LOGINMendengar tawaran dari Satria, wajah Kevin pucat pasi. Melompat dari lantai dua jelas sama saja dengan cari mati. Dengan sisa sisa tenaga dan harga diri yang sudah hancur lebur, Kevin memilih pilihan pertama. Pria klimis itu susah payah berdiri, menundukkan kepalanya dalam dalam, lalu berlari terbirit birit keluar dari ruang rapat VIP itu tanpa berani menoleh lagi ke belakang.Tawanya yang tadi begitu sombong kini lenyap tanpa sisa. Kevin kabur meninggalkan puluhan preman sewaannya yang masih mengerang kesakitan di lantai.Satu jam kemudian, di sebuah rumah gedongan yang tidak kalah mewah dari kediaman Vera, suara bantingan barang pecah belah terdengar sangat keras dari ruang kerja utama.Prang!Sebuah asbak kristal mahal hancur berkeping keping menghantam dinding. Pak Darmawan, ayah Kevin sekaligus pimpinan perusahaan saingan Vera, berdiri dengan napas memburu dan dada naik turun. Wajah tua yang dipenuhi kerutan licik itu kini merah padam menahan amarah yang meledak ledak.Di depanny
Melihat Kevin sudah tak berdaya tersungkur di lantai sambil memegangi jidatnya, suasana kembali hening. Hanya ada paduan suara rintihan pelan dari puluhan preman yang masih terkapar.Tiba tiba, dari kolong meja rapat yang sebagian sudah hancur berantakan, muncul sebuah kepala yang gemetar hebat. Pak Haryo merangkak keluar dengan susah payah. Kacamata tebalnya miring, jas abunya penuh debu karpet dan serpihan kaca.Pria paruh baya itu langsung bersimpuh di lantai. Dia sama sekali tidak berani menatap mata Satria yang berdiri menjulang bak malaikat maut di dekatnya."Ampun... ampun, Mas Satria. Nona Vera, saya minta maaf!" suara Pak Haryo bergetar parah, nyaris menangis ketakutan.Vera melangkah maju perlahan mendekati meja. Jas hitam Satria masih tersampir rapi di lengannya. Wajah CEO muda itu kembali tenang dan sedingin es, kembali ke mode bos besar seutuhnya."Jelaskan, Pak Haryo," desak Vera langsung pada poinnya. "Kenapa Bapak tiba tiba membatalkan kesepakatan kita dan memasukkan k
Mendengar ancaman dari Satria, Kevin menelan ludah dengan susah payah. Matanya melirik liar ke sekeliling ruangan. Lima puluh preman sewaannya sudah berubah menjadi paduan suara orang merintih di atas karpet. Pak Haryo yang masih sembunyi di kolong meja kini sedang mengintip dengan wajah ketakutan, sementara Vera menatap Kevin dengan pandangan penuh belas kasihan bercampur muak.Di titik ini, Kevin tahu dia sudah kalah telak. Tapi ego dan gengsinya sebagai pewaris keluarga kaya raya tidak mengizinkan dia berlutut minta ampun begitu saja. Kalau dia lari sekarang atau menangis memohon, hancur sudah nama baiknya di dunia bisnis.Dengan tangan gemetar, Kevin mencoba menegakkan tubuhnya. Dia melepaskan kancing kemeja merah marunnya yang terasa mencekik, membusungkan dada, dan memasang wajah sok garang."Lu pikir gue takut sama kacung kampung kayak lu, hah?!" teriak Kevin dengan suara yang sengaja dikeraskan untuk menutupi rasa takutnya. "Gue sabuk hitam karate waktu SMA! Maju lu sini!"Men
Tantangan Satria menjadi pemicu ledakan di ruangan tersebut. Puluhan berandalan itu menggeram marah. Gelombang pertama yang terdiri dari enam orang langsung menerjang maju secara serempak. Balok kayu dan pipa besi diayunkan dari berbagai arah, mengincar kepala dan rusuk pemuda berjas kemeja putih itu.Satria tidak mundur satu sentimeter pun. Matanya menatap tajam, merekam setiap pergerakan senjata yang datang ke arahnya dengan sangat lambat.Sebuah balok kayu tebal mengayun ganas ke arah kepala Satria. Pemuda itu hanya menunduk sedikit. Balok itu meleset membelah udara dengan bunyi WUSSS yang nyaring. Di detik yang sama, kepalan tangan kanan Satria melesat secepat peluru lurus ke arah ulu hati si penyerang.BUAGH!Suara hantaman daging terdengar sangat padat. Preman pertama itu membelalakkan mata. Mulutnya terbuka lebar, tapi tidak ada suara yang keluar. Angin di paru parunya terkuras habis. Dia langsung jatuh berlutut sambil memegangi perutnya yang serasa hancur, memuntahkan cairan l
