LOGINKulempar boneka itu ke dalam bak dan kurendam dengan air hangat. Saat kembali ke kamar, kulihat Salsa duduk di kasur sambil terisak.
"Mama, maaf ...." rengeknya begitu melihatku.
Aku menghela napas panjang, lalu duduk di sisinya. Salsa langsung merapat dan memeluk lenganku.
"Maaf ya, Mama?"
Aku mengusap rambutnya yang sudah berantakan setelah seharian bermain. "Coba cerita dulu sama Mama. Bener Salsa nyakar Queen?"
Salsa terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk takut-takut.
"Kenapa, Sayang?"
"Queen mau ceburin boneka Salsa ke got. Salsa mau ambil, tapi nggak sengaja kecakar tangannya," jawabnya lirih.
Aku mengembuskan napas berat. Rupanya, itu yang membuat Salsa menangis sejak tadi.
"Ya sudah, lain kali hati-hati, ya. Kalau ada yang mau rusakin mainan Salsa, bilang sama orang dewasa. Jangan sampai kalian saling menyakiti."
"Tapi Mama bilang Queen saudara, jadi Salsa harus berbagi," sahutnya polos.
"Iya, Sayang. Berbagi itu baik, tapi bukan berarti Salsa harus membiarkan mainannya dirusak. Kalau Salsa nggak nyaman, boleh bilang baik-baik."
Salsa mengangguk pelan, meski wajahnya masih murung.
Aku mengecup keningnya. "Sekarang mandi dulu, yuk. Kamu bau got, kasurnya juga jadi ikut bau."
Salsa baru hendak turun dari kasur ketika tiba-tiba menoleh lagi.
"Kalau udah mandi, video call sama Papa, ya, Ma?"
Aku meringis kikuk. "Hah? Sekarang?"
"Salsa pengen lihat Papa."
Ya ampun, apakah sehari saja anak ini tidak bisa berhenti menanyakan bapaknya?
Aku melirik jam di nakas. Hampir pukul tujuh malam. Kurasa Nata masih bekerja karena dia memang terbiasa lembur di kantor.
"Besok pagi aja, ya? Papa mungkin masih kerja dan pasti capek."
"Sebentar aja, Mama!" rengeknya sambil menangkupkan kedua tangan. "Please ...."
Aku menatap wajah memelasnya. Kalau sudah begini, sulit sekali menolak permintaannya.
Akhirnya, aku mengalah. "Oke, tapi mandi dulu. Habis itu baru kita telepon Papa."
Salsa langsung bersorak girang. Dia melompat turun dari kasur, lalu bergegas mengambil handuknya.
Selesai mandi dan mengenakan piyama, Salsa langsung naik ke kasur. Dia meletakkan bantal di pangkuannya, lalu menyandarkan ponsel di atasnya sambil menunggu panggilan video tersambung.
"Halo, Papa!" sapanya riang begitu wajah Nata muncul di layar.
"Salsa?" Suara berat mantan suamiku langsung membuat perutku terasa mulas.
Aku memilih duduk agak jauh dari Salsa. Biasanya, setiap kali mereka melakukan panggilan video, aku memang sengaja membiarkan keduanya mengobrol tanpa ikut campur. Dengan begitu, aku tidak perlu banyak berurusan dengan Nata.
"Papa itu dimana?" tanya Salsa sambil mendekatkan wajahnya ke layar.
"Papa masih di kantor, Sa."
Nah, kan. Aku meringis, sudah kuduga Nata masih mendekam di ruangannya..
"Papa nggak mau pulang, nggak kangen Salsa?"
Tidak ada jawaban. Yang terdengar justru suara ketikan dari seberang sana. Aku mengernyit, mulai kesal karena Nata tampaknya masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Papa nggak kangen ya?" Salsa kembali memanggil sambil memiringkan kepala. "Kangennya sama Mama?"
Aku langsung menoleh tajam.
Heh! Apa-apaan anak ini?!
"Iya," jawab Nata singkat.
Mataku semakin membelalak. Dia mendengar pertanyaan Salsa atau asal menjawab, sih?
Salsa langsung cekikikan sambil menutupi mulutnya. Melihat itu, aku mengacungkan telunjuk sebagai peringatan, tetapi bocah itu malah menjulurkan lidah ke arahku.
"Sudah kerjain tugas sekolah?" Suara Nata kembali terdengar, kali ini tanpa diiringi bunyi ketikan.
"Udah, Papa!"
Salsa pun mulai bercerita panjang lebar tentang kegiatannya hari ini, mulai dari pelajaran di sekolah sampai insiden boneka Teddy Bear yang tercebur ke got. Sesekali terdengar Nata menanggapi, meski jawabannya tetap singkat.
Karena mereka tampak asyik mengobrol, aku memutuskan untuk mandi.
Aku berdiri membelakangi Salsa, lalu mulai melepas pakaian kerja yang masih kukenakan. Kemeja dan rok kulepas satu per satu, disusul camisole serta pakaian dalamku. Udara kamar yang sejuk terasa nyaman menyentuh kulit setelah seharian beraktivitas.
