LOGIN“Kenapa kamu diem aja?” tanya beliau selagi kami kembali ke kantor.
“Pak ...” Aku berbisik pelan, lalu menoleh dengan perasaan campur aduk, takut, degdegkan, bingung. “Aneh banget nggak kalau saya langsung menodong Bapak dengan pertanyaan: kita ini apa, padahal baru pertama lunch bareng?” Damian tertawa. Sikapnya yang santai benar-benar membuatku merasa berlebihan. Aku meringis. “Maaf...”Aku menatap dua pria yang berada di hadapanku dengan cemas.Damian berada di depan kami, sementara Nata di sampingku. Dan meskipun pertemuan ini tidak hanya dihadiri kami bertiga, namun, tatapan keduanya terpancang satu sama lain.Aku mengerjap kemudian berdiri, membantu Jenny meletakkan nampan berisi minuman bersama pelayan lain dan mengopernya ke atas meja.“Silakan Pak,” sapaku ramah, memecah keheningan di antara mereka.Pak Heru berdeham, menerima minuman yang kami sajikan, lalu mencobanya perlahan. Wajah beliau kelihatan sangat menghargai minuman itu meskipun tampak pula bahwa ekspresinya hanya basa-basi. “Jadi,” cetusnya memulai. “Joyday ini baru buka kemarin? Wah, jadi kami datang di waktu yang tepat ya?”Aku mengangguk-angguk. “Benar Pak, sebenarnya belum sepenuhnya buka. Di atas masih close dan belum bisa dipakai. Untuk saat ini kami masih membutuhkan karyawan tambahan.”Pak Heru manggut-manggut mengerti, menye
(Warning 21+) Apa yang harus kulakukan? Aku tidak tahu harus menaruh tanganku di mana selagi Nata meraba-raba seluruh tubuhku sementara punggungku menempel di dadanya yang dingin. Cuping telingaku ditarik dengan lidah dan giginya, kemudian digigit kecil. Aku merinding, tubuhku sontak gemetar di dalam bathub, membuat air beriak dan memercik ke segala arah. “Nata...” sebutku terengah, menyentuh rahangnya yang kasar. “Sabar...” “Nggak mau sabar.” Nata malah membalas, menyapukan jemarinya ke bawah perutku dan terus ke bawah, menemukan kelembaban yang basah. Lalu Nata mulai membuatnya merekah. Aku mendesis, kepalaku jatuh di bahunya. Nata pun sepertinya tidak mampu menahan diri karena ia berusaha memasukkan jari-jarinya. Aku memekik. “Ah...” Dengan heboh. Sejujurnya, selagi berhubungan seksual, aku ingin bersikap anggun, elegan, atau tidak norak mendesah-desah seperti o
“Asem banget kayaknya, nggak kelar-kelar ini perkara mobil.”Sudah kelar kok, setelah baik-baikan, ciuman-ciuman, peluk-pelukan, aku dan Nata resmi berdamai meskipun... yah, sepertinya suamiku masih jengkel.Aku tidak tahu apa yang salah, mungkin karena Papanya tidak bilang-bilang dulu bahwa akan memberikan hadiah itu. Dan mau bagaimanapun Nata tetaplah suamiku, ia perlu tahu semua yang berkaitan dengan istrinya.“Pak Andrew tuh ngambek karena mau ngasih hadiah mobil juga Mba, tapi nunggu momen pas Mba ulang tahun.” Gio menyodorkan ponselnya yang berisi chatnya bersama dealer dan tawar-menawar yang terjadi. Serta membooking salah satu unit untuk nanti dikirim ke apartemen. Aku langsung mendelik. “Siapa yang nggak kaget malah keduluan Bokapnya.” Dan Gio tertawa bersama teman Nata yang lain.Yang menjadi bahan troll hanya berdecak kesal. Lengan Nata terulur di punggung sofa, tepat di belakangku duduk, sementara Salsa berada di atas pangkuannya, bers
“Ini....beneran?”Aku mengerjap-ngerjap, bingung, heran, shock menjadi satu. Tidak pernah terpikirkan dalam hidupku, aku akan diberikan mobil oleh seseorang.Aku menoleh ke arah Nata, dan Nata ternyata sedang memperhatikanku. Kedua alisnya menyatu serius, dan dia menatapku seakan aku terdakwa kasus korupsi atau semacamnya. Tajam, menilai, meneliti, dan menguliti!Sial.“Aku nggak tahu,” imbuhku buru-buru.Seorang pria dengan seragam merah khas showroom mendekat. “Dengan Ibu Kalula Samahita?” tanyanya. Aku mengangguk hati-hati sambil tidak lepas menatap suamiku. “Tolong tanda tangan di sini Bu, dan mohon diterima ya Bu.”Eh, tunggu dulu...Aku perlu tahu ini dari siapa?Seakan sadar betul apa yang tengah kupikirkan, Nata mengambil alih pertanyaan. “Pengirimnya siapa?”“Dari Pak Nata, Pak.”“Pak Nata?” Nata mengulangi, aku sampai bergerak-gerak gelisah, Gio dan Steven kompak melongo. “Kamu yakin?
“Ini Joyday ramai banget Mba.”Tria celingak-celinguk ketika aku mengundangnya untuk datang di soft launching dari restoran suamiku.Hasil ini sepertinya di luar prediksi, tim marketing Nata berhasil menarik peminat, mungkin karena banyak pilihan diskon plus kami pakai jasa influencer.Tidak sampai yang padat banget, tapi cukup membuat takjub. Terlebih sebagai awal, ini sudah modal yang memuaskan.Nata sibuk sejak pagi, selama sebulan terakhir pasca honeymoon yang cuma di apartemen saja, Nata sibuk mengurus bisnisnya ini. Aku pun mendukung, apapun yang suamiku lakukan. Aku berharap usahanya selalu berhasil.Tria kemudian menyuap Chocolate Souffle miliknya, lalu mengerling saat melihat Steven. “Siapa itu Mba?”“Temannya Pak suami.”“Udah menikah?”Aku tertawa, lebih karena tahu Steven adalah pria metroseksual yang tidak akan mungkin menjalin komitmen. Jadi, aku hanya mengangkat bahu. “Kece banget, kayak
“Istri lagi susah kenapa kamu nggak ada usaha untuk bantu masalah Lula?”Kalimat pertama Papa seketika membuat suamiku membelalak.Ia menatapku sambil mengerutkan alis. “Kamu susah kenapa La?”Sepertinya Nata terkejut, dipikirnya aku terlibat masalah, atau mendadak mendapatkan musibah, sedangkan dia tidak tahu sehingga reaksinya benar- benar out of control. Nata duduk di sampingku dan langsung menggenggam tanganku lembut, menatapku dengan sorot khawatir.“Memangnya ada masalah apa?”“Itu sepupu Lula berani-beraninya ngejual mobil Lula tanpa izin. Terus kamu nggak ngapa-ngapain buat bantuin dia, suami macam apa kamu ini?” seru Papa, nadanya naik satu oktaf.Aku melirik Mama, takut banget Papa akan darah tinggi karena mendadak emosi, tapi Mama pun memekik.“Namanya Ibnu Pa!”Astaga.Mama malah mengompori!“Lah, iya!” sahut Papa. “Ada saudara begitu? Yang kita lagi kena musibah malah mengambil kes







