Masuk“Kenapa kamu diem aja?” tanya beliau selagi kami kembali ke kantor.
“Pak ...” Aku berbisik pelan, lalu menoleh dengan perasaan campur aduk, takut, degdegkan, bingung. “Aneh banget nggak kalau saya langsung menodong Bapak dengan pertanyaan: kita ini apa, padahal baru pertama lunch bareng?” Damian tertawa. Sikapnya yang santai benar-benar membuatku merasa berlebihan. Aku meringis. “Maaf...”Tidak ada desakan dari Damian siang itu agar aku langsung membalas kalimatnya. Apakah aku setuju atau tidak, semuanya terserah padaku. Damian justru meminta agar aku mengambil jeda dan memikirkannya baik-baik sebelum memutuskan. “Akan sangat lucu kalau kamu langsung menolak saya,” katanya saat kami di lift dan akan berpisah ke ruangan masing- masing. “Karena kamu yang awalnya menawarkan banyak pilihan. Dan kalau semua pilihan itu mau kamu tolak. Harusnya kamu nggak bertanya kan?” “Ternyata Bapak manipulatif juga.” Dia kembali tergelak. “Andrew orang yang seperti itu ya? Bagus, jangan samakan dia dengan saya. Kualitas kami jelas berbeda.” Lalu dia mengedipkan sebelah mata sebelum turun di ruangannya lantai 20. Aku mendelik. Dasar narsis. Kenapa aku tidak pernah berurusan dengan pria yang waras? Namun bibirku perlahan m
“Kenapa kamu diem aja?” tanya beliau selagi kami kembali ke kantor. “Pak ...” Aku berbisik pelan, lalu menoleh dengan perasaan campur aduk, takut, degdegkan, bingung. “Aneh banget nggak kalau saya langsung menodong Bapak dengan pertanyaan: kita ini apa, padahal baru pertama lunch bareng?” Damian tertawa. Sikapnya yang santai benar-benar membuatku merasa berlebihan. Aku meringis. “Maaf...” “Nope,” katanya mencoba meredakan perasaan geli. “Nggak pa-pa Lula, saya mengerti maksud kamu ... It’s okay.” “Iya soalnya kita udah tua.” “Saya nggak setua itu,” protesnya. “Yah, oke. Kita udah dewasa,” Aku meralat. “Saya nggak mau menimbulkan salah paham. Kalau Bapak punya pacar, saya nggak mau dituduh macam-macam, apalagi kalau pacar Bapak ada di kantor. Malu saya Pak. Kedua, saya ini janda Pak. Semua orang kantor juga tau itu. K
[] “Makanan kamu nggak sehat, kebiasaan waktu gadis pasti jorok. Nggak pernah olahraga, pola tidur berantakan, ditambah ada penyakit keturunan. Ya sudah wassalam, sampai kapan pun kamu nggak akan bisa punya anak.” Malam itu bulan Juni, musim panas hampir tiba, setelah mengadakan acara arisan keluarga. Aku sedang membantu Mama membersihkan meja di dapur. Merapikan snack dan kue-kue yang masih sisa untuk dibawa pulang keluarga agar tidak mubadzir. Namun perkataan Kaka Ipar Mama, alias Bude Sri langsung menohok sampai aliran darahku seperti membeku. “Semua pasti bisa diusahakan, tapi kalau udah dua kali keguguran. Kemungkinan untuk bisa punya anak lagi, kecil. Bahkan mustahil. Kasihan Indri yang berharap bisa punya cucu malah nggak bisa ngerasain punya cucu.” Beliau mengusap bahu Mama mertuaku seraya mendesah berat. “Dosa apa kamu Indri sampai dikasih cobaan menantu yang nggak bisa hamil.” Mama meringis. Nata memiliki keluarga besar. Papanya enam bersaudara, dan Papa adalah an
“Kenapa kamu berpikir aku melakukan sesuatu pada Salsa? Dia sudah besar, dia bahkan tau apa bedanya teman, apa itu pelayan dan babysitter. Jadi tanpa perlu dijelaskan, Salsa pasti mengerti kalau Damian itu ‘teman’ kamu.” Nata memaparkan dengan tenang, ketika di parkiran aku menghadang jalannya.Pria ini benar-benar licik.“Tapi kenyataannya,” balasku mengeram rendah dari balik gigi yang terkatup rapat. “Dia memperlakukan Damian nggak seperti dia memperlakukan teman-teman aku yang lain. Dia bertingkah nggak sopan, dan itu nggak seperti Salsa yang aku kenal.”“Jadi kamu mau bilang kalau aku mencuci otaknya? Terus menipu dia dengan mengatakan kalau kalian sebenarnya sedang berkencan, gitu?”Aku menatapnya berang.Nata mendengkus. “Kalau itu nggak benar, kamu harusnya nggak perlu takut, Lula. Kalian tinggal buktikan saja kalau ini memang lunch biasa.”“Ini memang lunch biasa!”“Oh ya? Di restoran sepi?”“Namanya jug
“Sebentar, aku benar-benar nggak paham apa yang terjadi di sini.” Damian belum mempercayai penglihatannya.Aku merasa kasihan padanya, dia tampak clueless, wajahnya kosong dan jelas terkejut. Lalu tiba-tiba aku malu karena tidak pernah cerita. Tapi apa urgensinya aku menceritakan tentang kehidupan pribadiku pada Damian?Sial, rasanya serba salah.Nata mendekat, menggandeng Salsa yang langsung menggelayut manja. Wajahnya tampak bangga seolah Papanya adalah selebriti terkenal.“Kebetulan kita bertemu di sini.” Nata menyapa dengan suara datar.Kebetulan?!Lucu sekali manusia yang terbuat dari bongkahan es ini, dia pikir aku akan mempercayai omong kosongnya itu?“Seandainya saya tau kalau restoran yang kalian maksud itu di sini, harusnya kita bisa berangkat bersama.”Oh, itu tidak mungkin terjadi!“Salsa? Di mana Sus Dara?” tanyaku dari balik gigi yang terkatup rapat, masih berusaha mempertahankan senyum. D
“Makasih ajakannya Pak, tapi—”“Kalau kamu menolak, saya kecewa sekali Lula,” sela Damian lembut. Bibirnya seperti menari-nari dalam senyuman. “Kamu sudah pernah menolak saya, kalau sekali lagi ditolak, harga diri saya bisa terluka loh.”Aku meringis, tidak menyangka dengan manuvernya. “Saya usahakan, Pak.”“Saya jemput jam dua belas, ya?”“Kalau kerjaan saya udah lega, Pak. Soalnya seperti yang saya bilang, hari ini saya ada meeting sama Pak Andrew.” Aku pringas-pringis, tidak ingin memberikan harapan palsu. “Takutnya jam segitu belum selesai, Pak.”“Oke, kalau gitu nanti saya yang bilang Andrew townhall bisa dilanjutkan after makan siang,” balasnya enteng. Mataku mendelik, bukan seperti ini jawaban yang kuharapkan! “Coba kita tanya langsung saja sama orangnya ya? Andrew...”Aku benar-benar ingin menyembunyikan diri di kolong meja saat Nata yang baru saja tiba dipanggil oleh Damian.Tubuhku langsung