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang rapat VIP itu. Ancaman mengerikan Satria soal mematahkan jari membuat napas Pak Haryo seakan berhenti. Pria paruh baya itu sudah gemetar di kursinya, takut ikut terseret dalam pertumpahan darah di kantornya sendiri.Namun, di luar dugaan, reaksi Kevin justru berbanding terbalik dengan kejadian di parkiran semalam.Pria berambut klimis itu memang sempat menelan ludah dan wajahnya pucat sedetik, tapi kemudian dia malah tertawa terbahak-bahak. Tawa yang sangat keras dan penuh dengan kelicikan."Hahaha! Lu pikir gue bego, hah?!" ejek Kevin sambil menunjuk wajah Satria. Keberaniannya meroket tajam. "Gue tahu lu jago berantem. Preman bayaran gue semalam emang ampas semua karena cuma modal tangan kosong. Lu pikir gue bakal datang ke sini nemuin bos lu tanpa persiapan?"Satria mengerutkan dahi, matanya memicing di balik kacamata hitam yang baru saja dia letakkan di atas meja.Tanpa membuang waktu, Kevin mengambil ponselnya dan menekan satu tombol pan
Tepat pukul sepuluh pagi, mobil Alphard hitam yang membawa Vera dan Satria tiba di sebuah kantor proyek konstruksi besar di kawasan strategis Jakarta Selatan. Vera turun dengan sangat percaya diri. Setelan blazer kerjanya terlihat sangat elegan dan profesional. Modal dua puluh lima miliar dari penjualan kayu Kinam sudah siap dia putar untuk mengambil alih proyek pembangunan mal mewah ini.Satria berjalan tepat di belakang Vera. Kacamata hitam bertengger santai di hidungnya. Jas birunya sudah diganti dengan setelan jas hitam pekat yang baru, membuat auranya semakin terlihat seperti bos mafia daripada sekadar asisten.Mereka berdua dikawal oleh resepsionis menuju ruang rapat VIP di lantai dua. Vera sudah menyiapkan draf kontrak di tangannya. Proyek ini adalah kunci untuk membangkitkan kembali kejayaan perusahaannya.Klek.Pintu ruang rapat terbuka. Vera melangkah masuk dengan senyum bisnis andalannya. Namun, senyum di bibir CEO muda itu langsung membeku seketika.Ruangan itu tidak hanya
Dia melempar beberapa lembar foto ke tengah meja. Foto-foto itu memperlihatkan pertemuan rahasia antara Pak Handoko, Pak Rudianto, dan orang kepercayaan Tuan Brata di sebuah kelab malam. Ada juga bukti transfer rekening mencurigakan."Saya tahu kalian bermain mata dengan Brata," lanjut Vera, suaran
Sementara Satria sedang menikmati Wagyu A5 yang meleleh di mulutnya di restoran Jepang yang sejuk, situasi yang sangat kontras terjadi di belahan lain kota Jakarta.Di sebuah gedung perkantoran mewah di kawasan Kuningan, tepatnya di lantai 40 yang merupakan penthouse pribadi, suasana terasa begitu
Lima menit berlalu sejak Vera memberikan perintah tegas kepada Pak Darto untuk melanjutkan pekerjaan. Suasana proyek yang tadinya mati suri kini mulai menggeliat hidup. Deru mesin molen pengaduk semen kembali meraung, bersahutan dengan teriakan para tukang yang mengangkut bata hebel. Debu merah kem
Suasana di warung tenda itu menegang hingga titik nadir. Udara panas Jakarta yang bercampur debu proyek terasa semakin menyesakkan, seolah oksigen di sekitar mereka tersedot habis oleh aura permusuhan yang kental.Bang Jago, preman botak yang merasa harga dirinya diinjak-injak di depan anak buahnya







