LOGINTantangan permainan di pesta mendorong Amanda Lauren berciuman dengan Leonel Moreno, kakak tirinya sendiri, mengantarkan mereka ke sebuah malam panas terlarang. Tidak berhenti di sana, Manda yang kemudian terjebak permainan sikap sang kakak kemudian berada dalam dilema karena ia kembali dihadapkan dengan dua pria lain yang berniat memperebutkan cintanya. ⚠️WARNING⚠️ Hanya cerita fiktif belaka! Semua kejadian, tokoh, dan tempat hanya karangan semata. Follow author on : Instagram: @my.xena
View More“Siapa yang menyuruhmu mengenakan pakaian seperti itu?”
Amanda Lauren mengernyit mendengar pertanyaan Leon, kakak tirinya, beserta nada bicara pria itu yang terdengar ketus.
Padahal menurut Manda, pakaiannya cukup sesuai dengan acara. Gaun sabrina berwarna hitam itu tampak cantik, meski memang potongan lehernya terbuka lebar, memperlihatkan garis bahu dan tulang selangkanya yang halus.
“Mama yang pilihkan,” balas Manda. “Lagian memangnya aku harus pakai apa? Baju tidur?”
Leon berdecak pelan. Pria itu melepaskan blazer hitamnya dan melemparkannya ke arah Manda.
“Pakai.”
Manda merengut, tapi tidak membantah. Mereka sedang berada di pesta yang diadakan teman Leon. Mama Manda menyuruhnya ikut serta agar bisa bergaul, begitu juga ayah tirinya dan Leon tidak bisa menolak.
Namun, jika Manda berulah, pria itu pasti tidak akan segan meninggalkannya di vila antah berantah ini.
"Siapa gadis cantik yang bersamamu ini, Leon?"
Manda menoleh saat mendengar pertanyaan itu dan mendapati seorang pemuda asing yang kini tengah menatapnya. Ekspresinya tampak santai, tapi matanya memindai Manda dari atas sampai bawah.
“Glen,” ucap pemuda asing itu sembari mengulurkan tangan. “Glen Ferdinan. Siapa namamu, Cantik?”
Manda tersenyum kecil dan menjabat tangan Glen. “Amanda Lauren. Panggil saja Manda.”
“Aku baru melihatmu di sini. Baru di kota?”
“Tidak, aku–”
Ucapan Manda terhenti saat tiba-tiba Leon berbalik dan melangkah pergi tanpa pamit. Ekspresi pria itu tampak sedikit keras, kesal entah karena apa.
“Kenapa sih?” gumam Manda. Dahinya berkerut.
“Jangan dipikirkan,” ujar Glen. Pria itu mengusap lembut pundak Manda, merangkul gadis itu sembari tersenyum manis. “Leon memang orangnya begitu.”
Manda memaksakan senyumnya. “Iya ya," jawabnya singkat. Ia membungkuk, seakan membenahi sepatunya, hingga mau tak mau Glen melepaskan rangkulannya.
Namun, benar juga. Leon memang sangat sulit ditebak. Sepanjang Manda tinggal bersama pria itu sebagai saudara tirinya, pria itu kadang bersikap dingin dan angkuh, tapi kadang juga sangat perhatian dan hangat–bahkan mengajak Manda bercanda.
Meski sudah beberapa tahun, Manda masih saja tidak bisa memahami kakak tirinya itu.
“Daripada sendirian di sini, ayo bergabung dengan teman-temanku,” ajak Glen. Kepalanya sedikit menunduk untuk mendekatkan wajahnya agar suaranya terdengar di tengah riuh musik yang memekakkan telinga.
Tanpa disadari oleh Manda, jarak mereka yang terlalu dekat itu membuat banyak pasang mata mulai memperhatikan.
“Siapa gadis cantik itu? Kenapa dia bersama Glen?”
“Pacarnya Glen, ya?”
“Kenapa kita tidak pernah melihatnya?”
Pertanyaan-pertanyaan itu sampai di telinga Manda meski musik berdentum cukup keras. Ia pura-pura tidak mendengar, tetapi sudut bibirnya tetap terangkat sopan setiap kali seseorang mengajaknya berbincang.
Glen berdiri cukup dekat di sisinya, sesekali mencondongkan tubuh agar suaranya terdengar jelas. Beberapa pria yang ada di sekitar mereka pun ikut merapat, menimpali percakapan dengan tawa ringan. Manda berusaha bersikap biasa saja, meski ia bisa merasakan tatapan-tatapan yang tertuju padanya dari berbagai arah. Tanpa sadar, sepasang matanya menatap sekitarnya untuk mencari satu sosok.
