Share

BAB 176

last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-10 20:55:47

Mobil Alphard hitam itu berhenti tepat di depan lobi restoran. Pak Maman memindahkan tuas persneling ke posisi parkir. Vera sudah bersiap mengambil tas tangannya, sedangkan Kiki sudah tidak sabar ingin segera turun. Laras juga bersiap merapikan posisi duduknya.

Tiba-tiba, bulu kuduk Satria berdiri tegak. Otot lehernya menegang.

Insting bertarungnya bereaksi sangat keras. Dia merasakan hawa niat membunuh yang sangat pekat mengunci area kepalanya. Arahnya bukan dari sekitar lobi restoran, melaink
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Satria Idaman Wanita   BAB 267

    Satria melepaskan tali tas ranselnya dan membiarkan barang bawaannya itu tergeletak begitu saja di lantai marmer. Dia menegakkan tubuh, menatap Vera yang masih berdiri menghadangnya dengan wajah serius dan kedua tangan yang bersilang di dada.Sebuah ide jahat dan usil kembali melintas di kepala Satria saat melihat wajah bos cantiknya yang tampak sangat protektif terhadap keberadaannya di tempat ini."Oke, oke. Karena Non Vera sampai memohon dan memaksa seperti itu, saya pasrah deh. Saya putuskan untuk tetap tinggal di sini," ujar Satria dengan nada suara yang dibuat seolah-olah dia sedang mengalah demi kebaikan bersama.Vera langsung mengembuskan napas lega, dan senyuman kemenangan mulai terbayang di sudut bibirnya. Namun, senyuman itu tidak bertahan lama karena Satria belum selesai berbicara.Satria melangkah satu tindakan lebih dekat, menatap Vera dengan pandangan mata yang penuh kelicikan."Tapi ingat ya, Non. Karena tempat ini sudah resmi diserahkan kepada saya sebagai fasilitas t

  • Satria Idaman Wanita   BAB 266

    Satria sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut atau khawatir setelah mendengar ancaman pecat dari Vera. Dia justru memajukan bibirnya sedikit, lalu menggelengkan kepala dengan ekspresi wajah yang tampak sangat acuh tak acuh. Dia sama sekali tidak peduli dengan gertakan khas orang kantoran yang baru saja dilontarkan oleh bos cantiknya itu.Satria kemudian berdiri dari sofa empuk tersebut. Dia berjalan mendekati tas ransel besarnya yang sejak tadi masih tergeletak di dekat meja kopi, lalu menyampirkan salah satu tali tas tersebut ke bahu kanannya."Ah, ancaman pecat lagi, bos kantor memang hobinya begitu ya," ucap Satria sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling ruangan penthouse yang luas itu. "Lagian kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya saya memang tidak cocok dan tidak bakal nyaman tinggal di sini, Non. Mendingan saya tidak usah jadi menempati tempat ini. Saya mau pergi sekarang saja, cari kontrakan atau kamar kos biasa di luar sana yang suasananya lebih pas buat saya."

  • Satria Idaman Wanita   BAB 265

    Satria masih terus tertawa lepas sambil mengangkat kedua tangannya, dengan mudah menangkis setiap hantaman bantal sofa yang dilayangkan oleh Vera. Baginya, pukulan kesal dari wanita itu sama sekali tidak terasa sakit, justru terlihat seperti gerakan anak kecil yang sedang merajuk."Aduh, Non, ampun ! Jangan kencang-kencang memukulnya, nanti bantal apartemen mewah ini bisa jebol," goda Satria di sela-sela tawanya, sengaja menambahkan minyak ke dalam api amarah Vera."Biar saja jebol ! Kalau perlu kepalamu yang jebol sekalian !" balas Vera yang napasnya mulai terengah-engah karena lelah memukuli Satria tanpa hasil.Vera akhirnya melempar bantal sofa itu ke lantai dengan sentakan kasar. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela besar dengan bibir yang mengerucut tajam. Kedua pipinya masih terasa panas dan berwarna kemerahan. Sisa-sisa debaran jantung akibat jarak yang terlalu dekat tadi masih terasa sangat jelas di dadanya.Satria perlahan mengh

