LOGINPernikahan yang Gyana jalani bersama Sean nyatanya tidak sesempurna yang terlihat. Sean ternyata justru mencintai Tania—putri angkat keluarga Gyana. Setelah mengetahui kenyataan itu, Gyana memilih mundur dan mengacuhkan Sean. Saat Gyana sudah tidak memperdulikan Sean, pria itu justru berusaha mendekatinya.
View More"Nyonya yakin mau masuk? Tapi Tuan Sean bisa marah.”
Nada kekhawatiran Fiska terdengar jelas. Namun, Gyana hanya menoleh lalu mengangguk singkat. Seolah-olah peringatan perempuan berseragam maid itu bukanlah hal yang bisa menunda keinginannya malam ini. Di tangannya sudah terdapat paperbag kecil dengan logo brand barang mewah. Hadiah ini adalah kado anniversary pernikahan pertama untuk Sean. Sengaja Gyana siapkan sejak tiga bulan yang lalu. Semesta sudah berpihak padanya dengan Sean pulang lebih cepat dari biasanya malam ini. Gyana tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kini Gyana dan Fiska sudah berada di depan ruang pribadi Sean—suaminya. Pintu mahogany yang berdiri tegak dengan gagah di depan mereka ini menampilkan aura dominan yang sama dengan pemilik ruangan. “Biarkan saya sendiri kali ini. Bibi bisa langsung istirahat,” ucap Gyana, kembali fokus menatap pintu. “Terima kasih sudah memberikan kunci ruangannya, Bi.” Seulas senyum tipis pun muncul di bibir Gyana, berusaha meyakinkan Fiska bahwa ia akan baik-baik saja. Fiska mengangguk pasrah. “Baiklah. Saya permisi dulu, Nyonya.” Setelah kepergian Fiska, Gyana menarik napas lebih dalam. Kemudian menghembuskannya perlahan. Berusaha menenangkan ritme napasnya yang berderu lebih cepat. “Tenang, Gya. Kamu hanya perlu meletakkan kado ini di meja lalu pergi,” ucap Gyana pelan. Setelah dirasa siap, perlahan Gyana menyentuh handel pintu dan mendorongnya perlahan. Kedua sudut bibir Gyana tertarik lega, pintu itu tidak terkunci. Setidaknya Gyana tidak perlu mengganggu Sean dengan suara yang ditimbulkan ketika ia memutar kunci. Gyana masuk dengan penuh hati-hati. Tatapan penuh waspada mulai ia layangkan. Dalam hati ia sangat berharap saat ini Sean sedang berada di kamar mandi atau tidak benar-benar di ruangan yang belum pernah Gyana masuki itu. Kosong. Gyana tidak menemukan Sean di hadapannya. Helaan napas lega lolos begitu saja. Ruangan cukup besar dengan nuansa gelap itu terasa mengintimidasi Gyana. Tidak banyak furniture di sana. Aroma maskulin khas Sean menusuk hidung Gyana. Tempat ini menggambarkan sosok pendiam suaminya. Pandangan Gyana tidak terlalu memperhatikan interior ruangan. Seperti niat awalnya, ia hanya perlu meletakkan hadiah Sean lalu pergi. Namun, belum sempat kaki Gyana melangkah lebih dekat dengan meja kerja Sean, matanya lebih dulu menangkap pemandangan yang tiba-tiba menyesakkan dada. Jantung Gyana bertalu lebih cepat. Napas seakan berhenti dan tangannya mulai berkeringat dingin. Beruntung ia masih bisa mengendalikan diri agar kakinya tidak langsung lemas. Bibirnya terkatup rapat, tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Sebuah figura berukuran besar terpajang indah di dinding. Tampak begitu menawan dan memikat hati yang memandang. Tidak hanya ukuran bingkai foto yang indah, tetapi sosok yang berada dalam foto pun membuat mata betah memandangnya. Di sana, seorang gadis tersenyum dengan raut sangat bahagia. Tampak begitu serasi dengan gaun putih yang membungkus tubuhnya dengan sempurna. Di tangannya sebuah bouquet menambah kesan kebahagiaan yang tercipta. Cahaya matahari keemasan di sekitar gadis itu ikut memberi efek sorot yang natural pada sosoknya. Jika tidak mengenal siapa sosok di dalam foto itu, Gyana pasti menyangka bahwa gadis itu adalah pengantin sungguhan. Sayangnya Gyana jelas masih mengingat bahwa foto itu diambil saat Tania menjadi muse gaun pernikahan satu tahun yang lalu. Senyuman Tania memang terlihat menawan di foto itu. Tetapi tidak untuk Gyana. Senyuman itu seperti sedang mengejeknya dengan terang-terangan. ‘Dibandingkan dengan foto gadis ini, mengapa tidak foto pernikahannya yang dipajang? Apakah seburuk itu dirinya sehingga sang suami harus memajang foto gadis lain di ruang pribadinya?’ Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Gyana. Sesak dadanya semakin membuat napas Gyana tercekat. Ruangan ini mendadak terasa sempit untuk Gyana. Trauma masa lalu kembali menghantui dirinya secara perlahan. Genggamannya pada tali paperbag pun semakin erat. Seolah-olah hanya itu yang bisa Gyana jadikan sebagai penopangnya saat ini. Tidak. Gyana tidak bisa berada di sini lebih lama. Napasnya memburu semakin cepat. Ia harus segera berbalik untuk keluar. Namun, saat Gyana berbalik dan hendak keluar, langkahnya mendadak terhenti saat mendengar suara lirih seseorang yang berasal dari sisi kiri ruangan. Tepat di sebuah sofa dengan penerangan temaram. Mata Gyana memicing, memastikan suara siapa yang terdengar menyedihkan itu. Kemudian Gyana menyadari bahwa itu adalah suaminya, Sean. ‘Mengapa dia bisa tertidur di sini? Suaranya juga terdengar serak. Apakah dia sakit?’ Beragam pertanyaan mulai terpikirkan oleh Gyana. Seingatnya, Sean jarang sengaja tidur di ruangan ini. Jika diingat-ingat pun, malam ini menjadi malam terlama Sean menghabiskan waktu di sini. Gyana melangkah menuju ke arah Sean. Suara lirih Sean itu membuat Gyana penasaran. Meski hatinya hancur, mendengar lirih kesakitan Sean membuat Gyana khawatir. Kini Gyana sudah berdiri di dekat Sean. Tangannya terulur hendak menyentuh kening sang suami. Namun, belum sempat tangannya menyentuh kening Sean, sebuah nama yang sangat Gyana kenali itu keluar dari bibir suaminya. Nama yang menjadi jawaban akan foto yang terpajang indah di ruangan pribadi Sean. “Tania….”"Acara intinya akan kita mulai. Dimohon untuk Nona Tania Danuarta agar berdiri di tempat utama, ya. Sebentar lagi kita akan ke acara tiup lilin dan potong kue.” Suara MC disambut dengan tepuk tangan meriah para tamu undangan menyertai langkah Tania menuju sisi utama acara. “Kira-kira siapa ya yang akan mendapatkan kue potongan pertama dari Nona Tania?” MC tersebut kembali memancing perhatian orang-orang yang hadir. Sedangkan Tania terus menampilkan senyum anggun dan manisnya. Tania terlihat seperti putri berhati malaikat. Tanpa celah. Namun, bagi Gyana sebaliknya. Wajah lembut Tania hanyalah topeng yang berhasil menipu banyak orang. Tania tidak hanya sudah merebut posisinya sebagai putri bungsu di keluarga Danuarta, tetapi juga menghancurkan pernikahannya. “Aku mempersembahkan kue pertama ini untuk Gyana!” Mendengar namanya disebut, Gyana langsung tersentak. Ia yang awalnya berdiri paling ujung di samping Raymond kini menjadi pusat perhatian. “Ke sini, Gya. Kamu juga harus bahag
Gyana hanya bisa diam. Dadanya langsung penuh dan air matanya berkumpul mendesak untuk keluar. Kedua tangannya terkepal kuat dan bibirnya terkatup rapat menahan teriakan. Raymond menatap sinis Gyana. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan rasa simpati apalagi iba melihat hancurnya Gyana. Bagi Raymond tidak ada yang lebih penting, kecuali kebahagiaan Tania. Kaki panjang Raymond mendekat. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana hitamnya. Sepatu mahal berhenti tepat beberapa senti dari Gyana. “Sean sudah mengenal Tania lama. Jangan harap kamu bisa mempengaruhi Sean hanya karena dia suami kamu. Bagi Sean, status kalian hanya sebatas di dokumen,” bisik Raymond memojokkan Gyana. Sudut bibir pria itu terangkat. Sorot sinisnya sekalipun tidak pernah luntur sejak Gyana pertama kali datang. Diamnya Gyana membuat Raymond semakin membara untuk membuat adik yang tidak pernah ia anggap itu tidak nyaman. “Bagi kami, termasuk Sean. Kehadiran kamu itu tidaklah penting. Ibarat taman, kamu ha
Gyana menoleh cepat. Satu alis Gyana terangkat, heran dengan putri angkat keluarganya itu. Tania berteriak histeris sembari menggunting gaunnya sendiri. “Ayah tolong!" jerit Tania lagi. Kali ini gerakannya semakin cepat. “Apa yang kamu lakukan, hah?!” bentak Gyana, lalu berjalan menahan pergerakan Tania. “Lepaskan, Tania!”Tania tidak mengindahkan Gyana. Gadis itu terus berusaha merusak gaunnya. Hingga pintu pun terbuka dan bersamaan dengan itu, tiga lelaki muncul. Gunting di tangan Tania dengan cepat berpindah ke Gyana. Belum sempat Gyana bereaksi, Tania lebih dulu berlari menuju Haris dan yang lainnya. Kemudian terisak pilu di pelukan Haris. Tentu saja tangisan itu membuat semua orang heran, termasuk Gyana. Apalagi penampilan Tania yang kacau karena gaunnya yang sudah rusak. “Apa yang terjadi padamu, Tania?” tanya Haris cemas, mengurai pelukannya pada Tania lalu menatap gadis itu lekat. Alih-alih menjawab, Tania justru semakin mengeraskan tangisannya. “Gaunmu mengapa?” Sean b
Tatapan tajam menelisik Gyana dari ujung kaki hingga rambut. Rahang Sean mengetat. Jelas sekali pria itu sedang di puncak kemarahan. “Apanya, Sean?” tanya Gyana pura-pura tidak mengerti. Matanya mengikuti arah pandang Sean. Raut datar dengan tampang tidak merasa bersalah itu sengaja Gyana suguhkan di hadapan sang suami. “Apa aku terlihat cantik malam ini?” Kaki Sean melangkah lebih dekat. Aura pria itu semakin tidak bersahabat. Tinggi Gyana yang hanya sebatas dagu Sean membuat pria itu harus menunduk menatap langsung kepada perempuan di hadapannya ini. “Aku sudah memintamu memakai perhiasan yang ku beri, Gya. Dan gaunmu, bukan ini yang Mike siapkan.” Gyana menyunggingkan senyum tipis. Kemudian mendongak dengan berani, menatap Sean tepat ke arah manik pekat suaminya. “Aku lebih menyukai gaun dan perhiasan ini. Lagipula aku harus tampil cantik untuk mendampingi suamiku.”Sean merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan barusan didengarnya. Perempuan di depannya ini seperti












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.