Masuk“La? Ini beneran Mama nggak salah dengar kan? Kalian mau rujuk? Ya Allah bener ini? Bener kamu udah setuju?”
Aku tertawa melihat Mama yang melompat di kursi meja makan. Padahal beliau sangat anggun menggunakan kebaya kutubaru, rambut disanggul rapi. Menggunakan perhiasan mencolok. Kalung berlian yang kuyakin harganya lebih fantastis dari rumah ini.Namun gayanya yang tiba-tiba memekik heboh membuat Papa melirik sinis.“Maaf, maaf,” sebut Mama tersipu-sipu. “Maaf Ma“La? Ini beneran Mama nggak salah dengar kan? Kalian mau rujuk? Ya Allah bener ini? Bener kamu udah setuju?”Aku tertawa melihat Mama yang melompat di kursi meja makan. Padahal beliau sangat anggun menggunakan kebaya kutubaru, rambut disanggul rapi. Menggunakan perhiasan mencolok. Kalung berlian yang kuyakin harganya lebih fantastis dari rumah ini. Namun gayanya yang tiba-tiba memekik heboh membuat Papa melirik sinis.“Maaf, maaf,” sebut Mama tersipu-sipu. “Maaf Mama terlalu semangat,” tambahnya sambil meringis.Papa berdecak. “Duduk yang tenang, dengar dulu ucapan anak sampai selesai baru berkomentar,” perintahnya.“Yeaa! Mama mau menikah!” Salsa justru ikut berteriak heboh. Kami serempak tertawa. “Papa juga kan?”“Iya sayang.” Mama mengecup pipinya gemas. “Mama sama Papa Salsa.” Pertama kali membiarkan Mama dan Papa berkunjung ke apartemen untuk melihat keadaan Salsa. Beliau menangis, Papa pun sampai berkaca-kaca.
(Nata’s Pov)“Aku nggak nyangka kalau kamu sepengecut ini Nata. Kamu sengaja bikin ancaman setelah aku nolak untuk membatalkan pernikahan kita. Bukan cuma kamu yang nama baiknya hancur, Lula juga akan kena imbasnya!”“Kamu nggak mau jawab telepon aku? Oke, terserah. Kalau gitu mohon maaf jabatan Direktur operasional jadi milik Damian. Selamat tinggal, Nata.”“Gimana? Aku nggak bercanda, apa susahnya minta maaf, aku nggak akan ganggu kamu sama Lula lagi, tapi temui orang tua aku dan minta maaf sama mereka! Jangan bikin aku marah, Nata!”“Oke, aku minta maaf...”“Brengsek!”Gue cepat-cepat mematikan rekaman voice note terakhir karena isinya hanya desahan dan erangan Calista.Wajah Sumitro tampak merah padam, sepasang rahangnya mengatup ketat.Wanita itu mabuk, dan gue yakin setelah dia sadar nanti, Calista pasti akan menyesali apa yang baru saja dia lakukan bersama partner sexnya.“Apa ini sudah cukup jad
“Tapi soal aborsi itu adalah kesepakatan kami berdua,” lanjutnya. Entah bagaimana dadaku terasa sesak. “Calista belum ingin memiliki anak, karirnya masih panjang, begitu juga dengan pekerjaan saya di sini yang menuntut banyak perhatian. Memang ini terdengar mengerikan, tapi percayalah ini jauh lebih baik daripada janin itu harus hidup dan memiliki orang tua yang belum siap menjadi orang tua.”Menyedihkan.“Damian, kamu nggak punya kewajiban untuk menjelaskan apapun ke aku. Aku memang kaget dengar masalah itu. Tapi aku nggak akan ikut campur.”Damian mengerling. “Saya tau.”“Ya?”“Saya hanya nggak mau kamu berpikiran buruk tenang kami. Itu terjadi sebelum Andrew dan Calista akan menikah.”Aku tidak mau menimbang-nimbang kapan tepatnya mereka berhubungan, jadi aku hanya mengangguk polos.“Lula, saya bisa percaya kamu?” Dia memandangku serius. “Saya bisa minta tolong supaya kamu rahasiakan ini?”Mataku mengerjap.
Aku terburu-buru turun ke lantai 21, mengabaikan panggilan mereka. “Maaf.” Itulah yang kukatakan dan berlalu turun menggunakan tangga darurat bukannya menggunakan lift. Damian memanggil, sementara Calista menyugar rambut gelisah. Mungkin inilah yang dinamakan, sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Aku tidak pernah memikirkan kelemahan Calista setelah tahu bahwa dia sengaja menyebarkan fotoku bersama Nata dengan narasi buruk, lalu membuat kantor terasa seperti neraka untukku. Namun, di sini, terjawab sudah kenapa Nata memilih untuk mundur. Kenapa Nata bersikukuh meninggalkannya. “Lula sebentar...” Suara Damian mengudara, sepatu kulitnya bergema saat membuntutiku di tangga. Aku berjalan sangat cepat, tanpa jeda sampai ke koridor RO Corp yang ramai. Ketika beberapa staf melintas, Damian sontak melambatkan langkah, dan mengangguk saat disapa mereka. Dari pantulan kaca
“Kamu udah gila?” pekikku tertahan, berjalan di koridor kantor tepat setelah rapat selesai menuju ke balkon. “Kenapa kamu mengajukan pengunduran diri?“Nata terdengar menggumam tidak jelas, kelihatan sekali dia ingin menghindar.“Kamu mau naik jabatan Nat!” semburku, mengingatkan. “Yang harusnya resign itu aku bukan kamu!”“Kenapa? Kamu takut aku nggak bisa menafkahi kamu dan Salsa karena jadi pegangguran?” tanyanya santai.Aku memijat pelipis, mendorong salah satu ruangan yang tampak kosong, lalu masuk ke sana. “Pantes aja hari ini kamu nggak nongol di kantor, sejak kapan kamu ngajuin resign, Nat?”“Baru kemarin.”“Ya kenapa?” tanyaku gemas. “Ini pekerjaan yang kamu cintai, kamu udah mengabdi lama di sini, aku nggak pa-pa ngalah karena aku nggak punya ikatan emosional apapun, jabatan aku juga masih rendah. Kenapa harus kamu?”“Kamu nggak kepedean dulu Lula, aku mau mengundurkan diri karena aku memang ingin bukan karena
“Minggu bisa?”“Hmm.”“Oke, selasa? Selasa tanggal merah.”“Hmm.”“Ya sudah, jumat ya?”“Hmm.”“Kamu bisanya hari apa Lula?”Aku mengerling pada Nata yang mengeram rendah. Hilang kesabaran, sementara perhatianku masih jatuh ke dua alamat kontrakan yang dikirim Tria.Aku meringis. “Nanti.”Hidungnya kembang kempis.Dia langsung bangkit dan melengos ke kamar. Aku segera menarik tangannya. Meminta dia tetap di tempat. “Nata, sebentar, jangan marah gitu...”Nata akhirnya kembali duduk di sampingku, aku memintanya bersandar sehingga aku bisa mendekapnya dari samping. Nata melakukan apa yang kuinginkan, kepalaku jatuh di bahunya yang lebar sementara tangannya melingkar di pinggang rampingku.“Sabarlah sedikit,” aku merengek manja.Dia mendesah. “Kapan? Aku sudah terlanjur ngomong sama Mama kalau akan membawa kamu ke rumah.”“Ihh.” Aku menepuk perutnya main-main. “K