  • Satria Idaman Wanita   BAB 264

    Mendengar suara langkah kaki Satria yang sengaja dibuat agak keras, Vera perlahan membuka matanya. Dia langsung menyadari posisi tidurnya yang kurang rapi, lalu dengan cepat mengubah posisinya menjadi duduk tegak di atas sofa panjang tersebut. Tangan kirinya bergerak merapikan ujung kemeja putih serta rok kerjanya yang sempat tersingkap.Rasa lelah dan kantuk yang menggelayuti Vera sedikit berkurang, digantikan oleh ingatan tentang kesepakatan yang mereka buat saat di rumah makan lesehan tadi.Vera mendongak, menatap lurus ke arah Satria yang kini berdiri beberapa langkah di depan meja kopi."Kamu minta bonus apa?" tanya Vera langsung, membuka percakapan tanpa basa-basi lagi.Satria yang baru saja berhasil menenangkan debaran jantungnya langsung menoleh. Mendengar pertanyaan itu, sebuah senyuman usil yang sangat khas seketika mengembang di sudut bibir pemuda itu. Dia menatap bos cantiknya dengan pandangan mata yang berbinar penuh arti."Apapun kan?" tanya Satria, sengaja menggoda Vera

  • Satria Idaman Wanita   BAB 263

    Mobil SUV mewah yang dikemudikan Satria akhirnya memasuki kawasan elite di pusat kota. Bukannya mengarah ke rumah utama keluarga Vera, mobil itu justru langsung berbelok memasuki area kompleks apartemen super mewah yang menjulang tinggi ke langit. Penjagaan di gerbang depannya sangat ketat, dengan beberapa petugas keamanan berseragam rapi yang langsung membungkuk hormat begitu mengenali mobil milik Vera.Satria yang melihat kemewahan gedung di depannya hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia mengira Vera akan mengajaknya pulang ke rumah utama dulu untuk beristirahat, namun siapa sangka bos cantiknya ini benar-benar langsung membawanya ke sini tanpa menunda waktu sedikit pun.Setelah memarkirkan mobil di tempat khusus, Vera langsung turun dengan langkah kaki yang ceria. Dia menoleh ke arah Satria yang masih berdiri canggung di samping pintu kemudi."Ayo, Satria, tunggu apa lagi? Bawa barang-barangmu sekalian dari bagasi, kita langsung naik ke atas sekarang," kata Vera samb

  • Satria Idaman Wanita   BAB 262

    Matahari sudah mulai bergerak condong ke arah barat, memancarkan sinar kemerahan yang menerobos masuk lewat celah gorden ruang kerja Sang Bos Besar. Di dalam ruangan yang luas itu, suasana masih terasa sangat tegang. Sang Bos Besar duduk diam di kursi kulitnya, sementara asbak di atas mejanya sudah dipenuhi oleh beberapa puntung cerutu yang sengaja dimatikan dengan kasar.Pintu ganda ruangan itu tiba-tiba diketuk dua kali dengan ketukan yang ritmis. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Rendra melangkah masuk dengan terburu-buru. Wajah pria jangkung itu tampak sangat serius, dan di tangan kanannya terdapat sebuah gawai tablet yang layarnya masih menyala menampilkan beberapa baris data grafik."Tuan Besar, tim mata-mata kita di lapangan baru saja menghubungi saya. Mereka berhasil melacak posisi dan pergerakan bocah bernama Satria itu," lapor Rendra sambil membungkuk hormat.Sang Bos Besar yang tadinya bersandar langsung menegakkan tubuhnya. Sorot matanya yang tajam langsung mengunci waj

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status