LOGINMendengar kalimat pembebasan yang meluncur dari bibir Zayn, Scarlett tidak langsung menunjukkan rasa puas yang meledak-ledak. Sebaliknya, dia justru menghentikan gerakan tangannya di kepala Zayn.
Dengan keanggunan yang tenang, Scarlett mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata biru pria yang postur tubuhnya jauh lebih tinggi dan tegap darinya itu.Tangan kanan Scarlett perlahan bergerak turun, meraba lembut bidang dada Zayn yang tersembunyi di balik jubah mewah pemberKLIK. Pintu kayu mahoni milik ruang VIP restoran mewah itu terbuka perlahan. Sesosok pria dengan langkah tegap melangkah masuk ke dalam ruangan. Pria itu adalah Elian. Namun, penampilannya kali ini tampak berbeda dari beberapa saat lalu. Dia datang tanpa mengenakan jubah mewah bulan bintang ataupun zirah kebesaran miliknya. Hanya menyisakan kemeja formal kekaisaran yang terkancing rapi hingga ke leher. Setelah menutup pintu rapat-rapat di belakang punggungnya, sepasang mata rubah milik Elian langsung bergerak menyapu ruangan. Pandangannya terkunci pada sosok Scarlett yang sudah duduk manis menantinya di balik meja makan bundar. Elian menatapnya dengan tatapan mata yang luar biasa datar, kaku, dan dingin. Sebaliknya, Scarlett sama sekali tidak terpengaruh oleh atmosfer membeku yang dibawa oleh sang Putra Mahkota. Wanita bergaun lilac itu justru s
"Maaf," jawab Elian, suaranya terdengar bariton, kaku, dan tanpa fluktuasi emosi sedikit pun. "Aku di sini hanya menangani urusan resmi kekaisaran. Aku tidak memiliki waktu untuk menghadiri undangan pribadi yang tidak penting, apalagi membuang waktu untuk sekadar minum alkohol." Taktik godaan yang dilancarkan Scarlett ternyata tidak membuahkan hasil instan seperti biasanya. Di dalam dimensi batin ini, pesona sensual yang ia pancarkan seolah membentur dinding es yang tebal. Elian sama sekali tidak bergeming. Alih-alih terbuai oleh tatapan genit Scarlett, sepasang mata rubah milik pria itu justru memancarkan kilat ketidaksukaan yang amat ketara Scarlett seketika tertegun di tempatnya berdiri, matanya membelalak kecil karena terkejut. Di dalam benaknya, rasa heran bercampur tidak percaya bergejolak hebat. "Mengapa situasinya menjadi seperti ini?" Scarlett bertanya-tanya, menatap bingung pada sosok di hadapannya
Setelah perbincangan intim di bawah siraman cahaya bintang di atas atap gazebo mereda, kesadaran Scarlett kini telah berpindah. Dia sudah berada di dalam keheningan kamar tidur utamanya yang megah. Tanpa membuang-buang waktu yang berharga untuk beristirahat, wanita bergaun lilac itu langsung memfokuskan pikirannya. Dia memanggil Pixie di dalam benaknya, lalu berbisik dengan nada suara yang sangat dingin dan tegas. "Sistem, Akses ruang batin Elian sekarang juga." "Perintah diterima. Memproses pengurangan poin penderitaan... Membuka kunci gerbang dimensi khusus. Sedang mengakses ruang batin target keempat: Elian." WUSH! Seketika itu juga, monitor virtual transparan di depan wajahnya menyala dengan pendaran cahaya merah keunguan yang pekat. Detik berikutnya sistem berkata. "Akses Berhasil." Gelom
Scarlett tahu betul niat itu, namun dia mengiyakan ajakan Elian. Elian memantapkan posisinya. Tanpa memedulikan tatapan penuh tanya dari para bangsawan yang tersisa di aula perjamuan, dia membawa Scarlett pergi dari sana. Pria itu menggendong Scarlett dengan gaya bridal style—mendekap tubuh ramping sang Penguasa Kota yang baru dengan sangat posesif di dada bidangnya. Langkah kaki sepatu bot Elian terdengar sangat mantap saat menaiki undakan tangga batu menuju lantai tertinggi mansion. Tidak ada sedikit pun riak oleng pada tubuh tegapnya, membuktikan bahwa toleransi alkohol sang Putra Mahkota ras rubah ini memang berada di tingkatan yang luar biasa tinggi. Ketika mereka akhirnya sampai di area atap aula perjamuan, embusan angin malam yang sejuk langsung menerpa kulit mereka, menyapu sisa-sisa aroma pekat alkohol dari dalam ruangan tadi. Di sana, terdapat sebuah gazebo terbuka yang megah dengan alas karpet beludru yang nyaman. Elian menurunkan Scarlett dengan sangat hati-hati,
Malam itu, aula utama kediaman dipenuhi oleh kemegahan yang luar biasa. Elian, dengan segala pesona dan koneksi luasnya sebagai seorang Putra Mahkota, mengadakan sebuah jamuan perayaan yang teramat mewah. Acara ini digelar khusus untuk merayakan kemenangan mutlak Scarlett yang kini telah resmi dinobatkan sebagai Penguasa Kota yang baru. Musik klasik mengalun indah, berpadu dengan dentingan gelas-gelas kristal berisi anggur terbaik. Namun, seiring berjalannya waktu dan pekatnya malam, kekuatan alkohol mulai bekerja pada tubuh para pria perkasa di sekeliling Scarlett. Valerian, sang panglima perang yang biasanya berdiri kokoh bagai tebing karang, kini tampak goyah. Efek wine madu yang pekat membuat kesadarannya menipis. Saat mencoba bangkit berdiri dari kursi kebesarannya, tubuh kekarnya limbung dan hampir saja jatuh tersungkur ke lantai. Beruntung, Caspian yang duduk tidak jauh darinya memiliki refleks yang sigap. Pendeta Agung itu langsung melangkah maju dan menopang tu
Gemuruh sorak-sorai di dalam aula Grand Forum of Trials masih terdengar membahana. Di tengah keriuhan itu, gerbang dimensi emas di sebelah Scarlett mendadak meredup dan hancur perlahan. Sosok Rosalie melangkah keluar dengan napas yang memburu. Namun, begitu kedua kelopak matanya terbuka sempurna dan indera pendengarannya menangkap gema suara MC yang mengumumkan kemenangan telak Scarlett, tubuh Rosalie seketika membeku. Wajahnya yang semula penuh ambisi langsung memucat pasi. Dia tercengang, menatap layar magis dengan pandangan tidak percaya. "Tidak mungkin... Tidak mungkin aku kalah!" teriak Rosalie, suaranya melengking frustrasi di antara kerumunan. Kedua belah tangannya mengepal dengan sangat kuat di sisi gaun kuning emasnya hingga kain berenda itu kusut. Rasa hancur dan amarah yang meluap membuat akal sehatnya hilang. Dia berteriak histeris ke arah pang







