Chapter: BAB 376Ban mobil sedan hitam milik dua orang suruhan itu sudah lama meninggalkan jejak debu di ujung jalan kompleks, namun ketegangan sisa perkelahian singkat tadi masih menyisakan sedikit sensasi dingin di udara pagi. Satria berdiri terpaku sejenak di tepi trotoar, memastikan tidak ada warga sekitar yang sempat keluar rumah atau menyaksikan keributan kilat tersebut. Beruntung, suasana blok C pada jam-jam sibuk pagi hari memang selalu lengang.Satria menghela napas panjang, membiarkan udara pagi mengisi penuh rongga dadanya sebelum menghembuskannya perlahan. Ia merapikan tali serut jaket hoodie-nya, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda menuju minimarket di ujung kompleks.Kehadiran dua orang asing tadi pagi sebenarnya bukan kejutan yang sepenuhnya menyenangkan, tapi di sisi lain, insiden itu memberikan satu kepastian penting: masa lalunya belum seratus persen menutup lembaran. Kendati demikian, reaksi fisik dan insting bertarungnya yang masih sangat tajam membuktikan
Huling Na-update: 2026-08-12
Chapter: BAB 375Malam beranjak larut, membawa serta keheningan yang menenangkan ke seluruh sudut rumah Satria. Lampu teras luar memancarkan pendar kuning lembut, menyinari bodi motor matik hitam doff miliknya yang terparkir rapi di balik pagar, menjadi saksi bisu atas perjalanan hari yang baru saja ia lewati.Di dalam rumah, Satria duduk berselonjor santai di sofa ruang keluarga. Televisi menyiarkan tayangan malam dengan volume rendah, sekadar mengisi kekosongan suara di ruangan. Di atas meja kayu di hadapannya, secangkir teh chamomile hangat mengepulkan uap tipis yang membawa aroma relaksasi setelah seharian beraktivitas.Insiden nyaris celaka di jalan pagi tadi kini sudah sepenuhnya menjadi cerita masa lalu yang tenggelam bersama lelahnya fisik. Yang tertinggal di benaknya hanyalah rasa syukur karena ia masih diberi keselamatan, serta kepuasan kecil atas keputusan-keputusan tepat yang ia ambil hari ini, termasuk membawa pulang kendaraan baru untuk mobilitas kedepannya.Satria meneguk tehnya perlaha
Huling Na-update: 2026-08-12
Chapter: BAB 374Satria tersenyum tipis. Motor ini benar-benar memenuhi semua ekspektasinya—fungsional, nyaman, dan berpenampilan cukup tangguh untuk menghindari kejadian-kejadian tidak terduga di jalan raya seperti yang ia alami tadi pagi."Oke, saya rasa saya pilih unit yang warna hitam doff ini," ujar Satria mantap sambil turun dari motor. "Untuk proses administrasi pembayaran tunai dan pengurusan surat-suratnya, kira-kira butuh syarat apa saja?"Pegawai dealer itu tampak sumringah mendengar keputusan cepat dari pelanggannya. "Wah, pilihan yang sangat tepat, Kak! Untuk pembayaran tunai, kita hanya perlu fotokopi KTP saja, dan proses pengisian datanya bisa langsung dibantu di meja kasir sekarang."Setelah insiden nyaris celaka di jalan tadi pagi, hari Satria kini bergeser menjadi jauh lebih produktif. Tinggal selangkah lagi, kendaraan baru penunjang mobilitasnya akan segera resmi berpindah tangan ke garasi rumahnya.Setelah merampungkan penyerahan fotokopi KTP dan mengisi beberapa formulir administr
Huling Na-update: 2026-08-11
