Mag-log inPreman kurus itu kehilangan keseimbangan dan tertarik keras ke depan. Satria menyambut wajah preman itu dengan hantaman lutut kanan yang sangat telak. Terdengar bunyi tulang hidung patah yang mengerikan, lalu preman itu langsung tumbang mencium aspal tanpa suara.Belum sempat Satria menurunkan kakinya, tiga preman bertubuh kekar sudah menyergap dari sisi kanan dan kiri. Dua orang mengayunkan pipa besi panjang, sementara satu orang lagi menusukkan pisau belati langsung ke arah perut Satria.Di sinilah kemampuan bertarung Satria yang sebenarnya terlihat. Gerakannya sangat mengalir bagaikan air, tidak ada satu pun tenaga yang terbuang percuma.Satria memutar pinggulnya ke samping, menghindari tusukan belati dengan jarak setipis kertas. Tangannya bergerak cepat menangkis ayunan pipa besi pertama menggunakan punggung tangannya yang sudah dialiri tenaga dalam. Ajaibnya, pipa besi itu malah melengkung akibat berbenturan dengan lengan Satria.Tanpa memberi ampun, Satria mencengkeram kerah baj
Melihat puluhan preman bersenjata itu berlari beringas ke arahnya, Satria sama sekali tidak menunjukkan raut ketakutan. Sebaliknya, sebuah senyum lebar nan mematikan justru terukir di wajah pemuda itu. Rasa bosan yang sedari tadi menyiksa otot ototnya akhirnya menemukan tempat pelampiasan yang pas.Bukannya mundur atau memasang kuda kuda bertahan, Satria malah mengambil inisiatif. Dia merendahkan postur tubuhnya sedikit, lalu melesat berlari kencang menyongsong kerumunan preman yang datang dari arah depan.Kecepatannya berlari sangat di luar nalar. Beberapa preman di barisan terdepan sampai terkejut dan sempat memperlambat langkah mereka karena tidak menyangka mangsa mereka berani menyerang balik secara frontal.Tepat saat jarak mereka tersisa kurang dari dua meter, Satria menghentakkan kaki kanannya kuat kuat ke aspal. Tubuhnya langsung melompat tinggi ke udara, melayang ringan menentang gravitasi tepat di atas kepala para preman tersebut.Di udara, Satria memutar pinggulnya dengan t
Suasana di pelataran parkir itu sangat tegang, tapi anak buah Bang Scorpio justru masih berdiri diam menunggu aba aba dari bos mereka. Satria yang sudah bosan menunggu akhirnya mendecak kesal."Ah, lama sekali kalian ini," keluh Satria sambil meletakkan kedua tangan di pinggang. "Katanya preman ganas, tapi mau maju saja pakai mikir panjang dulu."Satria lalu menoleh ke arah Vera yang masih mematung di dekatnya."Non Vera, cepat minggir ke sana. Menjauh dari sini," usir Satria pelan tapi tegas.Vera malah menggeleng keras. Wajah cantiknya pucat, tapi sifat keras kepalanya muncul. "Aku tidak mau pergi! Kalau aku pergi, mereka pasti langsung mengeroyok dan membunuhmu. Aku ini bos di perusahaan ini, aku yang harus tanggung jawab untuk semuanya!"Satria menghela napas panjang. Menghadapi bosnya yang keras kepala ini ternyata jauh lebih merepotkan daripada menghadapi puluhan preman bertato di depannya.Tanpa banyak bicara lagi, Satria melangkah maju mendekati bosnya. Dalam satu gerakan cepa
"Jangan remehkan dia, Bang. Pengawalku yang badannya besar besar saja tumbang semua. Anak ini lumayan licin," elak Gilang mencoba membela diri.Baru saja Bang Scorpio mau mengangkat tangannya memberi isyarat pada anak buahnya untuk maju, pintu kaca lobi tiba tiba terbuka dengan kasar.Vera berlari keluar dengan napas memburu. Wajah cantiknya pucat pasi, tapi dia memaksa kakinya melangkah maju membelah pelataran parkir yang panas. Beberapa petugas keamanan mencoba memanggil dari belakang, tapi CEO muda itu sudah terlanjur nekat."Tunggu! Tolong hentikan semuanya!" teriak Vera panik.Dia langsung menempatkan dirinya beberapa langkah di depan Satria. Kedua tangannya direntangkan seolah ingin melindungi asistennya dari amukan Geng Scorpio.Satria seketika mengerutkan keningnya. Dia benar benar heran melihat bosnya yang biasanya sangat tegas dan pemberani itu kini tampak begitu gemetar ketakutan."Pak Broto, Gilang, saya minta maaf atas kekacauan ini," ucap Vera dengan suara bergetar. Dia
Suara decit ban mobil bergesekan keras dengan aspal memecah teriknya pelataran parkir siang itu. Lima mobil van berwarna hitam pekat melaju cepat dan mengerem mendadak, mengepung area depan kantor.Di bagian samping setiap mobil van itu, tercetak jelas sebuah logo kalajengking merah berukuran besar.Melihat logo tersebut dari balik pintu kaca lobi, mata Vera membelalak ngeri. CEO muda itu langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Lututnya seketika terasa lemas, tidak sanggup menopang tubuhnya sendiri. Dia terpaksa bersandar pada dinding kaca agar tidak jatuh terduduk di lantai."Astaga... Scorpio," bisik Vera dengan suara bergetar ketakutan. Para petugas keamanan dan karyawan yang ikut mengintip dari belakang seketika pucat pasi. Geng Scorpio sangat terkenal sebagai kelompok bawah tanah paling beringas di wilayah tersebut. Mereka tidak pernah segan menghancurkan targetnya sampai tak bersisa.Sementara itu di pelataran parkir, Satria yang sedang asyik bermain game terpaksa
Melihat enam pengawal bayaran seharga ratusan juta tumbang berguguran seperti boneka rusak, wajah Broto dan Gilang langsung pucat pasi. Tapi rasa malu dan gengsi yang terlalu tinggi membuat ayah dan anak itu menolak menerima kenyataan. Rasa gentar di dada mereka malah berubah menjadi amarah yang meledak ledak."Bocah bangsat! Kurang ajar kau!" umpat Gilang kasar sambil menunjuk nunjuk Satria dengan jari telunjuk yang gemetar. "Kau pikir kau jagoan hah?! Kau pikir kau bisa lepas begitu saja setelah menghajar orang orangku?! Hari ini kau tidak akan bisa keluar dari sini hidup hidup!"Broto ikut menggeram marah di sebelah anaknya. Wajah tambunnya merah padam seperti kepiting rebus menahan emosi."Jangan sombong dulu kau, pengawal rendahan! Perusahaan ini dan nyawamu akan hancur hari ini juga!" teriak Broto tidak tahu malu.Gilang langsung merogoh saku celana sutranya dengan gerakan tergesa gesa. Pemuda klimis itu mengeluarkan ponsel pintarnya dan menekan sebuah nomor panggilan darurat. D







