LOGINwkwkw pak Kai makin menjadi-jadi 🤤🤤
Kaira sedang ada di kubikelnya saat Rani yang duduk di meja kerja di seberangnya mengisyaratkan agar ia memeriksa pesannya.Kaira menggeser kursor di layar monitornya dan menjumpai pesan dari Rani yang menyeruak.[Lihat pengumuman di web, Bu Kaira. Selamat ya ….]Saat Kaira lakukan itu, dadanya berdebar penuh rasa senang.Karena akhirnya … usaha yang ia lakukan selama menjadi ‘budak’ Mahesa itu telah membuahkan hasil.Sebab di sana, perusahaan telah mengumumkan.[ANNOUNCEMENT] PROMOSI JABATAN STRATEGIS DEPARTEMEN PEMASARAN MAHA GROUPYth. Seluruh Staf Maha Group,Merujuk pada hasil Evaluasi Kinerja Tahunan dan Audit Kompetensi Khusus yang telah dilaksanakan oleh jajaran Direksi serta Departemen Human Resources, bersama ini manajemen perusahaan dengan bangga mengumumkan promosi jabatan untuk:Nama: Kaira ArunayaJabatan Sebelumnya: Asisten Manajer Pemasaran (Assistant Marketing Manager)Jabatan Baru: Senior Marketing ManagerTanggal Efektif: 1 Oktober.….Berbagai ucapan selamat memenu
Sekitar pukul tujuh malam saat Jevan masuk ke dalam salah satu restoran bintang lima dan menemui Davina yang ada di private room.Pemuda itu menundukkan kepalanya kemudian duduk saat Davina mempersilakannya.“Apa Kaisar sangat sibuk belakangan ini, Jevan?” tanya Davina memulai. “Sampai dia lupa nggak pulang ke rumah loh. Dia ketemu siapa aja?”Jevan tersenyum saat membalas, “Saya udah pernah bilang ke Bu Davina, ‘kan? Saya nggak mau ikut campur,” katanya. “Saya pikir Anda meminta saya ke sini tadi untuk membicarakan soal pekerjaan.”Tepat setelah Jevan berhenti bicara, Davina mengambil sesuatu dari bawah meja. Sebuah tas jinjing berukuran cukup besar yang lalu ia letakkan di hadapan Jevan.Wanita itu membukanya dan menunjukkannya pada Jevan. Tumpukan uang mencuat dari dalam sana, tak ternilai jumlahnya.“Apa maksud Bu Davina?”“Minta berapapun yang kamu mau,” kata Davina. “Tapi kasih tahu aku di mana Kaisar tinggal, jadwalnya, dan ke mana aja dia pergi.”“Kenapa Anda melakukan ini?”D
Davina tengah duduk di dalam ruang kerjanya, alisnya nyaris bersinggungan kala menatap jendela besar yang tampak penuh oleh tempias hujan.Ia mendengus sebelum berbalik menghadap mejanya, mengetukkan jari telunjuknya beberapa kali agar pening yang mencengkeram kepalanya ini sedikit memudar.Ia tidak tahu lagi harus melakukan apa setelah Naya pergi. Perempuan itu tidak bisa dihubungi hingga hari ini.Rasanya, badai sedang menghantam keluarga Maharendra.Kemarin ia mendengar Altair yang marah pada Mahesa perkara anak lelakinya itu tidak becus melakukan pekerjaannya.Dan sekarang, Davina pikir ia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.Ancaman perceraian dari Kaisar itu, ia tahu tidak main-main. Dan Naya yang tadinya ia jadikan sebagai alat untuk memberi mereka anak malah hilang entah ke mana.‘Apa dia sengaja kabur dengan membawa anaknya Kaisar?’ gumam Davina dengan resah.Tidak!Naya tidak memiliki keberanian sebesar itu.Ia mengangkat wajah saat mendengar pintu ruangannya diketuk da
Rencana awal Kaira adalah membuat makan malam sederhana daripada harus memesan dari luar dan kemungkinan datangnya lama mengingat di luar hujan sedang mengguyur.Namun, rencana itu buyar seketika tatkala sepasang tangan kekar Kaisar melingkar posesif di pinggangnya, menarik tubuhnya merapat ke punggung bidang pria itu tanpa memberi celah untuk berkelit.Dan ‘Mau nggak’ yang penuh godaan dari bibirnya itu … bukankah Kaira tidak perlu bertanya apa yang sebenarnya Kaisar inginkan?Kecupannya singgah di leher Kaira, menjajah hingga ke telinga.“Mas, tapi masakannya—”Kaira tidak bisa memproses apa yang terjadi, ia terkesiap, jemarinya refleks menahan dada Kaisar kala pria itu membalikkan tubuhnya.“Aku ‘kan udah bilang, maunya makan kamu,” bisik Kaisar sekali lagi.Suara baritonnya melekat persis di kulit leher Kaira.“Akh—!” Kaira menjerit lirih saat Kaisar membawanya melangkah menuju kamar tidur, mengisolasi dunia mereka dari suara derasnya air hujan di luar yang tempiasnya singgah ke
Kaira meremas jemarinya sendiri kala melihat wajah memelas Mahesa. Pria itu mengulurkan tangannya, mencoba meraih pergelangan tangan Kaira. “Aku akan memperbaiki semuanya, Kaira ….” ucapnya serak, menatap Kaira dengan sorot mata yang memohon. “Aku nggak akan mengabaikan kamu lagi. Kita pulang ke rumah sekarang ya?” Mendengar manisnya nada bicara pria itu, dalam hati Kaira berpikir, seandainya ia tidak pernah melihat perselingkuhan Mahesa dan Zia dengan mata kepalanya sendiri di berbagai tempat, atau seandainya pria itu tidak selalu membela Sasmita selama ini, maka Kaira sudah pasti akan percaya. Ia mungkin akan kembali tertipu dan memberikan kesempatan kedua untuk Mahesa. Lagi pula, Kaira seperti sudah bisa membaca bahwa tujuan Mahesa ke sini: karena pria itu ingin menyelamatkan dirinya sendiri dari Altair. Jika mereka tidak jadi bercerai, maka Kaira akan kembali diperbudak. Kaira dengan cepat menarik tangannya, menjauh menciptakan jarak. “Maaf, aku gak bisa, Mas.” “Kenapa?!”
Setelah Kaira meninggalkan ruang keluarga, situasi belum bisa dikatakan kondusif sebab Altair malah semakin marah. Meja kaca yang ada di sana hancur berantakan setelah dilempar Altair dengan menggunakan vas. Semua orang membeku, tak ada yang berani bergerak bahkan saat kepingan kaca itu berhamburan ke segala arah. Altair berkacak pinggang, menata napasnya yang naik turun tak beraturan sebelum menyasar Mahesa yang kedua telinganya memerah. “Mau berapa banyak lagi kamu bikin aku kecewa, Hesa?!” hardiknya. “Aku berharap banyak padamu tapi kayaknya kamu cuma meremehkanku!” Karena Mahesa tak menunjukkan tanda akan menjawab, Altair menghadapkan tubuhnya pada anak lelakinya itu. “Aku bertanya padamu, Hesa! Kamu nggak punya mulut? Jawab!” Mahesa menghela napas dalam, “S-semua ini gara-gara Kaira, Pa! A-aku nggak salah—” “Kalau kamu nggak salah, nggak mungkin Kaira pergi darimu,” sela Altair. “Dia benar, manusia juga ada batasnya. Aku muak sama yang kamu lakuin. Beresin semua ini,” geram







