مشاركة

Bab 15

مؤلف: Els Arrow
last update تاريخ النشر: 2026-07-26 22:26:49

Avena akhirnya berusaha menekan rasa cemas yang berkecamuk di dadanya. Mengajar anak-anak TK memang membutuhkan fokus ekstra, dan tidak adil rasanya jika ia melimpahkan kepeningan masalah dokumen jebakan Rafsen kepada bocah-bocah polos yang tidak berdosa ini.

Ia berlutut di sebelah kursi Kenzo, memamerkan senyum termanisnya meski matanya masih agak berkaca-kaca karena efek melamun tadi.

"Kenzo, helikopter warna pink itu keren banget, lho," ujar Avena dengan nada ceria. "Kamu tahu gak? Helikopte
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 18. Makan Malam

    "Maksud kamu dipermalukan gimana, Raf?" Avena mengernyit, kepalanya dimiringkan sedikit dengan raut wajah bingung. "Lagian kita cuma makan malam biasa, kan? Emang mereka mau ngapain?"Rafsen memejamkan matanya sejenak, menahan helaan napas berat yang nyaris lolos dari bibirnya. Tingkat kepolosan istrinya ini kadang berada di taraf yang sangat menguji ketabahan hatinya."Dunia keluarga saya tidak sesederhana itu, Avena," sahut Rafsen dingin, melepaskan cengkeraman tangannya di bahu Avena. Pria itu merogoh ponsel dari saku celananya, menempelkannya ke telinga sembari melangkah menjauh. "Siapkan sepuluh gaun terbaik dari koleksi terbaru ke rumah saya. Sekarang."Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut kepada Avena yang masih berdiri melongo di tengah ruang tamu, Rafsen langsung berbalik dan melangkah menaiki tangga menuju lantai dua. "Dih, kebiasaan banget, sih, ditanya baik-baik malah main kabur," gerutu Avena sengit, menghentakkan kakinya ke lantai.Ia memegangi dadanya yang berdesi

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 17. Undangan Makan Malam

    "Nggak mau! Enak aja, mana bisa gitu?" sahut Avena cepat, kedua tangannya bersedekap di depan dada dengan bibir cemberut. "Kenapa tidak bisa?""Ya nggak bisalah." Avena turut memajukan wajahnya ke depan. "Satu, arah kantor Vantara Architect sama TK itu bertolak belakang, Raf. Kamu yang ada telat ke kantor tiap hari cuma gara-gara ngikutin rute aku. Dua, jam pulang aku itu nggak pasti. Kadang ada rapat guru, kadang nungguin bocil yang jemputannya terlambat. Masa kamu mau nungguin aku di depan pagar kayak satpam?""Saya CEO-nya. Tidak ada yang berani menegur jika saya datang terlambat," jawab Rafsen santai tanpa beban, menyesap kembali caramel macchiato-nya. "Dan soal jam pulang, saya bisa bekerja dari mana saja atau menyuruh sopir jika saya sedang ada rapat penting. Selesai masalah."Avena melotot, siap meluncurkan argumen ketiga. "Tapi Raf—""Tidak ada tapi-tapi, Avena," pangkas Rafsen, tidak bisa diganggu gugat. "Pilihanmu cuma dua, saya yang antar-jemput setiap hari, atau kamu kel

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 16

    Pak Doni yang tadi membusungkan dada dan melontarkan rayuan kurang ajar kepada Avena, seketika ciut. Pria buncit itu melirik motor sport berharga ratusan juta rupiah, lalu beralih menatap postur tegap Rafsen yang menjulang tinggi, jauh melampaui tinggi badannya. Tanpa berani membuka suara atau melirik lagi, Pak Doni buru-buru menarik tangan anaknya dan kabur terbirit-birit menaiki motor matic-nya.Avena yang masih terpaku dalam dekapan lengan kokoh Rafsen mengerjap-ngerjap tak percaya. "Raf, kamu ngapain ke sini naik motor gede? Kamu kesurupan geng motor mana, hah?" tanyanya dengan nada heran.Rafsen sama sekali tidak menjawab pertanyaan konyol itu. Pria itu justru merapikan helai rambut Avena yang sedikit berantakan. "Ayo pulang," ulangnya lagi."Eh, tapi motor aku gimana? Masa ditinggal di sini?" protes Avena saat menyadari kendaraannya terbengkalai di pojok halaman sekolah."Biar nanti orangku yang ambil. Tinggalkan saja," sahut Rafsen datar. Ia membantu memakaikan helm di kepala

