LOGINValerian menangkap perubahan sekecil apa pun pada ekspresi Caspian.
Sebagai siluman elang, instingnya langsung memberi peringatan. Ia merasakan aura milik Caspian mulai berubah. Aura rusa yang biasanya lembut kini memancarkan tekanan yang jauh lebih kuat. Valerian tidak melepaskan genggaman tangannya. Sebaliknya... Aura elang hitamnya perlahan menyebar. Tak menyerang. Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak akanSuara gemericik air yang dimainkan terdengar memenuhi ruang mandi Scarlett. Di Tepian kolam berendam, Caspian yang berdiri di atas lutut dengan kaku. Kedua matanya terpejam rapat, menyisakan gurat kecemasan dan rona merah di kedua pipinya. Jubah putih keemasannya yang agung tampak kontras dengan atmosfer ruangan yang intim. Scarlett terkekeh manja, menyandarkan tubuhnya di tepian kolam. Lihat pendeta tampan yang polos dan lugu ini! Menggemaskan! "Buka matamu, Caspian. Bagaimana bisa kau membantuku mandi dan berganti pakaian jika matamu terus terpejam seperti itu? Apakah tubuhku ini terlihat seperti monster yang menakutkan bagimu?" Caspian menjawab dengan suaranya bergetar, jakunnya naik turun karena gugup. "Ma-maafkan aku Nona Scarlett... Perbuatan ini... melanggar sumpah kesucian yang hamba pegang. Hamba tidak pantas melihat..." Scarlett memercikkan air ke arah Caspian sambil tersenyum menggoda. "Aku adalah tuanmu saat ini, Pendeta Suci. Perintahku adalah sumpah barumu. Ay
"Apa isi ujian yang akan di lakukan besok?" Caspian menarik napas pelan sebelum menjawab. Wajahnya berubah serius. "Ujian kali ini jauh lebih berat..." Caspian menggantung ucapannya. Scarlett mengangkat alisnya. "Para peserta harus melewati tiga wilayah berbahaya." Ia mengangkat satu jari. "Pertama... peserta harus melewati 'Hutan Tersembunyi Kabut Ilusi'" Jari kedua terangkat. "Kedua... melewati 'Gurun Pasir Hisap Api'" Jari ketiga menyusul. "Terakhir... bertahan hidup di 'Gunung Salju Es Beku'" Caspian menatap Scarlett. "Setiap peserta diwajibkan mencapai puncak gunung dan menancapkan bendera sebagai bukti telah menyelesaikan ujian. Barulah peserta dinyatakan lulus." Scarlet
Lorong kediaman keluarga Grand Duke begitu sunyi. Scarlett berhenti tepat di depan sebuah pintu besar berwarna putih gading. Pintu kamar Rosalie. Caspian berdiri satu langkah di belakangnya. "Nona Besar..." Scarlett tidak menjawab. Tatapannya hanya tertuju pada pintu di hadapannya. Perlahan, ia mengangkat tangan. KREK! Pintu itu terdorong terbuka. Ruangan di dalam tampak rapi. Terlalu rapi. Tak ada satu benda pun yang tampak berantakan. Di dekat jendela, seorang wanita duduk dengan tenang. Rosalie. Ia duduk menghadap ke luar, memandangi taman seperti yang selalu diceritakan para pelayan. Tidak bergerak. Tidak menoleh. Seolah kedatangan Scarlett dan Caspian sama sekali tidak mengganggunya. Caspian mengembuskan napas pelan. "Jadi benar..." Namun Scarlett justru menyipitkan mata.
Valerian menangkap perubahan sekecil apa pun pada ekspresi Caspian. Sebagai siluman elang, instingnya langsung memberi peringatan. Ia merasakan aura milik Caspian mulai berubah. Aura rusa yang biasanya lembut kini memancarkan tekanan yang jauh lebih kuat. Valerian tidak melepaskan genggaman tangannya. Sebaliknya... Aura elang hitamnya perlahan menyebar. Tak menyerang. Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak akan mundur. Dalam sekejap, udara di antara kedua pria itu terasa jauh lebih berat. Scarlett yang berada tepat di tengah langsung merasakan perubahan tersebut. Bulu kuduknya meremang. Tatapannya bergantian antara Valerian dan Caspian. Meski keduanya masih berdiri tenang, tekanan spiritual yang saling berhadapan mulai memengaruhi udara di sekitar mereka. Scarlett mengembuskan napas pelan.
Sorak kemenangan masih menggema di seluruh ngarai. Scarlett berdiri beberapa langkah dari kerumunan, mengembuskan napas panjang. Tiba-tiba, suara Pixie kembali terdengar di dalam benaknya. TING! "Poin ketertarikan Valerian meningkat. Poin saat ini: 80 per 100." Scarlett mengangkat alis. Belum sempat ia bereaksi, layar sistem kembali berpendar. "Selamat, Inang! Anda memperoleh hadiah misterius. Item Eksklusif: Jubah Bulu Elang Hitam Api. Efek: Serangan +40%, Penyembuhan +35%, Kecepatan +25%. Dalam radius 5 meter dari pemakai dapat menangkal satu efek negatif." Mata Scarlett langsung berbinar. Sudut bibirnya terangkat. "...Akhirnya." Dia tersenyum puas. "Gak sia-sia." Pixie terdengar terkikik. "Sistem tidak pernah mengecewakan in
Sebelum Scarlett sempat bereaksi, Valerian telah membawa Scarlett terbang bersamanya. Angin kencang menerpa wajah mereka. Scarlett segera mengaktifkan lapisan pelindung spiritual tipis di sekitar tubuhnya untuk meredam terpaan angin saat mereka melesat di udara. Begitu posisi mereka stabil, Scarlett langsung memahami maksud Valerian. Ia mengangkat busur peralatan dewanya. Tatapannya menyapu medan perang dari ketinggian. "Terbang lebih tinggi." Valerian langsung mengepakkan sayapnya. Mereka naik semakin tinggi hingga seluruh formasi musuh terlihat jelas di bawah. Scarlett menarik tali busur. Busur dewa itu memancarkan cahaya terang. Pada saat yang sama, hadiah sistem yang baru diperolehnya aktif. TING! "Kemampuan: Tembakan Beruntun." Energi spiritual berkumpul di