Chapter: BAB 373Pagi baru saja beranjak naik, memancarkan cahaya terang yang menghangatkan aspal jalanan kota. Satria sudah berdiri di depan teras rumah dengan penampilan yang sangat rapi. Kemeja flanel lengan panjang dan celana jeans hitam melekat pas di tubuhnya, siap untuk menepati niatnya pagi ini: pergi ke dealer motor untuk melihat-lihat kendaraan baru guna keperluan mobilitas sehari-hari.Setelah mengunci pintu pagar rumah, Satria berjalan kaki menyusuri trotoar menuju pangkalan ojek terdekat di ujung jalan perumahan. Suasana pagi itu sebenarnya cukup lengang, membuat langkah kakinya terasa santai.Namun, ketenangan itu mendadak buyar dalam hitungan detik.Dari tikungan jalan utama yang agak tertutup rimbunnya pohon angsana, sebuah sepeda motor matik berkecepatan tinggi meluncur ugal-ugalan tanpa memperlambat lajunya. Pengendaranya tampak tidak fokus, memotong jalur dengan tajam ke arah trotoar tempat Satria berjalan.Screeeet!Suara decitan ban bergesekan dengan aspal terdengar nyaring memeka
Huling Na-update: 2026-08-11
Chapter: BAB 372Setelah merampungkan penyerahan fotokopi KTP dan mengisi beberapa formulir administrasi di meja kasir, Teguh diajak menuju area lounge tunggu khusus pelanggan. Suasana ruangan yang nyaman dengan pendingin udara serta suguhan secangkir air mineral membuat proses pembayaran tunai dan pencetakan kuitansi berjalan tanpa hambatan.Tidak sampai tiga puluh menit kemudian, pegawai bagian administrasi menghampiri meja Teguh sambil membawa sebuah map plastik berisi dokumen lengkap serta satu set kunci kontak."Semua proses administrasinya sudah beres, Kak Teguh," ujar pegawai tersebut dengan senyuman ramah. "Untuk unit motor hitam doff pilihan Kakak juga sedang disiapkan oleh tim mekanik di bagian belakang untuk pengecekan terakhir, mulai dari tekanan ban, oli, kelistrikan, sampai pencucian bersih."Teguh bangkit dari duduknya, menerima map dokumen tersebut dengan gestur menghargai. "Baik, terima kasih banyak atas pelayanannya yang cepat.""Sama-sama, Kak. Mari saya antar ke halaman serah terim
Huling Na-update: 2026-08-11
Chapter: BAB 371Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debar jantungnya, Teguh kembali melangkah meninggalkan area trotoar tempat kejadian nyaris celaka tadi. Ia memutuskan untuk langsung memesan taksi dalam jaringan lewat ponselnya agar perjalanan ke dealer motor jauh lebih aman daripada harus berjalan kaki di pinggir jalan raya.Tidak butuh waktu lama bagi mobil pesanan Teguh untuk tiba. Begitu pintu ditutup, AC mobil yang sejuk langsung menyambut, membantu mendinginkan kepalanya yang sempat panas akibat ulah pengendara motor ugal-ugalan sebelumnya. Sepanjang perjalanan, ia memilih melamun menatap pemandangan jalanan kota yang mulai padat oleh aktivitas pagi.Brummm...Suara deru mesin berbagai jenis kendaraan menyambut begitu Teguh menginjakkan kaki di halaman depan dealer motor terbesar di kawasan tersebut. Bangunan berdinding kaca transparan itu tampak berkilau di bawah terik matahari pagi, memamerkan puluhan unit sepeda motor dari berbagai merk dan tipe yang berjejer rapi di ruang
Huling Na-update: 2026-08-11