Di belakangku, suara Salsa masih terdengar riang.
"Papa, Salsa boleh beli boneka baru? Dua, ya?" tanya Salsa sambil mengacungkan dua jarinya.
"Boleh,” jawab Nata terdengar datar.
"Yang besar juga?" Salsa semakin berbinar.
"Iya, nanti pilih sendiri."
Aku berdecak pelan sambil mengikat rambut menjadi cepol asal. Begitulah Nata kalau sudah menghadapi Salsa. Apa pun yang diminta putrinya hampir selalu dituruti.
"Terus, kapan kita ke kebun binatang, Pa? Minggu ini, ya? Salsa mau lihat beruang beneran!"
Kali ini Nata tidak langsung menjawab. Hanya terdengar gumaman rendah dari seberang telepon.
Aku membuka lemari dan mengambil bathrobe bersih, sementara Salsa masih sibuk membujuk papanya.
Namun, tiba-tiba suara Nata terdengar lebih berat.
"Salsa, sekarang tidur."
Aku mengernyit. Kenapa mendadak menyuruh Salsa tidur? Kalau memang tidak bisa mengajaknya pergi, tinggal bilang saja.
"Tapi Salsa belum ngantuk, Pa."
"Sudah malam. Besok kamu sekolah," jawab Nata tegas.
Aku menggeleng kecil sambil mengenakan bathrobe. Dasar manusia es. Menjawab permintaan anak sendiri saja harus sekaku itu.
"Salsa," panggil Nata lagi, kali ini dengan suara agak serak.
"Iya, Papa. Salsa tidur sekarang."
Aku baru selesai mengikat tali bathrobe ketika berbalik ke arah kasur. Namun, langkahku seketika terhenti.
Salsa sedang memutar ponselnya kembali menghadap wajahnya.
"Ya udah, Papa. Dadah!" serunya sambil melambaikan tangan. "Salsa tidur sekarang. Bye!"
Panggilan pun terputus.
Tunggu sebentar. Aku merasa ada yang salah.
Kenapa tadi ponselnya harus diputar?
"Salsa ...." Aku mendekati kasur dengan jantung mulai berdebar. "Tadi layarnya menghadap ke mana?"
"Makasih, Mama. Papa nyuruh Salsa tidur," jawabnya polos sambil meletakkan ponsel di nakas dan menarik selimut.
Astaga, bukan itu yang kutanyakan!
"Salsa," sebutku mulai gemas, menyelipkan anak rambut ke daun telinga. "Tadi kamu putar layarnya?"
Salsa mengangguk. "Iya."
"Ke-kenapa ke arah Mama?" tanyaku panik, mengeratkan ikatan bathrobe.
"Papa mau lihat Mama," jawabnya polos.
"Kapan Papa bilang begitu?" Aku tidak mendengar Nata menyebut namaku.
Salsa nyengir lebar, memamerkan gigi kelincinya. "Papa memang nggak bilang, tapi Salsa tau," sebutnya cekikikan.
Aku tercengang.
Pantas saja Nata tiba-tiba menyuruh Salsa tidur dengan suara aneh!
Ternyata sejak kapan ponsel itu menghadap ke arahku? Sejak aku melepas kemeja? Atau bahkan sampai seluruh pakaianku terlepas?
Ya Tuhan .... Aku benar-benar ingin menangis!
“Selemah itu iman lo, dikasih senyum sama kedipan dikit langsung meleyot.” Steven mencibir saat tahu apa yang terjadi dengan kami. Semua ini karena mulutnya Salsa yang bawel dan mengumumkan bahwa Queen akan menginap di rumah kami. Itulah sebabnya anak dan istri gue sekarang sudah gue antar pulang ke rumah. Sementara gue masih di resto.“Rasain dulu punya istri baru komentar,“ balas gue tajam. “Justru karena gue lihat pernikahan- pernikahan kalian ini makanya gue ogah menikah,” jawab Steven mencemooh.“Lah, emang kenapa sama pernikahan kita? Pernikahan gue happy-happy aja.” Dimas menyeletuk santai.“Gue juga bahagia lahir batin,” Nugo menimpali. “Justru lo dan kebobrokan lo yang gonta-ganti pasangan itu kayaknya yang nggak bahagia,” candanya.Dimas tertawa.“Yang waras dikit, umur udah mau kepala empat, apalagi yang mau dikejar? Mending cari pasangan, hubungan stabil nggak ada drama-drama sama cewek random. Ah, nikmatnya hidup.”
