Share

Part 5

Di tempat lain, di sebuah Pub tampak seorang gadis cantik duduk seorang diri menikmati kepulan asap yang lolos dari bibir seksinya. Dalam diam, gadis itu teringat kembali pada sebuah lembaran kenangan yang masih sangat terasa menyakitkan untuknya.

"Perempuan itu melabrakku, Kak. Dia menyebutku sebagai perempuan murahan, perempuan itu juga menyuruh seseorang untuk menyakiti dan memaksaku meninggalkan Mas Pras, padahal di antara kami nggak ada apa-apa. Aku takut papa dan Adi marah. Adi pasti ninggalin aku kalau tahu aku udah nggak perawan lagi gara-gara lelaki suruhan perempuan itu, Kak. Rasanya aku nggak sanggup bila harus hidup menanggung malu, Kak. Lebih baik aku mati," isak Sasti, adik perempuan kesayangannya kembali terngiang di telinga dan ingatannya.

'Aaarrggh! Bangsat! Sialan! Kakak akan membalaskan sakit hatimu sama mereka, Dek! Kakak janji, Kakak nggak akan lepasin mereka sebelum mereka merasakan penderitaan seumur hidup yang akan membuat mereka menyesal karena telah mencelakaimu!' desis Rasti geram.

Rasti menyeringai jahat sembari mengusap kasar air mata di sudut kedua matanya.

Seperti seorang psikopat profesional, dia sudah menyusun begitu banyak rencana di dalam otak dan semuanya sudah dia awali dengan mendekati kemudian menjadikan anak gadis perempuan itu sebagai sahabat dekatnya.

'Kamu tenang aja, Dek. Kakak sudah menyusun berbagai rencana untuk menghancurkan perempuan itu dan keluarganya. Mereka semua akan membayarnya!' gumam Rasti dengan geramnya.

Perempuan itu memang tidak tahu siapa Sasti Hendrawan sebenarnya. Roy Hendrawan, salah seorang pengusaha batu bara ternama itu adalah ayah Rasti dan Sasti Hendrawan.

Perempuan itu hanya tahu Sasti adalah sekretaris magang di perusahaan suaminya yang pada masa itu tengah di dekati diam-diam oleh suaminya.

'Sasti, jangan pernah kau bermimpi untuk merebut suamiku, karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan bermurah hati padamu dengan memberikan sebuah peringatan ringan saja agar kau menjauhi Mas Irvan,' gumam perempuan paruh baya yang masih kelihatan cantik di usianya itu.

Citra, perempuan itu pun kemudian memutuskan untuk menyewa jasa seorang detektif swasta untuk menyelidiki hal tersebut.

Detektif swasta itu diberinya tugas untuk menjauhkan Sasti dari suaminya dengan syarat tanpa melukai siapa pun.

[Halo, Pak Doni. Saya punya tugas yang harus bapak kerjakan sekarang!]

Perintah perempuan itu kepada Doni, detektif swasta yang dia sewa.

[Siap, Bu! Tugas apa yang harus saya kerjakan?]

Tanya Doni pada perempuan yang menyewanya.

[Saya minta tolong Pak Doni jauhkan perempuan muda di dalam foto ini dari suami saya.]

Ucap perempuan setengah baya itu sambil membuka-buka ponselnya mencari foto gadis muda yang dia maksud.

[Kalau dia mau uang, beri berapa pun yang dia mau, asal dia menjauh dari suami dan keluarga saya selamanya!]

Selanjutnya perempuan itu mengirim sebuah foto melalui aplikasi hijau kepada Doni.

[Baik, Bu! Siap, laksanakan!]

Tukas Doni menerima perintah dari bosnya itu.

[Bagus! Ingat! Kerjakan dengan rapi dan bersih! Jangan lukai siapa pun! Tarif Pak Doni akan saya transfer begitu semuanya beres.]

Ucap perempuan itu sebelum akhirnya dia menutup ponselnya dengan senyum sinis memandang foto Sasti sambil menggumam, 'menjauh dari suamiku, maka kau akan selamat setidaknya untuk saat ini.'

Drrt! Drrt! Drrt! Drrt!

Sontak Rasti tersadar dari lamunannya ketika merasakan ponselnya kembali bergetar untuk kesekian kalinya, dilihatnya siapa yang meneleponnya dan seringaian kembali menghiasi bibirnya saat dia membaca nama Kania tertera di layar ponselnya.

[Halo, Kania. Tumben elu telepon gue malam-malam kaya gini, biasanya elu udah jadi putri tidur jam segini? Ada apa?]

Tanya Rasti dengan sedikit berteriak karena suara bising di Pub tempatnya berada sekarang.

[Assalamualaikum. Salam dulu dong Ras, jangan langsung tembak gitu, macam teroris aja lu.]

Protes Kania ketika mendengar Rasti menjawab teleponnya tanpa salam.

[Iya nih, Ras gue nggak bisa tidur. Tiba-tiba aja gue punya feeling nggak enak soal ayah sama ibu, mana mereka nggak bisa di telepon lagi dari tadi sore.]

Keluh Kania sedih karena mengingat kedua orang tuanya masih tidak bisa dihubungi sejak sore.

[Ish, iya-iya. W*'alaikumsalam, ribet amat lu, Kan. Udah elu nggak usah khawatir, mungkin ayah sama ibu elu emang lagi ribet sama urusan bisnis mereka, Kania.]

Urai Rasti sambil memutar bola matanya, malas.

[Elu doain aja, semoga mereka baik-baik aja, sehat, selamat sampai pulang lagi ke Jakarta. Ingat, jangan punya pikiran macam-macam kalau elu nggak mau itu semua bakal kejadian sama ayah dan ibu elu!]

Sambil berteriak Rasti menjawab telepon Kania.

Merasa terganggu dengan teriakan Rasti, Kania pun menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga dan mengusap telinganya yang sedikit sakit akibat teriakan Rasti yang dirasanya terlalu keras di telinga.

[Iya gue tahu, Ras. Ya udah deh kalau gitu, gue mau coba telepon ayah ibu gue lagi. Makasih banyak, Ras. Elu jangan terlalu malam pulangnya. Assalamualaikum.]

Kata Kania sebelum mematikan ponsel dan mencoba menelepon ayah dan ibunya kembali.

[Iya, Bawel. W*'alaikumsalam.]

Sambil memasang tampang geram, Rasti mematikan ponselnya. Rasti tampak sangat tidak senang dengan teguran Kania.

"Elu boleh anggap gue sahabat sekarang, tapi tak lama lagi ... gue akan jadi musuh yang sangat nyata untuk elu dan keluarga lu, Kania!" tukas Rasti bermonolog dengan dirinya sendiri.

Namun kemarahannya berangsur hilang ketika dilihatnya sesosok laki-laki yang sangat dia kenal memasuki Pub dan mendatangi tempatnya duduk.

'Gue kira elu nggak bakalan datang, ternyata gue salah duga. Elu memang bener-bener peduli sama gue. Elu memang sahabat terbaik yang gue miliki dari dulu sampai nanti akhir hayat gue, Ndra.' batin Rasti senang.

***

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Dharris Tio
karakter pras sama irvan itu, sama apa beda ya?
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status