Chapter: BAB 204Langkah kaki Joko terasa berat, seolah ia sedang menyeret seluruh beban dosa dunia di pundaknya. Napasnya menderu kasar, memecah keheningan malam yang mencekam. Di punggungnya, tubuh kaku Ki Banyu terkulai, lengan-lengan panjang pria itu berayun-ayun tak bernyawa mengikuti irama langkah Joko, sesekali menyentuh semak belukar yang mereka lewati.Joko menghindari jalan raya. Ia menyusup melewati pagar pembatas yang rusak, masuk ke dalam area lahan kosong bekas sengketa yang luas, tempat yang sama di mana ia bertemu bayangan Eyang Giri Sewu dalam visi sebelumnya. Namun kali ini, ini bukan visi. Ini nyata. Darah yang merembes membasahi punggung kemejanya adalah darah asli. Bau amis yang menusuk hidungnya adalah bau kematian yang sesungguhnya.Area itu gelap gulita, hanya diterangi oleh sisa-sisa cahaya bulan yang mengintip dari balik awan mendung. Ilalang setinggi dada manusia tumbuh liar, menyembunyikan pergerakan Joko dari mata dunia luar. Suara serangga malam terdengar nyaring, seolah
Huling Na-update: 2025-12-12
Chapter: Bab 203Kekuatan pukulan Joko begitu besar hingga dada Ki Banyu amblas ke dalam. Tulang rusuknya patah, menusuk paru-paru dan jantungnya seketika.Hempasan tenaga dalam itu kemudian meledak, melemparkan tubuh Ki Banyu ke belakang seperti layang-layang putus.BUM!Tubuh Ki Banyu terbang melintasi jalan raya, menghantam batang pohon besar di seberang jalan dengan suara gedebuk yang keras, lalu jatuh merosot ke tanah. Ia tidak bergerak lagi. Punggungnya tersandar di pohon, kepalanya terkulai miring dengan sudut yang tidak wajar.Seketika itu juga, kabut putih yang menyelimuti jalanan lenyap.Seperti tirai yang ditarik paksa, ilusi air itu menguap menjadi udara kosong. Pemandangan jalan raya malam hari kembali terlihat jelas. Lampu jalan kembali bersinar kuning. Suara jangkrik kembali terdengar.Joko berdiri mematung di tengah jalan. Tangan kanannya masih terulur ke depan dalam posisi memukul. Napasnya memburu hebat, dadanya naik turun dengan cepat. Keringat dingin bercampur dengan cipratan darah
Huling Na-update: 2025-12-11
Chapter: BAB 202Kabut putih itu bukan sekadar uap air. Itu adalah penjara hidup.Joko terbatuk-batuk hebat, tangannya mencengkeram lehernya sendiri. Udara di sekitarnya terasa lengket dan basah, setiap kali ia menarik napas, rasanya seperti menghirup air laut yang asin dan pekat. Paru-parunya terasa terbakar, memohon oksigen yang semakin menipis. Pandangannya benar-benar buta. Putih. Hanya putih sejauh mata memandang, diselingi oleh bayangan-bayangan hitam yang meliuk-liuk seperti belut raksasa di sekelilingnya.“Sia-sia, Nak,” suara Ki Banyu terdengar bergema dari segala arah, memantul-mantul di dalam dinding kabut, membuatnya mustahil untuk dilacak. “Kau mungkin punya tenaga dalam yang besar, kau mungkin punya kulit yang keras, tapi bisakah kau bertarung melawan udara yang kau hirup?”Sreeet!Sebuah sabetan air yang tajam tiba-tiba muncul dari samping kanan. Joko terlambat menghindar. Bahu kirinya tergores, kain kemejanya robek, dan darah segar merembes keluar. Lukanya terasa perih luar biasa, seol
Huling Na-update: 2025-12-11