Leon berdiri tak jauh dari tempatnya berada. Wajahnya tampak kaku. Tatapannya tidak lagi santai seperti sebelumnya. Setiap kali mata mereka nyaris bertemu, Leon justru mengalihkan pandangannya terlebih dulu.
Ada sesuatu dari sikapnya yang membuat dada Manda terasa tidak nyaman.
“Dia kenapa sih!?” gerutunya dalam hati.
Tiba-tiba saja terdengar suara lantang yang memotong percakapan semua orang di area tersebut.
“Perhatian! Semuanya, harap berkumpul di sini!”
Tuan rumah pesta berdiri di tengah area seraya mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk menarik perhatian semua orang yang ada di tempat itu.
Musik pun seketika terdengar semakin pelan. Semua orang yang ada di sana mulai membentuk lingkaran besar dengan wajah penuh antusias.
“Kita akan bermain permainan jujur atau tantangan!” serunya bersemangat. “Siapa pun yang kutunjuk harus memilih untuk berkata jujur atau melakukan tantangan yang aku berikan!”
Seketika terdengar sorakan dari semua orang yang ada di sana. Bahkan beberapa orang bertepuk tangan, dan ada juga yang bersiul nakal.
Manda menghela napas. Mulai merasa tidak nyaman. Ia selalu menghindari permainan itu sebelumnya.
Gadis itu mengedarkan pandangannya, mencari Leon untuk diajak pulang. Atau mungkin ia bisa menemukan tempat lain untuk bersembunyi sejenak–
“Aku menantang gadis cantik itu!" seru sang tuan rumah sambil tersenyum lebar menunjuk ke arah Manda. Seluruh pasang mata langsung mengarah pada gadis itu.
“Eh.” Manda terkejut. “Aku tidak–”
“Ya, kamu! Pilih jujur atau tantangan?”
“Aku tidak mau.”
“Pilih, pilih, pilih!” Para tamu hadirin di sekitar Manda mendesak, berseru di saat yang sama.
"Manda, mereka menunggu jawabanmu," bisik Glen di telinganya.
Manda menggigit bibir. Sepertinya ia tidak punya pilihan untuk mundur.
“Jujur,” jawabnya kemudian.
“Oke!” Si tuan rumah tersenyum lebar. Sorot matanya mengerling nakal. "Pertanyaannya adalah … apakah kamu masih perawan?"
Sepasang mata biru milik Manda membelalak. Keheningan menyelimuti ruang pesta, sebelum kemudian pecah oleh sorak-sorai para tamu.
“Ehm.” Manda memaksakan senyumnya. Ia bergerak tidak nyaman. “Apakah aku harus menjawabnya?”
"Tentu, Sayang ... kita sedang bermain tantangan atau kejujuran. Dan kamu memilih untuk jujur. Itu berarti kamu harus menjawab jujur pertanyaan yang ditanyakan padamu," jawab sang tuan rumah yang terkesan memaksa. “Kalau tidak, kamu bisa minum satu sloki alkohol atau … mencium pria yang ada di dekatmu!”
Seketika suasana menjadi makin riuh. Suara sorakan dan tepuk tangan dari semua orang seolah memaksa Manda untuk segera melakukan tantangan tersebut.
“Tantangan saja, tantangan!”
“Cium! Cium! Cium!”
Glen yang berdiri tidak jauh darinya tersenyum canggung. Beberapa orang di belakangnya mulai mendorong tubuhnya ke depan hingga ia nyaris menabrak Manda.
Sorakan semakin keras. Tubuh Glen dan Manda terdorong semakin dekat. Jarak di antara wajah mereka pun semakin tipis. Bahkan Manda bisa merasakan napas Glen yang bercampur dengan aroma minuman di udara.
Detik itu juga tubuhnya menegang. Semua terjadi terlalu cepat. Glen mulai memajukan wajahnya bersiap untuk menciumnya.
Belum sempat Manda bereaksi, tiba-tiba seseorang menarik kerah baju Glen dengan kasar. Tubuh pria itu terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk di lantai.
Belum sempat Manda memahami apa yang terjadi, tiba-tiba sebuah tangan kuat melingkar di pinggangnya. Tubuhnya pun tertarik ke depan.
Tanpa berkata-kata, Leon meraih pinggang Manda dan meraup bibir adik tirinya dalam sebuah ciuman!
