LOGINKelopak mata Scarlett perlahan terbuka kembali. Namun, sensasi pertama yang menyerang inderanya bukan lagi rasa sakit yang menusuk atau aroma anyir darah dari alun-alun takhta. Tidak ada juga suara tangisan histeris yang parau dari para suami binatangnya yang mengiringi kepergian jiwanya beberapa saat lalu.Saat pandangan matanya menjadi jelas, Scarlett menyadari bahwa dirinya saat ini sedang terbaring di tengah-tengah sebuah lingkup dunia yang asing—sebuah dimensi luas yang serba putih bersih tanpa ujung, tanpa dinding, dan tanpa batas cakrawala yang jelas. Tempat itu begitu sunyi, begitu damai, dan diselimuti oleh pendaran cahaya terang yang tidak menyilaukan mata. Scarlett sendiri benar-benar tidak tahu di mana dia berada saat ini.Dengan sisa-sisa tenaga yang entah bagaimana terasa telah pulih seutuhnya, Scarlett berusaha untuk mendudukkan tubuh rampingnya di atas hamparan ruang putih tersebut. Dia memijit pelan pelipisny
"Nona Scarlett... Dengar suaraku, kumohon jangan tutup matamu!" panggil Caspian lagi dengan nada parau yang kian menyayat hati. Valerian menggenggam sangat erat telapak tangan kanan Scarlett yang terasa sangat dingin di dalam genggamannya. Seluruh urat saraf di tubuh sang jenderal perang tampak menegang, dia mencoba mengerahkan seluruh energi internal emasnya untuk disalurkan masuk ke dalam tubuh Scarlett, berharap bisa menahan kepergian jiwanya. Namun, semua usaha keras itu sama sekali tidak membuahkan hasil sedikit pun; tubuh Scarlett menolak setiap pasokan energi luar karena inti spiritual mentalnya telah melebur habis. "Bertahanlah, Scarlett! Aku memerintahmu untuk tetap bertahan hidup!" teriak Valerian, suaranya yang biasa menggelegar di medan laga kini terdengar sangat pecah dan ketakutan. "Aku... aku akan segera membawamu pulang untuk berobat ke tabib terbaik di seluruh kekaisaran! Jadi, kumohon jangan menyerah!" Kondisi fisik Scarlett saat ini sudah benar-benar b
Dari arah jendela ruangan yang pengap dan terisolasi, Rosalie masih berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki. Namun, detik berikutnya, sepasang matanya yang dipenuhi kabut kegilaan melebar sempurna. Dia menyaksikan seberkas cahaya putih murni yang sangat berkilau, bercampur dengan kekuatan spiritual mental tingkat lima milik Scarlett, membumbung tinggi menembus langit Kota. Cahaya pemurnian itu begitu dahsyat, menelan seluruh kabut hitam kutukan yang dia kirimkan. Rosalie mengetatkan rahangnya dengan keras, giginya bergemeletuk menahan rasa tidak percayanya. 'Tidak... Bagaimana mungkin kekuatan wanita sialan itu bisa melampaui batas monster purba?!’ jeritnya dalam hati. Namun, konsekuensi dari kontrak darah terlarang tidak pernah berjalan sepihak. Bersamaan dengan lenyapnya seluruh energi kegelapan di dalam tubuh Monster Aura, ikatan kutukan yang menempel pada jiwa Rosalie berbalik menghantam dirinya sendiri. Efek serangan balik magis itu terasa seribu kali lipat
"Apa... Nyawaku sendiri?!"Scarlett mengulang kalimat dari sistem itu dengan bibir yang bergetar hebat. Rasa sakit yang menusuk pusat kesadarannya seakan memudar, digantikan oleh kekosongan yang mendadak melingkupi kepalanya. "Harga yang teramat mahal sekali..." lanjut Scarlett lirih, suaranya nyaris tenggelam di antara raungan beringas Monster Aura yang terus menghantam dinding pertahanan lima warna di depannya. TING! Monitor sistem berkedip agresif, menampilkan warna merah peringatan yang kian pekat. Suara Pixie kembali bergema, namun kali ini nadanya terdengar begitu dingin, menusuk, dan penuh dengan cemoohan yang tajam. "Inang jangan pernah melupakan identitas aslimu! Anda adalah Tuan dari Sistem Antagonis. Mengorbankan diri demi menyelamatkan entitas NPC virtual di dunia ini justru melanggar aturan inti sistem! Sadarlah, mereka semua hanyalah deretan kode dan karakter fiksi yang tidak perlu dipedulikan hidup maupun matinya! Fokuslah pada kepulanganmu!" Mendengar kal
Mendengar permohonan dari rakyatnya, Scarlett tidak membiarkan ketakutan menguasai dirinya. Sebagai Penguasa Kota yang akan dinobatkan, dia menegakkan punggungnya, menatap lurus ke arah kubah ungu yang terus digedor dari dalam. Suaranya bergema penuh otoritas, dilingkupi energi sihir yang menenangkan penonton. "Tenanglah! Aku akan menyelamatkan kalian semua!" seru Scarlett lantang. Dengan langkah yang anggun namun sarat akan ketegasan, Scarlett maju satu langkah lebih dekat ke arah kubah perisai transparan tersebut. Di dalam sana, sang Monster Aura yang telah terdistorsi melihat pergerakan Scarlett. Makhluk raksasa itu langsung mengaum jauh lebih keras, menghentakkan keempat kaki kekarnya hingga menciptakan guncangan hebat yang meretakkan lantai marmer altar. Scarlett tetap berdiri dengan kokoh. Detik berikutnya, sekujur tubuh indahnya mendadak meledakkan pancaran aura magis berwarna ungu yang sangat pekat dan berkilauan—ciri khas dari manifestasi kekuatan spiritual mental tin
Di tengah-tengah alun-alun takhta yang megah, seekor makhluk agung berukuran luar biasa kini telah menampakkan wujudnya di hadapan publik. Makhluk itu adalah seekor Monster Aura purba. Tubuhnya menjulang tinggi setara dengan sepuluh kaki orang dewasa, diselimuti oleh lapisan bulu tebal berwarna putih bersih yang berkilau di bawah sinar matahari pagi. Sepasang manik mata emasnya memancarkan kemurnian yang teduh, sementara sekujur tubuhnya mengalirkan pendaran aura putih bersih yang terasa sangat suci, menenangkan, dan hangat. Saat ini, monster raksasa itu sedang duduk dengan tenang di atas lantai marmer, sesekali mengibaskan ekor panjangnya yang lembut dengan ritme yang lambat.Sang MC yang berdiri di samping altar takhta, berteriak dengan nada suara yang penuh kekaguman dan antusiasme yang membubung tinggi."Para Hadirin sekalian! Inilah dia, sang Monster Aura Anugerah Bintang! Makhluk suci yang terkenal sangat jinak dan ditakdirkan menjadi pelindung mutlak wilayah kita selama bera