Chapter: BAB 201Joko masuk ke dalam mode fokus penuh. Dunia di sekelilingnya melambat. Ia melihat lintasan pukulan api itu. Ia menepis pukulan ke arah wajah dengan telapak tangan, mengelak pukulan ke rusuk dengan memutar pinggang, dan menahan pukulan ke perut dengan lututnya.Tak! Buk! Plak!Suara adu fisik terdengar cepat dan ritmis. Mereka bertukar serangan dengan kecepatan tinggi di tengah jalan yang sunyi. Setiap kali kulit mereka bersentuhan, terjadi letupan kecil antara energi emas dan api merah.Joko mulai merasakan pola serangan Ki Agni. Kuat, eksplosif, tapi… emosional. Terlalu mengandalkan amarah.“Dia petarung kasar,” bisik Khodam. “Dia boros tenaga. Jangan adu kekuatan, bocah. Gunakan kelincahanmu. Matikan apinya dari sumbernya.”‘Sumbernya?’ tanya Joko dalam hati sambil menunduk menghindari sabetan tangan Ki Agni yang nyaris membakar rambutnya.“Pusat napasnya! Ulu hati! Di situlah dia mengumpulkan panasnya!”Joko mengerti.Saat Ki Agni menarik tangannya ke belakang untuk melancarkan puk
Huling Na-update: 2025-12-09
Chapter: BAB 200Sebuah dinding cahaya transparan berwarna keemasan muncul seketika di depan pagar.BOOM!Bola api itu menghantam dinding cahaya Joko. Ledakan terjadi, namun tertahan. Api merah dan cahaya emas beradu, menciptakan percikan bunga api yang menyilaukan di tengah malam buta. Suara ledakannya cukup keras, namun teredam oleh perisai energi itu.Joko merasakan panas yang luar biasa menyengat telapak tangannya. Kakinya terdorong mundur beberapa senti, menggerus tanah halaman. Serangan ini kuat. Jauh lebih kuat dari serangan preman manapun.Di seberang jalan, Ki Agni tampak terkejut namun juga senang. “Oh? Lumayan juga. Kau bisa menahannya. Tapi sampai kapan?”Ki Agni mengangkat tangan kirinya juga. Bola api kedua mulai terbentuk di udara, kali ini lebih besar, lebih panas.Joko mengertakkan gigi. Ia tidak bisa terus bertahan di sini. Ledakan tadi pasti sudah membangunkan beberapa orang. Jika bola kedua itu dilepaskan, ia tidak yakin bisa menahannya tanpa menimbulkan kerusakan pada bangunan di
Huling Na-update: 2025-12-09
Chapter: BAB 199Lampu kamar mandi yang remang-remang menjadi satu-satunya penerangan di kamar nomor 13. Joko menarik selimut tipisnya sebatas dada, membiarkan tubuhnya yang remuk redam tenggelam dalam keheningan. Matanya terasa berat, kelopak matanya bergetar pelan, siap untuk menyerah pada dunia mimpi. Ia sudah melakukan segalanya hari ini. Bekerja, bertarung, menyelamatkan orang, bahkan menghadapi godaan ibu kos. Ia pantas mendapatkan istirahat.Namun, tepat saat kesadarannya berada di ambang batas antara terjaga dan terlelap, sebuah sensasi asing menyentaknya.ZING!Bukan suara. Bukan sentuhan. Melainkan sebuah getaran tajam yang menusuk langsung ke dalam ulu hatinya. Rasanya seperti ada jarum es yang ditancapkan ke dadanya, menembus kulit, daging, dan langsung menyentuh pusaka yang tergantung di sana.Joko tersentak hebat. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang gelap. Jantungnya yang tadinya melambat kini kembali memacu cepat.Pusaka Semar Mesem di dadanya bereaksi instan. Benda
Huling Na-update: 2025-12-08
Mendadak Menjadi CEO
Teguh Waluyo, seorang pemuda sederhana dari desa. Dia merupakan lulusan SMK, dengan keluarga yang terkenal sebagai tokoh agama di desa tersebut.
Teguh juga merupakan aktivis organisasi di sekolahnya, namun, karena menunggu ijazah untuk mencari pekerjaan, Teguh harus bekerja terlebih dahulu, sebagai kuli bangunan di desa sebelah.
Akan tetapi, di desa tersebut, Teguh selalu dicemooh dan diejek oleh pemuda lainnya, yang juga bekerja di sana. Namun, karena mereka juga mengejek orang tuanya, maka, Teguh pun tidak bisa menerimanya, sehingga terjadilah perkelahian.
