LOGIN(Nata’s Pov)
[]Hari ini hujan deras.Lula benci dengan suasana lembab seperti ini. Biasanya, dia akan mengeluh, lalu duduk di pojok ruangan, menikmati segelas cokelat hangat dibungkus selimut tebal bersama Salsa.Putri kami makin hari makin pintar.Salsa sudah bisa membedakan kapan mood Lula dalam keadaan baik, atau kapan Mamanya tidak ingin diganggu.Tapi kalau sama gue?Tiada hari tanpa membuat gaduh.Kadang saat gue lagi k“Mas, mau bunga?”Reaksi pertama gue adalah mengerutkan hidung. Refleks. Gue nggak suka bunga, tapi Lula suka. Sementara Salsa cenderung menyukai apa yang disukai Mamanya. Anak gue benar-benar copy paste Lula.“Murah kok.” Si gadis kecil yang gue perkirakan umurnya sekitar lima belas tahun itu kembali menawarkan.Gue memperhatikan beberapa tangkai bunga yang berada di keranjang di genggamannya. Tangan itu sedikit gemetar, pucat, dan keriput karena terkena air hujan. Tapi dia berhati-hati supaya bunganya tidak basah.Mawar merah.Bunga biasa.Lula lebih suka peony, atau anggrek. Lula suka sekali dengan warna-warna pink dan earth tone. Jadi, bunga itu sama sekali tidak masuk radar Lula.“Kalau beli dua gratis satu deh.” Si gadis bernegosiasi, senyumnya tampak mengembang. Matanya menyiratkan harapan. Gue yang awalnya tidak berniat untuk membeli jadi merasa iba.“Oke, saya mau dua.” Masalahnya gue jarang menyimpan u
(Nata’s Pov)[]Hari ini hujan deras.Lula benci dengan suasana lembab seperti ini. Biasanya, dia akan mengeluh, lalu duduk di pojok ruangan, menikmati segelas cokelat hangat dibungkus selimut tebal bersama Salsa.Putri kami makin hari makin pintar.Salsa sudah bisa membedakan kapan mood Lula dalam keadaan baik, atau kapan Mamanya tidak ingin diganggu.Tapi kalau sama gue?Tiada hari tanpa membuat gaduh.Kadang saat gue lagi kerja, Salsa nyelong masuk ke ruangan, naik ke kursi sambil memanjat leher gue, meminta di gendong di sana, atau cuma untuk minta tolong memakaikan bonekanya baju, atau meminta rambutnya disisirin.Kalau sudah begitu, gue akan berhenti mengetik dan menuruti permintaannya. “Kenapa nggak sama Mama?” tanya gue suatu hari saat pekerjaan gue lagi numpuk, dan butuh konsentrasi.Salsa berdecak, lalu menempelkan telunjuknya di depan bibir. “Jangan berisik Papa, Mama lagi bobo
“Peluk.” Ia mengulangi.Aku segera meraup tubuhnya yang menjulang ke dalam pelukanku.Astaga.Nata menjatuhkan kepalanya di bahuku, lengan kekarnya melingkar di tubuhku, mendekap sangat erat seperti jatuh, menyerahkan seluruh dirinya.Laki-laki kalau sudah sakit langsung bertingkah seperti bocah, dan itulah yang kurasakan saat mengusapi punggung Nata, mengecup samping kepalanya memberikan penghiburan.Perasaan sayangku membuncah, sementara Nata menghela nafas panjang, seakan dia merasa lega, lalu menghirup aromaku dalam-dalam.“Nggak pa-pa,” sebutku menepuk-nepuk punggung suamiku lembut. “Sakitnya nanti juga hilang, nggak pa-pa, Nata.”Dia semakin menumpukan bobot tubuhnya di tubuhku, aku menahan sekuat tenaga agar kami tidak ambruk.“Lebih sakit didiemin kamu Lula.”Oh? OH?Kupikir dia menangis karena tidak kuat menahan memar di wajahnya.Aku meringis, perlahan mengurai pelukan kami d
“Papa bisa sendiri, Salsa.” Nata menyerah saat putri kami bukannya mengobati dengan benar malah hampir menusukkan katembat itu ke mulut. “Sebentar Papa, diem dulu, nanti nggak sembuh-sembuh, loh.” Salsa mengikuti gaya bicaraku ketika sedang mengomel. Bibirnya mengerucut menggemaskan. Nata kembali meringis, mendongakkan dagunya. Pasrah. “Pelan ya?” “Cerewet banget sih, Papa.” Aku berpura-pura menyesap teh hangatku untuk menyamarkan senyum. Sus Dara terkekeh polos, sedangkan Gio berpura-pura menatap layar ponsel. Bahu Nata tampak naik turun saat membuang napas kasar, ia menarik katembat itu dari tangan mungil putri kami. “Sudah, nggak pa-pa, Papa bisa sendiri. Salsa main dulu sama Sus ya?” “Nggak mau diobatin lagi?” tanyanya, memandang suamiku seakan dia baru saja dicubit, bibirnya melengkung ke bawah. “Papa nggak suka ya?” “Suka dong, maka
Tentu, aku tidak baik-baik saja. Meskipun tidak terluka tetapi tubuhku seakan kehilangan daya. Melihat dua pria dewasa berbadan besar berkelahi itu menakutkan, tanganku gemetar ketika Tria mengantarku pulang. Jujur saja calon suamiku ini benar-benar keras kepala. Apapun yang kukatakan padanya, kalau Nata sudah memutuskan maka sulit sekali untuk dibujuk. Aku menatapnya dalam diam dari balik counter pantry. Perlahan-lahan meniup uap hangat dari mug berisi teh chammolie yang baru kubuat. Nata duduk di sofa living room, berseberangan dari tempatku berada. Dia pun duduk di sana dalam diam, tangan di depan dan saling mengait, postur tubuhnya agak membungkuk, namun tatapannya tidak lepas dariku. Kami saling berpandangan, kemudian membuang muka secara bersamaan. Di tengah-tengah kami ada Gio dan Sus Dara yang sama-sama membisu. “Salsa,” panggilku lembut pada putri kami, satu-satunya makh
“Nata kamu mau apa?” Dia bahkan tidak pernah bertegur sapa dengan Bibi seakan memiliki dendam pribadi, lantas apa maksudnya pelaku penabrakan Salsa itu... Ibnu? “Nata kita nggak punya bukti.” Aku mengeram rendah, mencengkeram tangannya, Nata sontak menoleh. Matanya merah dan wajahnya keras. Jika tidak mengenalnya dengan baik, aku mungkin akan mundur ketakutan melihat amarahnya yang meluap-luap. Aku menelan ludah. “Tolong, aku sayang kamu, aku nggak mau kamu juga terluka dan justru terlibat masalah.” Suaraku melembut, berusaha menenangkan. Namun Nata seperti tuli. “Mind you!” geramnya kasar. “Dia sudah bikin pelipis Salsa dijahit, perutnya dioperasi, dadanya memar. Kamu lupa?” Sial, mana mungkin aku lupa?! Mana mungkin aku lupa dengan rasa sakit yang ditinggalkan hari itu. Ketika aku menatap Salsa yang tergeletak berdarah-darah di aspal, juga saat tubuh mungi







