Share

44. Fetis Aneh Zayn

Author: Hydragea
last update publish date: 2026-07-13 14:47:45

Detik ketika gelembung magis itu pecah dan air laut dalam yang sedingin es menerjang tubuhnya, Scarlett baru tersadar sepenuhnya.

Insting biologisnya sebagai manusia daratan langsung memaksa kedua tangannya membekap mulut, mati-matian menahan napas agar paru-parunya tidak tenggelam dalam cairan pekat samudra.

Namun, sebelum tekanan air laut dalam sempat meremukkan tulang-tulangnya, sebuah keajaiban magis mendadak tercipta.

Di atas dahi porselen Scarlett, muncul sebuah simbol ukiran kuno
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Villainess Yang Disayang   155. Jenderal Yang Baru

    Suasana ruang kerja yang megah namun sunyi. Lilin-lilin besar menerangi meja kayu jati yang dipenuhi tumpukan dokumen dan peta wilayah. Pintu ruang ganda terbuka. Scarlett melangkah masuk dengan gaun berwarna ungu lilac–ciri khasnya, yang sedikit berdebu, kelelahan setelah melewati hari panjang dengan berdebat bersama Caspian. "Sialan. Caspian benar-benar sudah gila." batinnya menggerutu sepanjang perjalanan. Killain berjalan satu langkah di belakangnya, tangan kanannya secara refleks selalu berada di dekat gagang pedangnya. Scarlett menghela napas panjang. Ia berjalan menuju kursi kebesarannya di balik meja kerja, lalu mendudukkan diri. Baru saja punggung Scarlett menyentuh sandaran kursi, mencoba mencari ketenangan— BRAKK!!! Pintu ruang kerja dibuka paksa dari luar hingga membentur dinding dengan keras. Killain langsung melesat ke depan Scarlett, menghunuskan separuh pedangnya dari sarung dengan bunyi desingan logam yang tajam. Prajurit Garth, utusan setia Valeria

  • Sang Villainess Yang Disayang   154. Derita di Balik Tembok Suci

    Mendengar tuduhan polos yang mengarah pada Scarlett, detak jantung Caspian seolah berhenti.Rasa ketakutan yang teramat besar langsung menyerang dadanya—bukan takut akan takdir hukum gereja, melainkan ketakutan jika nama baik Scarlett kembali dicap jelek, kejam, dan jahat oleh seluruh lapisan masyarakat setelah semua usaha pembersihan nama yang mereka lakukan.Caspian mempererat genggaman tangannya pada jemari sang anak, menggelengkan kepalanya dengan terburu-buru dan panik."Tidak, Sayang! Tolong jangan pernah berpikiran seperti itu! Nona Penguasa Kota Scarlett sama sekali bukan orang yang jahat!"Caspian menoleh menatap Scarlett dari samping sesaat, sebelum kembali memusatkan pandangannya pada anak kecil di depannya."Penguasa Kota... dia adalah wanita yang sangat mulia, bahkan jauh lebih suci dari siapa pun di kekaisaran ini!"Anak kecil itu mengerjapkan matanya yang masih basah oleh air mata, menatap bingung."Benarkah, Pendeta Agung? Tapi kata para pendeta senior yang lain, Nona

  • Sang Villainess Yang Disayang   153. Pertanyaan Yang Memaku Jiwa

    PLAK! Suara hantaman telapak tangan Scarlett yang mendarat keras di pipi Caspian menggema nyaring di bawah selasar paviliun yang sunyi . Tamparan itu begitu tiba-tiba, memaksa kepala sang Pendeta Agung menoleh ke samping. Caspian seketika membatu. Gejolak emosi batin dan tekad gilanya yang berapi-api runtuh dalam sekejap, digantikan oleh sorot mata yang kembali berubah menjadi lugu dan polos. Dia menatap nanar ke arah Scarlett, meraba pipinya yang terasa panas dengan ujung jemarinya yang gemetar, benar-benar syok karena baru saja ditampar oleh wanita yang dia agungkan sebagai Tuhannya. "Buka matamu dan sadarlah, Caspian bodoh!" bentak Scarlett dengan napas memburu dan dada naik turun menahan amarah yang membuncah. Scarlett mencengkeram bahu Caspian, mengguncangnya kasar sembari meluapkan seluruh kekesalan dan usaha keras yang telah dia lakukan demi pria itu. "Kamu pikir posisi Pendeta Agung yang kamu duduki sekarang adalah barang murah yang bisa kamu buang begitu saja karena e