Akibat Teguh yang memukul salah satu dari mereka, dan membuatnya pingsan di tempat, maka, Teguh pun melarikan diri dari incaran warga di sana.
Akhirnya, Teguh pun memutuskan untuk berangkat ke Jakarta, untuk mengadu nasib di sana.
Hingga akhirnya, Teguh dipertemukan dengan orang tua yang baik hati, yang telah mengangkat derajatnya.
Basahin
Chapter: 74"kami mohon nona Amber ini masalah keluarga kita tidak ada kaitanya dengan tempat kerja saya" mohon sang rektor itu kali ini bersujud, memohon ampun kepada AmberTeguh semakin mengepalkan tanganya , dia tidak menyangka ternyata begitu banyak orang kaya yang anaknya menyalah gunakan kekuasaan keluarganya."aku yang akan mendisiplinkan anakmu, dan segera kosongkan kampus ini, biar anda bagaimana rasanya hancur" ucap Amber dengan nada penuh intimidasi"bawa dia dan hancurkan" perintah Amber kepada anak buahnya untuk membawa, rektor itu dan kemudain memporandakan gedung kampus."baik nona" seketika mereka mengangguk dan mulai menjalankan tugas, dari mengusir mahasiswa sampai menghancurkan kelas,,tidak bisa di bayangkan bagaimana takutnya para mahasiswa kala itu, mereka di paksa keluarga kampus dengan kasar, bahkan ada siswa laki-laki yang berusha melawan mereka, tapi malah mahasiswa itu yang di hajar sampai babak belur.ada juga mahasiswi yang menolak diseret oleh mereka , sehingga membu
Huling Na-update: 2025-02-23
Chapter: 73Waktu semakin larut mereka tidak terasa sudah begitu lama mengobrol, kali ini Teguh tidak datang ke kantor karena Brian yang meminta. tak lupa juga Brian mengajak Teguh untuk makan malam, dan disitu Brian menemukan sebuah keanehan dimana melihat Clara begitu perhatian sama Teguh, dari mengambilkan nasi lauk dan menuangkan minum bahkan sesekali Clara melihat ke arah Teguh. Brian pun sudah tidak tahan melihat sikap Clara pada Teguh ."Teguh Clara ada yang mau saya tanyakan" ucap Brian pada Teguh dan Clara"iya yah ada apa?" tanya Clara"sebenarnya hubungan kalian sejauh mana?" tanya Brian, membuat Clara dan Teguh kaget'ini memang sudah waktunya memberi tahu' gumam Teguh dalam hatinya"baik sebenarnya........." Teguh belum selesai mengucapkanya sudah di sambar oleh Naya"mereka sudah pacaran" ucap Naya langsung to the point,seketika Brian menjatuhkan sendok dan garpunya di piring . klang...... terdengar bernturan suara sendok dan garpu.."kenapa kalian merahasiakanya dari saya" kini Bria
Huling Na-update: 2025-02-23
Chapter: 72Teguh kemudian memasang kuda kuda dan bersiap jika sewaktu waktu mereka akan menyerang ,"akan aku tunjukan apa itu sombong" balas Cibir Teguh , dan tanpa di duga mereka seketika berlari kearah Teguh untuk menyerang, untung saja Teguh sudah memasang kuda kuda, sedangkan di dalam mobil jelas sekali Clara dan Naya sangat cemas dengan Teguh. meraka selalu berdoa supaya ada keajaiban.mereka tidak tanggung tanggung mereka langsung mengkroyok Teguh lebih dari tiga puluh orang turun dari mobil van yang tadi mengepung Teguh mereka bergerak serentak. dan detik berikutnya terdengar suara tulang saling bertabrakan dan suara erangan dan pukulan, dan itu membuat pimpinan mereka yang mengkordinasi serangan itu memicingkan matanya dia tampak tidak percaya jika pemuda yang sombong di depanya benar, benar tidak takut mati."aahhhhh' Teguh berteriak untuk menambah kekuatanya dan seketika mengeluarkan aura yang sangat dingin, baru lah kemudian Teguh mengangkat salah satu dari mereka dan kemudian melem
Huling Na-update: 2025-02-23
Chapter: 71Keesokan harinya setelah mereka selesai berish bersih ganti baju dan sarapan, mereka melanjutkan aktifitasnya sedangkan Burhan dia berangkat bekerja, Teguh Clara dan Naya mereka berangkat ke kampus, seperti biasa mereka sampai di kampus akan berpisah di lobi kampus, Clara dan Naya kali ini fokus kuliah, beda halnya dengan Teguh entah mengapa hari ini dia tidak fokus karena banyak fikiran yang mengganggunya, terutama gengster Black Jack itu, dia terus terbayang, dan dia baru dapat info jika geng itu dipimin oleh Jack yang bengis dan kejam dia memiliki dua petarung hebat kelas atas di sampingnya."Guh kenapa?" tanya Adam yang melihat Teguh melamunkemudian Teguh tersadar dan menoleh ke arah Adam."aku tidak apa-apa" jawab Teguh kepada Adam, setelah itu Teguh berusaha fokus, disisi lain tiga hari lagi dia akan terbang ke Bali.sedangkan di kediaman Pak Brian sangat tegang disana ada Brian dan tentunya Wicak dan juga Tegar, dia adalah orang kepercayaan Brian dan Wicak, Tegar adalah petaru
Huling Na-update: 2025-02-22
Chapter: 70Teguh dengan Clara semakin asik berselfi ria, sampai mereka tidak menyadari jika mereka berpose dengan mesra dan parahnya lagi Naya ternyata melihatnya , karena setelah selesai mandi Naya ingin bergabung tapi ketika melihat Clara dengan Teguh dia mengurungkan niatnya, tetapi tanpa sengaja Naya menyenggol vas bunga yang di atas meja deka pintu 'bruk' suara pot bunga jatu, sontak membuat Clara dan Teguh melihat kearah itu. dan ternyata Naya yang berada disana."Nay kenapa" ucap Teguhseketika Naya menjadi canggung bingung harus bagaimana dia sekarang."ah tidak mas, gak sengaja menyenggol vas itu" ucap Naya dengan gelagapan"tenang saja , tidak apa-apa" jawab Teguh kemudian"ah aku lapar" celoteh Clara karena merasa lapar."em bukanya barusan kamu sama Naya makan jajan yang banyak" jawab Teguh, karena benar saja tadi Clara bersama Naya menghabiskan jajan yang dia beli"cemilan sama makan beda" gerutu Clara dengan kesalTeguh pun tidak tega dia memutuskan untuk memasak kebetulan dia juga
Huling Na-update: 2025-02-22
Chapter: Kejutansetelah Clara selesai mengajari dan merapikan belanjaan di apartemen Teguh mereka kini istirahat menunggu kepulangan Teguh.sedangkan Teguh masih berkutik dengan berkas dan komputer di depanya, tak terasa juga waktu sudah menunjukan jam pulang kantor, setelah selesai Teguh bergegas untuk merapikan dan pulang, karena dia yakin Clara dan Naya menunggunya.sebelum pulang Teguh mampir keruangan Aldo"Do mau pulang bareng tidak?" tanya Teguh pada Aldo"sepertinya saya nanti saja tuan, masih banyak perkerjaan" jawab Aldo karena bernar saja banyak kerjaan kantor belum lagi Tugas yang di berikan Teguh kepadanya."baik lah aku duluan" jawab Teguh, kemudian Teguh keluar dan menuju mobilnya, tak lupa dia membeli jajanan kesukaan Naya yaitu jajanan seperti cilok, pempek telor gulung dan lain-lain. setelah membeli itu Teguh langsung menuju apartemenya, tak lama Teguh pun sampai karena dia sendirian dan fokus menyetir.Clara dan Naya yang sedang bercanda seketika mendengar pintu terbuka mereka ko
Huling Na-update: 2025-02-19