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 15

    Avena akhirnya berusaha menekan rasa cemas yang berkecamuk di dadanya. Mengajar anak-anak TK memang membutuhkan fokus ekstra, dan tidak adil rasanya jika ia melimpahkan kepeningan masalah dokumen jebakan Rafsen kepada bocah-bocah polos yang tidak berdosa ini.Ia berlutut di sebelah kursi Kenzo, memamerkan senyum termanisnya meski matanya masih agak berkaca-kaca karena efek melamun tadi."Kenzo, helikopter warna pink itu keren banget, lho," ujar Avena dengan nada ceria. "Kamu tahu gak? Helikopter pink itu armada rahasia tim penyelamat Barbie dan Spider-Man kalau lagi ada kemacetan parah di langit."Mata Kenzo di balik kacamata Spider-Man-nya seketika membelalak berbinar-binar. "SERIUSAN, MISS?""Seratus persen serius." Avena mengacungkan dua jempolnya. "Makanya, warnai yang rapi. Jangan sampai baling-balingnya keluar garis, nanti helikopternya oleng pas terbang.""Siap, Miss Avena!" pekik Kenzo penuh semangat, langsung menghantam kertas gambar dengan krayon warna tanpa ampun.Avena ter

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 14

    Pagi harinya, Rafsen sudah rapi dengan kemeja kerja dan jas hitam yang tersampir di lengan. Sebelum berangkat, ia sempat mengusap dahi Avena yang masih cemberut di tepi kasur.Avena sebenarnya masih sangat khawatir. Namun, hari ini ia juga harus kembali mengajar di TK karena murid-murid kecilnya sudah memborbardir ponselnya dengan pesan suara rindu. Lagi pula, Avena memilih percaya, otak milik suaminya pasti bisa memproses sinyal bahaya yang sudah ia bisikkan semalam.Pukul sembilan pagi, di meja ruang rapat utama Vantara Architect sudah tertata rapi berkas tebal dokumen kerja sama proyek BSD.Dion duduk di seberang meja dengan wajah tenang, meski gestur tangannya yang terus meremas pulpen membocorkan kegelisahannya. Di samping Dion, berdiri Clarissa dengan seragam kerjanya dan tersenyum manis."Raf, ini draf finalnya," ujar Dion seraya mengulas senyum ramah. "Gue sama Clarissa udah review ulang semalam sampai subuh. Pihak holdin

  • Satu Atap dengan Pria Dingin    Bab 13. Nasihat Istri

    Jantung Avena serasa melompat keluar dari dadanya. Ia membeku, menatap layar ponsel Rafsen yang kini sudah kembali gelap dengan napas tertahan. Jarinya gemetar di bawah selimut, cengkeramannya pada kain sutra piyamanya mengerat."Astaga, Clarissa bener chat kayak gitu?" batin Avena, otaknya yang biasa menyerap ratusan episode drakor genre suspense-thriller kini bekerja keras menyimpulkan pesan tadi. "Pelimpahan utang? Bangkrut dalam hitungan hari ... eum, Clarissa sama Dion jangan-jangan kerjasama mau jebak Rafsen!"Belum sempat Avena menguasai rasa syoknya, layar ponsel Rafsen kembali menyala singkat.Clarissa[This message was deleted.]"Ditarik, pesannya dihapus. Kan ...!" Avena nyaris memekik, untungnya ia berhasil membekap mulutnya sendiri. "Gila, ini pasti ada konspirasi. Dia pasti sadar salah kirim, harusnya dikirim ke Dion malah ke Rafsen, makanya panik dan langsung hapus. Tapi telat, Mbak ... istrinya inu udah baca." Sudut matanya melirik ke pintu kamar mandi. Suara kran ai

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status