Share

Bab 93

Author: XENA
last update publish date: 2026-08-06 16:03:52

"Dia ... merebut posisiku sebagai seorang istri, ibu dan juga nyonya rumah." Gracia semakin lama sudah semakin lancar berbicara, tapi masih tetap berusaha keras agar tidak terbata-bata.

Seketika semua pasang mata mengarah pada Marina yang masih tetap berdiri di tempatnya. Hanya Daniel Moreno yang tidak mengalihkan pandangannya. Pria paruh baya itu tetap duduk di kursi rodanya dengan pandangan lurus ke depan, yaitu pada Gracia, mantan istrinya.

"Ma!" panggil Manda pada Marina. "Apa benar yang di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 129

    Lily mendongak, menatap wajah Manda yang baru saja bergumam. "Siapa yang akan menikah?" tanyanya dengan menampakkan wajah bingung.Seketika semua orang yang ada di dalam ruang makan menoleh ke arah sumber suara. Di luar ruang makan, tepatnya di dekat pintu, Manda berdiri sambil menggendong Lily. Ia bersembunyi di tembok dekat pintu ruangan."Lily?!" Leon memanggil adiknya yang tidak terlihat di sana. "Kamu kah itu?" tanyanya.Manda menghela napas. Ia tersenyum tipis menatap gadis kecil yang digendongnya sedang menatap dirinya."Lily mau turun, Kak," ucapnya. Saat itu juga Manda menurunkannya. Gadis kecil itu menggandeng tangannya. "Katanya mau makan, Kak?" tanyanya dengan wajah polos. Manda kembali menghela napas berat. Detik kemudian ia memaksakan senyumnya dan mengangguk pelan.Kedua gadis berbeda usia itu keluar dari persembunyian. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam ruang makan."Kalian--""Lily baru saja bangun. Dia merengek lapar. Kebetulan aku juga sangat lapar." Manda men

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 128

    Sepasang mata Manda terbuka. Reflek ia melihat ke arah sumber suara. Matanya seketika membelalak. "Mama?!" lirihnya.Detik berikutnya, Leon membuka kedua matanya. "Kenapa berisik sekali?" Suaranya tegas menegur si pemilik suara yang mengganggu istirahatnya."Apa yang sedang kalian lakukan?!" Marina mengulang kembali pertanyaannya. Ada kegugupan yang terdengar dari suara tegasnya.Dahi Manda mengernyit. "Apa maksud Mama?" tanyanya sembari merapikan rambutnya."Berhenti membuat keributan. Kita butuh ketenangan." Leon kembali menegaskan kekesalannya. Kedua matanya kembali terpejam.Tatapan kemarahan Marina yang tertuju pada putrinya, kini beralih pada putra tirinya. "Leon!" panggilnya dengan tegas. "Bukankah Daniel memerintahmu untuk menemuinya?!" Tidak ada reaksi dari Leon. Sang ahli waris keluarga tersebut terlihat kembali terlelap dalam tidurnya. "Cepatlah bangun, Leon!" bentak wanita paruh baya itu kembali. "Jangan membuat Daniel marah padamu!" Manda menatap saudara tirinya yang t

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 127

    Suasana pemakaman berjalan lancar. Tidak banyak yang hadir mengantar kepergian Gracia. Leon terlihat menahan tangisnya.Namun, itu tidak berlaku untuk Lily. Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu di makam ibunya. Daniel berdiri di sisi lain, berhadapan dengan Leon. Di sampingnya berdiri Marina yang ikut serta mengantar jenazah Gracia untuk yang terakhir kali. Setelah acara pemakaman selesai, Daniel bersama dengan Marina meninggalkan pemakaman bersama dengan yang lainnya. Manda masih berada di sana bersama dengan Leon dan juga Lily yang masih menangisi kepergian mamanya.Setelah beberapa saat, akhirnya Lily berhasil dibujuk oleh Manda dan Leon. Gadis kecil itu mau meninggalkan makam dengan adanya perjanjian di antara mereka."Kak Manda gak boleh pergi," ujar Lily dengan tatapan memohon. "Aku gak mau sendirian." Sepasang mata mungilnya berkaca-kaca.Manda tidak tega melihat Lily yang memeluknya dengan sangat erat. Gadis kecil itu duduk di pangkuannya. Selama perjalanan Lily meneteskan

