa Anda berada di sini?" Suaranya terdengar begitu lirih dan datar, mencoba menyembunyikan riak emosi di dadanya"Hari ini adalah hari penting setelah penobatan Anda, tidak seharusnya Anda membuang waktu di taman gereja yang sepi ini."Scarlett melangkah maju dua langkah lagi, melipat kedua belah tangannya di depan dada. Berdiri dengan mencondongkan wajahnya ke arah Caspian."Kenapa aku di sini? Tentu saja untuk mencarimu, Caspian."Tatapan Scarlett mengarah ke belakang tubuh Caspian, memandang sekeliling taman yang indah, penuh bunga lili, dan beraroma tanah basah yang menyegarkan. Lalu tatapannya kembali lagi pa

  • Sang Villainess Yang Disayang   148. Kecemburuan Yang Lain

    Langit fajar bersemburat warna jingga keemasan ketika kabut tipis mulai menguap dari halaman mansion megah Penguasa Kota. Di area halaman depan yang luas, sebuah kereta zirah militer yang kokoh dengan lambang elang besi telah bersiap. Di luar gerbang utama, sayup-sayup terdengar derap langkah kaki kaki-kaki kuda dan gemerincing zirah dari pasukan elit kekaisaran yang telah bersiap mengawal sang Panglima Tertinggi menuju Barak Militer Pusat perbatasan. Di sana, Scarlett berdiri anggun berbalut gaun pagi sutra, dikelilingi oleh Valerian, Elian, Killain, dan Zayn. Valerian melangkah maju, memotong sisa jarak di antara dirinya dan Scarlett. Tanpa memedulikan keberadaan ketiga pria lainnya, sang panglima langsung merengkuh erat tubuh Scarlett ke dalam pelukan dadanya yang bidang, mendekapnya begitu posesif sebagai tanda perpisahan sebulan penuh. "Aku pergi, Scarlett. Ingat baik-baik janjimu malam tadi. Jaga dirimu, dan jangan biarkan rubah licik atau makhluk air itu merayumu selama

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status