(Nata’s Pov)Obsesi Lula tentang anak-anak itu semakin lama semakin membuat gila.Gue nggak masalah kalau dia mau menambah anggota keluarga. Gue bahkan sudah memikirkan ini sebelum kami rujuk. Karena gue tahu Lula nggak akan merasa cukup dengan Salsa.Tapi bukan anak Ibnu juga, brengsek.Selain anak yang bernama Queen itu punya wajah yang sangat mirip Ibnu. Gue terganggu dengan umurnya yang sama dengan umur Salsa, dan itu membuat gue kembali ke momen saat menyaksikan anak gue hampir wafat.Dan kenapa dengan semua kejadian traumatis itu, Lula masih bisa menatap Queen dengan perasaan iba?Oke, katakanlah gue keras kepala, hati batu atau semacamnya. Tapi anak itu akan baik-baik aja. Percaya sama gue. Neneknya nggak mungkin membiarkan cucunya sendiri menderita. Dan bukannya Ibnu masih punya saudara? Mereka bisa menampung Queen. Jadi, untuk apa Lula harus turun tangan?Setiap kali melihat interaksi mereka, rasanya gue pengin
“Jadi ini namanya Queen Almira? Oh halo, Queen, apa kabar?”“Ayo dijawab.” Aku mendorong Queen untuk membuka suara, tetapi gadis kecil itu bersemu, wajahnya mesam-mesem di depan Miss Gina. “Malu dia, Miss.”“Baik...” Queen menggumam pelan.Kami sontak terkekeh.“Queen umurnya lima ya? Wah, banyak dong, sebentar lagi mau masuk SD. Atau mau langsung SMP, Queen?”“SD!” Dia memekik.Kami kembali tertawa.“Bagus, nggak mungkin langsung masuk SMP kalau belum SD ya? Jadi, Queen di sini sekolah untuk masuk SD benar?”Anak itu manggut-manggut.Miss Gina tersenyum lebar. “Pintar. Kelas musik, kelas tari, kelas melukis. Kelas apa yang paling Queen suka?”“Olahraga.”Menggemaskan, kami tertawa.“Oh, iya, boleh juga, kelas olahraga Queen suka kegiatan outdoor ya? Kalau gitu diisi dulu lembar pendaftarannya, boleh? Di bantu sama Mama—”“Maaf,” potongku segera. “Saya Tantenya, dan i
“Kamu nggak perlu ngelakuin itu, Nat.”Apa yang bisa membuat suamiku mendadak berubah pikiran? Atau dia hanya ingin memastikan sesuatu?“Apa maksud kamu nggak perlu? Kamu istri aku Lula, dan kegiatan yang kamu ucapkan barusan pasti membutuhkan waktu yang lama. Aku perlu memastikan kamu aman.”Tuh, kan. Nata selalu punya rencana!Tapi Queen pasti akan bingung jika aku bersama Nata, atau lebih buruk lagi, anak itu akan merasa ketakutan.“Nata...” Aku buru-buru berdiri, mengekorinya yang keluar dari ruangan. “Jangan hari ini, lain kali aja,” usulku terengah. “Kalau memang kamu mau lihat Queen, nanti kita atur makan malam dan undang dia ke sini. Gimana? Salsa juga pengen ketemu dia, anak-anak bisa main bersama.”“Kamu nggak dengar ucapan aku Lula?”Sulit sekali bicara dengannya sambil membuntutinya seperti ini. Nata menuruni anak tangga dengan cepat, sementara aku harus mengejarnya. “Aku perlu memastikan kamu, buk
“Kamu nggak kelihatan happy hari ini.”Benarkah?Padahal aku sudah melakukan ten steps morning routine, makeup flawless. Mengenakan midi dress kesukaan suamiku meski di baliknya aku melapisinya dengan turtle neck tipis. Menurut Tria penampilanku bahkan kelihatan seperti remaja Amerika di zaman film Clueless. Dan aku menganggap itu sebagai pujian.Wah, walaupun aku tahu tidak ada remaja yang memiliki stretchmark sepertiku, dan lengannya bergelambir. Namun aku cukup percaya diri hari ini.Sayangnya menurut Troy semua yang kupakai tidak mampu menutupi kegelisahan di wajahku, atau mungkin dia pandai membaca ekspresi?Aku berdeham. “Memang agak kurang tidur hari ini, tapi semua aman kok.”Dia tersenyum simpul, meletakkan fluffy cake dengan topping guyuran cokelat leleh dan boba di atasnya. “Silakan.”“Terima kasih, menu baru ya?”“Nope, kamu harus coba, semoga bisa membantu kamu supaya lebih rileks.”Aku mer
Mataku terbuka saat mendengar suara ponsel yang berdering di nakas. Aku perlahan menggeliat bangkit, mendongak dari dada bidang suamiku, lalu perlahan menoleh sambil memanjangkan lengan, meraba-raba nakas. Mataku sontak menyipit melihat mama Frederika terpampang sebagai caller id. Aku menggeser tombol hijau selagi beringsut duduk, memungut bathrobe yang teronggok di lantai. “Halo?” “Hai Lula, ini Frederika.” “Ya?” “Aku mau kasih informasi kalau Queen udah aku daftarin di TK ya.” “Oh?” Aku bergegas menggunakan bathrobe itu dan mengikatnya erat di pinggang, kemudian keluar kamar. “Minggu depan paling lambat dia udah mulai sekolah lagi, tempatnya dekat dari rumah, jadi gampang antar jemput.” “Makasih banyak Frederika.” “Yah, bukan masalah, aku udah anggap Queen sebagai anakku juga. Udah itu aja sih, soal pembayaran nanti aku kirim rinciannya by WA ya? A







