INICIAR SESIÓNAPA KALIAN SIAP BUAT BAB SELANJUTNYA?? 🤣🤣🤣
Davina tengah duduk di dalam ruang kerjanya, alisnya nyaris bersinggungan kala menatap jendela besar yang tampak penuh oleh tempias hujan.Ia mendengus sebelum berbalik menghadap mejanya, mengetukkan jari telunjuknya beberapa kali agar pening yang mencengkeram kepalanya ini sedikit memudar.Ia tidak tahu lagi harus melakukan apa setelah Naya pergi. Perempuan itu tidak bisa dihubungi hingga hari ini.Rasanya, badai sedang menghantam keluarga Maharendra.Kemarin ia mendengar Altair yang marah pada Mahesa perkara anak lelakinya itu tidak becus melakukan pekerjaannya.Dan sekarang, Davina pikir ia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.Ancaman perceraian dari Kaisar itu, ia tahu tidak main-main. Dan Naya yang tadinya ia jadikan sebagai alat untuk memberi mereka anak malah hilang entah ke mana.‘Apa dia sengaja kabur dengan membawa anaknya Kaisar?’ gumam Davina dengan resah.Tidak!Naya tidak memiliki keberanian sebesar itu.Ia mengangkat wajah saat mendengar pintu ruangannya diketuk da
Rencana awal Kaira adalah membuat makan malam sederhana daripada harus memesan dari luar dan kemungkinan datangnya lama mengingat di luar hujan sedang mengguyur.Namun, rencana itu buyar seketika tatkala sepasang tangan kekar Kaisar melingkar posesif di pinggangnya, menarik tubuhnya merapat ke punggung bidang pria itu tanpa memberi celah untuk berkelit.Dan ‘Mau nggak’ yang penuh godaan dari bibirnya itu … bukankah Kaira tidak perlu bertanya apa yang sebenarnya Kaisar inginkan?Kecupannya singgah di leher Kaira, menjajah hingga ke telinga.“Mas, tapi masakannya—”Kaira tidak bisa memproses apa yang terjadi, ia terkesiap, jemarinya refleks menahan dada Kaisar kala pria itu membalikkan tubuhnya.“Aku ‘kan udah bilang, maunya makan kamu,” bisik Kaisar sekali lagi.Suara baritonnya melekat persis di kulit leher Kaira.“Akh—!” Kaira menjerit lirih saat Kaisar membawanya melangkah menuju kamar tidur, mengisolasi dunia mereka dari suara derasnya air hujan di luar yang tempiasnya singgah ke
Kaira meremas jemarinya sendiri kala melihat wajah memelas Mahesa. Pria itu mengulurkan tangannya, mencoba meraih pergelangan tangan Kaira. “Aku akan memperbaiki semuanya, Kaira ….” ucapnya serak, menatap Kaira dengan sorot mata yang memohon. “Aku nggak akan mengabaikan kamu lagi. Kita pulang ke rumah sekarang ya?” Mendengar manisnya nada bicara pria itu, dalam hati Kaira berpikir, seandainya ia tidak pernah melihat perselingkuhan Mahesa dan Zia dengan mata kepalanya sendiri di berbagai tempat, atau seandainya pria itu tidak selalu membela Sasmita selama ini, maka Kaira sudah pasti akan percaya. Ia mungkin akan kembali tertipu dan memberikan kesempatan kedua untuk Mahesa. Lagi pula, Kaira seperti sudah bisa membaca bahwa tujuan Mahesa ke sini: karena pria itu ingin menyelamatkan dirinya sendiri dari Altair. Jika mereka tidak jadi bercerai, maka Kaira akan kembali diperbudak. Kaira dengan cepat menarik tangannya, menjauh menciptakan jarak. “Maaf, aku gak bisa, Mas.” “Kenapa?!”
Setelah Kaira meninggalkan ruang keluarga, situasi belum bisa dikatakan kondusif sebab Altair malah semakin marah. Meja kaca yang ada di sana hancur berantakan setelah dilempar Altair dengan menggunakan vas. Semua orang membeku, tak ada yang berani bergerak bahkan saat kepingan kaca itu berhamburan ke segala arah. Altair berkacak pinggang, menata napasnya yang naik turun tak beraturan sebelum menyasar Mahesa yang kedua telinganya memerah. “Mau berapa banyak lagi kamu bikin aku kecewa, Hesa?!” hardiknya. “Aku berharap banyak padamu tapi kayaknya kamu cuma meremehkanku!” Karena Mahesa tak menunjukkan tanda akan menjawab, Altair menghadapkan tubuhnya pada anak lelakinya itu. “Aku bertanya padamu, Hesa! Kamu nggak punya mulut? Jawab!” Mahesa menghela napas dalam, “S-semua ini gara-gara Kaira, Pa! A-aku nggak salah—” “Kalau kamu nggak salah, nggak mungkin Kaira pergi darimu,” sela Altair. “Dia benar, manusia juga ada batasnya. Aku muak sama yang kamu lakuin. Beresin semua ini,” geram
“Aku udah nahan biar nggak ngomong ini dari dulu karena malu sama Kaisar,” imbuh Altair masih sama berangnya. “Setiap hari yang kalian lakuin itu cuma ribut nggak jelas! Apa kalian nggak bisa bersikap sedikit lebih terhormat?!” Di depan mata Kaira … ia melihat sendiri bagaimana keluarga Maharendra tengah terbakar oleh kemarahan Altair. Ia melirik Monica yang berdiri membeku di dekat pilar, dan Zia yang tampak ketakutan, barangkali merasa bersalah karena dirinyalah yang telah menghalangi Kaira sehingga tarik ulur yang menyebabkan Kaira terjatuh itu terjadi. Sasmita memucat di dekat Altair, menunduk tak berani menatap sang suami yang masih nyalang sepasang iris kelamnya, terutama pada Mahesa. Keheningan terjadi lebih dari sekian menit berlalu. Altair mendorong napasnya dan dengan nada bicara yang lebih lembut bertanya pada Kaira. “Kamu baik-baik aja, Kaira?” Kaira mengangguk, menunjukkan senyumnya. Altair sejenak memejamkan matanya sebelum memandang koper Kaira. “Kamu yakin sama
“P-Papa?” Altair tidak datang secara tiba-tiba. Pria paruh baya itu sudah berdiri di kejauhan sejak Kaira mengatakan perihal ia dan Mahesa yang sudah sekian lama pisah ranjang. Menjadi pendengar dan terus di sana tanpa ada yang tahu sampai Kaira pura-pura terjatuh dan ditahan oleh Sari. Benar, Kaira memang hanya berpura-pura. Ia tidak ingin jatuh lagi setelah kemarin didorong oleh Mahesa dan menempatkan bayinya dalam bahaya, sehingga ia mencari tempat ‘mendarat’ yang tepat, yakni pada Sari yang sudah pasti akan menolongnya. Tadinya Kaira tidak ingin melakukan itu, tapi karena Zia bersandiwara dengan membela Sasmita dan bersikap polos padahal ia ingin membuat Kaira terlihat sebagai pencuri, maka Kaira pun memutuskan untuk bersandiwara juga. Keputusan itu rupanya tepat sebab itu telah meyakinkan Altair bahwa seburuk inilah ia diperlakukan. Ayah mertuanya itu marah besar pada Mahesa. Anak kesayangan yang selalu dibanggakannya dan ia pilih untuk menjadi penerusnya itu baru saja ditam