Suasana pemakaman berjalan lancar. Tidak banyak yang hadir mengantar kepergian Gracia. Leon terlihat menahan tangisnya.Namun, itu tidak berlaku untuk Lily. Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu di makam ibunya. Daniel berdiri di sisi lain, berhadapan dengan Leon. Di sampingnya berdiri Marina yang ikut serta mengantar jenazah Gracia untuk yang terakhir kali. Setelah acara pemakaman selesai, Daniel bersama dengan Marina meninggalkan pemakaman bersama dengan yang lainnya. Manda masih berada di sana bersama dengan Leon dan juga Lily yang masih menangisi kepergian mamanya.Setelah beberapa saat, akhirnya Lily berhasil dibujuk oleh Manda dan Leon. Gadis kecil itu mau meninggalkan makam dengan adanya perjanjian di antara mereka."Kak Manda gak boleh pergi," ujar Lily dengan tatapan memohon. "Aku gak mau sendirian." Sepasang mata mungilnya berkaca-kaca.Manda tidak tega melihat Lily yang memeluknya dengan sangat erat. Gadis kecil itu duduk di pangkuannya. Selama perjalanan Lily meneteskan
Manda menoleh ke arah sumber suara. Sosok wanita paruh baya yang berdiri di tangga sedang menatap tajam padanya."Kita pergi sekarang," ujar Marina sambil berjalan menghampiri putrinya.Manda melangkah mundur menghindari mamanya yang hendak menggandeng tangannya. "Enggak, Ma," tolaknya. "Manda akan menemani Lily. Dia pasti sangat sedih mengetahui ma-""Kenapa harus kamu?!" tanya Marina dengan meninggikan suaranya. Manda menatap marah padanya. Tanpa mengatakan apa pun, ia meninggalkan Marina dan naik ke lantai atas."Manda!" bentak Marina."Lily ada di atas, kan?" Manda berjalan menaiki anak tangga."Di dalam kamarnya, Nona," jawab nenek kepala pelayan yang berdiri di dekat Marina.Manda mempercepat langkahnya menuju kamar Lily. Di bawah sana, Marina masih saja berteriak memanggil nama putrinya.Nenek kepala pelayan menghela napas melihat majikannya yang tidak bersikap elegan layaknya nyonya-nyonya besar di luaran sana. "Sangat berbeda jauh dengan Nyonya Gracia," gumamnya sambil berja
"Pesta pertunangan kita sudah ditentukan." Senyuman Vania merekah. Terlihat binar kebahagiaan yang tersirat jelas dari kedua matanya.Kopi dan cake yang terhidang di meja menyita perhatian Leon. Sang pewaris dari keluarga Moreno lebih tertarik untuk menikmati hidangan di depan matanya daripada mendengarkan ocehan Vania."Leon!" panggil Vania. Suaranya meninggi. Leon meneguk kopinya setelah menelan cake yang baru saja dinikmatinya. "Teruskan saja. Aku mendengarnya," ujarnya santai.Vania memasang wajah cemberut. "Apa hanya aku saja yang senang dengan pertunangan ini?!" tanyanya kesal. "Sepertinya iya," jawab Leon tanpa beban."Leon!" bentak Vania.Leon mengalihkan pandangannya pada Vania yang duduk di hadapannya. "Apa hakmu membentakku?" tanyanya dengan tegas. Tatapan matanya tajam, menyiratkan rasa tidak suka.Seketika nyali Vania menciut. Ia menutup rapat bibirnya dan menundukkan pandangan matanya."Jangan coba-coba mengaturku, Vania. Ingat itu!" tegas Leon. Ekspresi wajahnya mengu
"Mau ke mana kamu, Leon?!" Suara Daniel menghentikan langkah Leon yang sedang terburu-buru melewati ruang makan."Aku ada perlu, Pa," jawabnya tanpa menoleh ke arah sumber suara. Dahi Daniel mengernyit. "Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya.Seketika ekspresi wajah Leon berubah. Ekspresinya yang menahan sakit berganti dengan ekspresi kaget. Detik kemudian ia menoleh ke arah papanya."Sejak kapan Papa peduli padaku?" tanyanya tidak percaya.Daniel berdehem. "Kamu pikir seorang Daniel Moreno tidak pernah memperhatikan putranya?!" Suaranya tegas dan berwibawa.Leon tersenyum tipis. Tanpa berkata-kata, ia kembali melangkah sembari melambaikan tangannya untuk berpamitan."Leon!" panggil Daniel kembali. "Mau ke mana kamu?!" tanyanya. "Ada urusan penting yang harus aku selesaikan," jawab Leon sambil berjalan menuju pintu."Makanlah terlebih dahulu!" Suara Marina menyambar dari ruang makan.Tidak ada jawaban dari Leon. Hanya suara pintu yang tertutup seolah mewakili jawaban darinya.______












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore