LOGIN"Pikir sendiri pakai akal sehatmu," balas Nata ketus.
Aku mendelik kesal, tetapi Nata sudah mengalihkan perhatianku pada dokumen di atas meja.
"Baca dan tanda tangani kontrak kerja itu. Meskipun kamu bekerja di bawah Calista, semua laporan pekerjaanmu tetap akan aku periksa."
Aku menahan diri untuk tidak berdecak.
Jadi, dia sengaja memanggilku hanya untuk menegaskan bahwa di sini dialah yang berkuasa?
Aku tidak tahu sejak kapan Nata naik jabatan dari manajer menjadi direktur. Namun, melihat posisinya sekarang, sepertinya ambisi yang selama ini dia kejar akhirnya tercapai.
Dulu, Nata selalu mengutamakan pekerjaan, bahkan ketika rumah tangga kami membutuhkan perhatiannya. Sekarang, aku justru harus bekerja di bawah pengawasannya.
"Kontraknya cuma setahun?" tanyaku setelah membaca beberapa halaman.
"Kamu berharap apa?" Nata balik bertanya. "Pengalaman kerjamu masih terbatas. Kalau kinerjamu bagus dan memenuhi standar perusahaan, baru kami pertimbangkan perpanjangan kontraknya."
Aku mengatupkan bibir, berusaha menelan kekesalan yang kembali muncul akibat perkataannya yang cukup nyelekit.
Tidak heran kalau selama ini dia dijuluki diktator oleh para karyawannya, saat tidak bicara dia akan membuat orang lain segan, tapi saat bicara mulutnya lebih kejam dari omongan tetangga.
"Nggak ada bonus tahunan?" tambahku lagi setelah menelusuri kontrak itu. "Cuti setahun cuma empat kali, gimana–"
"Gimana kamu mau bekerja, kalau isi pikiran kamu cuma bonus dan libur? Di mana loyalitas kamu sebagai staf?" potongnya lagi dengan tajam.
Bibirku terlipat ke dalam, mingkem karena mendadak disembur. "Yah, kamu kan, tahu kalau aku punya balita, Pak," cicitku mencoba bersikap profesional.
"Aku juga punya anak Lula. Bukan cuma kamu yang orang tua di sini."
Tatapan kami bertukar sengit. Dia memandangku tanpa mengalihkan muka sementara aku menelan ludah.
Pada akhirnya akulah yang kalah dalam adu tatap kami dan membuang wajah lebih dulu. Nafasku terembus pelan.
Sialan.
Sepertinya dia sangat kesal kalau aku mulai menyenggol soal putri kami.
Putriku, anakku, yang kulahirkan dengan banyak sekali pengorbanan!
"Kalau memang kamu keberatan dengan aturan yang tertera di situ, kamu masih punya waktu mengundurkan diri."
"Nanya sedikit bukan berarti aku nggak setuju," balasku berdecak sabar.
"Lagipula aku nggak tahu di mana kamu tinggalin Salsa saat sibuk bekerja."
"Yang pasti dia aman karena Papanya susah dimintain tolong."
Nata mendelik. "Kamu nyalahin aku?" tanyanya dingin. "Kamu mau bilang kalau aku nggak bertanggung jawab?"
"Bukan nggak bertanggung jawab, tapi susah diajak kerja sama," balasku terlampau jengkel. Nata sudah akan membuka mulut untuk membalas tapi aku segera menarik ballpoint miliknya yang tergeletak di meja. Dengan sebal dan gerakan mengentak emosi aku membubuhkan tanda tanganku di sana lalu mendorong dokumen itu setelah selesai. "Oke, terima kasih, Pak."
Nata tidak menyahut, dadanya tampak mengembang saat mengembuskan nafas panjang. Kenapa? Apa dia emosi juga? Apa dia mau membantah?
Sudah lama kami tidak bertengkar semenjak saling diam-diaman di rumah, dan rasanya cukup... lega.
Aku berdiri, menunduk dengan sikap sopan yang dibuat-buat, lalu berjalan ke pintu. Tapi belum sempat memutar knop, suaranya terdengar memanggil.
"Lula."
Tubuhku mematung, hanya rasa hormat karena dia bapaknya Salsa-lah yang membuatku akhirnya menoleh. "Ya?"
Kupikir Nata akan memberikan ucapan selamat bergabung, atau memberikan nasihat mengenai pekerjaan, namun dia justru mengatakan sesuatu yang tidak ingin kudengar. "Tolong bantu Calista dan jangan menyusahkan dia."
Oh ya, tentu saja.
Dia sadar selama ini aku orang yang menyusahkan. Aku selalu dianggap tidak mampu melakukan apapun, jadi pasti dia khawatir kalau diterimanya aku bekerja di sini alih-alih membantu justru akan membuat Calista kerepotan.
Akhirnya aku mengangguk singkat.
Tanpa menjawab apapun, aku keluar dari sana dan menutup pintu pelan.
Astaga.
Kupijat pelipisku saat di meja kerja, belum apa-apa sudah merasa tensi.
Di sisi lain, Calista sibuk mengoleskan makeup. Ketika Nata keluar dari ruangannya. Calista pun menutup pouchnya dan mengekori pria itu.
Saat melewati mejaku, Calista berbicara singkat. "Titip sebentar ya?"
Aku tidak tahu apa yang dia titipkan, tapi aku mengangguk tanpa banyak tanya.
Sepanjang hari itu aku tidak melihat Calista lagi di kantor. Dia baru kembali selepas makan siang bersama Nata. Dan pergi sampai office hour berakhir.
Meski aku asistennya, tapi hari itu aku lebih banyak membantu tim kami.
Pinggangku terasa seperti akan copot saat akhirnya aku tiba di kosan. Sejak mengalami masalah pada rahim, tubuhku memang lebih mudah lelah dan pinggangku sering nyeri setelah beraktivitas seharian.
"Mama!"
Salsa berlari menghampiriku begitu melihat mobilku terparkir di halaman. Dia langsung memeluk kakiku hingga boneka Teddy Bear yang dibawanya jatuh ke tanah.
"Halo, Sayang. Gimana mainnya hari ini? Seru?" sapaku ceria.
Namun, bukannya menjawab, Salsa justru menyembunyikan wajah di balik rokku. Bahu mungilnya bergetar menahan tangis.
"Loh, kenapa? Mama kelamaan pulang, ya?"
Salsa menggeleng kuat-kuat sambil menunjuk bonekanya yang tergeletak di tanah.
Belum sempat aku bertanya lagi, Meira sudah keluar dari rumah bersama putrinya, Queen. Dengan nada kesal, dia langsung mengadukan tingkah Salsa yang katanya tidak mau meminjamkan boneka, bahkan sampai mencakar tangan Queen ketika mereka berebut mainan.
"Anakmu itu pelit banget, Mbak. Padahal aku nggak pernah perhitungan kalau Queen mau berbagi makanan atau mainan sama Salsa," keluhnya.
Aku mengernyit, lalu berjongkok di hadapan putriku. "Bener begitu, Sal?"
Salsa kembali menggeleng tanpa berani mengangkat wajahnya.
Saat itulah aku mengambil boneka Teddy Bear miliknya yang terjatuh. Setengah bagian tubuh boneka berwarna merah muda itu sudah menghitam, basah, dan mengeluarkan bau tidak sedap.
"Ini kenapa bisa kotor begini?"
"Jatuh ke got waktu mereka rebutan," jawab Meira ketus sambil menunjuk parit di depan rumah.
Aku kembali menatap Salsa. "Bener, Sayang?"
"Enggak," cicitnya pelan.
Jawaban itu membuatku semakin curiga. Salsa sangat menyayangi bonekanya dan selalu menjaga barang-barangnya dengan baik. Sulit bagiku membayangkan dia sengaja membiarkan boneka kesayangannya sampai sekotor ini.
"Kalau memang Salsa nyakar Queen, aku minta maaf, Mei. Nanti aku nasihati supaya dia nggak mengulangi perbuatannya," ucapku, berusaha tetap tenang. "Tapi soal bonekanya, aku juga mau dengar cerita Salsa dulu."
Meira tampak tidak puas, tetapi aku memilih tidak memperpanjang perdebatan. Aku mengusap rambut Salsa sebelum menggendongnya.
Sayangnya, Bibi Elsi yang sejak tadi ikut menyaksikan keributan justru menambahkan komentar yang membuat dadaku semakin panas.
"Entah nurun sifat kasar siapa. Bapaknya terpelajar, kerja di perusahaan besar. Berarti dari emaknya, ya? Pantas bapaknya malas ngurusin kalau anaknya nakal begitu."
Aku mengatupkan rahang, berusaha menahan emosi.
Ini bukan pertama kalinya mereka menyalahkanku atas tingkah laku Salsa, bahkan menganggap Nata enggan mengurus putrinya. Hanya karena setiap datang ke sini, Nata jarang menyapa mereka, bukan berarti dia tidak menyayangi Salsa.
"Salsa anak baik!" seru putriku tiba-tiba dari gendonganku.
Bibi Elsi langsung mendelik. "Eh, berani jawab kamu?"
"Nggak usah bentak-bentak Salsa, Bi," tegurku tegas. "Aku sudah minta maaf kalau memang dia salah. Tapi bukan berarti Bibi boleh bicara sembarangan tentang anakku."
Bibi Elsi memberengut, mulutnya mulai mengomel tidak jelas.
Aku tidak lagi menanggapi. Sambil menggendong Salsa dan membawa bonekanya yang kotor, aku segera menaiki tangga menuju kamar di lantai dua.
Aku sudah cukup lelah hari ini dan tidak ingin putriku mendengar lebih banyak perkataan menyakitkan.
“Emangnya Bibi nggak kasihan cucu Bibi sendirian, terluntang-lantung di sini?” “Dipenjara nggak boleh bawa anak kecil, kalau Bibi bawa juga percuma.” “Paling enggak, buka aja kuncinya, biarin Queen keluar masuk. Dia pasti pengen kencing, pengen berak, pengen tidur.” “Bahaya, kalau ada orang masuk emangnya kamu mau tanggung jawab?” “Oh, Bibi lebih khawatir sama harta benda Bibi yang nggak seberapa itu dibandingkan cucu Bibi sendiri? Bibi takut harta Bibi dimaling, tapi Bibi nggak takut kalau cucu Bibi diculik, gitu?” “Siapa yang ngomong begitu?” “Ya terus ini apa?” Aku meraung. Kesal setengah mati. Bodo amat tetangga mau dengar. Menurutku ini sudah keterlaluan. Oke kalau memang dia sibuk, atau dia tidak ingin Queen trauma melihat orang tuanya dipenjara. Tapi kan, Bibi bisa membawa Queen ke day care. Itu justru lebih baik daripada membiarkan anak kecil
Sudah tiga hari aku tidak pergi mengunjungi Queen.Gelisah? Tentu saja ada.Aku terus memikirkan, apakah dia sudah makan? Apakah selimutnya cukup tebal untuk tidur? Apakah uang yang kuberikan cukup? Apakah dia bahkan bisa mengurus dirinya sendiri?Lima tahun, for God’s sake.Salsa bahkan masih rewel dan mencari aku saat bangun tidur, ketika aku tidak kunjung berada di jangkauan matanya dia akan menangis keras. Saat makan pun, aku masih harus membujuknya supaya dia mau makan sayur, supaya nasinya dihabiskan. Itu belum dengan bagaimana dia selalu mencari aku tiap melakukan sesuatu yang sepele.Misalnya melukis, meminta dicarikan potongan puzzle, meminta ditemani ke toilet. Meminta dipeluk dan ditepuk- tepuk bokongnya saat mau tidur.Sementara Queen, apakah Bibi bisa menggantikan peran Ibunya?Ini weekend, namun Salsa tetap bergantung padaku untuk dipakaikan kaos kaki. Sepanjang kami jalan-jalan ke Zoo, sepanjang itu pula a
“Wah ini buat Salsa semua, Mama?” Memangnya untuk siapa lagi?Putriku tampak berbinar-binar ketika mengeluarkan sebuah piyama dari dalam paper bag yang kubawa.Tidak hanya itu, aku pun membelikan Salsa sepasang kaos kaki cantik.Salsa suka dengan semua yang berwarna pink, tidak heran kalau matanya sekarang tampak takjub. Ia menyampirkan piyama satin pink dengan tema love itu di tubuhnya kemudian berlari ke kamar. Ingin melihat bagaimana dirinya sendiri di cermin.Aku tertawa.“Mama, Salsa suka banget loh, Mama!” jeritnya dari kamar yang pintunya menjeblak terbuka. “Salsa mau mandi sekarang, terus mau pakai baju ini!”“Dicuci dulu dong sayang. Lagian Salsa udah mandi, ngapain mandi lagi?” “Tapi Salsa nggak sabar!”“Masih ada besok, Salsa.”Anak itu keluar kamar sambil mendekap piyamanya di dada. Aku bahagia melihatnya bahagia seperti ini. Kulirik Nata, yang sedang membolak- balik swe
“Mau ice cream Queen?”Dia mengangguk semangat.“Ini Tante bawain roti juga, nanti dimakan berdua sama Nenek ya?”“Terima kasih Aunty.”Aku mengangguk, membiarkan Queen menarik bungkusan yang kubawa ke dalam rumah. Dari arah kamar, aku mendengar Bibi terbatuk-batuk heboh.Sepertinya beliau masih sakit, saat aku datang Bibi hanya membuka pintu lalu membiarkan aku masuk. Rumahnya kecil, sebuah kontrakan yang hanya memiliki satu kamar. Dari ruang tamu, langsung ke kamar, dapur dan kamar mandi. Tidak ada space untuk menaruh barang-barang. Dan sepertinya perabotan juga sudah dijual. Yang tersisa hanya barang seadanya.Queen kembali dari dapur, lalu ia tersenyum, hanya menatapku.Aku segera menggandeng tangannya keluar dan mengajaknya makan siang.Kami pergi ke tempat yang berbeda kali ini karena aku sadar bahwa anak-anak biasanya gampang bosan. Salsa sendiri bukan anak yang picky eater, tapi dia tidak suka sayur dan
“Hai.”Nata mencondongkan tubuh, mengecup pipiku ketika aku duduk di kursi penumpang mobilnya. Aku membiarkan bibirnya itu turun dan memangut bibirku lembut. Kedua alisnya mengerut saat perlahan menarik diri.“Kamu nangis?” tanyanya.Mataku seketika melebar. “E-enggak! Kenapa aku harus nangis?”Suamiku menatap sekilas sembari melajukan mobilnya. “Wawancaranya nggak berjalan lancar?”“Ya-yaa gitu...” Aku memberikan jawaban yang ambigu, mendadak ngeblank dan tidak mampu berbohong. “Kamu udah jemput Salsa?”Nata hanya menangguk singkat. “Aku antar dia dan Sus ke apartemen. Salsa harus tidur siang, sudah seminggu ini dia ikut kita di restoran. Tubuhnya juga harus istirahat supaya kalau dibangunin pagi-pagi dia nggak tantrum.”“Aku juga mau pulang.”“Kamu nggak mau makan dulu?” “Kamu belum makan?”“Aku nungguin kamu.”“Oke makan dulu.”Nata melirik, ia menarik tanganku dan menggen
Oh Tuhan.Aku mengusap rambut Queen, tersenyum, lalu membelai pipinya.“Nenek ada?”Dia mengangguk tanpa menjawab.Kugenggam tangan mungilnya, dan menariknya ke arah rumah. Queen nurut saja saat kugandeng, aku mengucapkan salam di depan pintu. Di detik itu, Bibi Elsi keluar dari kamar. Beliau hanya mengenakan daster, rambut digulung kusut dengan dahi penuh koyo. Penampilannya berbeda sekali seperti beliau sehari-hari yang selalu glamor dan penuh perhiasan.Kini, tidak kulihat lagi perhiasan-perhiasan itu di tangannya. Wajah beliau bahkan kelihatan lelah dan mengantuk. Namun, saat sadar yang datang adalah aku, beliau langsung memasang tampang defensif.“Bibi udah nggak punya uang,” cetusnya seketika sebelum mampu kutanya.Jujur, aku jadi prihatin dengan beliau. Ketika berhadapan langsung seperti ini ternyata hatiku belum sejahat itu untuk tidak merasa kasihan.“Di Polsek mana Bi?”“Su