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 126

    Manda menoleh ke arah sumber suara. Sosok wanita paruh baya yang berdiri di tangga sedang menatap tajam padanya."Kita pergi sekarang," ujar Marina sambil berjalan menghampiri putrinya.Manda melangkah mundur menghindari mamanya yang hendak menggandeng tangannya. "Enggak, Ma," tolaknya. "Manda akan menemani Lily. Dia pasti sangat sedih mengetahui ma-""Kenapa harus kamu?!" tanya Marina dengan meninggikan suaranya. Manda menatap marah padanya. Tanpa mengatakan apa pun, ia meninggalkan Marina dan naik ke lantai atas."Manda!" bentak Marina."Lily ada di atas, kan?" Manda berjalan menaiki anak tangga."Di dalam kamarnya, Nona," jawab nenek kepala pelayan yang berdiri di dekat Marina.Manda mempercepat langkahnya menuju kamar Lily. Di bawah sana, Marina masih saja berteriak memanggil nama putrinya.Nenek kepala pelayan menghela napas melihat majikannya yang tidak bersikap elegan layaknya nyonya-nyonya besar di luaran sana. "Sangat berbeda jauh dengan Nyonya Gracia," gumamnya sambil berja

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 125

    "Pesta pertunangan kita sudah ditentukan." Senyuman Vania merekah. Terlihat binar kebahagiaan yang tersirat jelas dari kedua matanya.Kopi dan cake yang terhidang di meja menyita perhatian Leon. Sang pewaris dari keluarga Moreno lebih tertarik untuk menikmati hidangan di depan matanya daripada mendengarkan ocehan Vania."Leon!" panggil Vania. Suaranya meninggi. Leon meneguk kopinya setelah menelan cake yang baru saja dinikmatinya. "Teruskan saja. Aku mendengarnya," ujarnya santai.Vania memasang wajah cemberut. "Apa hanya aku saja yang senang dengan pertunangan ini?!" tanyanya kesal. "Sepertinya iya," jawab Leon tanpa beban."Leon!" bentak Vania.Leon mengalihkan pandangannya pada Vania yang duduk di hadapannya. "Apa hakmu membentakku?" tanyanya dengan tegas. Tatapan matanya tajam, menyiratkan rasa tidak suka.Seketika nyali Vania menciut. Ia menutup rapat bibirnya dan menundukkan pandangan matanya."Jangan coba-coba mengaturku, Vania. Ingat itu!" tegas Leon. Ekspresi wajahnya mengu

  • Satu Malam Singkat dengan Kakak Tiriku   Bab 124

    "Mau ke mana kamu, Leon?!" Suara Daniel menghentikan langkah Leon yang sedang terburu-buru melewati ruang makan."Aku ada perlu, Pa," jawabnya tanpa menoleh ke arah sumber suara. Dahi Daniel mengernyit. "Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya.Seketika ekspresi wajah Leon berubah. Ekspresinya yang menahan sakit berganti dengan ekspresi kaget. Detik kemudian ia menoleh ke arah papanya."Sejak kapan Papa peduli padaku?" tanyanya tidak percaya.Daniel berdehem. "Kamu pikir seorang Daniel Moreno tidak pernah memperhatikan putranya?!" Suaranya tegas dan berwibawa.Leon tersenyum tipis. Tanpa berkata-kata, ia kembali melangkah sembari melambaikan tangannya untuk berpamitan."Leon!" panggil Daniel kembali. "Mau ke mana kamu?!" tanyanya. "Ada urusan penting yang harus aku selesaikan," jawab Leon sambil berjalan menuju pintu."Makanlah terlebih dahulu!" Suara Marina menyambar dari ruang makan.Tidak ada jawaban dari Leon. Hanya suara pintu yang tertutup seolah mewakili jawaban darinya.______

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status