LOGIN"ARGHHH!"
Teriakan kesakitan yang melengking tinggi dari Pendeta Agung menggema hebat di seluruh sudut alun-alun rahasia gereja ilusi tersebut. Darah segar menetes dari telapak tangannya yang tertembus anak panah spiritual. Kejadian mendadak itu seketika membuat kaget semua pendeta senior dan para bawahan yang ada di sana. Mereka langsung panik dan memasang posisi wasMendengar tuduhan polos yang mengarah pada Scarlett, detak jantung Caspian seolah berhenti.Rasa ketakutan yang teramat besar langsung menyerang dadanya—bukan takut akan takdir hukum gereja, melainkan ketakutan jika nama baik Scarlett kembali dicap jelek, kejam, dan jahat oleh seluruh lapisan masyarakat setelah semua usaha pembersihan nama yang mereka lakukan.Caspian mempererat genggaman tangannya pada jemari sang anak, menggelengkan kepalanya dengan terburu-buru dan panik."Tidak, Sayang! Tolong jangan pernah berpikiran seperti itu! Nona Penguasa Kota Scarlett sama sekali bukan orang yang jahat!"Caspian menoleh menatap Scarlett dari samping sesaat, sebelum kembali memusatkan pandangannya pada anak kecil di depannya."Penguasa Kota... dia adalah wanita yang sangat mulia, bahkan jauh lebih suci dari siapa pun di kekaisaran ini!"Anak kecil itu mengerjapkan matanya yang masih basah oleh air mata, menatap bingung."Benarkah, Pendeta Agung? Tapi kata para pendeta senior yang lain, Nona
PLAK! Suara hantaman telapak tangan Scarlett yang mendarat keras di pipi Caspian menggema nyaring di bawah selasar paviliun yang sunyi . Tamparan itu begitu tiba-tiba, memaksa kepala sang Pendeta Agung menoleh ke samping. Caspian seketika membatu. Gejolak emosi batin dan tekad gilanya yang berapi-api runtuh dalam sekejap, digantikan oleh sorot mata yang kembali berubah menjadi lugu dan polos. Dia menatap nanar ke arah Scarlett, meraba pipinya yang terasa panas dengan ujung jemarinya yang gemetar, benar-benar syok karena baru saja ditampar oleh wanita yang dia agungkan sebagai Tuhannya. "Buka matamu dan sadarlah, Caspian bodoh!" bentak Scarlett dengan napas memburu dan dada naik turun menahan amarah yang membuncah. Scarlett mencengkeram bahu Caspian, mengguncangnya kasar sembari meluapkan seluruh kekesalan dan usaha keras yang telah dia lakukan demi pria itu. "Kamu pikir posisi Pendeta Agung yang kamu duduki sekarang adalah barang murah yang bisa kamu buang begitu saja karena e
Beberapa saat yang lalu... Suasana di bawah selasar batu putih terasa amat dingin dan kaku. Empat pendeta senior berpakaian jubah bersulam benang emas berdiri mengelilingi Caspian yang tampak tegak, tak bergeming dengan keputusan gila yang dibawanya dari Taman Gethsemane. Pendeta Senior 1, memasang wajah prihatin yang dibuat-buat, memegang sebuah perkamen besar berisi sumpah pelepasan. "Pendeta Agung Caspian, kami akan menanyakan ini untuk terakhir kalinya sebelum segalanya terlambat. Pikirkanlah matang-matang. Melepas jabatan Pendeta Agung bukan hal sepele." Pendeta Senior 2, menimpali dengan nada berat, pura-pura panik. "Benar, Caspian! Kamu adalah pilar kejujuran di Gereja Suci ini! Jika kamu pergi, bagaimana kami harus menjelaskan pada seluruh rakyat kekaisaran?!" Namun, di balik topeng keprihatinan itu, hati para pendeta senior bersorak senang bukan main. Mereka diam-diam tersenyum licik
Kelopak bunga lili putih mistis bergoyang lambat ditiup angin, saksi bisu dari keputusan paling radikal yang pernah terucap di bawah pohon zaitun kuno. Setelah mendeklarasikan niatnya untuk menanggalkan jubah suci, atmosfer di sekeliling Caspian membeku dengan wibawa yang absolut. Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, pria bertubuh tinggi tegap itu membalikkan badannya secara tegas. Jubah putihnya berkibar menyapu kelopak bunga lili saat dia melangkah lebar meninggalkan Scarlett. Tekadnya sudah bulat seutuhnya. Tujuannya kali ini sangat jelas: menemui jajaran pendeta senior untuk melakukan ritual pelepasan sumpah suci dan menanggalkan jabatan Pendeta Agung demi menjadi pelayan pribadi Scarlett agar bisa melangsungkan pernikahan pengikat kontrak totem binatang. Scarlett berdiri mematung, tubuhnya membeku seketika di tengah taman yang sunyi. Pikirannya melayang jauh, dilingkupi oleh kecemas
Kata "Tidak" yang keluar begitu tegas dari bibir Scarlett bergaung di antara deru angin yang menggoyangkan kelopak lili putih di sekitar mereka.Kehangatan yang sempat menyelimuti Taman Gethsemane menguap dalam sekejap, menyisakan keheningan yang luar biasa kaku dan mencekam.Caspian membatu di tempatnya berdiri. Sepasang manik mata abu-perak miliknya yang semula berbinar penuh harapan kini mendadak meredup, menyipit tajam dihantam rasa syok yang teramat besar. Genggaman pada jubah pendeta putihnya mengerat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan beban hantaman emosional yang seakan meremukkan seluruh harga diri dan ketulusan jiwanya."Tidak...? Mengapa, Nona?" Suaranya terdengar begitu lirih, parau, dan bergetar hebat oleh luka yang menyayat hati.Dia menunduk sesaat, lalu mendongak. kembali membuka mulutnya melanjutkan ucapannya."Tolong katakan alasanmu... Kenapa kamu menolaknya begitu spontan?"Scarlett
"Caspian... Kenapa kamu berada di sini seorang diri?" Suara Scarlett mengalun lembut. Caspian tersentak dalam lamunannya. Kepala pemuda itu mendongak perlahan, membuat sepasang manik mata abu-perak miliknya yang jernih langsung beradu pandang dengan mata ungu Scarlett yang menatapnya lekat-lekat. "Nona Scarlett... Kenapa Anda berada di sini?" Suaranya terdengar begitu lirih dan datar, mencoba menyembunyikan riak emosi di dadanya"Hari ini adalah hari penting setelah penobatan Anda, tidak seharusnya Anda membuang waktu di taman gereja yang sepi ini."Scarlett melangkah maju dua langkah lagi, melipat kedua belah tangannya di depan dada. Berdiri dengan mencondongkan wajahnya ke arah Caspian."Kenapa aku di sini? Tentu saja untuk mencarimu, Caspian."Tatapan Scarlett mengarah ke belakang tubuh Caspian, memandang sekeliling taman yang indah, penuh bunga lili, dan beraroma tanah basah yang menyegarkan. Lalu tatapannya kembali lagi pa