  • Sang Villainess Yang Disayang   152. Penangguhan Pelepasan

    Beberapa saat yang lalu... Suasana di bawah selasar batu putih terasa amat dingin dan kaku. Empat pendeta senior berpakaian jubah bersulam benang emas berdiri mengelilingi Caspian yang tampak tegak, tak bergeming dengan keputusan gila yang dibawanya dari Taman Gethsemane. Pendeta Senior 1, memasang wajah prihatin yang dibuat-buat, memegang sebuah perkamen besar berisi sumpah pelepasan. "Pendeta Agung Caspian, kami akan menanyakan ini untuk terakhir kalinya sebelum segalanya terlambat. Pikirkanlah matang-matang. Melepas jabatan Pendeta Agung bukan hal sepele." Pendeta Senior 2, menimpali dengan nada berat, pura-pura panik. "Benar, Caspian! Kamu adalah pilar kejujuran di Gereja Suci ini! Jika kamu pergi, bagaimana kami harus menjelaskan pada seluruh rakyat kekaisaran?!" Namun, di balik topeng keprihatinan itu, hati para pendeta senior bersorak senang bukan main. Mereka diam-diam tersenyum licik

  • Sang Villainess Yang Disayang   151. Mencari Caspian

    Kelopak bunga lili putih mistis bergoyang lambat ditiup angin, saksi bisu dari keputusan paling radikal yang pernah terucap di bawah pohon zaitun kuno. Setelah mendeklarasikan niatnya untuk menanggalkan jubah suci, atmosfer di sekeliling Caspian membeku dengan wibawa yang absolut. Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, pria bertubuh tinggi tegap itu membalikkan badannya secara tegas. Jubah putihnya berkibar menyapu kelopak bunga lili saat dia melangkah lebar meninggalkan Scarlett. Tekadnya sudah bulat seutuhnya. Tujuannya kali ini sangat jelas: menemui jajaran pendeta senior untuk melakukan ritual pelepasan sumpah suci dan menanggalkan jabatan Pendeta Agung demi menjadi pelayan pribadi Scarlett agar bisa melangsungkan pernikahan pengikat kontrak totem binatang. Scarlett berdiri mematung, tubuhnya membeku seketika di tengah taman yang sunyi. Pikirannya melayang jauh, dilingkupi oleh kecemas

  • Sang Villainess Yang Disayang   150. Tekat Baru Caspian

    Kata "Tidak" yang keluar begitu tegas dari bibir Scarlett bergaung di antara deru angin yang menggoyangkan kelopak lili putih di sekitar mereka.Kehangatan yang sempat menyelimuti Taman Gethsemane menguap dalam sekejap, menyisakan keheningan yang luar biasa kaku dan mencekam.Caspian membatu di tempatnya berdiri. Sepasang manik mata abu-perak miliknya yang semula berbinar penuh harapan kini mendadak meredup, menyipit tajam dihantam rasa syok yang teramat besar. Genggaman pada jubah pendeta putihnya mengerat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan beban hantaman emosional yang seakan meremukkan seluruh harga diri dan ketulusan jiwanya."Tidak...? Mengapa, Nona?" Suaranya terdengar begitu lirih, parau, dan bergetar hebat oleh luka yang menyayat hati.Dia menunduk sesaat, lalu mendongak. kembali membuka mulutnya melanjutkan ucapannya."Tolong katakan alasanmu... Kenapa kamu menolaknya begitu spontan?"Scarlett

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status